Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 36 | Euphoria


__ADS_3

Segelas frappuccino green tea dan Caramel Macchiato menemani perbincangan hangat antara Aisyah dan Lee di siang hari ini. Setelah penat bekerja dari tadi pagi, mereka berdua memutuskan untuk makan siang sekaligus ngopi-ngopi sebentar di Starbucks yang letaknya masih di sekitar DSL beauty's studio.


Lee menyeruput Caramel Macchiato miliknya sembari memandang ke arah Aisyah yang kini sibuk memotret dirinya dengan kamera SLR kesayangan wanita cantik itu.


"Wah, kiyowo... inner kids kamu akhirnya muncul juga," kata Aisyah setelah berhasil mengambil beberapa gambar Lee yang sedang menikmati Caramell macchiato sesuai keinginannya.


Lee penasaran dengan hasil potretan Aisyah.


"Boleh aku lihat?" tanyanya antusias.


Dengan senang hati Aisyah mengulurkan kamera SLR kesayangannya kepada Lee."Tuh, cute banget kan?" ujar Aisyah yang seketika membuat Lee malu.


"Jangan mengatai ku cute, aku ini bukan bayi, Aisyah." Rupanya meskipun Lee senang di puji Aisyah, dia tetap tidak suka jika wanita yang di cintai nya itu menyebut dirinya cute, karena jujur itu sangat menggelikan bagi Lee.


"Kamu emang bukan bayi, tapi lihat deh, muka kamu itu cute nya melebihi bayi." Aisyah mengatakannya seraya tersenyum gemas. Wanita itu tak sadar kalau ucapannya barusan membuat Lee merasa malu.


"Kamu jangan meledekku ya, Syah," tegur Lee dengan wajah meronanya yang entah kenapa membuat Aisyah tertawa renyah.


Dalam sekejap Lee terpana dengan tawa yang di tunjukkan Aisyah kepadanya, jujur ini pertama kalinya bagi Lee melihat Aisyah tertawa seikhlas itu.


"Bidadari," gumam Lee yang langsung membuat Aisyah menghentikan tawanya.


"Maksudnya?" tanya Aisyah bingung karena Lee tiba tiba menyebut kata 'Bidadari'.


"Ya, maksudku kamu mirip bidadari," jawab Lee yang masih terpana akan tawa Aisyah yang mendebarkan hatinya.


"Ekhem, cuacanya panas ya?" Aisyah dengan sengaja mengalihkan topik agar Lee tak melanjutkan gombalannya.


Tapi ucapan Aisyah tadi malah membuat Lee menatap wanita itu dengan heran.


"Panas? Masa sih, Syah? Bukannya siang ini lagi mendung ya?" kata Lee seraya menoleh ke jendela untuk memastikan kalau langit memang sedang di tutupi mendung.


"Aisyah coba lihat keluar jendela deh, cuacanya itu lagi mendung."


Pipi Aisyah memerah dan langsung salah tingkah karena menyadari kalau dia baru saja memalukan dirinya sendiri di depan Lee dengan mengatakan kalau cuacanya panas, pedahal nyatanya mendung jelas sedang menutupi langit.


"Heum, iya ya mendung, tadi mungkin karena aku gerah jadi bilangnya cuaca lagi panas, hehe," sahut Aisyah dengan kikuk di karenakan malu.


"Gerah atau gerogi nih?" Lee sepertinya ingin balas meledek Aisyah.


"Apaan sih Lee!"

__ADS_1


Aisyah memarahi Lee lalu sebagai pengalihan wanita cantik itu menundukkan wajahnya untuk meminum frappuccino green tea yang tadi sempat ia tepikan.


"Ukhuk ukhuk." Tiba tiba saja Aisyah tersedak karena terlalu buru buru meneguk frappuccino nya.


Dengan sigap Lee langsung mengambil segelas air putih lalu menyerahkannya kepada Aisyah.


"Minumnya santai aja Syah, jangan buru-buru, jam istirahat buat kamu masih panjang kok," ucap Lee sembari tersenyum penuh arti kepada Aisyah yang sedang meminum air putih pemberiannya.


*****


Devano POV.


Aku baru saja pindah ke Apartemenku setelah mendapat keputusan bahwa aku di istirahatkan dari tugas negara sampai kakiku ini sembuh total.


Kini menjelang siang aku memutuskan untuk pergi ke Starbucks lalu memesan beberapa makanan untuk mengisi perutku yang keroncongan ini.


Dengan langkah tertatih tatih aku menaiki taksi menuju Starbucks yang dekat dengan apartemen ku. Setelah sampai di depan bangunanya aku pun turun dengan di bantu kruk lalu tak lupa membayar ongkos taksi kepada supirnya.


Kemudian aku memasuki Starbucks dan duduk di kursi yang terletak di pojok kanan, namun malangnya aku malah di suguhkan pemandangan yang membuat hatiku memanas. Bagaimana tidak, di sana aku melihat Aisyah sedang tertawa bersama laki laki bermata sipit yang sedang duduk di hadapannya.


Karena penasaran akan apa yang di bicarakan Aisyah dengan pria itu, aku pun memutuskan untuk pindah kursi yang jaraknya lebih dekat dengan meja mereka.


Lalu aku mengambil sebuah buku menu untuk menutupi wajahku karena takutnya Aisyah akan menoleh ke arah ku. Jika itu sampai terjadi, mungkin wanita yang pernah menjadi istriku itu akan marah dan tambah membenciku karena mengira aku menguntitnya, walaupun kenyataannya aku tak sengaja melihat dia berada di sini.


Tunggu!


Apa? Rumahnya?!


Aku jadi semakin penasaran tentang hubungan apa yang terjalin antara Aisyah dengan pria tampan bermata sipit itu, tidak mungkin kalau Aisyah sudah menikah dengan pria itu bukan?


Jelas tidak! Menurut informasi yang aku dapatkan, Aisyah belum menikah lagi setelah ia bercerai dengan ku dan aku yakin itu akurat.


Kemudian aku melihat Aisyah keluar dari Starbucks bersama pria itu dan entah kenapa kakiku refleks mengikuti arah ke mana mereka akan pergi.


Dengan hati hati aku mengikuti mereka dari belakang dan rupanya Aisyah bersama pria itu masuk ke dalam mobil Range Rover warna merah yang kemudian melaju meninggalkan aku yang kini merutuki diriku sendiri, kenapa tadi aku tak membawa mobil, jika saja aku membawanya aku pasti bisa mengikuti mereka.


"Bodoh! Kenapa aku jadi bodoh seperti ini sih!" Umpatku pada diriku sendiri.


"Ayolah Devan, tujuanmu ke sini hanya untuk makan siang, urusan Aisyah bisa kamu selesaikan di lain waktu, oke?" lanjutku yang kemudian kembali ke dalam Starbucks untuk mengisi perut ini, meskipun rasanya aku tak berselera lagi untuk makan setelah melihat kedekatan antara Aisyah dengan sainganku.


Huft, bagaimana jika Aisyah menikah dengan pria itu? Apakah aku harus diam saja dan merelakannya? Namun bagaimana dengan permintaan terakhir putriku yang sangat ingin melihat aku dan Aisyah kembali bersama? Entahlah, tapi yang pasti aku tak akan menyerah untuk membawa Aisyah kembali kepadaku.

__ADS_1


*****


Aisyah POV.


Aku senang Lee mengajakku bertemu ibunya, karena selama tiga tahun aku menjadi sahabatnya belum pernah sekalipun aku bertemu secara langsung dengan ibunya. Kini aku benar-benar excited dan nervous karena menurut cerita dari Lee, ibunya tergolong orang yang tak menyukai wanita berhijab seperti diriku, karena di matanya hijab itu lambang *******. Maklum, ibunda Lee lahir, besar dan dewasa di tengah keluarga yang menganut teguh agama Kristen. Belum lagi negara asalnya yaitu Korea, masih phobia akan Islam.


Jujur, aku sedikit gugup karena takut ibu Lee tak suka kepadaku lalu mengusirku seperti di film-film yang sering aku tonton. Tapi untungnya aku punya Lee yang sudah berjanji akan selalu melindungiku bahkan dari ibunya sendiri. Jadi, sekarang pikiranku agak lumayan tenang dan tidak overthinking seperti tadi.


"Aisyah, ingat kata-kata aku ya, jangan gugup apalagi takut, kamu hanya perlu santai dan bersikap apa adanya kamu, paham?" peringat Lee seraya menatapku dengan tatapan teduhnya.


Aku mengangguk lalu membalas senyumannya.


Sekarang aku sadar, hatiku mulai mempercayai Lee untuk menjadi pemilik selanjutnya.


Bersambung....


Gimana perasaan kalian?


Deg degan gak sih?πŸ€—


Penasaran?πŸ€”


Sedih?😭 Kesel? 😑Atau senang?😍


Pokoknya apapun itu kalian harus ceritain ke aku lewat komentar yah, oke say?πŸ˜πŸ˜ŠπŸ€—


Oh iya jangan lupa untuk selalu support aku dengan cara seperti biasa yaitu :


-LIKE πŸ‘


-KOMENTAR πŸ“


-SHARE CERITA INI KE TEMAN KALIAN ➑️


-VOTE ❀️


-KASIH BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


-DAN FOLLOW PROFILKU πŸ™πŸ˜Š


Kalau begitu aku pamit ya,

__ADS_1


Assalamualaikum.πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2