
Aisyah POV.
Lee sedang mengecek keran air di kamar mandi Stevani yang katanya rusak, jadi sekarang aku hanya berdua dengan Ayah Lee dan itu membuat suasana berubah canggung. Untungnya Ayah Lee segera membuka pembicaraan agar aku kembali merasa nyaman.
"Aisyah, apa kamu tahu?" tanyanya ambigu.
"Enggak tahu om, kan om-nya sendiri belum ngasih tahu Aisyah," jawabku mencoba bersikap santai.
"Haha, ternyata kamu punya selera humor juga ya?" kata Ayah Lee seraya tertawa renyah.
Aku tersenyum menahan tawa.
"Ya begitulah om, selera humor saya masih terbilang sangat buruk," jujur ku yang membuat Ayah Lee kembali tertawa renyah.
Selang beberapa saat kemudian tawa pria paruh baya itu mereda dan beliau mulai memandangku dengan raut serius, sepertinya ada yang ingin dia sampaikan kepadaku.
"Aisyah, saya mau mengucapkan sebanyak banyaknya terimakasih sama kamu, karena berkat kamu, Lee menjadi seseorang yang lebih baik dan perhatian kepada keluarganya, pedahal jika mengingat sebelumnya Lee selalu bersikap dingin dan kurang peduli terhadap keluarganya termasuk saya dan Stevani, tapi setelah dia memutuskan untuk menjadi muslim dan jatuh cinta sama kamu, dia berubah menjadi pria yang penyayang dan sangat memperhatikan keluarganya."
"Dan saya benar benar bersyukur atas perubahan positif Lee setelah mualaf tersebut, maka dari itu saya tak menentangnya, tidak seperti yang dilakukan oleh istri saya yang merupakan ibu kandung Lee sendiri yang sampai sekarang masih tidak menerima keislaman Lee," ungkap Ayah Lee.
"Om tidak perlu berterima kasih kepada saya, sebab Lee berubah menjadi lebih baik itu bukan karena saya, tapi karena ada dorongan dari hatinya sendiri yang membuatnya melakukan hal positif tersebut, yang saya lakukan selama ini hanyalah sebatas mendukungnya," terang ku sambil tersenyum.
Ayah Lee memandangku lalu tersenyum juga. Dan ketika beliau baru saja ingin membuka mulutnya lagi, Lee datang dan mendudukkan tubuhnya di sebelahku lalu menatap ayahnya dengan penuh curiga.
"Hayo! Appa mau membocorkan kebiasaan buruk ku ke Aisyah, ya?" tuduh Lee salah paham.
"Oh Tuhan, kenapa kamu menuduh Appa seperti itu? Asal kamu tahu ya, Appa dan Aisyah hanya sedang mengobrol santai dan itu pun tidak ada hubungannya sama kamu." Ayah Lee memasang wajah cemberutnya.
"Apa benar yang dikatakan oleh Appa ku barusan, Aisyah?" tanya Lee mengalihkan pandangannya ke arahku.
Aku mengangguk namun tak dapat di pungkiri kalau saat ini aku ingin tertawa karena melihat wajah cemberut yang di buat buat oleh Ayah Lee.
"Huhu, sepertinya Aisyah berbohong dan bersekongkol dengan Appa," keluh Lee yang masih beranggapan kalau tadi aku dan Ayahnya sedang membicarakan kejelekannya, pedahal nyatanya kami tengah membahas kebaikannya.
"Kamu ini tidak percayaan sekali sih, ya sudahlah Appa pergi saja."
"Oh ya, berhubung ini sudah sore jadi jangan lupa antarkan nak Aisyah pulang ke rumahnya dengan selamat ya, Lee." Ayah Lee masih sempat-sempatnya mengedipkan sebelah matanya ke arahku sebelum beliau melangkahkan kakinya keluar dari ruang keluarga.
Sedangkan Lee melotot tak terima atas tingkah ayahnya itu. "Maafkan Appa ku Aisyah, dia memang suka bersikap genit dan konyol," ucap Lee menatapku dengan rasa bersalah. Namun aku justru tertawa geli karena bagiku apa yang tadi di lakukan Ayah Lee itu bukanlah suatu hal yang buruk.
"Aku gak keberatan kok Lee, malah menurutku ayah kamu itu lucu," balas ku yang membuat wajah Lee langsung berubah iri.
"Ternyata Appa ku selangkah lebih depan mengalahkan aku." Lee cemberut ketika mengatakannya, sementara aku menanggapinya dengan kekehan geli.
__ADS_1
******
Selepas menunaikan sholat ashar dan menyimak kultum dari Ustadz aku segera menghampiri Lee.
"Lee," panggil ku di saat pria itu sedang fokus memasang tali sepatunya di tangga Mushola.
"Apa?" sahut Lee seraya mendongak untuk melihat wajahku.
"Kamu bisa enggak anterin aku ke makam almarhumah anak aku?" tanyaku.
"Kapan?" Lee balik menanyaiku soal waktunya.
"Sekarang juga," jawabku tanpa ragu.
"Tapi ini udah jam setengah lima sore lho, Syah. Apa gak besok aja?" cetus Lee.
Aku menggeleng keras sebab entah kenapa hatiku ingin sekali ke makam Dasha saat ini juga, mungkin karena aku sedang sangat merindukan putri kesayanganku itu.
"Baiklah, aku akan mengantar kamu ke sana," ujar Lee yang membuatku langsung tersenyum menatapnya.
"Makasih Lee," ucapku menatapnya dengan tulus.
"Kamu gak perlu bilang makasih, Aisyah. Kamu hanya perlu mengizinkan aku untuk selalu menjaga dan menyayangi kamu," ungkap Lee sembari menunjukkan senyuman terbaiknya kepadaku.
"Aku harap kamu bisa menunggu ku Lee, kamu paham kan kalau masa laluku telah membuat aku parno untuk memulai suatu hubungan lagi?"
"Ayo kita berangkat, nanti keburu Maghrib lagi," ajak Lee yang langsung aku angguki dengan cepat.
Kemudian kami berdua pun pergi menuju makan Dasha dengan mengendarai mobil Range Rover milik Lee. Dan setibanya di lokasi, aku terkejut mendapati seorang pria berbadan tegap sedang menangis di sebelah pusaran Dasha.
"Lee, kamu di sini dulu ya?" pintaku yang membuat Lee bingung. Namun kemudian ia mengangguk setuju setelah melihat wajah familiar seorang pria yang tengah menangis di makam putriku itu.
"Gak papa kan?" tanyaku yang merasa tidak enak kepada Lee.
"It's okey, Aisyah. Aku paham kalau kamu masih punya urusan pribadi sama dia, jadi sekarang selesaikanlah dan biarkan aku menjagamu dari sini," jawab Lee dengan tenang, namun aku yakin kalau dalam hatinya ia merasa gelisah.
Akhirnya dengan perasaan campur aduk aku menghampiri seseorang yang tak lain adalah Devano tersebut.
"Ekhem." Aku berdeham dan membuat Devano sangat terkejut ketika mengetahui kehadiranku di sebelahnya.
"Bagaimana bisa kamu ada di sini?" tanya Devano yang membuatku menatapnya sangsi.
"Seharusnya yang bertanya seperti itu adalah aku, Dev," jawabku sarkas.
__ADS_1
"Maaf, maksudku sejak kapan kamu ada di sini?" koreksi Devano seraya mengusap air mata di wajah sembabnya.
"Baru tadi," jawabku singkat.
Devano menoleh lalu menatapku dengan sorot penyesalannya yang membuatku langsung membuang muka sebab tak ingin luluh lagi karenanya.
"Kalau kamu udah selesai mending sekarang juga kamu pergi," usir ku tanpa melihat wajah Devano.
"Aku belum selesai, Aisyah. Aku masih ingin di sini bersama putriku karena aku sangat merindukannya," tolak Devano yang membuat hatiku marah.
"Kenapa? Kenapa baru sekarang kamu merindukan Dasha? Dulu saat Dasha masih hidup dan merindukan kamu, kamu kemana aja Devan!"
"Setiap hari Dasha putriku selalu menanyakan kemana Abi-nya, setiap malam aku mendengar dia mengigau ingin bertemu Abi-nya sampai dia menangis dan demam."
"Asal kamu tahu ya Dev, Dasha putriku itu merupakan anak yang jenius dan punya kepekaan tinggi, setiap saat dia selalu membuat aku kualahan karena pertanyaan-pertanyaannya, dan dari sekian banyak keingintahuannya itu, yang paling sering dia tanyakan kepada ku ialah kapan kamu akan menemuinya dan saat itu aku tidak bisa menjawabnya karena aku tak ingin memberinya harapan palsu seandainya aku bilang kalau kamu pasti akan menemuinya, Dev."
Aku menghela nafas panjang dan mengusap air mataku yang mengalir deras seiring keluarnya amarah yang aku pendam selama bertahun tahun tersebut, setelahnya aku melirik Devano yang ternyata sedang menangis dalam diam. Pria yang pernah menjadi suamiku itu sepertinya tak sanggup mengatakan apapun lagi sehingga dia hanya mampu mendengarkan luapan emosional ku.
"Kalau dulu kamu cuma menyakiti aku, mungkin aku masih bisa memberi kamu kesempatan untuk menyembuhkannya, tapi masalahnya bukan hanya aku saja yang merasakan sakit itu Dev, melainkan Dasha juga, asal kamu tahu, setiap kali aku mengajaknya ke luar dia pasti ikut mendengar hinaan orang-orang yang mengatakan kalau dia itu anak hasil perselingkuhan, hiks... hiks... pedahal nyatanya dia anak sah!" Aku mengeluarkan emosiku kepada Devano di hadapannya langsung. Agar dia tahu, bagaimana sakitnya menjadi aku ketika mendapati Dasha menangis merindukan sosoknya yang bahkan belum pernah ia lihat sekalipun sejak lahir ke dunia.
"Maafkan Umi sayang, Umi sudah memarahi Abi kamu di depan peristirahatan kamu," sesal ku dalam hati seraya memandang pusaran Dasha dan menaburkan bunga yang aku bawa di sekitarnya.
Bersambung....
Gimana perasaan kalian?
Penasaran gak?😁😁
Menurut kalian part ini sedih apa seneng?🤔🤔
Tulis di kolom komentar ya guys ❤️😍😘
Oh iya jangan lupa untuk :
-LIKE 👍
-KOMENTAR 📝
-VOTE CERITA INI ❤️
-BAGIKAN KE TEMAN KALIAN ➡️
-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
-DAN FOLLOW PROFILKU 👌😉
Baik, sekian dariku, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....