
Bunyi samsak yang di pukul terdengar sangat keras dari ruangan pelatihan karate tempat Avila melampiaskan rasa sakit hatinya dengan cara memukuli samsak. Gadis tomboi 22 tahun itu sudah tak peduli lagi jika tenaganya akan terkuras habis sekalipun, karena yang penting ia dapat melupakan rasa sakit di hatinya walau hanya untuk beberapa saat.
"Kya... Kya...." Avila terus memukuli samsak di hadapannya sampai benda itu melayang tak beraturan ke sana kemari.
Avila melakukan kegiatan tersebut dengan sangat fokus, sampai sampai gadis yang telah bercucuran keringat itu tak sadar kalau dari tadi ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari kejauhan, tepatnya di depan jendela ruangan karate itu.
"Hyatt... Kya...." Avila memukul samsak seolah membayangkan kalau yang tengah ia pukuli saat ini adalah Lee, pria yang telah membuatnya tahu bagaimana manisnya jatuh cinta dan juga sakitnya patah hati di waktu yang berurutan.
"Bodoh! Kenapa gue malah jatuh cinta sama laki laki yang gak pernah memandang gue sebagai wanita?!" Avila memarahi dirinya sendiri sebelum menjatuhkan tubuhnya ke lantai karena kelelahan.
"Kenapa juga gue jatuh cinta sama laki-laki yang ternyata mencintai sahabat gue sendiri. Kenapa?" Avila mengusap kasar cairan bening yang keluar dari ujung matanya. Seumur umur baru kali ini dia menjadi perempuan yang cengeng dan Avila sepenuhnya sadar kalau ini seperti bukan dirinya. Namun bagaimana lagi, cintanya terhadap Lee telah mengubahnya menjadi gadis yang mudah menangis.
"Arghh!" Dengan emosi Avila meninju lantai sampai tangannya lecet karena lantai yang ia tinju barusan memiliki permukaan yang kasar. Tapi, Avila tidak kesakitan sama sekali karena rasa sakit di hatinya jauh lebih besar.
"Capek ya? Nih minum dulu." Seseorang mengulurkan sebotol air mineral dingin kepada Avila.
"Makasih, sejak kapan lo di sini?" tanya Avila setelah menerima air mineral dari tangan seseorang yang tak lain adalah Robbie.
"Baru tadi."
Robbie duduk di lantai bersebelahan dengan Avila. Kemudian dengan gentle Robbie membukakan tutup botol air mineral tadi sebelum mengembalikannya lagi ke tangan Avila.
"Ngapain lo ke sini? Mau latihan karate juga?" tanya Avila sambil tersenyum miring.
"Iya gue mau latihan," jawab Robbie dengan ragu.
"Bagus, akhirnya lo berubah pikiran dan mau latihan karate juga," timpal Avila dengan senyuman smirk yang tersungging di bibirnya.
"I... iya, setelah di pikir pikir kayaknya gak ada salahnya gue belajar bela diri," kata Robbie tergagap karena dia terpaksa berpura-pura ingin belajar karate. Pedahal aslinya dia hanya ingin mengawasi Avila dan memastikan kalau gadis yang di cintai nya itu baik baik saja.
"Kalau lo beneran mau latihan karate, sekarang adalah waktu yang tepat, lo bisa belajar sama gue."
Avila berdiri setelah ia menghabiskan sebotol air mineral dingin pemberian Robbie tadi. "Cepetan bangun bie," perintahnya kemudian.
"Apa harus sekarang juga?" protes Robbie dengan muka pias, dia sudah ngeri membayangkan apa yang akan terjadi jika dia belajar karate dengan Avila yang galaknya tak pernah main main itu.
"Bangun Robbie!" bentak Avila yang rupanya tak sabar ingin segera melampiaskan sakit hatinya dengan cara menjadikan Robbie sebagai sasaran pukulannya.
"Iya iya Vi, tapi gue kan baru pertama kali belajar bela diri nih, jadi jangan pukul gue beneran ya? Oke?"
"Bawel banget lo, sini lo cepetan!" perintah Avila dengan wajah yang menyeramkan menurut Robbie.
"I...iya, Vi." Robbie berdiri dan mendekati Avila seraya memasang kuda-kuda yang terlihat aneh di mata Avila.
"Lo takut ya?" ejek Avila dengan wajah meremehkannya yang melukai harga diri Robbie sebagai laki-laki.
"Heh, asal lo tahu ya, lawan tentara Jepang aja gue berani, apalagi cuma ngelawan lo," pungkas Robbie yang langsung tak terima jika remehkan.
__ADS_1
"Ooh, oke, kita buktiin ya."
Avila kemudian melayangkan beberapa pukulan ke perut Robbie sampai pria itu mengaduh kesakitan.
"Argh, aduh ampun Vi, sebenernya lo ini lagi sakit hati apa sakit jiwa sih? Lo mukulin gue kayak orang kesetanan tahu gak! Untung gue keturunan Ironman, kalau gak mungkin gue udah tewas di tangan lo," cerocos Robbie dengan wajah kesal sekaligus kesakitan.
"Makanya lain kali lo gak usah nyamperin gue di saat gue lagi patah hati,"
"Karena gue gak butuh kehadiran lo, mending lo cabut sana!" lanjut Avila yang terang terangan mengusir Robbie, namun lelaki itu tak mau beranjak dari tempatnya.
"Gue bakal cabut kalau lo ikut sama gue," sela Robbie seraya menatap Avila dengan serius.
"Kalau gue masih mau di sini gimana?"
"Ya udah, gue juga bakal stay di sini sampai lo capek dan mau ikut pulang sama gue," jawab Robbie seraya mendekati Avila.
"Huh, mending lo gak usah sok care sama gue deh, gue capek dan gue mau sendiri." Avila mundur menjauhi Robbie karena lelaki itu kini semakin mendekatinya.
"Sok care kata lo? Haha, asal lo tahu ya, selama ini gue itu beneran care sama lo, gue selalu khawatirin lo, gue rela ngabisin uang buat beli bensin demi bisa ngikutin lo kemanapun karena gue mau jagain lo, tapi sekarang dengan seenaknya lo bilang kalau gue ini sok care, sakit hati gue Vi," ungkap Robbie yang membuat Avila menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Kenapa lo masih bisa sepeduli itu sama gue?" tanya Avila merasa bersalah.
"Karena gue masih sayang sama lo, gue masih cinta sama lo, Vi." Pengakuan Robbie tersebut membuat Avila tercengang dan tak mampu mengatakan apapun untuk beberapa saat.
"Bagaimana mungkin? Lo pasti ngaco ya? Lo sadar gak sih kalau selama ini lo itu benci sama gue, lo suka bikin gue emosi dan...." Belum selesai Avila berbicara, Robbie sudah memotongnya.
"Maaf, maafin gue, sekarang gue baru tau gimana sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan itu, sekali lagi maafin gue bie, dulu lo pasti sering banget ngerasain sakit yang gue rasain sekarang ini," ucap Avila penuh penyesalan.
Robbie bergerak maju lalu memeluk tubuh Avila dengan erat. "Gue udah maafin lo dari jauh jauh hari, Vi. Gue udah sadar kalau cinta itu gak bisa di paksa," kata Robbie sambil menepuk-nepuk punggung Avila dengan penuh perhatian.
"Tapi kenapa lo masih memilih untuk bertahan di saat lo sadar kalau lo gak bisa paksa gue buat cinta sama lo?" tanya Avila sembari melepaskan pelukan Robbie dari tubuhnya.
"Itulah anehnya cinta Vi, gue yakin siapapun rela tersakiti asalkan bisa melihat orang yang di cintai nya bahagia," jawab Robbie sembari menatap Avila dengan penuh kerinduan di matanya.
*****
Sementara di dalam Asrama Militer Devano tengah mencari cari buku diary milik Dasha, putrinya. Devano masih ingat sebelum kecelakaan ia tak sengaja meninggalkan buku diary itu di kamar Asramanya. Namun sudah berulangkali Devano memeriksa kamarnya, buku itu tak kunjung ia temukan.
Sampai pada akhirnya seseorang berseragam tentara datang ke kamarnya.
"Permisi kapten, apa kapten sedang mencari buku ini?" tanya orang itu yang tak lain adalah Tubagus, teman Devano yang berprofesi sebagai tentara juga.
"Bagaimana buku itu bisa ada di tangan kamu?" Dengan cepat Devano merebut buku diary milik putrinya itu dari tangan Tubagus.
"Maaf kapten, saya menemukannya tergeletak di depan pintu kamar ini, karena saya pikir buku itu sangat penting bagi kapten, maka nya saya memutuskan untuk menyimpannya dan mengembalikannya kepada kapten saat kapten sudah kembali ke Asrama," jelas Tubagus.
"Terimakasih banyak, sekarang kamu boleh keluar dari kamar saya." Devano kembali bersikap dingin seperti biasanya.
__ADS_1
"Tapi kalau saya boleh tahu, bagaimana keadaan kapten saat ini?" tanya Tubagus yang memberanikan diri untuk menanyakan keadaan Sang kapten.
"Alhamdulillah, saya sudah lebih baik, meskipun sebelah kaki saya masih tak bisa berfungsi," jawab Devano sembari fokus memeriksa diary milik putrinya.
"Sabar ya kapten."
"Hm."
"Kamu tidak membaca isi buku ini bukan?" selidik Devano sembari menatap Tubagus penuh curiga.
"Tidak kapten, saya tidak berani berbuat lancang seperti itu," jawab Tubagus dengan tegas.
"Bagus, kalau begitu tinggalkan saya sendiri," perintah Devano.
"Siap kapten," sahut Tubagus sebelum akhirnya keluar dari kamar Devano.
Setelah itu Devano berjalan tertatih tatih menuju jendela kamarnya sembari menggenggam buku diary milik Dasha, putrinya. Kemudian pria tampan itu duduk di kursi dan membaca kembali tulisan acak putrinya di kertas diary itu sambil menahan air mata penyesalannya.
"Princess, katakan kepada Abi kamu ini bahwa dia belum terlambat untuk mewujudkan impian terbesar kamu yang tertulis di diary milikmu ini," gumam Devano dengan sendu.
Bersambung....
Gimana perasaan kalian?
Sedih?
Senang?
Atau kesal?
Ceritain ke aku lewat komentar yah.
Jangan lupa untuk selalu support aku dengan cara seperti biasa :
-LIKE 👍
-KOMENTAR 📝
-VOTE CERITA INI ❤️
-SHARE CERITA INI KE TEMAN KALIAN ➡️
-KASIH BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊
Maaf ya kalau di part ini banyak di isi sama Avila dan Robbie, terus Aisyah sama Lee juga gak muncul.
__ADS_1