Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 73 | Kamu Anggap Aku Apa?


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim....


Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


🌹


Sambil menguatkan hatinya Lee berjalan menghampiri Aisyah yang sedang bersama mantan suami dan anaknya. Sebisa mungkin Lee mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat biasa saja meskipun hatinya terluka.


Dia tak mau membuat Aisyah merasa bersalah kepadanya, sulit Lee akui kalau dirinya tidak bisa melihat Aisyah tak nyaman apalagi bersedih hati karena pada dasarnya dia sangat mencintai wanita itu meskipun dia harus menanggung semua rasa sakit karenanya.


"Hai, Aisyah. Hai, Pak Devan," Lee menyapa dan membuat Aisyah melihatnya dengan wajah terkejut.


"Ha..., hai, Lee." Aisyah membalas sapaan Lee dengan terbata-bata.


Sedangkan Devano dengan santainya tersenyum ke arah Lee sebelum membalas sapaan pria yang sangat dekat dengan mantan istrinya itu.


"Hai juga, bro. Udah lama kita enggak ketemu, gimana kabar kamu?" Devano berbicara santai seolah tak ada apa-apa, karena menurutnya wajar jika dirinya dan Aisyah pergi jalan-jalan bersama Dasha anak mereka.


Toh meskipun sudah bercerai, Devano dan Aisyah masih punya kewajiban untuk menyayangi dan menuruti keinginan anak mereka bukan?


Namun berbeda dengan apa yang ada di pikiran Aisyah dan juga Lee. Mereka berdua merasa seperti pasangan yang sedang tertangkap basah berselingkuh. Bagaimana tidak, cara Aisyah memandang Lee bersama Kanaya dan cara Lee memandang wanita itu bersama Devano di penuhi dengan kecurigaan dan kesalahpahaman.


Lee memalingkan wajahnya menatap Dasha yang kini berada di gendongan Devano. "Saya baik-baik saja, Pak Devan. Dan sepertinya tanpa saya bertanya pun keadaan Pak Devan terlihat sangat baik, ya," ucapnya sedikit menyindir Aisyah yang hanya diam membisu di samping Devano.


"Ya, saya akui, apa yang kamu lihat itu benar," balas Devano sambil tersenyum santai.


"Kalau begitu saya pergi duluan ya, soalnya saya harus mengantar anak gadis orang yang berdiri di sebelah saya ini," ujar Lee yang sebenarnya ingin melihat Aisyah cemburu, namun ternyata ia terlalu berharap lebih karena faktanya Aisyah malah terlihat biasa saja, wanita itu malah tersenyum simpul ke arah Kanaya yang sedang menatapnya.


Benar-benar menyakitkan bagi Lee, namun sebisa mungkin pria itu mencoba mengukir senyuman dibibirnya sebelum pergi meninggalkan Aisyah yang menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah.


Setelah Lee dan Kanaya berlalu, Devano mengajak Aisyah pulang dan sesampainya di depan rumah mantan istrinya itu, Devano menghentikan mobilnya lalu menggendong Dasha yang tertidur keluar dari mobil.


Sementara Aisyah sendiri membantu membuka pintu rumahnya lalu mempersilahkan Devano membawa tubuh Dasha masuk ke dalam. Kemudian Devano membaringkan tubuh anaknya tersebut di atas sofa.


"Assalamualaikum...," ucap Devano yang mendapat balasan dari Bude Marika.


"Wa'alaikumsalam." Bude Marika datang menghampiri Devano, Dasha, dan Aisyah yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Oalah, Dasha ketiduran lagi? Pedahal Bude udah buatin sup ayam buat dia lho," ucap Bude Marika sedikit kecewa.


"Enggak papa, Bude. Kan masih ada Abi-nya yang bisa menggantikan dia makan sop ayam buatan Bude itu," sela Devano yang di balas pelototan sebal dari Bude Marika.


"Ih, daripada aku kasih ke kamu lebih baik aku makan sendiri," ketus Bude Marika sambil menatap Devano dengan wajah sinisnya.


Kemudian wanita paruh baya itu menggendong tubuh Dasha dengan hati-hati dan membawanya ke dalam kamar milik Aisyah.

__ADS_1


"Aisyah, kenapa tadi kamu tidak menjelaskan apapun kepada Lee?" tanya Devano sambil menatap Aisyah yang duduk di hadapannya dengan wajah gelisah.


"Penjelasan ku hanya akan menyakiti perasaannya, Dev," jawab Aisyah.


"Pasti sulit menjalani hubungan dengannya karena masa lalu kita, tapi aku yakin Aisyah, kamu pasti bisa melewatinya."


Devano tahu betul apa yang sedang dirasakan wanita yang pernah menjadi istrinya itu.


"Lalu bagaimana dengan kamu, Dev?" kini giliran Aisyah yang bertanya sambil menatap Devano.


"Maksudnya?" tanya Devano belum paham dengan pertanyaan Aisyah.


"Apakah kamu akan menjalin hubungan lagi dengan wanita lain, seandainya aku menikah dengan Lee?"


Devano terdiam seketika, ia sungguh bingung ingin menjawab apa. Pertanyaan yang diajukan Aisyah kepadanya terlalu sulit untuk dijawab karena sebenarnya dia tidak mampu menjalin hubungan dengan siapapun lagi selain Aisyah.


"Devan, kenapa kamu diam? Tolong jawab pertanyaan aku sekarang juga," pinta Aisyah setengah prustasi melihat raut tertekan di wajah mantan suaminya itu.


"Aku tidak tahu apakah aku bisa menjalin hubungan dengan orang yang berbeda lagi, Aisyah. Karena jujur dalam hati, aku masih ingin kembali bersama kamu, merawat anak kita sampai nanti kita menua bersama-sama."


"Namun aku ingin kamu memilih sendiri masa depan kamu, agar kamu bisa bahagia dan tak lagi tersakiti seperti dulu," ungkap Devano sambil menundukkan wajahnya, merasa malu karena kesannya dia tak tahu diri.


Aisyah menatap Devano dengan tatapan yang sulit diartikan, dari lubuk hati yang paling dalam, ia mengakui kalau Devano berhak diberi kesempatan kesempatan kedua setelah banyak yang dikorbankan mantan suaminya itu selama mencari keberadaan putri mereka.


"Udah larut malam, kapan kamu akan pulang?" Secara tak langsung Aisyah mengusir Devano dari rumahnya.


Untung Devano langsung mengerti dan segera bangkit dari sofa. "Sekarang aja deh, aku pamit pulang ya, Syah. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam," balas Aisyah yang kemudian mengantar Devano sampai ke halaman tempat Devano memarkirkan mobilnya.


"Hati-hati," ucap Aisyah ketika Devano sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.


"Oke, makasih ya," balas Devano yang mendapat anggukan dari Aisyah sebelum wanita itu kembali masuk ke dalam rumahnya.


Devano menghidupkan mesin mobilnya namun tidak bisa, sepertinya mobil tuanya itu kembali bermasalah setelah sudah kesekian kalinya mengalami perbaikan di bengkel.


Subuh-subuh Devano terbangun di dalam mobilnya dengan kondisi leher dan punggung yang sakit karena semalam dia tidur di posisi yang jauh dari kata nyaman.


Devano membuka pintu mobil lalu keluar untuk merenggangkan kedua tangannya sambil menghirup udara yang masih sangat sejuk.


Setelah itu Devano melangkah menuju pintu rumah Aisyah lalu mengetuknya sambil mengucapkan salam, tujuannya hanya ingin menumpang sholat subuh dikarenakan dia tidak tahu dimana letak Masjid atau Mushola di komplek perumahan Aisyah tersebut.


Sudah tiga kali ketukan, Devano tak kunjung mendapatkan jawaban. Pintu juga masih setia terkunci sampai pada akhirnya Devano memutuskan untuk pergi mencari keberadaan Mushola, barulah pintu rumah Aisyah terbuka dan menampakkan sosok cantik berbalut mukena yang membuatnya terlihat imut.


"Masya Allah, putri Abi cantik sekali," puji Devano.

__ADS_1


Dasha tersenyum manis lalu menghampiri Abi-nya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. "Ayo, Abi juga harus sholat," ucapnya dengan suara bangun tidur yang terdengar lucu.


Aisyah yang berdiri tak jauh dari sana pun ikut tersenyum sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar Bude Marika dan menunaikan sholat subuh-nya disana. Sementara Devano dan Dasha sholat subuh berjamaah di kamar Aisyah yang terletak di depan kamar Bude Marika.


Setelah selesai sholat subuh Devano mengajak Dasha olahraga kecil di halaman rumah, sedangkan Aisyah dan Budenya berkutat menyiapkan makanan untuk sarapan mereka pagi itu.


"Apa mantan suami kamu itu belum pulang dari semalam?" tanya Bude Marika yang di balas kedikkan bahu oleh Aisyah.


"Sepertinya mobil dia rusak sehingga semalam dia tidur di mobil."


"Oalah, kalau begitu cepat kamu bikinin dia teh hangat supaya badannya bisa kembali rileks, tidur di dalam mobil pasti membuat badannya jadi kaku, kasihan dia," cetus Bude Marika yang mulai kembali care kepada Devano.


Aisyah menghela nafas panjang sebelum mengambil sebuah cangkir di rak dan menyeduh sekantong teh celup dengan air hangat untuk diberikannya kepada Devano. Jujur, ini kembali mengingatkannya pada masa-masa dimana pernikahannya dengan Devano masih utuh dulu.


"Di kemudian hari, aku berharap kamu mendapatkan seorang pendamping yang setiap pagi bisa membuatkanmu teh seperti yang aku lakukan sekarang ini, Dev," gumam Aisyah sambil menahan rasa sakit dihatinya.


Kemudian wanita itu membawa teh hangat hasil seduhannya ke depan dan memberikannya kepada Devano yang sedang bermain tebak-tebakan dengan Dasha, putri kesayangan mereka yang kini tumbuh semakin pintar.


"Jika kita ditakdirkan untuk bersama tak mungkin waktu itu kita bercerai, mungkin kita dipertemukan hanya untuk sama-sama belajar menjadi seseorang yang lebih baik dan lebih kuat agar di pernikahan selanjutnya kita tak akan lagi mengalami perceraian," gumam Aisyah dengan suara lirih yang masih bisa terdengar sampai ke telinga Devano.


Bersambung....


Nyesek gak bacanya?😣πŸ₯ΊπŸ₯Ί


Sampai sini, menurut kalian Aisyah akan melabuhkan pilihannya ke siapa?πŸ™„


Tetap baca next partnya ya dan jangan lupa untuk :



Like πŸ‘


Komentar πŸ“


Vote novel ini ❀️


Ajak teman-teman kalian baca novel ini (Share)


Tekan bintang limanya ⭐⭐⭐⭐⭐


Dan follow profil aku serta follow Instagram @asyiahmuzakir



Bye, bye, Assalamualaikum.πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2