Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 14 | Demi kamu


__ADS_3

Seminggu kemudian keadaan Devano memburuk dan di nyatakan koma setelah mengalami pembengkakan di otaknya yang membuat dia harus menjalani operasi untuk yang kedua kalinya.


Beruntung Rifa sang mantan kekasih tidak perhitungan dalam membayar semua biaya operasi, perawatan, dan juga pengobatan yang terbaik untuk Devano agar pria itu bisa selamat dan sembuh seperti semula.


Kini pun Rifa menghabiskan waktunya dengan duduk di kursi yang ada di sebelah kasur tempat Devano berbaring di penuhi berbagai alat penunjang kehidupan.


"Kapan kamu mau buka mata kamu, sayang?Aku sedih kalau lihat mata kamu terus terpejam seperti ini." Bisik Rifa yang tidak pernah pergi dari sisi Devano. Wanita cantik yang berprofesi sebagai Artis dan model itu bahkan rela meninggalkan pekerjaannya demi bisa menemani Devano.


"Tangan kamu juga dingin banget sayang."


"Tapi tenang ya, karena mulai sekarang aku bakal terus genggam tangan kamu kayak gini supaya tangan kamu bisa menghangat." Ujar Rifa seraya menggenggam erat sebelah tangan Devano yang bebas dari jarum infus.


"Aku merindukanmu, Dev. Aku rindu melihat senyuman kamu, aku rindu di peluk sama kamu, aku rindu semua perhatian yang dulu kamu berikan padaku, jadi tolong bangun dan peluk aku agar semua kerinduan ini bisa terobati." Ungkap Rifa sambil memandang wajah Devano dengan penuh kerinduan.


"Lihatlah betapa gilanya cintaku, Dev. Sampai wajah kamu yang sekarang pucat seperti vampir pun masih tetap terlihat tampan di mataku."


Rifa tersenyum samar lalu mengelus pipi pucat Devano dengan lembut dan penuh perasaan.


"Andai aja kamu mau kembali ke pelukanku, mungkin kecelakaan ini gak akan pernah menimpa kamu, Dev." Gumam Rifa sambil terus memandangi wajah Devano.


"Kamu hanya akan aman jika kembali bersamaku." Ujar Rifa yang kemudian mendaratkan kecupan lembut di kening Devano.


"Get well soon, baby. I love you and I miss you so crazy." Bisik Rifa di depan telinga Devano yang masih belum bisa merespon apapun yang di dengarnya sebab pria itu masih koma.


*****


Sementara di Rumah Avila ada Aisyah yang baru saja selesai belajar masak dengan Rian, adik Avila yang begitu pandai memasak meskipun umurnya baru 14 tahun dan baru duduk di bangku kelas satu SMP. Aisyah sampai di buat terkagum kagum dengan kemampuan meracik masakan yang di miliki adik sahabatnya itu.


Dan sesuai janjinya Minggu lalu, Rian mengganti waktu tidur di pagi weekendnya dengan mengajari Aisyah memasak dua makanan khas Indonesia yaitu opor ayam dan rendang.


Remaja tampan itu dengan telaten memberikan petunjuk serta trik trik memasak opor dan rendang yang belum pernah Aisyah ketahui sebelumnya. Sampai pada akhirnya Aisyah paham dan dapat mempraktekkannya sendiri.


"Gimana Yan? Opor masakan kakak enak, gak?" Tanya Aisyah sambil mengamati ekspresi wajah Rian yang sedang mencicipi opor hasil masakannya.


"Eumh..enak kok, kak." Jawab Rian seraya tersenyum lebar dan memberikan jempolnya.


"Kamu jangan bohong lho." Kata Aisyah yang masih ragu dan tak percaya kalau opor buatannya kali ini memang enak.

__ADS_1


"Suer deh kak, aku gak bohong kalau opor ini emang enak. Apalagi kuahnya nih, beuhh mantap banget, cobain deh." Ujar Rian sambil menyodorkan sendok berisi kuah opor itu ke depan mulut Aisyah.


Lantas Aisyah pun menerima suapan dari Rian tersebut dan seketika kaget merasakan kelezatan dari opor buatannya sendiri.


"Wow! Akhirnya aku bisa juga masak opor yang enak kaya gini!!" Pekik Aisyah dengan wajah sumringah dan kegirangan.


"Avi, sini deh!" Aisyah pun memanggil Avila yang sedang menonton kartun Doraemon di ruang tamu itu untuk ikut mencicipi opor ayam hasil masakannya.


"Ada apa sih?" Tanya Avila setibanya di dapur.


"Coba deh cicipi opor ayam buatan aku ini." Pinta Aisyah sembari menyodorkan semangkuk opor ayam hasil masakannya ke hadapan Avila.


Namun Avila malah ragu ketika menatap opor itu, sebab dulu dia pernah mencicipi opor buatan Aisyah yang rasanya manis seperti kolak, sampai membuatnya muntah karena mual.


"Rasanya enak kok, kak." Rian meyakinkan kakaknya itu sambil menyeruput kuah opor buatan Aisyah.


"Ya..ya udah deh. Aku coba ya." Kata Avila yang akhirnya mau mencicipinya.


Dan setelah kuah opor buatan Aisyah tersebut sampai ke lidahnya, Avila langsung mengangkat jempolnya tinggi tinggi di depan wajah Aisyah.


"Daebakk! Rasanya enak banget, kamu hebat Aisyah, baru satu kali belajar langsung bisa buat opor seenak ini." Puji Avila yang seketika membuat Aisyah tersenyum lebar karena akhirnya dia berhasil membuat opor ayam yang di akui enak oleh sahabatnya.


"Gimana gak gosong coba kalau gorengnya sambil main PUBG." Celetuk Rian yang membuat Aisyah terkekeh geli mendengar kebiasaan konyol Avila yang selalu main game ketika sedang masak.


"Ishh, lo mah kebiasaan ya dek, suka banget buka aib gue di depan Aisyah." Gerutu Avila sambil melirik Rian dengan tajam.


"Jangan marah kak, aku kan cuma mengungkap fakta di balik telor dadar yang gosong." Ujar Rian membela dirinya dengan kalimat lucu yang membuat Avila dan Aisyah tertawa.


Setelah itu Aisyah mengajak Avila, Rian, serta Tante Imah untuk makan bareng dengan menu opor hasil masakannya dan juga ada rendang buatannya yang banyak di bantu oleh Rian.


****


"Makasih banyak ya, Iyan. Kamu udah mau ngajarin kakak cara bikin opor ayam yang enak." Ucap Aisyah dengan senyuman manis yang tersemat di bibirnya.


"Sama sama Kak Aisyah, Aku juga seneng bisa masak bareng sama kakak." Sahut Rian sambil menoleh ke arah Aisyah dan balas tersenyum manis.


"Oh ya kak, kenapa sih kakak antusias banget waktu masak opor?" Tanya Rian yang membuat Aisyah seketika membisu.

__ADS_1


"Kak, makan dulu yuk. Aku udah masakin opor ayam kesukaan kamu lho." Ajak Aisyah sambil membujuk sang suami agar dia mau makan.


"Asal kamu tahu ya, aku itu gak suka opor ayam buatan kamu! Aku cuma suka sama opor buatan ibu aku." Tolak Devano seraya melengos pergi.


"Setidaknya kamu bisa mencicipinya dulu." Bujuk Aisyah yang akhirnya membuat Devano menyerah dan menuruti keinginan istrinya itu.


Devano mengambil sendok dan mulai mencicipi opor buatan Aisyah itu dengan malas.


"Huekhh... Opor atau racun tikus sih, ini?!" Bentak Devano sambil memuntahkan opor buatan Aisyah tersebut dari mulutnya.


"Dimana-mana yang namanya opor itu rasanya asin, Aisyah! Bukan manis kaya kolak begini?!"


"Lagian kalo kamu gak bisa masak, mending gak usah masak. buang waktu dan bahan aja, tahu nggak?! Timpal Devano tanpa memikirkan perasaan Aisyah yang kecewa karena perjuangannya di dapur selama dua jam tidak di hargai sedikitpun oleh suaminya itu.




Bersambung...


Gimana perasaan kalian setelah baca part ini?


Sedih, seneng, atau kesel?


Tulis di kolom komentar yah.


Jangan lupa untuk selalu support aku dengan cara di bawah ini :


-LIKE 👍


-KOMEN 📝


-VOTE ❤️


-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊

__ADS_1


Makasih banyak,


Assalamualaikum..❤️


__ADS_2