Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 23 | Apa salah jika aku ingin melindungimu?


__ADS_3

Aisyah POV.


Aku baru saja mendapatkan izin dari Lee untuk pulang lebih cepat, dan sekarang waktunya aku untuk paking pakaian dan barang-barang ku, tapi ketika aku sudah selesai dan bersiap untuk keluar dari kamar hotel, Avila mencegahku.


"Kamu yakin gak papa pulang sendirian?" tanya Avila dengan wajah khawatir, sebab dia tahu kalau aku sering kali pusing ketika menaiki pesawat.


"Yakin, Vi. Jangan khawatir, aku pasti baik baik aja," jawabku sambil tersenyum meyakinkannya.


"Ya udah aku anterin kamu sampai Bandara ya?" tawar Avila seraya mengambil alih koper yang ada di tanganku.


"Hm, oke," sahutku.


Kemudian kami berdua pun berangkat ke Bandara dengan menggunakan taksi dan sesampainya di Bandara, aku bergerak memeluk Avila dengan erat.


"Semoga keputusan ini gak berujung menyakiti aku lagi, ya Vi?" bisikku dengan lirih.


"Insyaallah enggak, asalkan kamu mau mengikhlaskan apapun yang udah terjadi di masa lalu," kata Avila sambil mengusap punggungku dengan penuh perhatian.


"Kalo gitu aku berangkat ya," pamit ku seraya mengurai pelukan kami.


"Iya, dan jangan lupa kalau kamu mulai pusing, olesin minyak angin ini di kepala kamu, ya?" pesan Avila sambil menyelipkan sebotol minyak angin di saku jaketku.


"Bye, Avi," ucapku sambil melambaikan tangan dan melangkah pergi seraya menarik koperku.


"Bye, hati hati Aisyah, doaku selalu mengiringimu!" balas Avila sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.


*****


Sepertinya kali ini aku kurang beruntung sebab tempat dudukku berada di pinggir toilet dan dapur pesawat yang terkenal sebagai tempat yang paling di hindari jika ada turbulensi.


Namun bagaimana lagi, aku tak mungkin membatalkan penerbangan hanya karena masalah tempat duduk. Akhirnya dengan pasrah aku duduk di sana dan langsung memasang sabuk pengaman lebih awal daripada penumpang yang lainnya.


Setelah itu aku memejamkan mata dan berusaha untuk tidur karena pesawat tak lama lagi akan take off dan hal itu akan membuat perutku mual jika aku masih terjaga.


Tapi baru beberapa detik aku memejamkan mata, aku merasa seperti ada seseorang yang menempati kursi di sebelah ku. Dan benar saja ketika aku membuka mata, aku terkejut mendapati Lee duduk di sampingku.


"Lee?" panggil ku yang memastikan kalau yang aku lihat sekarang memang benar-benar Lee.


"Kaget yah?" duga Lee sambil menolehkan wajahnya dan menatapku.


Aku pun mengangguk mengiyakan dugaannya.

__ADS_1


"Kamu...ngapain di sini? Bukannya di Bali kamu masih banyak pekerjaan?" tanyaku yang masih heran.


Lee tak mengalihkan pandangannya dariku.


"Aku mau nemenin kamu, masalah kerjaan biar Robbie yang handle," jawab Lee yang malah membuatku semakin heran.


"Lee, aku bisa pulang sendiri kok, aku ini udah dewasa lho, bukan remaja labil kayak dulu lagi, kamu nggak perl---"


"Syuut...bagi aku, Aisyah yang dulu sama yang sekarang itu sama aja, sama sama mabuk kalau naik pesawat. Maka-nya aku sebagai teman sekaligus atasan kamu, bersedia meluangkan waktu demi menemani kamu selama penerbangan ini," potong Lee sambil menatapku penuh arti.


"Makasih ya Lee,"


"Enggak perlu bilang makasih, kayak sama siapa aja," balas Lee sambil tersenyum manis kepadaku.


Setelah itu keheningan terjadi diantara aku dan Lee, kami mulai di sibukkan oleh pikiran masing-masing. Sampai ada seorang pramugari yang tak sengaja menumpahkan secangkir kopi ke jaketku, mungkin karena dia tidak memperhatikan jalan sebab aku perhatikan dari tadi dia terus menatap ke arah Lee dengan wajah terpesonanya.


"Mbak! Bisa hati hati tidak sih!" Bentak Lee yang membuat Pramugari itu langsung menundukkan wajahnya dengan takut itu.


"Maaf Mas, saya tidak sengaja...."


"Kalau anda tidak bisa bekerja dengan baik, saya bisa saja melaporkan ke atasan anda supaya anda di pecat dari pekerjaan ini," Ancam Lee yang membuat aku terkejut karena baru kali ini aku melihat Lee semarah ini hanya karena masalah sepele.


"Enggak bisa Aisyah, pramugari yang kerjanya enggak fokus dan ceroboh seperti dia harus di beri peringatan supaya lain kali dia bisa lebih hati hati," kata Lee yang membuatku mengerutkan kening sebab tak paham dengan sikapnya saat ini.


"Lee, ini cuma soal ketidaksengajaan lho, enggak mestinya kamu semarah ini, lagian aku gak papa kok," tegur ku yang kasihan melihat raut ketakutan di wajah Pramugari itu.


"Oke, karena teman saya ini merupakan wanita yang penyabar dan pengertian, maka dari itu saya tidak akan membuat anda kehilangan pekerjaan ini, tapi saya ingatkan agar lain kali anda harus berhati-hati,"


"Baik, terimakasih Mas, Mbak...saya janji tidak akan membuat kesalahan seperti ini lagi, saya permisi," sahut Mbak Pramugari tadi dengan wajah lega-nya yang begitu terlihat sebelum akhirnya dia pergi ke belakang.


Setelah itu aku menatap Lee yang kini tengah membuka jaketnya,


"Kamu kenapa sih, Lee?" tanyaku heran sebab Lee yang biasanya selalu tenang dan santai, kini dapat terpancing hanya karena sebuah ketidaksengajaan kecil yang mengorbankan jaketku.


"Aku gak tahu, Syah. Jelas itu di luar kendali ku, aku selalu marah ketika ada orang yang mengusik kamu, apalagi sampai menyakiti kamu," jawab Lee yang seketika membuatku terdiam.


'Apa Lee menyukaiku?' Aku bertanya tanya dalam hati.


"Syah, kamu pasti kedinginan, pakai jaket aku yah," kata Lee sambil menyampirkan jaket di bahuku.


Sementara aku menatapnya dengan tatapan bingung sekaligus heran. Memang, Lee sering perhatian kepadaku, tapi kali ini tatapannya kepadaku sangat berbeda. Sebenarnya ada apa dengannya?

__ADS_1


"Aisyah, kamu...mulai pusing?" tegur Lee yang melihatku melamun.


"E...eh, enggak kok," jawabku dengan gugup.


"Mau minyak angin?" tawarnya yang langsung ku angguki.


Kemudian Lee memberiku minyak angin aromatherapy.


"Makasih ya, Lee Oppa," ucapku sambil tersenyum kepadanya.


*****


Lee POV.


"Kamu yakin mau jenguk dia?" tanyaku sambil mengamati ekspresi wajah Aisyah yang cenderung bimbang.


"Yakin, meskipun aku tahu resikonya sedikit menyakitkan, tapi tenang aja Lee, aku udah mulai terbiasa kok," jawab Aisyah yang kemudian berjalan memasuki Rumah sakit tempat mantan suaminya koma.


Aku mengikuti Aisyah dari belakang dengan perasaan khawatir, takut dia tersakiti lagi jika harus kembali bertemu dengan pria yang pernah menghancurkan hidupnya.


Dan ketika Aisyah memasuki kamar ICU Devano, aku dengan setia menunggunya di salah satu kursi yang ada di depan kamar ICU tersebut.


Tapi tiba-tiba saja terdengar suara keras yang berasal dari kamar ICU itu yang membuatku langsung panik.


Bersambung....


Maaf ya kalau aku jarang up, soalnya belakang ini aku sering ngedrop dan otak aku ngeblank...😭😭😭


Makanya jangan lupa support aku ya guys....


-LIKE 👍


-KOMENTAR 📝


-VOTE CERITA INI ❤️


-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


-FOLLOW PROFILKU 🙏


Bye bye.❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2