
Tak butuh waktu lama untuk Devano beradaptasi dengan pekerjaan barunya sebagai seorang Waiter karena dulu selama masa pelatihan militer dia pernah bekerja sampingan menjadi Waiter di salah satu restoran.
Masa sulit yang pernah dialami oleh Devano di masa kecil dan remajanya membuat dia tak mudah mengeluh bahkan di saat kakinya lumpuh seperti beberapa waktu yang lalu.
Didikan keras sang ayah berhasil membuat Devano menjadi pribadi yang kuat dalam segi fisik, namun tidak dalam segi batinnya karena di balik kokohnya Devano tersembunyi kerapuhan yang suatu saat bisa hancur jika kehilangan penopangnya.
Dan yang dijadikan penopang oleh Devano saat ini ialah Aisyah dan putrinya yang sedang dia cari. Jadi apabila Devano sampai kehilangan dua penopang itu di dalam hidupnya, maka dia akan hancur sehancur-hancurnya bahkan nyaris tak mungkin untuknya mempunyai harapan untuk bangkit lagi.
Di tengah kesibukan melayani para pengunjung Kafe yang kian banyak berdatangan. Mata Devano tak mau lepas memandang ke arah Aisyah yang sedang menenangkan Lee yang terlihat emosi terhadap wanita cantik yang kini berdiri di hadapan Aisyah dan juga dirinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka?" tanya Devano lebih ke diri sendiri.
"Mas, saya mau pesan menu barunya yang paket couple dong," pinta salah satu pelanggan.
"Eh, iya. Silahkan," sahut Devano kembali mengalihkan perhatiannya kepada pelanggan.
"Mau yang rasa spicy atau yang cheese, mbak?" tanya Devano sambil memperlihatkan buku menu terbaru milik Kafe Delima.
"Yang spicy aja deh," jawab si pelanggan.
"Oke, di tunggu ya mbak, mas," kata Devano yang kemudian pergi ke belakang untuk mengambilkan pesanan pelanggan tersebut.
Dalam hati Devano masih penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi diantara Aisyah, Lee, dan perempuan cantik yang berdiri di depan mereka tadi.
Tapi sudahlah, Devano tak mau rasa penasarannya berlanjut karena dia sadar kini Aisyah dan dirinya sudah punya kehidupan masing-masing. Tak ada hak untuknya mencampuri urusan hidup Aisyah lagi kecuali jika mantan istrinya itu sendiri yang memintanya untuk kembali ikut campur.
Devano melanjutkan pekerjaannya sampai sore hari, dan malam harinya dia berangkat ke kantor polisi untuk mengunjungi Rifa di tempat tahanannya.
Devano berencana ingin menginterogasi Rifa soal Dasha karena dia ingin secepatnya bertemu dengan putrinya itu.
Namun ketika sampai di tahanan dan bertemu dengan Rifa, Devano malah dibuat geram karena wanita itu tak mau membuka mulutnya saat ditanya soal Dasha.
"Kenapa kamu diam Rifa!" bentak Devano marah.
"Sekarang jawab! Kamu kan yang menyembunyikan Dasha selama ini? Ngaku!" bentak Devano lagi.
Rifa malah menatap Devano dengan tatapan melasnya. "Kenapa kamu tanya soal anak kamu itu ke aku? Pedahal kamu udah tahu sendiri kan kalau anak kamu itu udah meninggal?"
Ucapan yang keluar dari mulut Rifa tersebut membuat amarah Devano memuncak. Pria itu melayangkan tamparan namun belum sempat mengenai wajah Rifa tangan Devano berhenti.
__ADS_1
"Kenapa enggak jadi, Dev?" tanya Rifa dengan tatapan nanar.
"Tampar aja aku sekeras yang kamu mau, Devan!!" teriak Rifa putus asa.
"Aku tidak mau menjadi pria kasar seperti ayah kamu dan juga ayah aku, jadi tolong jawab pertanyaan aku sejujurnya," ujar Devano dengan nada dingin yang mengintimidasi.
"Kalau aku menjawab pertanyaan kamu apakah kamu mau kembali mencintai ku?" tanya Rifa dengan secuil harapan dihatinya.
Kini giliran Devano yang tak mampu menjawab pertanyaan sulit dari Rifa. Pria itu diam seribu bahasa sambil menatap wajah Rifa dengan penuh kebencian di dalam hatinya.
"Huh, sepertinya aku ke tempat yang salah, harusnya aku mencari anakku dengan instingku sendiri bukan bertanya kepada wanita yang tak berhati seperti kamu," tandas Devano yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Rifa yang putus asa di dalam tahanan.
"Sungguh, sekarang aku menyesal pernah menolong dan menyayangi perempuan sejahat dia," sesal Devano sembari melangkahkan kakinya menjauh dari kantor polisi.
Rencana selanjutnya malam ini Devano akan pergi menemui seseorang yang saat ini bekerja sebagai kepala pelayan di rumah keluarga Rifa.
******
Sementara itu di tempat lain ada Aisyah yang gelisah dan tak bisa memejamkan mata sebab pikirannya terus melayang ke kejadian tadi siang di mana dia tak sengaja mempertemukan Lee dengan Georgina yang ternyata adalah mantan kekasih Lee yang pernah meninggalkan pria itu semasa kuliah dulu.
Aisyah benar-benar tak tahu kalau Lee juga punya masa lalu yang menyakitkan bersama mantan kekasihnya. Kini dia merasa bersalah dan ingin sekali meminta maaf dan menghibur hati Lee yang mungkin sedang kalut karena bertemu lagi dengan wanita yang dulu pernah menyakiti lalu meninggalkannya di dalam kubangan luka.
Niat hati Lee ingin bertemu Aisyah dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sampai dia tidak bisa di hubungi sejak tiga hari yang lalu. Namun begitu sampai di Kafe ia malah melihat seseorang yang tak ingin dia lihat lagi seumur hidupnya.
Seseorang itu adalah Georgina Alessandra, cinta pertama sekaligus orang yang sangat Lee sayangi di masa lalu.
Lee menatap Georgina dengan tatapan yang sulit diartikan, sedangkan Georgina menatap Lee dengan penuh kerinduan. Kemudian wanita cantik berdarah blasteran itu mendekat ke arah Lee dan langsung memeluk tubuh pria itu tanpa izin.
"I miss you so much, David." Georgina mempererat pelukannya.
Mata Lee berkaca-kaca kemudian ia melepas paksa pelukan Georgina dan mendorong tubuh wanita itu supaya menjauh darinya.
"Kenapa? Apa kamu udah bosen sama petualangan kamu sampai akhirnya kamu memutuskan untuk kembali menemuiku?" tanya Lee dengan miris.
Aisyah yang berdiri di samping Lee hanya bisa mematung dan tak tahu harus melakukan apa selain menyimak pembicaraan diantara Lee dan Georgina.
"David, please forgive me, aku tahu aku salah besar karena udah ninggalin kamu, tapi kamu tahukan itu demi masa depan aku dan waktu itu aku pernah janji sama kamu kalau aku akan kembali di saat aku udah berhasil menggapai cita-cita ku, dan sekarang aku udah berhasil jadi tolong terima aku lagi karena aku masih mencintai kamu," ungkap Georgina sambil meneteskan air mata.
"Aku bukan pelabuhan yang bisa seenaknya kamu tinggalkan lalu kamu singgahi lagi setelah kamu lelah berlayar."
__ADS_1
"Aku hanya manusia biasa yang bisa terluka karena kehilangan, jadi aku mohon jangan muncul dihadapanku lagi ketika kamu sudah pernah memutuskan untuk menghilang dari kehidupanku," tandas Lee sambil menatap Georgina dengan tatapan tajam.
"Aku tahu di lubuk hati kamu, kamu masih mencintaiku, benarkan David?" Georgina rupanya masih bersikeras untuk kembali kepada Lee.
Tapi untungnya Lee tak terpengaruh dan malah muak terhadap wanita yang dulu pernah menyakiti dan mensia-siakannya itu.
"Kamu salah, perempuan yang aku cintai sekarang adalah dia dan hanya dia," ungkap Lee sambil meraih tangan Aisyah dan membuat empunya sedikit terlonjak karena terkejut.
"Aku gak percaya, kamu pasti cuma mengada-ada supaya aku pergi, iyakan?"
"Aku serius, Gie," tandas Lee penuh penekanan.
"Hahaha, tuh kan bener dugaan ku, kamu pasti bercanda, buktinya kamu masih manggil namaku dengan panggilan kesayangan itu," sela Georgina yang kemudian di balas tatapan miris oleh Lee.
"Aisyah, ayo kita cari tempat lain," ajak Lee mengandeng Aisyah keluar dari Kafe itu.
Bersambung....
Gimana perasaan kalian begitu baca part ini?
Suka ataukah greget atau malah sedih?
Tolong ceritain ke aku lewat komentar yah.
Jangan lupa untuk selalu support dengan cara :
1. Like 👍
2. Komentar 📝
3. Vote novel ini ❤️
4. Share novel ini ke teman-teman kalian ➡️🧕
5. Dan juga follow profil aku 😘
Makasih semuanya 😍😉❤️👌😘😘
Sampai jumpa di next part, Assalamualaikum.
__ADS_1
IG : asyiahmuzakir