
Devano POV.
"Devan, jangan males malesan kamu ya, ikut Ayah ke ladang sekarang juga!" perintah Ayahku di saat aku sedang terbaring di kamar karena merasakan sakit di perut ku.
"Devano lagi sakit Mas, kamu ngerti sedikit aja sama keadaannya, bisa gak sih?" sela Ibuku seraya membawakan teh hangat ke dalam kamarku.
"Minum dulu nak, teh hangat ini bisa meredakan nyeri di perut kamu itu," tutur Ibuku dengan penuh perhatian.
Di keluargaku, hanya Ibuku lah yang memperlakukanku dengan lembut, perhatian, dan penuh kasih sayang. Sementara yang lainnya selalu saja menekan, memaksa, dan memerintahku seperti apa yang mereka inginkan.
"Lastri, kamu itu selalu aja manjain Devano, dia itu mau jadi tentara, jadi dia harus kuat dan tidak boleh lemah serta manja seperti ini!" tegur Ayahku seraya menarik kakiku dan menyeretnya keluar kamar tanpa memakai perasaan.
Aku hanya diam sebab aku sibuk meresapi sensasi nyeri di perut dan juga hatiku.
"Kamu benar benar ayah yang kejam, Mas!" teriak Ibuku yang matanya sudah berkaca-kaca karena melihatku di perlakukan buruk oleh Ayah kandungku sendiri.
"Ini demi kebaikannya, Lastri. Devano harus menjadi laki laki yang kuat dan tidak lemah meski dalam keadaan sakit sekalipun!" pungkas Ayah sambil menatapku dengan tatapan intimidasinya.
"Lalu kenapa Hardi tidak mendapat perlakuan yang sama, hah?! Bukannya dia pun anak laki-laki?" protes Ibuku dengan marah.
"Hardi itu berbeda karena dia ingin menjadi Dokter, maka dari itu aku tidak menyuruhnya melatih fisik, tugas dia hanya perlu belajar dan belajar," cetus Ayahku yang seketika membuat hatiku iri karena mendapat perlakuan yang tidak adil.
"Cepat bangun! Kamu harus ikut Ayah ke ladang," perintah Ayahku dengan nada otoriternya.
"Baik, Ayah," Ucapku seraya berdiri dan memegangi perutku yang memang benar-benar nyeri.
"Bawa mesin itu!" titah Ayahku sambil menunjuk sebuah mesin penyedot air yang lumayan berat untuk di pikul.
"Ba...baik, ayah," sahutku dengan suara yang terbata bata.
Aku mengangkat mesin itu dengan kedua tanganku lalu menjunjung dan meletakkannya di bahu kananku. Kemudian aku menyalami ibuku sebelum akhirnya pergi mengikuti Ayahku sambil menahan rasa nyeri dan sakit di perutku ini.
"Hati hati nak," pesan Ibuku dengan suara yang terdengar pilu.
Aku mengangguk dan tersenyum padanya agar dia tidak terlalu mengkhawatirkan keadaanku.
****
Sore harinya aku datang ke rooftop sekolah dan merebahkan tubuh lelahku di sana sambil menatap langit senja yang indahnya mampu menghilangkan rasa nyeri di perut maupun di hatiku.
"Kenapa gue harus terlahir kalau hanya untuk memenuhi ekspektasi Ayah gue?!" teriakku sambil menitikkan air mata lelahku.
"Kenapa gue gak pernah dapet keadilan bahkan dari keluarga gue sendiri?!" teriakku dengan suara yang teredam oleh tangis lara.
"Kenapa gue gak pernah punya hak buat menentukan apa yang gue mau dan apa yang gue gak mau...hiks, kenapa?!" jeritku seraya memukul lantai dengan kuat sampai tanganku berdarah karenanya.
"Gue lemah, gue bodoh, gue cuma peliharaan ayah gue!" teriakku seraya duduk dan kembali memukul lantai, tak peduli jika tanganku ini akan hancur sekalipun.
Beberapa saat kemudian suara langkah kaki seseorang mengejutkanku, aku mendongak untuk melihat siapa yang datang menghampiriku. Dan rupanya dia adalah Aisyah, gadis SMP sebelah yang waktu itu menumpahkan gorengan dan es plastik nya ke wajah dan bajuku.
"Ngapain loe di sini?" tanyaku dengan dingin.
__ADS_1
"Tadinya sih mau lihat senja, tapi sayangnya sore ini mendung."
"Kakak sendiri mau ngapain di sini?" Dia balik menanyaiku.
"Bukan urusan loe," jawabku dingin.
Aku berharap Aisyah akan segera pergi dari rooftop ini, tapi sayangnya dia malah duduk di sebelahku sambil memangku tangannya dan memandangi wajahku.
"Kakak abis nangis ya?" tanya Aisyah yang membuatku langsung mengusap bekas air mata di pipiku.
"Ya ampun, tangan kakak kenapa? Kok berdarah darah gitu?"
Aisyah langsung terlihat khawatir ketika melihat luka di kedua tanganku.
"Biar aku obatin ya kak," katanya sambil meraih tanganku dan meniup-niup tepat di lukanya dengan serius.
Aku terdiam sambil menatap Aisyah dengan rasa haru di hatiku, dia menjadi satu satunya perempuan selain ibuku yang memperlakukan aku dengan penuh perhatian dan kelembutan seperti ini.
"Kalau aku terluka ibuku akan meniup niup lukaku seperti ini, kak. Katanya supaya luka aku cepet kering dan sembuh," ucap Aisyah dengan wajah polosnya yang sedikit membuatku terhibur.
"Yang bener itu, luka bakalan sembuh kalau di obati, bukannya di tiup tiup kayak lilin gini," timpal ku yang membuat Aisyah langsung tersenyum lebar hingga menampakkan gigi putihnya.
"Kalau begitu, kakak jangan kemana mana ya, aku mau beli obat merah sama tissue buat nyembuhin luka kakak," ujarnya yang kemudian berlari meninggalkanku untuk membeli obat untuk luka di tangan ku.
"Polos, lucu, dan punya senyuman manis yang bisa menular ke siapapun yang melihatnya," ungkapku mendeskripsikan Aisyah sambil menatap punggungnya dari kejauhan.
Tak lama setelah Aisyah turun dari rooftop, hujan deras turun dan segera mengguyur tubuhku. Melengkapi rasa nyeri yang masih membekas di batin dan juga perutku.
Tadi pagi aku langsung di suruh ayahku untuk pergi latihan silat di padepokan guru ngajiku, siangnya saat aku baru pulang dan mulai sakit perut, aku masih saja di suruh ikut Ayah ke ladang sambil membawa mesin penyedot air yang lumayan berat. Setelahnya aku di perintahkan untuk menyirami tanaman, sampai akhirnya sore ini aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dan memilih untuk pergi ke rooftop sekolah karena aku tidak kuat jika harus di suruh suruh lagi oleh Ayahku.
Semakin deras hujan akan semakin membuat suhu udara dingin, akibatnya aku menggigil dan merasa pusing apalagi nyeri di perutku ini semakin terasa dan membuat aku lemas.
Aku luruh ke bawah dan jatuh di atas lantai yang dingin dan di banjiri air hujan. Saat ini aku pasrah dan rasanya tak masalah jika aku mati sekarang sebab percuma kalau aku hidup terjerat di tangan Ayahku yang diktator dan penuh dengan obsesi itu.
Tetapi rupanya Yang Kuasa tidak membiarkan aku mati, karena tak lama kemudian Aisyah datang memayungiku dan membiarkan tubuhnya sendiri basah di guyur hujan.
"Kak bangun, aku udah beli plester, obat merah dan juga makanan buat kakak," ucapnya yang dengan tulus mengulurkan tangan mungilnya kepadaku.
Aku lantas menerima uluran itu dan berdiri seraya memegangi payungnya.
"Kita ke bawah yuk, di sanakan ada kursi yang bisa kita gunakan untuk duduk dan berteduh sampai hujannya reda," ajak Aisyah yang kemudian menuntunku tanpa menunggu persetujuan dariku, mungkin karena dia tahu kalau aku terlalu lemah bahkan untuk sekedar berbicara.
"Pegangan kak, tubuh kakak kayaknya lemes banget, aku takut gak bisa menopang tubuh kakak," ucap Aisyah dengan khawatir ketika kita berdua menuruni tangga.
Dan setibanya di koridor kelas yang menyediakan bangku panjang, aku dan Aisyah duduk di sana. Lalu aku menggeletakkan payung yang habis kita pakai ke lantai, kemudian setelah itu aku menyenderkan kepalaku yang teramat pusing ini ke tembok koridor.
Sementara Aisyah langsung meraih kedua tanganku lalu mengolesi obat merah di luka ku yang sudah tak berdarah karena terbasuh air hujan tadi. Dia begitu cekatan dan telaten dalam mengobati luka di kedua tanganku, meskipun umurnya terpaut 4 tahun lebih muda daripada aku, namun sikap pedulinya jauh lebih dewasa daripada aku.
"Udah selesai," ucap Aisyah seusai mengobati lukaku.
"Pasti perih banget ya, kak?" tanyanya sambil menatapku.
__ADS_1
"Hem...," gumamku yang masih merasakan sakit yang luar biasa di perut dan juga kepalaku.
Aisyah membuka bungkusan roti lalu menyodorkannya kepadaku.
"Muka kakak pucet banget, pasti belum makan," kata bocah berumur 14 tahu itu kepadaku.
Sambil menelan ludah akhirnya aku menerima roti itu kemudian dengan cepat aku memakan dan menghabiskannya.
"Makasih," ucapku sambil menatap wajah Aisyah yang sedari tadi memperhatikan cara makanku.
"Sama-sama kak," balas Aisyah sambil tersenyum hangat kepadaku.
"Oh iya, kalau aku boleh tahu, nama kakak siapa ya?" tanya Aisyah.
"Devan," jawabku singkat.
"Kak Devan jangan putus asa ya, masih banyak kok di dunia ini yang peduli sama Kak Devan."
"Dan seberat apapun beban yang menimpa hidup kakak, tolong jangan pernah yang namanya nyakitin diri sendiri, kak. Karena hal itu gak mungkin bisa mengangkat beban hidup kakak," pesan Aisyah yang sambil mengusap bahuku yang kini bergetar karena isakanku.
"Makasih, Aisyah," lirihku seraya menoleh dan menatap wajah polosnya dengan penuh haru.
Flashback off.
Bersambung...
Hai sobat...π»π»
Gimana kabarnya?ππ
Semoga selalu sehat ya.ππ
Menurut kalian gimana part ini?βΊοΈ
Tulis di kolom komentar ya.πππ
Jangan lupa untuk selalu dukung aku dengan cara di bawah ini :
-LIKE π
-KOMENTAR π
-VOTE CERITA INI β€οΈ
-TEKAN BINTANG LIMA βββββ
-DAN FOLLOW PROFILKU πππ
Makasih banyak semuanya.ππ
Aku cinta kalian...ππππ
__ADS_1