Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 69 | Peralihan hak asuh


__ADS_3

Hujan yang turun dengan deras membuat sebagian besar orang yang baru pulang kerja sore itu memilih untuk mampir ke kedai kopi tempat Devano bekerja sebagai seorang Waiter sekaligus Barista.


Pesanan yang melonjak naik membuat Devano sibuk sampai dia lupa kalau ternyata jam kerjanya sudah berakhir sejak sepuluh menit yang lalu.


"Eh, Bang, shift lo udah kelar nih, sekarang giliran shift gue."


"Astaghfirullah, gua sampai lupa enggak lihat jam saking asyiknya melayani pembeli."


"Ya udah, gua pulang dulu ya."


"Iya, bang."


Ketika Devano sedang berganti baju di ruang ganti, seorang rekan kerja mendatanginya dan mengatakan bahwa di depan kedai ada seorang perempuan yang mencari Devano.


"Bang, di depan ada yang nyariin lo tuh, cewek cantik."


"Siapa sih?"


"Ya mana gue tahu, lo liat aja sendiri."


"Oke, nanti gua temuin."


"Jangan-jangan pacar lo ya, bang?"


"Sembarangan, mana ada gua pacaran."


"Hm, percaya gue."


"Cepat temuin cewek itu, Bang."


"Iya bentar lagi, gua belum kelar ganti baju nih. Mana lo main nyelonong masuk aja lagi."


"Hehehe, maaf bang."


"Ya udah sana keluar, hush, hush."


"Elah, dikira gue ayam kali."


Setelah selesai mengganti baju seragamnya dengan kaus biasa Devano pun keluar dari ruang ganti dan bergegas ke depan kedai kopi untuk menemui orang yang mencarinya.


"Eh, Mbak Sierra, ada apa nyariin saya?"


"Ada yang mau saya bicarakan sama Mas Devan."


"Ooh, silahkan. Kita bicarakan di sini aja, bisa?"


"Bisa, mas."


Devano mempersilahkan Sierra untuk duduk di salah satu kursi yang tidak terkena hujan.


"Ini mas, saya mau menyerahkan surat pengalihan hak asuh Dasha kepada Mas Devan."


"Wah, ternyata proses pengalihannya sangat cepat. Terimakasih banyak ya, mbak. Sudah mau repot-repot mengurus surat itu."

__ADS_1


"Sama-sama, tapi sebelum saya memberikan surat hak asuh ini kepada Mas Devan, saya punya satu keinginan yang harus Mas kabulkan."


"Ya? Apa itu?"


"Emh, saya ingin Dasha tetap tinggal bersama saya setidaknya sampai bulan depan."


Devano tersenyum simpul lalu mengangguk tanda bahwa ia setuju. "Baiklah, mbak."


"Terimakasih," ucap Sierra dengan ekspresi wajah yang terlihat kurang baik.


"Seharusnya saya yang berterimakasih. Selama ini mbak sudah merawat Dasha seperti anak sendiri."


"Itu karena cuma Dasha satu-satunya yang bisa saya anggap sebagai keluarga, Mas."


"Maksudnya sebelum bertemu putri saya mbak hanya tinggal seorang diri?" tanya Devano sambil mengamati wajah Sierra yang tampak pucat dan sendu.


"Ya, benar. Kedua orang tua saya, suami saya, dan adik saya... Semuanya sudah tiada, Mas."


"Ya Allah, saya turut prihatin, Mbak."


Sierra menghapus air mata yang hampir menetes ke pipinya. "Saya telah kehilangan semua orang yang saya cintai, maka dari itu saya mohon biarkan Dasha tetap tinggal bersama saya."


"Saya janji tak akan menghalangi Mas Devan ataupun Mbak Aisyah untuk bertemu sama Dasha."


"Hidup saya mungkin tak akan lama lagi, dengan adanya Dasha di samping saya, hidup saya tidak akan berakhir kesepian."


"Jangan bicara seperti itu, Mbak. Tidak ada manusia yang tahu kapan hidupnya akan berakhir. Hanya Allah yang Maha mengetahuinya."


"Hiks... Hiks... Memang benar saya tidak tahu kapan saya mati, tapi kanker stadium akhir yang saya derita membuat saya merasa bahwa kematian saya itu sudah dekat, Mas," ungkapnya sendu.


Devano mengulurkan tissue kepada Sierra dan membiarkan wanita itu menangis, mengungkapkan kesedihan yang semula tersimpan rapat dihatinya.


"Hari sudah semakin sore, Mbak mau saya antarkan pulang?" tawar Devano setelah tangisan Sierra berhenti.


"Apa tidak merepotkan?"


Devano tersenyum seraya menggeleng.


"Sekalian saya mau ketemu sama Dasha."


"Ooh ya udah kalau begitu, boleh."


Kemudian Devano memberikan jaket kulitnya kepada Sierra. "Pakai ini Mbak, hujannya masih belum reda."


"Lho, tidak usah Mas. Mobil saya kan dekat," tolak Sierra secara halus.


"Please Mbak, pakai jaket saya ya?"


Melihat Devano yang kukuh memintanya memakai jaket untuk melindungi kepalanya dari air hujan membuat Sierra tersenyum penuh arti.


"Ya sudah kalau Mas Devan memaksa, saya akan pakai jaketnya." Sierra menerima jaket yang dipinjamkan Devano lalu meletakkannya di atas kepala untuk menghalau air hujan agar tidak membasahinya.


"Makasih ya, Mas Devan."

__ADS_1


"Sama-sama Mbak," balas Devano yang berjalan kehujanan di belakang Sierra.


"Sudah kuduga, Mas Devan adalah pria yang sangat gentle dan perhatian," batin Sierra kagum.


******


Dua orang polisi datang ke rumah keluarga Lee dan membuat seisi rumah geger, terutama Nyonya Lee Ni Na yang merasa dirinya pernah melakukan tindak kejahatan.


"Ibu Lee Ni Na, anda kami tangkap atas kasus percobaan pembunuhan. Sekarang cepat ikut kami ke kantor polisi."


"Apa-apaan ini pak? Saya ini tidak pernah melakukan kejahatan seperti itu, ini pasti fitnah."


"Anda bisa memberi penjelasan sesampainya kantor polisi." Seorang polisi memborgol tangan Nyonya Lee Ni Na.


"Yeobo, kenapa kamu diam saja?!" teriak Nyonya Lee Ni Na sambil menatap sang suami yang tak berniat menghalangi polisi ataupun membela dirinya.


"Steffany, tolong katakan pada polisi ini kalau eomma tak bersalah, sayang."


"Maaf, eomma. Aku tidak bisa, hiks hiks. Aku tidak mau membela orang jahat seperti eomma," tolak Steffany dengan hati yang hancur.


Anak mana yang tidak sedih ketika melihat ibu kandungnya masuk penjara. Namun dari awal Steffany sudah rela karena baginya sang ibu patut menerima hukuman atas kejahatan yang dia lakukan kepada Aisyah tempo hari itu.


"Steffy, kamu tega lihat eomma masuk penjara, hah?! Anak durhaka kamu yah!" teriak Nyonya Lee Ni Na sambil berusaha untuk melepaskan diri.


"Pak polisi, cepat bawa istri saya," perintah ayah Steffany dengan tegas.


Nyonya Lee Ni Na menatap suaminya dengan tatapan terluka bercampur marah.


"Yeobo, kamu tidak boleh membiarkanku seperti ini!"


******


"Maafkan aku, eomma. Aku seperti ini karena aku menyayangi eomma. Aku tidak ingin eomma menjadi orang jahat terus-menerus. Aku ingin eomma sadar dan merenungi kesalahan yang pernah eomma lakukan," ungkap Lee sambil menangis tersedu-sedu di kamarnya.


"Hyung sudah melakukan hal yang benar, jadi jangan menyesal. Aku mengerti ini pasti sulit dan menyakitkan, tapi percayalah semuanya akan baik-baik saja."


"Aku yakin, secepatnya ibu Hyung akan sadar dan paham dimana letak kesalahannya," ujar Robbie sambil menepuk-nepuk bahu Lee untuk menenangkan sahabatnya tersebut.


Sepulang dari Bali, Robbie langsung pergi ke apartemen Lee dan ternyata sahabatnya itu sedang membutuhkan kehadiran dan support darinya.


"Robbie, boleh aku peluk kamu?" tanya Lee tiba-tiba.


"Aah, dengan senang hati. Sini Hyung." Robbie merentangkan tangannya untuk memeluk Lee.


"Makasih ya, aku janji kalau aku nikah, kamu bakal jadi tamu istimewa."


"Lah? Nih orang lagi sedih pun masih sempat-sempatnya ngomongin soal nikah," ujar Robbie.


Lee terkekeh kemudian melepas pelukan Robbie dan memukul pelan bahu sahabat karibnya itu.


Bersambung....


Selamat iftar teman-teman semua πŸ’œπŸ’œπŸ˜Šβ˜ΊοΈ

__ADS_1


__ADS_2