Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 39 | Menjatuhkan pilihan.


__ADS_3

Happy reading every one! 🤗💖


Baca ini dulu yuk! Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.🤍


Suara Adzan Maghrib terdengar dari Masjid yang terletak tak jauh dari makam Dasha. Aisyah yang baru selesai berdoa pun langsung bangkit berdiri lalu memandang Devano yang masih terduduk lemah di sebelahnya. Wanita 23 tahun itu sebenarnya terpukul melihat pria yang pernah menjadi poros dunianya menderita karena rasa penyesalannya, namun bagaimanapun dia harus tegas menolak Devano jika tidak ingin masa lalu yang menyakitkan itu kembali terulang.


Tanpa mengatakan apapun lagi Aisyah pergi meninggalkan Devano yang masih tenggelam dalam tangis sesalnya. Tapi baru beberapa langkah, Aisyah berhenti karena Devano memanggil namanya.


"Aisyah, aku mohon izinkan aku mengantar kamu pulang." Devano memohon seraya memandang Aisyah yang berdiri membelakanginya.


"Tidak perlu," jawab Aisyah dingin.


"Aku mohon Aisyah, sekali ini saja," mohon Devano lagi.


"Tidak bisa, Aisyah akan pulang bersama saya," sela Lee yang baru keluar dari persembunyiannya.


Pria itu kemudian menghampiri Aisyah lalu mengajak wanita itu pergi meninggalkan Devano yang menatap mereka dengan tatapan terluka.


"Rupanya aku memang bener-bener terlambat ya, Syah?" gumam Devano seraya tersenyum miris, raut terluka masih terlihat jelas di kedua matanya yang kini berkaca-kaca.


Pria rupawan dengan raut sendu itu kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan lesu menuju masjid dengan di bantu oleh kruk nya, saat ini yang sangat dia inginkan adalah sholat lalu mencurahkan semua yang ada dirasakannya kepada Allah SWT.


*****


Aisyah menelfon Bibik nya untuk memberitahu kalau ia pulang agak terlambat dari biasanya.


"Assalamualaikum Bude?"


"Wa'alaikumsalam salam nduk," sahut sang bibik dengan nada khawatir.


"Bude, Aisyah mau ngasih tahu kalau Aisyah pulangnya sehabis isya. Jadi kalau bude mau makan malam, gak usah nunggu Aisyah lagi ya?"


"Oh iya nduk, tapi kenapa kamu pulangnya terlambat toh? Lagi banyak kerjaan apa gimana?" cecar sang Bibik.


"Jadi gini bude, tadi sore sepulang dari rumah keluarga Lee, Aisyah ziarah ke makam Dasha di temani sama Lee, dan sekarang Aisyah lagi di halaman Masjid nungguin Lee sholat Maghrib," terang Aisyah.


"Berarti sampai detik ini kamu masih sama Lee?"


"Iya," jawab Aisyah apa adanya.


"Oalah, ya kalau kamu masih sama dia mah bude jadi gak perlu khawatir lagi nduk,"


"Ya udah telponnya di matiin yo? Bude mau sholat dulu soalnya... Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam bude," sahut Aisyah yang kemudian tersenyum sambil menatap layar ponselnya.


"Semua orang terdekat aku percaya kalau Lee bisa jagain aku dengan baik," gumam Aisyah.

__ADS_1


"Apa itu pertanda kalau udah tiba waktunya buat aku menerima cinta Lee dan memercayainya juga?" tanya Aisyah sambil memandang indahnya langit yang masih di hiasi mega berwarna merah.


"Tapi itu artinya aku mengingkari janjiku kepada ibunya Devano waktu itu," lirih Aisyah bimbang.


"Ya Allah, aku mohon kepada Mu, jauhkan hamba dari salah membuat keputusan dan berilah hamba petunjuk untuk masa depan yang lebih baik." Aisyah memohon dalam hati sambil memejamkan matanya.


Di tempat lain, Devano yang baru menyelesaikan dzikir dan shalawatnya kini menengadah kan tangan, memohon ampunan kepada Allah subhannahu wata'ala atas dosa dosa yang selama ini dia lakukan.


Setelah itu Devano memohon agar di berikan kemudahan dalam mewujudkan impian terbesar putri semata wayangnya yang ingin sekali dia dan Aisyah bersatu lagi.


"Ya Allah, sesungguhnya hanya engkaulah yang maha membolak-balikkan hati, maka hamba mohon luluh kanlah hati Aisyah agar dia mau memaafkan hamba dengan sepenuh hatinya serta mau menerima hamba kembali. Hamba mohon Ya Allah, kabulkan lah doa hamba kali ini, ربنا اتنا فى لدنيا حسنه وفي الا اخرة حسنة وقنا عزب النر... Aamiin ya rabbal alamin."


Devano mengakhiri doanya sambil mengusapkan kedua tangan ke wajah rupawan nya yang sejak tadi di basahi oleh air mata.


Kemudian Devano berdiri dan hendak keluar dari masjid, namun ia berhenti sejenak saat matanya menjumpai Lee yang tengah tenggelam dalam khusyuknya sholat sunnah ba'diah yang tengah pria itu kerjakan. Seketika rasa tak percaya diri muncul di hati Devano, namun meskipun begitu, ia tak sampai minder mengetahui kalau pria yang menjadi saingan terberatnya itu ternyata adalah pria religius yang artinya sesuai dengan kriteria Aisyah.


"Harus ku akui kalau sainganku bukan pria sembarangan, sebab dia adalah pria yang taat, berwajah tampan dan sepertinya juga sangat sukses. Sedangkan aku apa? Bajingan tobat atau calon pensiunan tentara yang berjalan saja harus di bantu kruk? Hah, sudahlah!"


Devano secepatnya keluar dari dalam Masjid sebelum Lee menyadari keberadaannya yang sejak tadi memperhatikan pria itu. Kemudian dengan terburu-buru Devano memakai sepatunya dan segera pergi dari sana, namun naas ketika Devano sampai di gerbang keluar Masjid, seorang anak kecil menabrak kakinya dan itu membuat dia terjungkal ke tanah dan berpisah dengan kruk penyelamatnya.


Dan saat Devano mengumpati keapesan yang baru saja menimpanya, sebuah tangan mungil mengulurkan kruk nya. Devano pun mendongak dan seketika itu juga dia membeku melihat seorang anak perempuan berumur lima tahunan yang wajahnya sangat mirip dengan dirinya.


"Maafin aku om, tadi aku gak sengaja nabrak om. Oh iya, ini tongkat nya om," kata anak itu yang membuat Devano meneguk ludahnya karena tiba-tiba lidahnya kelu.


"Princess, ini Abi." Air mata Devano tumpah saat mengatakannya. Dengan tangan bergetar pria itu meraih kruk nya dari tangan anak perempuan tadi.


"Sekarang aku harus pergi, bye bye om ganteng!" Anak perempuan berumur lima tahun itu lari sambil tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Devano.


"Dasha! Ini Abi kamu nak! Jangan pergi!" teriak Devano memanggil anak perempuan tadi agar mau kembali ke hadapannya.


Tapi sudah terlambat, karena anak perempuan itu sudah masuk ke dalam mobil hitam yang kemudian membawanya pergi secepat angin.


"Kenapa kejadiannya berlangsung begitu cepat?"


"Dan kemana perginya mobil yang membawa anak perempuan yang wajahnya mirip dengan ku tadi?"


"Astaghfirullah, kalau saja aku bisa berjalan dengan normal, aku pasti sudah mengejar mobil hitam itu!" sesal Devano yang kemudian berusaha berdiri dengan bantuan kruk penyelamatnya.


"Apa anak perempuan tadi adalah Dasha? Tapi... Dasha kan sudah tiada, jadi tidak mungkin," kata Devano sambil berjalan tertatih tatih.


"Hah! Sepertinya aku hanya berhalusinasi karena terlalu larut dalam kesedihan," lanjut Devano yang sudah terlalu lelah untuk berpikir.


"Tapi aku aku mencari tahunya besok," gumam Devano yang kemudian menyetop taksi untuk pulang ke apartemennya.


*****


Sementara Aisyah kini tengah makan malam bersama Lee di warung kaki lima pinggir jalan yang menjual sate ayam dan sate kambing. Dua orang berbeda gender itu makan dengan hening, tidak mengobrol seperti biasa-biasa nya. Entah karena satenya terlalu enak atau karena ada sesuatu di hati mereka yang menyebabkan mulut mereka saling bungkam.

__ADS_1


Tapi beberapa saat kemudian, Aisyah terkejut ketika menemukan sebuah gelang cantik dengan rangkaian berlian kecil berwarna biru muda tenggelam di dasar gelas berisi jus jeruk miliknya.


"Masya Allah, ini gelang punya siapa sih? Kok bisa-bisanya nyemplung ke gelas jus jeruk aku!" Dengan polosnya Aisyah mengira kalau gelang itu milik orang lain yang jatuh ke dalam gelasnya.


"Hey Aisyah, itu gelang punya kamu tahu." Lee tertawa pelan seraya menjelaskan, namun Aisyah masih belum mengerti juga.


"Aku gak punya gelang cantik dan mahal kayak gini Lee," pungkas Aisyah masih kebingungan.


"Sebelumnya memang gak punya, tapi sekarang itu milik kamu, Aisyah. Aku yang membelikannya untuk kamu," terang Lee yang akhirnya membuat Aisyah mengerti dan refleks menutup mulutnya.


"Hah? Astaghfirullah, Lee! Kamu bikin aku syok deh! Lain kali gak usahlah nyemplungin barang berharga dan secantik ini ke dalam jus jeruk, nanti kalau ke telan kan bisa bahaya tahu!" omel Aisyah memarahi Lee setelah berhasil mengeluarkan gelang cantik dengan rangkaian berlian biru muda itu dari dalam gelasnya.


"Iya iyaa... maaf, niatnya sih cuma mau suprise in kamu, eh ternyata aku malah salah. Maaf ya?" ucap Lee sembari menatap wajah syok Aisyah.


"Iya aku maafin, tapi jangan di ulangi lagi ya?"


"Siap Bu bos!" Lee memberi tanda hormat dan tindakannya itu membuat Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Sekarang gelang nya di pasang dong, Bu bos."


"Gak mau ah, gelangnya manis kena jus jeruk," canda Aisyah yang membuat Lee langsung mempout bibirnya gemas.


Kemudian Lee mengambil gelang berlian tadi lalu membasuhnya dengan sunlight di tempat pencucian piring, membuat Aisyah dan semua orang yang sedang makan di sana speechless melihat aksinya.


Bersambung....


Senang apa sedih nih?😍😢🤗


Maaf ya pendukung Aisyah-Devano belum bisa lihat keuwuuan dulu, sebab belum waktunya, hihihi.😊😁


Kira kira aku up semalem ini masih ada yang kebangun gak ya?🤔🤔


Hehe, baca pas paginya juga gak masalah.😁😁😁😍😍


Yang penting jangan lupa untuk support aku, oke?😉


-LIKE 👍


-KOMENTAR 📝


-VOTE CERITA INI ❤️


-KASIH BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


-SHARE CERITA INI KE TEMAN KALIAN ➡️


-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊

__ADS_1


Assalamualaikum ❤️


__ADS_2