
"Ada apa lo nyamperin gue, hah?" Avila menanyakan tujuan perempuan cantik yang sekarang duduk di hadapannya.
"Santai aja kali, gak usah tegang," sahut perempuan cantik itu sambil tersenyum smirk.
Avila berdecih lalu menatap perempuan yang tak lain adalah Rifa itu dengan tatapan tajamnya.
"Gak usah basa-basi deh, kalo lo mau ngomong, langsung aja ngomong, kalo gak jadi ya udah gue mau pergi," tandas Avila dengan tatapan tajamnya yang menyiratkan rasa muak terhadap Rifa.
"Ternyata lo itu orangnya gak sabaran banget ya? Apa apa harus ngegas, huh?"
"Gue gak punya banyak waktu buat dengerin ocehan lo yang gak berfaedah ini ya!" tandas Avila dengan geram.
"Oh oke, sekarang gue bakal ngomong serius sama lo... Jadi gue mau ngajak lo kerjasama," ungkap Rifa masih menggantungkan kalimatnya.
Avila mengernyitkan dahinya curiga.
"Kerjasama? Kerjasama dalam hal apa ya?" tanyanya.
Rifa tersenyum smirk kemudian berbisik di telinga Avila.
"Shit!" umpat Avila sambil mengepalkan buku buku jarinya untuk menahan rasa geram.
"Gimana? Menarik bukan? Dengan begitu kamu bisa memiliki Lee seutuhnya, dan aku bisa bersama Devano lagi," ujar Rifa dengan entengnya.
PLAK!
Habis sudah kesabaran Avila, dengan kekuatan penuh dia menampar pipi Rifa dan membuat empunya menjerit kesakitan.
"Arghh! Auh, beraninya lo nampar gue, cewek jadi jadian!" umpat Rifa yang hendak menampar balik pipi Avila, namun untungnya tidak sempat karena ada tangan kekar yang menghalanginya.
Tangan Rifa di pelintir lalu dihempaskan dengan kasar. "Aduh sakit, kasar banget sih lo sama cewek!" teriak Rifa sambil menatap wajah pemilik tangan kekar yang tadi menghalangi dan memelintir tangannya.
"Perempuan ular kayak lo memang pantas di perlakukan secara kasar!" tandas Robbie yang rupanya adalah pemilik tangan kekar itu.
"Astaga, gue gak lagi berurusan sama lo ya, jadi mendingan lo gak usah ikut campur dan pergi sekarang juga!" bentak Rifa dengan nada tinggi, untung saja Kafe itu lagi sepi pengunjung.
Tapi Robbie tetap tak terima di bentak oleh seorang wanita seperti Rifa, dia bergerak maju dan mencengkeram bahu Rifa dengan sekuat tenaganya.
"Dengerin gue ya perempuan ular, Kalau lo berurusan sama Avila itu artinya lo berurusan juga sama gue, ngerti?" peringat Robbie sambil menatap mata Rifa dengan tajam.
__ADS_1
Bukannya takut atau merasa terintimidasi Rifa malah mendongak dan membalas tatapan tajam Robbie dengan tatapan seolah sedang menantang pria itu.
"Haha, pantes aja Avila gak bisa menjalin hubungan spesial sama Lee, ternyata penyebabnya itu adalah lo, cowok pengecut yang suka mencampuri urusannya," ujar Rifa yang langsung membuat Robbie dan Avila naik darah.
Avila menyingkirkan tangan Robbie yang mencengkram kuat bahu Rifa, kemudian gadis tomboi itu tak segan untuk meninju pipi Rifa sampai empunya mengumpat kesakitan.
"Sebesar apapun gue mencintai Lee, gue gak akan pernah terobsesi untuk memilikinya seperti lo terobsesi untuk memiliki Devano," ucap Avila dengan kemarahan yang masih menguasai hatinya.
"Kalau lo kira gue sakit hati sama Aisyah karena dialah wanita yang Lee cintai, lo salah besar, Rifa."
"Jadi gue peringatkan sama lo, jangan pernah lagi mempengaruhi gue dengan ucapan yang keluar dari mulut berbisa lo itu, karena percuma, gak bakal mempan buat gue," peringat Avila sambil menatap wajah Rifa dengan tatapan tajamnya yang menakutkan.
Rifa mengumpat dalam hati sambil memegangi pipinya yang memar parah akibat tamparan keras dari Avila.
"Sampai kapanpun lo gak akan bisa menghancurkan persahabatan gue sama Aisyah," ujar Avila sebelum akhirnya pergi bersama Robbie yang merangkul bahunya.
"Kalian pasti bakal nyesel pernah memperlakukan gue kayak gini!" jerit Rifa yang menaruh dendam dalam hatinya.
*****
"Kenapa lo bisa sama dia sih? Kalian ketemuan ya?" Robbie mengintrogasi Avila ketika mereka berdua sudah di luar Kafe.
"Terus kenapa lo bisa ngobrol kayak tadi sama dia?" selidik Robbie.
"Ngobrol kata lo? Haish, biar gue jelasin nih ya, tadi itu gue sama Oppa Lee makan siang di warung Padang kan, nah abis itu Oppa Lee pergi meeting dan gue memutuskan untuk ngopi di Kafe, eh tiba-tiba si ular berbisa itu nyamperin gue dan lo lihat sendiri kan kalau kita berdua itu adu mulut bukannya ngobrol," jelas Avila meluruskan.
"Ooh, ya udah lain kali kalau cewek ular itu nyamperin lo lagi, mending lo pergi aja deh," saran Robbie yang sepertinya khawatir dengan Avila.
"Ekhem, itu kenapa mukanya cemas banget ya mas?" goda Avila yang langsung membuat Robbie malu dan pergi meninggalkannya.
"Eh, jangan tinggalin gue, woy!" teriak Avila sambil tertawa geli.
*****
Sementara di tempat lain ada Aisyah dan Devano yang tengah berjalan beriringan menuju Kafe Delima, tempat yang telah mereka sepakati untuk mengobrolkan soal keganjilan kematian Dasha putri mereka.
Selama berjalan beriringan, Aisyah dan Devano memilih untuk saling diam sambil memandangi area pinggir jalan yang sangat familiar karena dulu sering di lewati oleh mereka berdua.
"Dulu kita sering melewati jalan ini sambil bergandengan tangan ataupun naik sepeda berboncengan, kamu ingat? Waktu itu kita saling melepas tawa seakan hanya kita lah yang bisa berbahagia di dunia ini," ujar Devano bernostalgia, mengingat kenangan masa lalunya bersama Aisyah yang masih tertinggal di jalan itu.
__ADS_1
Aisyah menoleh ke samping menatap wajah Devano dengan tatapan sendunya. "Aku masih ingat waktu itu kita pernah naik sepeda dan jatuh di jalanan ini, tapi anehnya kita berdua malah tertawa meskipun lutut kita berdua berdarah dan rasanya perih...."
"Aku bingung, kenapa hanya di waktu itu aku bisa cepat melupakan perih nya luka hanya dengan tertawa," ungkap Aisyah dengan suara parau yang sontak membuat Devano menatap wajah cantiknya dengan raut sendu.
"Andai itu masih berlaku sekarang, aku pasti akan terus tertawa agar aku bisa melupakan semua luka yang pernah kamu torehkan di hati aku, Dev," lanjut Aisyah dengan miris.
"Maafin aku, Aisyah," gumam Devano di penuhi rasa bersalah.
"Maafin aku yang pernah melukai kamu sedalam itu, maafin aku yang udah egois dan kejam sama kamu, maafin aku yang pernah meninggalkan kamu, tolong maafin aku Aisyah, karena rasa penyesalan ini perlahan lahan bisa membunuh aku." Devano memohon kepada Aisyah sambil meneteskan air mata penyesalannya.
Dan Aisyah pun bisa merasakan ketulusan dari permohonan maaf Devano kali ini.
"Aku... Aku udah maafin kamu, Devan. Aku juga minta maaf karena kemarin aku udah memperlakukan kamu dengan buruk," ujar Aisyah yang membuat Devano tak bisa menyembunyikan senyuman penuh haru nya.
"Makasih Aisyah, makasih banyak, akhirnya aku bisa lega karena kamu udah maafin aku, jujur sebelumnya aku belum pernah merasa selega ini." Devano menatap Aisyah dengan penuh rasa syukur di hatinya.
"Soal kamu yang judes kemarin itu aku bisa memaklumi kok," lanjut Devano sambil tersenyum lalu melangkahkan kakinya mendahului Aisyah.
"Yang terpenting sekarang adalah kita harus bisa bekerjasama untuk mengungkap misteri dibalik meninggalkannya Dasha putri kita," ujar Aisyah yang dibalas anggukan oleh Devano.
Bersambung....
Wah, Aisyah sama Devano mau jadi detektif nih.😍😍😍
Menurut kalian gimana? Setuju gak kalau Devano sama Aisyah kerjasama untuk mengungkap misteri tentang Dasha putri mereka?🤔
Jangan lupa untuk selalu support aku ya readers :
-LIKE 👍
-KOMENTAR 📝
-BAGIKAN KE TEMAN KALIAN ➡️
-VOTE CERITA INI ❤️
-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏
__ADS_1
Bye, bye dan Assalamualaikum.😍🤗😍🤗😍