Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 68 | Melepaskan itu tak mudah


__ADS_3

"Banyak yang mengatakan bahwa level tertinggi dalam mencintai ialah ketika kita mampu merelakan wanita yang kita cintai bahagia bersama pria lain, begitupun sebaliknya."


Tubagus spontan mengerutkan dahinya ketika mendengar kalimat yang keluar secara tiba-tiba dari mulut Devano tersebut.


"Aku rasa aku harus mencobanya, mungkin di awal rasanya akan sulit melihat Aisyah menikah dengan pria lain, tapi aku yakin sedikit demi sedikit aku pasti bisa mengikhlaskannya. Apalagi sekarang ada Dasha yang mungkin bisa membantuku untuk melupakan Aisyah," ungkap Devano sambil menahan rasa sesak di dadanya.


"Aku enggak habis pikir kenapa sekarang pemikiran kamu berubah pesimis," cerca Tubagus tak setuju.


"Seingatku, Devano yang aku kenal adalah pria optimis yang rela mengorbankan apapun demi bisa rujuk dengan mantan istrinya."


"Sekarang kemana perginya semangat kamu, bro? Kenapa tiba-tiba putus asa begini?" Tubagus mencoba menasehati Devano untuk tidak menyerah.


Namun sepertinya percuma karena Devano tak mengeluarkan reaksi apa-apa selain menanggapinya dengan senyuman miris.


"Sebelumnya aku kira aku masih punya kesempatan untuk menikah lagi sama Aisyah. Tapi, setelah aku sadar ada penghuni baru di hatinya aku jadi berpikir untuk mundur dan belajar mengikhlaskan dia," ungkap Devano.


"Mengikhlaskan bukan berarti aku akan diam setelahnya. Aku akan tetap memantaunya dari kejauhan untuk memastikan kalau dia benar-benar bahagia bersama pilihan hatinya," terang Devano dengan ekspresi tegar meskipun hatinya nyaris hancur.


"Bisa-bisanya kamu mengatakan semua itu setelah banyak yang kamu korbankan untuk dia. Coba sekali ini aja kamu peduli sama kebahagiaan diri kamu sendiri, Dev. Lihat diri kamu, kamu juga berhak bahagia." Sebagai teman Tubagus mengingatkan Devano untuk memperdulikan diri sendiri.


"Keputusanku tidak akan berubah, aku akan mengikhlaskan Aisyah untuk pria lain. Dulu aku sudah terlalu sering menyakitinya dan sekarang saatnya dia bahagia, menatap masa depan yang cerah bersama pria yang mencintai dan juga dicintainya."


"Sedangkan aku akan mengurus Dasha dan melimpahinya dengan kasih sayang yang belum pernah ia dapatkan dariku sebelumnya. Dengan begitu aku percaya, rasa penyesalan di hatiku ini bisa sedikit demi sedikit terhapus dan menghilang seiring berjalannya waktu."


"Aku yakin putriku juga bisa membuatku bahagia meskipun aku gagal mengabulkan permintaannya untuk kembali menikahi Umi-nya," ungkap Devano dengan perasaan yang sedikit lebih tegar daripada sebelumnya.


"Pada akhirnya aku hanya bisa mendukung apapun yang sudah menjadi keputusan kamu, bro. Good luck ya," kata Tubagus sambil menepuk-nepuk bahu Devano untuk menyemangati rekannya tersebut.


"Thanks ya, bro."


"Sama-sama."


******


Diantara ibu dan anak harusnya ada sikap saling memahami bukan seperti yang terjadi diantara Lee dan ibunya yang malah saling menyalahkan satu sama lain dan juga saling memaksakan kehendak masing-masing.


Baik Lee maupun ibunya tidak ada yang mau mengalah atau setidaknya memahami. Hal itu dikarenakan keduanya sama-sama keras kepala.


Pagi itu Lee memutuskan untuk pergi dari rumah keluarganya karena dia sudah cukup lelah menghadapi sang ibu yang tak pernah mau memahami keinginan hatinya.


Lee sudah mantap untuk tinggal seorang diri di apartemennya meskipun dia tak terbiasa melakukan apapun tanpa bantuan seorang asisten rumah tangga.


Hari ini adalah hari pertama yang sangat sulit bagi Lee. Bagaimana tidak, dia harus memasak makanannya sendiri lalu mencuci piringnya sendiri, belum lagi menyapu, mengepel dan membersihkan seluruh perabotan di apartemennya menggunakan tangannya sendiri.


"Aku tak pernah menyangka bahwa pekerjaan asisten rumah tangga itu ternyata seberat ini."


"Seharusnya aku menggaji Bik Mimin dua kali lipat waktu itu."


Ting tong.

__ADS_1


Bunyi bel yang berasal dari pintu depan membuat Lee yang sedang mengelap kaca balkon langsung menghentikan kegiatannya tersebut. "Ck, siapa sih yang datang?" Lee lalu pergi ke depan untuk membukakan pintu apartemennya.


"David Oppa!" Suara cempreng itu membuat Lee langsung tahu siapa yang datang sekalipun dia belum membuka pintu dan melihat siapa orangnya.


"Ada apa kamu kesini?" tanya Lee sambil membukakan pintu untuk tamu yang tak diundangnya.


"Ish, emang kenapa kalau aku mau berkunjung ke apartemen kakak aku sendiri? Enggak boleh?"


"Iya, enggak boleh. Sana pulang lagi," usir Lee sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Steffany.


"Aigoo... Oppa! Jangan begitulah sama adik sendiri," cetus Steffany dengan muka masam.


"Aah, ya udah masuk, cepetan!"


Akhirnya Steffany pun dapat memasuki apartemen sambil berjingkrak kesenangan. "Yeay dibolehin masuk," ucapnya sambil cengengesan.


"Jangan berisik, suara cempreng kamu itu bisa memperburuk suasana hati Oppa," tegur Lee yang membuat raut muka Steffany kembali masam.


"Aish, sembarangan sekali Oppa ini, suaraku yang segini miripnya sama suara rose black pink dibilang memperburuk suasana hati?"


"Ah, tidak bisa diterima, inikah yang namanya deskriminasi," keluh Steffany dengan dramatis.


"Diamlah, kamu membuat kepala Oppa pusing sama ocehan unfaedah kamu itu. Lebih baik sekarang kamu bantuin Oppa bersih-bersih apartemen, biar kadatangan kamu kesini itu ada faedahnya."


"Oke, okeh, berhubung aku lagi baik hati, aku bersedia membantu Oppa bersih-bersih."


"Nice, itu baru adik Oppa." ujar Lee sembari mengacak rambut Steffany.


"Lihat! Karena ulah Oppa, rambut aku jadi kusut lagi," protes Steffany yang tak dipedulikan oleh Lee.


Pria tampan bermata tajam itu malah meninggalkan adik perempuannya dan pergi ke balkon untuk melanjutkan kegiatan mengelap kaca yang tadi ditundanya.


Dengan perasaan yang masih kesal, Steffany pergi menyusul Lee dan pada akhirnya ia membantu kakaknya itu mengelap kaca balkon.


Sambil mengelap kaca Steffany tak berhenti mengajak Lee bercanda dengan tujuan agar kakaknya itu bisa melupakan masalah yang ada.


"Oppa."


"Heum? Kenapa adikku? Capek yah?" tanya Lee sembari menoleh ke arah Steffany yang berdiri di sampingnya.


"Enggak, enggak capek."


"Terus kenapa?"


"Aku cuma mau tanya," cicit Steffany.


"Tanya apa, heum?"


"Kapan Oppa mau melamar Unnie Aisyah?" tanya Steffany seraya memelankan suaranya.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba tanya soal itu?" Bukannya menjawab Lee malah balik menanyai adiknya.


"Ya karena kalau Oppa menikah sama Unnie Aisyah, Oppa jadi tidak tinggal sendirian di apartemen seluas ini."


"Terus kalau ada Unnie Aisyah, Oppa jadi enggak perlu repot mengurus kebutuhan sehari-hari seperti memasak, mencuci, beres-beres, iya enggak?"


"Kamu pikir Aisyah pembantu?"


"Ish, bukan itu maksud aku, Oppa!" sela Steffany ketika Lee salah memahami maksud ucapannya.


"Iya tahu, maksud kamu yang sebenarnya baik."


"Jadi kapan nikahin Unnie Aisyah nya?"


"Besok, kalau bisa."


"Serius?" tanya Steffany dengan ekspresi kagetnya.


Lee menyentil dahi sang adik dengan gemas. "Kamu kira nikah itu gampang?"


"Ya, apa susahnya coba? Oppa tinggal bawa Unnie Aisyah ke KUA terus nikah di sana, selesai."


"Ck, kamu itu terlalu menggampangkan hal sesakral pernikahan."


"Bukan menggampangkan, tapi memang sebenarnya tidak ada yang sulit jika Oppa tidak merasa ragu."


Perkataan Steffany tersebut seperti menampar Lee dan menyadarkan pria itu dari keraguan yang tiada henti mempengaruhi pikirannya.


Bersambung....


Selamat berbuka puasa teman-teman 😘


Jangan lupa baca Qur'an, ya? 💙


Support aku terus dengan cara :



Like 👍


Komentar 📝


Share novel ini ke teman-teman kalian ➡️🧕


Vote novel ini ❤️


Dan follow profil aku serta follow Instagram @asyiahmuzakir


__ADS_1


Bye, bye, Assalamualaikum.


__ADS_2