Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 34 | The night full of tears


__ADS_3

Please siapkan tissue sebelum membaca part ini.


"Jujur sampai detik ini aku masih belum sepenuhnya yakin bahwa anak aku beneran udah gak ada." Setelah selesai makan malam Aisyah langsung menceritakan apa yang dari tadi mengganggu pikirannya kepada Lee dan Avila.


"Aisyah, aku ngerti, kehilangannya pasti berat banget buat kamu, tapi aku harap kamu bisa mengikhlaskannya, kita semua kan udah sama sama lihat kalau anak kamu meninggal dalam kecelakaan itu. Jadi aku mohon, ikhlaskan siapapun yang udah pergi ninggalin kamu, oke?" ujar Avila seraya menggenggam tangan Aisyah dan mengusap bahunya dengan penuh perhatian.


"Selama ini aku selalu berusaha untuk ikhlas, Vi. Tapi tadi aku ketemu sama anak perempuan yang mirip banget sama Dasha, dan... itu membuat aku kembali berpikir kalau jangan jangan Dasha masih hidup," ungkap Aisyah yang mulai menangis sesenggukan.


Lee yang tak tega melihat Aisyah menangis langsung memberikan selembar tissue kepada Aisyah.


"Dasha udah gak ada Aisyah, dia udah pergi ke surga, aku mohon kamu jangan memikirkannya lagi ya, karena apa? karena setiap kamu memikirkannya kamu selalu menangis dan bersedih, dan aku gak mau lihat kamu terus terusan sedih."


"Benar kata Avi, Aisyah. Kamu jangan berlarut larut dalam kesedihan hingga kamu membuat opini seperti tadi, Dasha itu udah pergi setahun yang lalu dan sudah seharusnya kamu mengikhlaskan dia, jangan meratapi dia seperti ini, karena aku yakin dia pasti sangat sedih kalau melihat Ummi nya menangis seperti ini," tutur Lee seraya menatap wajah sembab Aisyah dengan kasih sayang yang memancar dari matanya.


"Melihatmu menangis seperti ini membuat hatiku sesak bukan main Aisyah, rasanya aku ingin menghapus air mata itu dengan jemariku, lalu mengatakan bahwa ke depannya aku tak akan membiarkan kamu menangis lagi," batin Lee di iringi rasa sesak yang menghimpit dadanya.


"Andai kamu mau membuka hati kamu untuk aku, aku pasti akan berjuang mati matian untuk kembali menerbitkan senyuman manis di bibir kamu, Aisyah." lanjut Lee di dalam hatinya sembari terus menatap Aisyah yang kini tengah menyandarkan kepalanya di bahu Avila.


"Udah ya Syah, jangan nangis lagi. Gimana kalo besok aku temenin kamu ke makam Dasha? Mana tahu sepulang dari sana perasaan kamu bisa tenang dan rasa kangen kamu juga bisa terobati, setuju?" saran Avila agar Aisyah berhenti menangis. Namun bukannya berhenti, tangis Aisyah malah semakin kencang apalagi setelah mendengar nama anaknya di sebut oleh Avila.


Mendapati Aisyah seperti itu, Lee langsung bertambah panik dan cemas, sekarang ia mencarikan Aisyah lebih banyak tissue untuk menghapus air mata wanita yang di cintai nya itu.


"Hiks, hiks, makasih Vi, makasih Lee, kalian memang sahabat terbaik aku, sekali lagi makasih karena kalian udah luangkan waktu buat dengerin curhatan seorang wanita menyedihkan seperti aku ini," ucap Aisyah terisak-isak sembari mengusap air mata yang membanjiri pipinya menggunakan tissue pemberian Lee.


"Aisyah, aku sama Avila akan selalu jadi pendengar yang baik buat kamu, pokoknya kapanpun kamu mau mencurahkan perasaan kamu, kamu bisa menemui aku, Avila, ataupun Robbie, karena kita semua akan senantiasa memberi kamu semangat dan dukungan," ujar Lee seraya menatap mata Aisyah yang kini tengah menatapnya juga.


"Betul kata Oppa, Syah, kami janji akan selalu ada setiap kamu butuh mencurahkan kesedihan kamu," timpal Avila sambil tersenyum meskipun sebenarnya di dalam hati dia terluka melihat ada cinta dan ketulusan di mata Lee ketika melihat Aisyah.


"Makasih, makasih, aku gak bisa membayangkan apa jadinya aku tanpa kalian...," ucap Aisyah penuh rasa haru.


"Satu lagi, Aisyah, kamu harus tahu bahwa melihatmu menangis adalah hal yang paling menyesakkan yang pernah aku rasakan selama hidup aku, maka aku mohon kedepannya jangan biarkan air mata kesedihanmu itu menetes lagi ya?" ungkap Lee dengan kejujuran yang membuat hati Aisyah sedikit demi sedikit mulai menerimanya.


Tetapi di sisi lain, ada hati yang hancur dan terluka karena mendengar ucapan Lee barusan, yaitu hati milik Avila yang telah terlanjur mencintai Lee belum lama ini.


*****


"Kamu pulang sendirian gak papakan?" tanya Lee yang meski di angguki dengan berat hati oleh Avila.


"Maaf ya, soalnya aku harus mengantar Aisyah."


"Gak papa kok Oppa, memang seharusnya Oppa mengantar Aisyah karena Aisyah lebih membutuhkan Oppa, kalau begitu aku pulang dulu, Assalamualaikum," kata Avila seraya memaksakan untuk tersenyum kepada Lee dan juga Aisyah pedahal hatinya sakit melihat betapa perhatiannya Lee kepada Aisyah.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati Vi," ucap Aisyah yang lalu di ikuti oleh Lee.

__ADS_1


"Oke!" sahut Avila tanpa menoleh.


"Maafin aku Vi, aku tahu kamu menyukai Lee, tapi akhir akhir ini aku selalu merasa aman hanya ketika bersamanya," ungkap Aisyah dalam hati sembari menatap punggung Avila yang semakin menjauh.


"Aku baru menyadari kalau ternyata aku membutuhkan Lee lebih dari yang selama ini aku kira," batin Aisyah sambil mengalihkan pandangannya ke arah Lee yang masih setia berdiri di sebelahnya.


"Lee," panggil Aisyah.


"I...iya, Syah?" sahut Lee langsung menoleh.


"Sampai kapan kita berdiri di sini?" tanya Aisyah yang sebenarnya menyimpan pertanyaan lain untuk Lee.


"Bentar ya, supir aku masih dalam perjalanan ke sini," jawab Lee.


"Apa kamu pusing?" tanya Lee yang melihat ekspresi tak enak di wajah Aisyah.


"Cuma sedikit, mungkin karena aku habis nangis."


"Kalau begitu sebaiknya kita duduk dulu." Lee mengajak Aisyah duduk di bangku panjang di depan mall yang masih ramai dikunjungi itu.


Beberapa saat kemudian suara Adzan isya berkumandang dari masjid yang tak jauh dari mall tempat Aisyah dan Lee berada.


"Udah masuk waktu isya nih, mendingan sekarang kamu sholat dulu, biar aku tungguin kamu di sini," ujar Aisyah.


"Kenapa kamu gak ikut sholat?" tanya Lee seraya menatap Aisyah.


"Ooh, maaf aku gak tahu," kata Lee dengan wajah merona.


"Emh, tapi kamu beneran gak papa kalau aku tinggal sendirian di sini?" tanya Lee yang ragu meninggalkan Aisyah sendiri sebab pria itu khawatir ada orang yang akan menyakiti Aisyah lagi.


"Gak papa, udah sana sholat, keburu iqomah nanti jadi makmum masbuq lho," kata Aisyah sambil tersenyum agar Lee yakin dia akan baik baik saja.


"Ya udah, tapi nanti kalau supir aku datang kamu langsung pulang aja yah, gak usah nungguin aku lagi, oke?" ucap Lee yang langsung mendapat anggukan dari Aisyah.


"Baiklah tuan bodyguard," sahut Aisyah yang membuat Lee tersenyum.


Kemudian pria tampan keturunan Korea Selatan itu bangkit dari bangku dan berjalan menuju masjid untuk melaksanakan sholat isya secara berjamaah.


"Lee akan menjadi sosok imam yang baik, penyayang, lembut dan penuh kasih, dia akan menjadi sosok ayah yang hebat untuk anak anaknya kelak."


"Betapa beruntungnya wanita yang akan mendampingi kamu dan menjadi ibu dari anak-anak kamu kelak Lee," gumam Aisyah setelah Lee pergi.


"Dan aku jelas tidak pantas untuk menjadi wanita yang beruntung itu," lanjutnya sembari tersenyum miris.

__ADS_1


"Kamu salah Aisyah," sela seseorang yang tak lain adalah Avila.


Rupanya sahabat Aisyah itu belum pulang ke rumah dan memutuskan untuk kembali menemui Aisyah lagi.


"Aisyah, kamu hanya perlu membuka hati kamu untuk dia, lalu setelahnya kamu pasti bisa menjadi wanita beruntung tersebut," ungkap Avila sambil berlinang air mata.


"Kalau aku egois, mungkin aku bisa membuka hati aku buat Lee, tapi aku masih memikirkan perasaan kamu, Avi. Aku gak mau melukai hati sahabat aku sendiri!" pungkas Aisyah sembari mengusap air mata Avila.


"Aku gak mau menyakiti perasaan kamu, Avi." Aisyah berdiri lalu memeluk Avila dengan erat.


"Tapi aku ingin melihat kamu bahagia, Aisyah. Cukup buat aku melihat kamu menangis dan bersedih selama ini, jika bersama Oppa Lee kamu bisa bahagia, aku rela mundur dan melupakannya, aku serius Aisyah, maka mulai detik ini cobalah buka hati kamu untuk dia," ujar Avila seraya membalas pelukan Aisyah dengan tak kalah eratnya.


Meskipun hatinya sakit seperti tertusuk ribuan jarum, Avila tetap berusaha untuk menunjukkan bahwa dia akan baik baik saja. Karena baginya kebahagiaan Aisyah adalah kebahagiaannya juga.


Bersambung....


Hai hai, gimana kabar kalian?


Semoga selalu dalam lindungan Allah, ya.


Btw, apa yang kalian rasain setelah membaca part kali ini?


Emosi?😑


Sedih?😭


Senang?😍


Atau campur aduk kayak gado-gado?πŸ˜£πŸ˜’β˜ΊοΈ


Please ceritain ke aku lewat komentar yah. pasti akan aku baca satu persatu, atau kalau bisa aku balas semua komentarnya.


Oh iya, jangan lupa untuk selalu support aku ya guys dengan cara seperti biasa yaitu:


-LIKE πŸ‘


-KOMENTAR πŸ“


-VOTE CERITA INI ❀️


-BAGIKAN CERITA INI KE TEMAN KALIAN ➑️


-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


-DAN FOLLOW PROFILKU πŸ™πŸ˜Š


Gumawo & Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


__ADS_2