
Devano, Aisyah, dan Dasha berjalan beriringan seraya menggenggam erat tangan satu sama lain. Mereka bertiga sedang berada di sebuah Mall dan berniat akan menghabiskan waktu akhir pekan mereka dengan jalan-jalan dan berbelanja di tempat itu.
Sejak tadi Dasha sangat aktif dan tak berhenti mengajak Devano dan Aisyah bermain bersamanya. Anak itu sangat bahagia bisa menghabiskan waktu dengan kedua orangtuanya yang selama ini terpisah darinya.
"Abi, Ummi, angkat aku lagi!" pinta Dasha dengan antusias.
"Oke, princess," sahut Aisyah dan Devano yang kemudian dengan kompak menggendong tubuh Dasha ke atas.
"Yeay! Yeay! Finally I became a queen!" Teriak Dasha dengan ceria.
"Yeah, you are my queen," ujar Aisyah sambil menciumi pipi Dasha sampai putrinya itu tertawa karena geli.
"No, Dasha, kamu itu princess, sayang. Bukan Queen, karena saat ini yang menjadi Queen masih Ummi kamu," sela Devano yang membuat Aisyah dan juga Dasha meliriknya sinis.
Devano langsung meringis karena ditatap seperti itu oleh anak dan mantan istrinya.
"Hehehe, Abi salah yah?"
Dasha menggeleng keras lalu tersenyum manis. "Enggak kok, Abi memang benar, Queen nya itu masih Ummi dan yang jadi King nya pun masih Abi," tuturnya yang membuat Sang Abi menggaruk tengkuknya salah tingkah.
Senyuman samar terbentuk di bibir Aisyah. Wanita itu merasa senang melihat Devano salah tingkah di depan putri mereka. "Kita beli es krim yuk?" ajaknya yang kemudian berhasil mengalihkan pembahasan.
"Ayok! Aku mau rasa melon sama vanilla ya mi," sahut Dasha antusias.
"Wah, ternyata selera Abi nurun ke kamu ya, princess," ucap Devano yang tak menduga anaknya akan menyukai varian es krim favoritnya sejak dulu.
"Dasha bisa suka es krim favorit kamu mungkin karena waktu aku hamil dia, aku suka banget makan es krim dengan rasa itu," timpal Aisyah yang membuat Devano seketika terdiam.
******
"Hyung, jagain adik gue bentar ya, gue mau beli sesuatu di sana." Robbie menitipkan Kanaya kepada Lee sebab dia ingin pergi membeli sesuatu di Mall.
"Jangan lama-lama ya," sahut Lee.
"Tenang Hyung, enggak akan lama kok," ujar Robbie yang lalu turun dari mobil Lee dan berjalan memasuki Mall.
Sedangkan Lee dan Kanaya menunggu di mobil, sampai lima belas menit kemudian Robbie masih belum juga kembali, entah apa yang di beli pria itu sehingga memakan waktu lama.
__ADS_1
Merasa canggung jika terus berduaan di dalam mobil, Lee pun berniat mengajak Kanaya keluar dan jajan di Kafe yang masih ada di gedung yang sama dengan Mall yang tadi dimasuki oleh Robbie.
"Sambil menunggu kakak kamu selesai belanja, kamu mau enggak ikut saya ke Kafe?"
Kanaya tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju.
Sesampainya di dalam Kafe Lee langsung mempersilahkan Kanaya duduk di kursi yang berhadapan dengan kursinya.
"Kamu mau pesan minuman sama camilan apa?" tanyanya kemudian.
"Samakan aja sama pesanan Akhi," jawab Kanaya yang kurang tahu soal menu-menu yang ada di Kafe.
"Ooh, baiklah."
Lee memanggil seorang Waiters untuk segera mencatat pesanannya.
"Mohon ditunggu sebentar ya, kakak-kakak," kata Si Waiters dengan sopan setelah selesai mencatat pesanan Lee dan Kanaya.
"Baik mbak," sahut Kanaya sambil tersenyum ramah.
Setelah itu suasana canggung kembali menyelimuti Lee dan Kanaya. Keduanya sama-sama berpikir keras untuk mencari topik perbincangan yang menarik disela-sela menunggu kopi pesanan mereka datang.
"Gimana keadaan kamu sekarang?"
"Alhamdulillah baik, kalau Akhi bagaimana?"
"Alhamdulillah, baik juga."
"Kalau boleh tahu, kenapa kamu pulang dari pesantren?" tanya Lee mulai kepo.
"Aku pulang karena tidak punya biaya lagi untuk melanjutkan pendidikan di pesantren, Akhi. Kata kak Robbie, saat ini dia sedang kekurangan uang dan cuma bisa membayar pengobatan aku, sedangkan usaha Mama juga sedang kurang maju," ujar Kanaya berterus terang kepada Lee karena menurutnya Lee termasuk orang yang tepat untuknya berbagi masalah.
Bukan karena Kanaya menyukai Lee, melainkan karena sikap baik laki-laki itu yang sering kali memperhatikan dia seperti layaknya seorang kakak. Malah terkadang Kanaya lebih merasa nyaman mengungkapkan kegundahan hatinya di depan Lee daripada di depan Robbie yang merupakan kakak kandungnya sendiri.
"Kenapa Robbie tidak cerita ke saya kalau dia sedang kekurangan uang? Pedahal, kalau dia cerita, pasti saya akan langsung membantunya," ujar Lee dengan kerutan samar yang muncul di dahi paripurnanya.
"Mungkin Kak Robbie tidak mau merepotkan, Akhi," cetus Kanaya.
__ADS_1
"Pedahal realitanya, membantu dia bukanlah hal yang merepotkan bagi saya, justru itu seperti kewajiban karena saya adalah sahabatnya," pungkas Lee.
"Kanaya, kamu butuh uang berapa perbulannya?" tanya Lee dengan spontan.
"Itu..., emh, du..., dua juta lima ratus udah sama bayar kuliah, Akhi."
"Ooh, rupanya tidak semahal yang saya bayangkan, ya sudah kalau begitu, biar seterusnya saya saja yang menanggung semua biaya kamu selama di pesantren, setuju?" ucap Lee tanpa pikir panjang lagi.
Kanaya menundukkan kepalanya dan berpikir keras. Sejujurnya dalam hati ia ingin sekali menerima niat baik Lee karena dia masih ingin menimba ilmu di pesantren, tapi di sisi lain dia tidak ingin berhutang budi serta menjadi beban pria yang menjadi sahabat kakaknya tersebut.
"Kanaya, jujurlah, kamu masih ingin memperluas pengetahuan syari'at, bukan?"
Kanaya mengangguk membenarkan perkataan Lee. "Kalau begitu tolong terima niat baik saya, oke?" pinta Lee.
Lagi lagi Kanaya hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih banyak, Akhi," ucap Kanaya.
"Aku janji akan membalas kebaikan Akhi di kemudian hari," lanjutnya.
Lee tersenyum lalu menggeleng pelan. "Kamu tidak perlu membalasnya, cukup belajar yang rajin agar kelak kamu menjadi seorang wanita sholeha yang mulia."
"Insyaallah, insyaallah, Akhi."
Setelah itu pesanan kopi yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Lee dan Kanaya pun segera meminum kopi tersebut karena khawatir Robbie sudah selesai belanja dan mencari mereka kemana-mana.
"Kanaya, mari kembali ke mobil, sepertinya kakak kamu sudah selesai," Lee mengajak Kanaya untuk segera meninggalkan Kafe.
Kanaya mengangguk lalu menghabiskan kopinya terlebih dahulu sebelum akhirnya beranjak pergi mengikuti langkah Lee dari belakang.
Setibanya di lobby Mall, Lee melihat Aisyah dan Devano tengah menggandeng kedua tangan seorang anak perempuan yang berjalan di tengah-tengah mereka sambil tertawa ceria. Jika dilihat mereka bertiga tampak seperti sebuah cerminan keluarga yang harmonis menurut Lee.
Tapi ada yang menyesakkan hatinya ketika muncul sebuah pertanyaan kenapa Aisyah tidak memberitahunya perihal Dasha yang ternyata masih hidup dan sudah ditemukan?
Bersambung....
Enggak kerasa udah mau lebaran ya, Bun.
__ADS_1
Author mohon maaf lahir dan batin kepada semua pembaca Wanita Yang Tersakiti, ya.
Semoga amal kita di bulan Ramadhan yang mulia ini diterima oleh Allah SWT. Aamiin.