
Aisyah POV.
Setelah pertemuan tidak di sengaja diantara aku dan Mas Rio yang berakhir tak mengenakkan itu, aku duduk kembali di bangku tadi. Menunggu Avila yang belum juga datang, mungkin sahabatku itu belum menemukan Robbie.
Tapi tak lama kemudian aku melihat Avila berjalan ke arahku diikuti oleh dua orang lelaki di belakangnya, Robbie dan Lee.
Tunggu, sejak kapan Lee ada di sini? Bukannya pria itu masih di pesantren ya? Tapi sekarang kenapa malah ada di Bandara Ngurah Rai, sih?
"Alhamdulillah, Syah. Aku berhasil nemuin Robbie yang ternyata lagi sama Oppa Lee di parkiran Bandara," ungkap Avila kepadaku yang masih melongo menatap Lee dengan tidak percaya.
"Lee, kamu kok bisa di sini?" tanyaku langsung kepada Lee.
"Jadi begini, Syah. Semalam itu aku nyuruh Robbie buat pesenin tiket pesawat yang satu penerbangan sama kalian. Dan pas subuh tadi Robbie telfon kalau aku dapetnya di kelas bisnis, jadi otomatis aku gak bareng sama kamu, Robbie dan juga Avila dong. Nah, ternyata pas udah sampai di pesawat, kursi di sebelah aku itu kosong jadi aku suruh Robbie pindah ke kelas bisnis supaya dia duduk di samping aku. Eh ternyata pas mendarat Robbie kehilangan iPhone-nya, oleh karena itu kita berdua jadi sibuk nyari iPhone-nya sampe enggak inget sama kamu dan juga Avila," terang Lee yang membuat aku paham.
"Pantesan nomor Robbie gak aktif dan berada di luar jangkauan terus. Rupanya iPhone-nya ilang, tapi sekarang ketemu gak bie?" kataku sambil mengalihkan pandangan ke arah Robbie yang tampak tak bersemangat.
"Enggak ketemu, Syah," jawab Robbie dengan wajah lesu-nya.
"Pasti udah di ambil sama orang tuh, maka-nya ya bie, lain kali hp sejenis iPhone itu harus di simpan dengan teliti," ujar Avila seraya menasehati Robbie.
"Iya iya, Vi, maklum namanya juga manusia pasti ada lupanya," sahut Robbie.
"Udahlah, ikhlasin aja iPhone itu," sela Lee dengan entengnya.
"Tapi Hyung, iPhone itu adalah iPhone bersejarah banget, aku ngumpulin duit buat belinya aja sampe rela makan mie doang tiap hari," ungkap Robbie dengan wajah sedih seperti ingin menangis.
"Lebay lo, bie. Udahlah bener kata Oppa Lee, ikhlasin aja itu ponsel. Kan tinggal beli lagi," celetuk Avila yang membuat Robbie menatapnya dengan sengit.
"Enak banget lo ngomong gitu ya, emang lo pikir harga iPhone itu sama kayak harga terasi apa?" sela Robbie dengan kesalnya.
"Ish..bukan gitu lho, bie. Maksud gue itu sekarang lo kan udah kerja, followers Ig lo banyak, sering juga dapet endorsan kan, masa sih beli iPhone baru aja gak mampu?" pungkas Avila.
"Emh...emang bener sih, tapi asal lo tahu ya, duit gue itu selalu di pake buat bayar uang bulanan adek gue yang di pesantren. Belum lagi emak gue kemaren minta duit buat modal warung pecelnya, terus abis itu motor gue minta di jajanin lagi di bengkel. Hah, sekarang raib semua duit plus simpanan gue," adu Robbie dengan wajah lesu-nya.
"Ya udah, kamu tenang aja bie, masalah iPhone nanti aku belikan yang baru buat kamu," ujar Lee yang langsung membuat mata Robbie berbinar senang.
"Serius, Hyung?" tanya Robbie yang masih tak percaya kalau Lee akan memberikannya iPhone baru.
"Ya seriuslah, yang penting kamu ikhlasin iPhone yang udah ilang itu. Oke?"
"Oke Hyung... makasih banyak ya Hyung," ucap Robbie sambil menatap Lee dengan penuh rasa terimakasih.
Lee lalu merangkul bahu Robbie dan tersenyum manis.
"Sama sama, adikku," ucapnya yang langsung membuat Avila menatap Robbie dengan rasa iri.
Aku pun menggerakkan tanganku untuk merangkul Avila agar sahabatku itu tak lagi merasa iri melihat kedekatan Lee dan Robbie yang sudah seperti saudara kandung.
__ADS_1
"Aaaa...Oppa Lee lebih sayang Robbie daripada aku, Syah," adu Avila yang langsung membuat Lee melepaskan rangkulannya di bahu Robbie lalu bergerak mendekati Avila dan mengacak rambutnya.
"Aku itu sayang sama kalian bertiga," ungkap Lee dengan senyuman manisnya yang membuat hatiku menghangat seperti merasakan kasih sayang seorang kakak.
"Udah kalian pergi ke hotel gih, taksi onlinenya udah nungguin di parkiran tuh," kata Lee.
"Oke, ayok, ayok!" sahut Robbie dengan senyum kocaknya.
*****
Kini aku, Robbie, dan Avila naik taksi yang sama. Sedangkan Lee karena masih ada urusan di Bandara, jadi dia tidak ikut bersama kami.
"Pak, pantai Kuta jauh gak dari sini?" Avila tiba tiba bertanya soal jarak pantai Kuta kepada pak supir.
"Gak jauh kok mbak, cuma satu kilometer," jawab pak supir.
"Mau mampir ke sana dulu deh, pak," pinta Avila yang membuat aku dan Robbie langsung kompak menggelengkan kepala.
"Jangan pak, langsung ke hotel aja," sela Robbie yang membuat Avila melotot tak terima.
"Enggak pak, pantai Kuta aja."
"Langsung ke hotel pak."
"Mampir ke pantai Kuta pak, please. Ntar saya kasih tip yang besar buat bapak sekaligus bintang lima," bujuk Avila yang membuat Robbie memelototinya.
"Jangan mau pak, dia pembohong. Mending kita langsung ke hotel aja ya pak," seru Robbie dengan ngegas.
"Baik mbak," sahut pak supir taksinya.
"Yaahhh... Aisyah, aku kan mau mampir ke pantai Kuta," protes Avila yang membuat aku langsung menatapnya.
"Tapi aku pusing dan capek banget, pengen cepet istirahat di hotel," ungkapku yang membuat Avila seketika menunduk.
"Oke, gimana kalau ke pantai Kuta-nya sore ini aja? Aku janji deh bakal nemenin kamu sampai senja muncul di ufuk barat," hiburku yang berhasil membuat Avila mendongak dan menatapku dengan senyuman ceria.
"Beneran ya?"
"Iya, Avila-ku."
*****
Author POV.
Di tempat lain, seorang wanita cantik berambut panjang sedang menggigit jarinya cemas. Dia ialah Rifa yang tengah mondar-mandir di depan ruang ICU tempat Devano sedang di tangani oleh dokter.
Di tengah kecemasannya, pintu ICU itu akhirnya terbuka dan menampakkan seorang dokter yang baru selesai memeriksa keadaan Devano.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Rifa dengan wajah yang sangat cemas.
"Keadaannya masih koma, Mbak. Tapi mulut Pak Devano tak berhenti menggumamkan dua nama yaitu Aisyah dan Dasha. Saya sarankan agar Mbak bisa mendatangkan orang yang di sebut sebut Pak Devano itu. Tujuannya untuk membantu memancing saraf kesadaran di otaknya. Mungkin itu saja yang perlu saya sampaikan, permisi."
Keterangan dari Dokter yang menangani Devano itu membuat pikiran Rifa langsung kalut dan kebingungan.
Dia tidak mungkin dan tak ingin meminta kepada Aisyah untuk membantu memulihkan kesadaran Devano.
"Arrgghh!! Kenapa Aisyah dan putrinya yang sudah mati itu masih saja mengisi pikiran Devano!! KENAPA?!!" jerit Rifa dengan prustasi dan sampai menarik perhatian para suster yang melewatinya.
'Aku merinding mendengar jeritannya itu.'
'Iya aku juga, menurutmu kenapa model cantik itu menjerit jerit di lorong rumah sakit?'
'Mungkin dia stress karena kehilangan orang yang di cintainya.'
'Sayang sekali ya, wajahnya cantik, populer, tapi stress.'
Bisikan bisikan dari para suster itu sampai ke telinga Rifa dan membuat wanita itu marah.
"HEI!! Hentikan gunjingan kalian itu! Atau kalian akan merasakan akibatnya!" peringat Rifa sambil mengancam dua suster yang baru saja membicarakannya.
"I...iya Mbak. Maafkan kami," sahut dua Suster itu dengan wajah menunduk ketakutan.
Bersambung....
Hai hai..π
Gimana pendapat kalian tentang part ini? Tulis di kolom komentar yah.
Jangan lupa jaga kesehatan kalian selama pandemi ini belum berakhir..ππ
Stay health..
Jangan lupa untuk selalu support aku dengan cara berikut ini :
-LIKE π
-KOMENTAR π
-VOTE CERITA INI β€οΈ
-TEKAN BINTANG LIMA βββββ
-DAN FOLLOW PROFILKU ππ
Makasih banyak ya buat kalian yang udah sempatkan waktu untuk baca cerita ini.
__ADS_1
Semoga kalian selalu suka dan selalu setia.βΊοΈβΊοΈβΊοΈππππ₯°π₯°π₯°π₯°π₯°πππππ
Bye, Assalamualaikum.