
"Asal kamu tahu ya, aku ini masih tunangannya David."
"Kamu tidak akan pernah bisa merebutnya dariku meskipun sekarang dia mencintai kamu."
"Karena aku yakin cinta yang dimiliki David untuk kamu itu tak sebesar cintanya yang masih tersisa untuk aku."
"Jadi aku sarankan agar kamu menolak lamaran David sebelum nantinya kamu kecewa setelah tahu kamu cuma sekedar pelampiasan di saat aku tak ada," cetus Georgina sambil memandang Aisyah dengan raut tak menyenangkan.
Senyuman samar terbentuk di bibir ranum milik Aisyah. "Kenapa aku harus mengikuti saran dari kamu? Ini masalah pribadiku, jadi lebih baik tidak perlu ikut campur." Dengan tenang Aisyah menanggapi pernyataan Giorgina yang sedang mencoba memperingatinya agar menolak lamaran Lee malam itu.
"Ternyata kamu tidak pernah berubah ya? Dari dulu sampai sekarang masih suka merebut kekasih wanita lain lalu membuat opini seolah kamulah yang dikhianati. Huh, jangan kamu kira aku ini tidak tahu apa-apa tentang masa lalu kamu ya, dasar janda tak tahu diri!" Hinaan yang keluar dari mulut tajam Georgina tersebut seketika menusuk hati Aisyah dan membuat luka baru di atas luka yang dulu pernah ada.
"Kamu harusnya sadar, Aisyah. Dulu bukan Rifa yang merebut Devano dari kamu, tetapi sebaliknya justru kamulah yang merebut Devano darinya."
"Kamu adalah perusak kebahagiaan orang lain!"
Air mata Aisyah jatuh seiring dengan gemetar di dalam jiwanya yang rapuh. Ia tak menyangka akan ada lagi orang yang sampai hati mengatakan fitnah kejam yang berasal dari masa lalu itu dihadapannya.
"Seharusnya kalau kamu perempuan yang punya hati, kamu tidak akan setuju menikah dengan Devano yang saat itu masih menjadi kekasih Rifa."
"Kamu bisa berkata seperti itu karena kamu tidak pernah ada di posisi yang sama sepertiku waktu itu," sela Aisyah yang tidak bisa terus membiarkan dirinya dicaci maki oleh orang yang bahkan tidak paham tentang masa lalunya.
"Pernahkah kamu merasakan pahitnya kehilangan seorang ayah? Pernahkah kamu merasa kecewa karena terpaksa harus putus sekolah? Pernahkah kamu merasakan kelaparan berhari-hari bersama seorang ibu yang sedang sakit-sakitan? Kamu tidak pernah mengalami itu semua kan?"
"Maka, jangan semena-mena berbicara tentang masa laluku yang bahkan kamu tidak tahu bagaimana kebenarannya!"
"Asal kamu tahu ya, aku ini dijodohkan hingga dinikahkan dengan Devano karena keluarganya kasihan terhadap aku dan ibuku yang waktu itu hampir tak bisa bertahan hidup."
"Dan awalnya aku tidak tahu Devano sudah memiliki seorang kekasih. Setelah sebulan menikah, baru aku mengetahuinya dari ponsel yang selalu dia sembunyikan. Tapi waktu itu aku hanya diam, aku tak berani untuk meminta Devano memutuskan hubungannya dengan Rifa, karena aku sadar bahwa suamiku itu lebih mencintai kekasihnya."
"Memang sakit membohongi perasaanku sendiri. Tapi aku memilih untuk bertahan selagi Devano masih memperlakukanku dengan cukup baik, sampai setelah ibuku meninggal Devano mulai menjauh, dia jarang memperhatikanku. Bahkan terkadang dia tak menganggap aku ada meskipun aku berada di sampingnya."
"Sakit sekali rasanya, tapi aku terus bungkam sampai akhirnya malam itu ada sebuah kejadian yang membuatku difitnah hingga Devano murka dan dengan kejam menyatakan bahwa yang ada di kandunganku bukanlah anaknya."
"Setelah mendengar kebenarannya, masihkah kamu tega memfitnah ku seperti tadi?" tanya Aisyah sambil menatap Georgina dengan tatapan terluka.
Seketika itu Georgina memalingkan wajahnya dan bangkit dari kursi lalu pergi meninggalkan Aisyah tanpa sepatah katapun.
Yang dapat dilakukan Aisyah sekarang hanya menatap kepergian Georgina dengan tatapan miris.
"Aku tahu dia masih menyimpan perasaan cinta untuk kamu, Giorgina."
"Aku pun tak akan terburu-buru mengambil keputusan untuk menerima lamarannya."
"Karena ada dua hati yang akan hancur bila akhirnya keputusanku salah," gumam Aisyah sambil memejamkan matanya lelah.
__ADS_1
Tak lama setelah itu ada seorang waiters yang datang menghampiri meja Aisyah dan meletakkan segelas moccalatte dingin serta sepiring brownies coklat dengan krim stroberi yang tak diminta sebelumnya.
"Mbak, maaf. Sepertinya Mbak salah meja deh," tegur Aisyah yang malah dibalas senyuman penuh arti.
"Enggak mbak, ini memang untuk Mbak," jelas si waiters yang membuat Aisyah bingung.
"Lho, tapi kan saya enggak pesan kopi sama brownies ini Mbak," sela Aisyah.
"Ini bonus dari makanan yang Mbak pesan tadi."
"Ooh. Begitu ya?"
"Iya Mbak."
"Makasih banyak ya."
"Sama-sama, permisi Mbak."
"Silahkan."
Aneh, bisik Aisyah dalam hati setelah menoleh ke sana kemari tidak ada orang yang mendapatkan bonus sepertinya meskipun mereka pesan makanan yang sama seperti yang dipesannya satu jam yang lalu.
"Apa waiters yang tadi itu membohongiku? Tapi apa gunanya?"
"Ah, mungkin ini memang sudah rezeki ku," ucap Aisyah yang kemudian mulai menikmati brownies coklat dan moccalatte dingin nya.
"Semoga dengan menikmati dessert kesukaan kamu itu suasana hati kamu bisa membaik secepatnya," ujar Devano yang kemudian kembali ke dapur restoran untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai koki sementara.
*****
"Moccalatte dingin dan brownies coklat memang paduan yang sempurna, tunggu. Ini kan dessert favoritku sejak dulu, kenapa aku baru sadar setelah menghabiskannya?"
"Aah, aku harus berterima kasih kepada seseorang yang telah memberikan ini secara gratis untuk ku, tapi kira-kira siapa orang yang tahu dessert favoritku ini?"
"Sepertinya yang tahu itu cuma Devano dan Avila deh. Apa mungkin yang memberinya adalah salah satu dari mereka?"
Karena penasaran, Aisyah pun menghubungi Avila. "Halo, Vi?"
"Halo, ada apa sayang?"
"Sayang-sayang, emangnya aku ini Robbie apa?"
"Eh iya, maksudnya ada apa Syah?"
"Kamu ada kirim makanan buat aku, enggak?"
__ADS_1
"Lah, ultah kamu kan udah lewat, ngapain aku kirim makanan buat kamu?"
"Di situasi sekarang ini aku lagi menghemat uang dan nabung buat biaya nikah, jadi enggak mungkin aku buang uang buat beliin kamu makanan selagi aku tahu kamu masih bisa beli makanan sendiri."
"Kalau bukan kamu terus siapa dong yang kasih dessert kesukaan aku ini?"
"Mana aku tahu, mungkin aja Oppa Lee, iyakan?"
"Ck, Lee itu enggak tahu menahu soal dessert favoritku yang satu ini."
"Terus siapa lagi yang tahu selain aku?"
"Devano...."
"Nah, berarti dialah yang ngasih."
"Masa sih? Dia kan lagi sibuk kerja di Kafe nya."
"Ah, terserah kamu lah. Aku sibuk, bye."
Avila mematikan sambungan telfonnya dan membuat Aisyah cemberut. "Ish! Ini anak aku belum selesai juga udah dimatiin," gerutunya setengah kesal.
Setelah itu Aisyah keluar dari restoran dan menghentikan taksi untuk kembali ke Studio, melanjutkan pekerjaannya sambil mencari tahu siapa orang yang berhasil membuat moodnya membaik seketika dengan cara mengirimkan dessert kesukaannya tadi.
"Apakah benar orang itu adalah Devano?"
Bersambung....
Suka enggak sama part ini?
Komentar di bawah yah.😊😊🙏🙏
Jangan lupa berikan support kalian dengan cara :
1. Like 👍
2. Komentar 📝
3. Vote novel ini ❤️
4. Share ke teman-teman kalian ➡️🧕🙋
5. Tekan bintang limanya ⭐⭐⭐⭐⭐
6. Dan follow profil aku serta follow Instagram@asyiahmuzakir.
__ADS_1
Bye, bye, Assalamualaikum.