
Lee POV.
Sudah cukup lama aku duduk di kursi tunggu bersama Rifa yang juga tengah duduk di sebelahku. Lama kelamaan, keheningan membuatku bosan dan akhirnya aku putuskan untuk bangkit lalu berjalan ke depan ruang ICU dan berhenti tepat di depan pintu kacanya.
Seketika aku tertegun melihat Devano telah sadar dari komanya dan kini pria itu tengah menatap Aisyah dengan senyuman lebar di bibirnya yang masih pucat. Aku rasa ini keajaiban, bagaimana mungkin Devano yang baru saja di nyatakan koma dan kritis kini bisa langsung sadar dan tersenyum seperti sekarang hanya karena Aisyah hadir di sisinya.
Aku melihat Aisyah mengambilkan air putih untuk Devano sekaligus membantunya meminum air tersebut. Dari sini aku merasakan dadaku mulai sesak melihat betapa tulusnya Aisyah memperlakukan Devano yang bahkan sudah pernah membuat hati dan hidupnya hancur tak tersisa.
"Terbuat dari apakah hatimu itu, Aisyah?" gumamku sambil terus mengamati Aisyah yang kini tengah menyuapi Devano dengan sabarnya.
Tanganku dengan reflek memegangi dadaku yang mulai tak baik baik saja, rasa sesak muncul begitu tiba-tiba, tanpa mau memahami keadaanku yang sekarang.
"Kenapa aku jadi sulit bernafas seperti ini ketika melihat kebersamaan mereka?" gumamku yang akhirnya memilih untuk menyerah dan pergi dari depan ruang ICU itu.
Aku lari ke arah balkon Rumah sakit dan berdiri di sana untuk menghirup nafas sebanyak banyaknya agar rasa sesak di dada ini menghilang. Namun aku malah gelisah dan memikirkan bagaimana kalau Devano benar benar pulih, apa Aisyah akan kembali kepadanya?
"Tidaaakk!!" jeritku seraya meremas rambutku sampai berantakan.
Keresahan muncul di hatiku tanpa aba aba, perasaan itu menakut-nakuti ku.
"Aku tidak mau kehilangan Aisyah, meskipun dia bukan milikku, tapi aku tak ingin melihatnya kembali bersama pria yang pernah menghancurkannya. Tidak!" teriakku sambil menghantamkan kepalan tanganku ke pembatas Balkon tanpa sadar.
"Lee, kamu ngapain...lho, tangan kamu kenapa itu!" Tanpa aku duga Aisyah sudah berada di belakangku dan secara spontan meraih tanganku karena dia melihat tanganku terluka.
"Kenapa sampai luka kaya gini, sih?" tanya Aisyah khawatir, aku hanya menanggapinya dengan tatapan penuh arti.
"Aku panggil suster buat obatin luka kamu ya?" ujar Aisyah yang hendak pergi memanggil suster.
"Jangan!" tolakku yang membuat Aisyah berbalik dan menghampiriku lagi.
"Tapi tangan kamu butuh di obatin, Lee," selanya dengan raut khawatir.
"Aku...aku mau kamu yang obatin luka ini," pintaku yang jujur saja membuatku malu sendiri karena kesannya terlalu terang terangan mencari perhatiannya.
"Tapi...aku...aku harus kembali ke ICU sekarang juga, Devano masih membutuhkan aku...maafin aku ya, Lee," kata Aisyah dengan tatapan penuh rasa bersalahnya.
"O...oh, ya udah, gak papa, aku bisa obatin luka kecil ini sendiri kok, kamu balik aja..." ujarku yang merasa sedikit kecewa.
"Sekali lagi maafin aku ya, Lee. Dan jangan lupa lukanya di obati, aku pergi dulu," ucap Aisyah sebelum pergi dan meninggalkan rasa kecewa di hatiku.
"Kamu harus ngerti, Lee. Kalau saat ini Devano lebih membutuhkan Aisyah daripada kamu," gumamku menenangkan diri sendiri.
__ADS_1
Kemudian aku menumpukan kedua tanganku di pembatas Balkon seraya menatap langit yang malam ini tampak gelap tak berbintang sama persis dengan suasana hatiku sekarang.
"Ya Allah, bisakah aku memiliki seseorang seperti Aisyah?" bisik ku hanya di dalam hati.
"Aku ingin menjadi seseorang yang selalu di sisinya dalam segala keadaan, aku ingin menjadi orang yang bisa mengusap air matanya ketika dia menangis, aku ingin menjadi orang yang selalu bisa membuat dia tersenyum setiap saat, dan aku sangat ingin menjadi orang yang bisa membuatnya bahagia sampai ia melupakan semua lukanya," lirihku seraya menerawang ke atas langit.
*****
Aisyah POV.
Setelah Devano tertidur, aku perlahan bangkit dari kursi lalu dengan hati hati aku menaikan selimut sampai sebatas dada Devano.
"Good night and get well soon, Dev..." bisik ku seraya memandang wajah tampannya yang begitu damai saat tertidur.
Lalu setelahnya aku keluar dari ruang ICU dan berjalan melewati koridor demi koridor untuk mencari Lee. Sesampainya di balkon rumah sakit, aku mendapati Lee tertidur di atas lantai yang dingin hanya beralaskan jaketnya.
Sontak aku langsung menghampirinya dan bersimpuh lalu mengguncang bahunya agar dia terbangun, aku khawatir dia akan sakit kalau tidur di lantai seperti ini.
"Lee, bangun...jangan tidur di sembarang tempat kaya gini...gak baik buat kesehatan kamu!" ujarku yang akhirnya berhasil membuat Lee terbangun dan duduk.
"Apa ini udah pagi?" tanyanya sambil mengucek mata sipitnya dengan kedua tangan, persis seperti anak kecil ketika bangun tidur.
"Ini masih malam, lebih tepatnya tengah malam, Lee. Aku bangunin kamu karena khawatir kamu bakal demam kalau tidur di lantai kaya gini," jelasku yang tiba-tiba mencetak senyuman boxy di bibir tipis Lee.
"Maafin aku ya, Lee," ucapku dalam.
Raut Lee berubah bingung.
"Kok malah minta maaf? Kamu memangnya punya salah apa sama aku?" tanya Lee heran.
"Aku punya banyak salah sama kamu, Lee. Maka dari itu aku minta maaf, maafin aku yang selalu merepotkan kamu dan juga...maafin aku yang belum bisa membalas perasaan kamu," jawabku yang entah kenapa membuat Lee terkekeh.
"Hey, aku kan udah pernah bilang berkali-kali sama kamu, gak perlu minta maaf, aku melakukan ini semua dengan tulus, Aisyah...aku gak pernah mengharapkan apapun dari kamu sebagai imbalan, aku hanya ingin menjadi yang selalu ada di samping kamu dalam segala keadaan," ungkap Lee yang membuatku tersenyum sekaligus menangis karena terharu.
"Terimakasih udah hadir di hidup aku, Lee, tanpa kamu, mungkin aku akan selalu kebingungan dalam melakukan banyak hal," ujarku yang membuat Lee tersenyum lembut lalu menyodorkan sapu tangannya kepadaku.
Aku mengambil sapu tangannya lalu menhapus air mataku dengan kain tersebut.
"Terimakasih juga telah mengizinkan aku menjadi seseorang yang kamu kenal dengan baik, Aisyah...jangan pernah berubah ya, meskipun nanti kamu menemukan sosok yang lebih bisa menjaga dan membahagiakan kamu,"
"Aku janji gak akan pernah berubah, Lee," janjiku yang membuat Lee tersenyum manis kepadaku.
__ADS_1
Kemudian pria tampan asal Korea Selatan itu mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
"Let's go home with me, princess," ajak Lee yang mulai memperlakukan ku seperti seorang putri kerajaan.
Lantas aku berdiri tanpa menerima uluran tangan Lee, namun aku menghargainya dengan senyuman manis yang terukir di bibirku.
"Let's go, prince without crown," candaku yang membuat Lee langsung tertawa.
"Sepertinya kamu harus mampir ke kastil ku untuk melihat mahkota ku, princess Aisyah," balas Lee yang membuatku ikut tertawa.
Kemudian kami berjalan menuju lift dan turun ke lobby lalu keluar dari Rumah sakit dan memasuki mobil Lee yang masih terletak di parkiran depan Rumah sakit. Setelah itu Lee mengantarkan aku pulang ke rumah dengan selamat.
Jujur untuk malam ini, aku begitu terkesan dengan apa yang sudah Lee lakukan demi aku.
Seharusnya aku bisa jatuh cinta kepadanya bukan?
Bersambung....
Ceritain perasaan kalian pas baca bagian ini yah....
Sedih kah? Bahagia kah? Penasaran kah?
Pokoknya tinggalkan pendapat kalian di kolom komentar ya,
Jangan lupa untuk selalu support aku dengan cara :
-LIKE 👍
-KOMENTAR 📝
-VOTE CERITA INI ❤️
-BAGIKAN CERITA INI KE TEMAN KALIAN 👌
-KASIH BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊😍
Makasih banyak semuanya....
Aku cinta kalian.❤️❤️❤️😘😘😘
__ADS_1
Sampai jumpa dan Assalamualaikum....😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍