
Ketika Devano dan Aisyah sudah selesai mengupas kecurigaan soal meninggalnya Dasha putri mereka, Devano memutuskan untuk mengantar Aisyah pulang namun saat ia hendak memberhentikan taksi, sebuah mobil berwarna hitam tanpa di duga melaju cepat ke arah Aisyah, dengan sepenuh kekuatannya Devano menarik Aisyah tapi dia kalah cepat dan akhirnya Aisyah terserempet jatuh lalu tak sadarkan diri karena kepalanya membentur trotoar.
Bukan hanya Aisyah saja, Devano pun terluka karena laki laki itu kehilangan keseimbangan saat menyelamatkan Aisyah tadi, sebelah kaki Devano yang belum sembuh total tertabrak dan membuatnya jatuh tersungkur di bebatuan pinggir jalan bersebelahan dengan Aisyah.
Di tengah kepanikan dan juga kesakitan nya Devano merangkak mendekati Aisyah. "Aisyah, Aisyah! Bangun!" teriak Devano bersamaan dengan mengalirnya air mata bercampur darah dari pelipisnya yang terluka.
"Aisyah bangun!" teriak Devano selagi dia memanggil 119 untuk meminta pertolongan.
Tak lama kemudian orang-orang mulai berkerumun dan sebagian ada yang mengejar mobil hitam yang tadi menabrak Aisyah dan Devano. Namun sayangnya sudah terlambat sebab mobil hitam tanpa plat nomor itu telah menghilang entah berbelok ke arah mana.
Selagi menunggu Ambulans datang, Devano segera menghubungi Avila dan Lee untuk memberitahukan kalau Aisyah kecelakaan dan lima menit kemudian Lee datang bersama Avila. Bertepatan dengan itu Ambulans datang dan petugas dari rumah sakitnya segera membawa Aisyah dan Devano untuk di selamatkan.
"Hiks hiks, Aisyah akan baik baik aja kan, Oppa?" tanya Avila sambil menangis.
Lee mengepalkan tangannya guna menahan kecemasan yang kini juga tengah menguasai dirinya.
"Insyaallah, Aisyah akan baik baik aja sekarang mari kita berdoa semoga Allah memberikan perlindungan dan keselamatan untuk Aisyah."
"Aamiin, hiks hiks...." Avila terus menangis sesenggukan di samping Lee yang tengah mengemudikan mobilnya mengikuti Ambulans yang membawa Aisyah dan Devano ke rumah sakit.
Dengan perhatian Lee mengusap air mata di pipi Avila dengan jemarinya lalu mengelus puncak kepala Avila dengan lembut.
"Tangisan tidak mungkin bisa menyelamatkan Aisyah, jadi lebih baik perbanyaklah doa untuknya, mengerti?" Nasehat Lee yang berhasil membuat Avila berhenti menangis dan mulai berdoa di dalam hati untuk keselamatan Aisyah.
******
Setibanya di rumah sakit, Devano dan Aisyah langsung di bawa ke UGD untuk secepatnya mendapatkan pertolongan pertama. Sedangkan Lee dan Avila hanya bisa menunggu keduanya di depan pintu UGD dengan perasaan cemas yang menyesaki dada mereka.
Setengah jam kemudian Lee menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari UGD, dengan perasaan cemas Lee langsung bertanya soal bagaimana kondisi Aisyah sekarang kepada sang dokter.
"Bagaimana keadaan sahabat perempuan saya dok?" tanya Lee cemas.
Sang dokter menatap Lee kemudian ia menyunggingkan senyuman di bibirnya.
"Pasien masih belum sadarkan diri, tapi jangan khawatir, benturan di kepalanya tidak begitu parah, sebentar lagi pasti dia akan sadar dan kami akan memindahkannya ke kamar rawat inap. Apa ada yang mau di tanyakan lagi?"
"Lalu bagaimana dengan kondisi orang yang tadi bersama sahabat perempuan saya itu? tanya Lee menanyakan soal Devano.
"Oh, Kapten Devan?" Rupanya dokter itu mengenal Devano.
"Ya, apa dia baik baik saja? tanya Lee penasaran.
"Bisa dibilang dia cukup parah, tepatnya di bagian kakinya yang belum sepenuhnya sembuh itu kini mengalami cedera lagi," jawab sang dokter.
__ADS_1
Lee hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah prihatin.
"Misalnya ada yang perlu di tanyakan lagi, temui saja saya di ruangan saya ya pak, permisi."
"Baiklah dok, silahkan," sahut Lee sambil tersenyum hangat.
Kemudian setelah Dokter itu pergi Avila yang semula duduk di kursi tunggu langsung berdiri dan menghampiri Lee.
"Gimana keadaan Aisyah?" tanya Avila dengan suara parau dan mata yang sembab.
Lee merangkum wajah Avila lalu menatapnya dengan tatapan teduh. "Insyaallah Aisyah akan segera sadar, kata Dokter benturan di kepalanya tidak terlalu parah," terang Lee yang akhirnya dapat membuat Avila menghembuskan nafas lega.
"Alhamdulillahi rabbil’alamin... Terimakasih atas pertolongan dan perlindunganMu, Ya Allah." Avila mengucapkan kalimat syukur dan Lee mengikutinya di dalam hati.
******
Dengan pandangan mata yang buram serta kepala yang terasa pusing, Devano menatap ke sekeliling ruangannya untuk mencari keberadaan Aisyah karena yang pertama kali muncul dipikirannya setelah bangun dari pingsan hanyalah Aisyah.
"Aisyah," panggil Devano yang tak mendapat jawaban dari siapa pun.
"Aisyah! Kamu harus bertahan ya, kalau sampai kamu kenapa-napa, aku gak akan bisa lagi memaafkan diriku sendiri!" ungkap Devano sambil memegangi kepalanya yang pusing.
Pintu kamar rawat Devano terbuka lalu seorang suster masuk ke dalam sambil membawa obat beserta salinan infus untuknya.
"Ya, Alhamdulillah. Tapi bagaimana keadaan wanita yang tadi bersama saya?" tanya Devano dengan raut khawatir.
Suster itu tersenyum penuh arti. "Dia sudah sadar dan keadaannya pun mulai membaik, kami sudah memindahkannya ke ruang rawat inap, jadi jangan terlalu khawatir ya pak," jelas Suster itu.
Devano akhirnya bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan dari Suster barusan, dia kembali merebahkan tubuhnya di kasur dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.
"Seharusnya Pak Devano lebih mengkhawatirkan kondisi Pak Devano sendiri," gumam Suster itu sambil mengganti cairan infus yang hampir habis dengan yang baru.
Bagaikan orang yang mati rasa Devano menatap wajah Suster yang merawatnya dengan mimik bingung.
"Memangnya saya kenapa?" tanyanya.
"Apa pak Devano tidak merasakan sakit di bagian kaki?" Suster nya malah balik bertanya.
"Saya tidak...." Devano tak meneruskan kalimatnya karena dia menyadari sesuatu.
"Tunggu, apa sebelah kaki saya lumpuh total?" tanya Devano dengan wajah pias.
"Kemungkinan begitu, pak." Jawaban itu membuat hati Devano remuk, namun dia sangat bersyukur karena setidaknya Aisyah baik baik saja.
__ADS_1
"Tolong antarkan saya ke kamar rawat Aisyah," pinta Devano dengan wajah sendu yang membuat susternya merasa iba dan langsung menuruti kemauannya.
"Baiklah pak, saya ambil kursi roda dulu."
******
Begitu Devano masuk ke dalam kamar rawat Aisyah, Lee yang berada di sana langsung menatap wajahnya dengan sorot penuh kemarahan. Pria bermata sipit itu menghampiri Devano dan tanpa di duga ia menonjok wajah Devano sampai empunya hampir tersungkur dari kursi roda.
"Astaghfirullah Lee!!" teriak Aisyah yang terkejut melihat Lee bertindak kasar terhadap Devano yang sudah terluka parah demi menyelamatkannya.
"Oppa!" Avila menarik tangan Lee lalu mengusap bahu lebar kakak angkatnya itu untuk meredam emosinya.
"Saya pikir anda akan lebih becus dalam menjaga Aisyah, tapi ternyata pemikiran saya salah, anda hanya bisa membuat Aisyah dalam bahaya," tandas Lee sambil menatap Devano dengan tatapan tajamnya.
"Mulai sekarang, saya tidak akan membiarkan anda menemui Aisyah lagi dengan alasan apapun itu." Lee menegaskan seperti itu agar Devano menjauh sejauh mungkin dari kehidupan Aisyah karena dia tidak ingin wanita yang di cintainya dalam bahaya.
Bersambung....
Bagaimana menurut kalian?
Apa Lee salah kalau menjauhkan Aisyah dari Devano?
Komentar yang banyak yah.
Maaf update nya lama.
Jangan lupa untuk selalu support aku lewat :
-LIKE 👍
-KOMENTAR 📝
-BAGIKAN KE TEMAN KALIAN ➡️
-VOTE CERITA INI ❤️
-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏
Makasih, oh iya aku mau kasih tantangan nih buat kalian.
Kalau komentar di part ini mencapai 40 komentar, aku bakal up lagi hari ini juga. Gimana mau gak?
__ADS_1