Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 26 | Devano kritis atau sadar?


__ADS_3

HAPPY READING!❤️❤️❤️


Aisyah POV.


Aku tak menyangka bahwa ternyata Lee benar benar mencintaiku, bahkan saat ini dia mengucapkannya begitu gamblang, seolah dia sudah cukup lama memendam perasaan itu untuk aku. Namun aku bingung bagaimana cara menanggapinya, karena jujur saja, hatiku masih terlalu kebas untuk bisa jatuh cinta lagi. Di tambah aku sadar kalau Avila memendam perasaan cintanya untuk Lee, dan tentu sebagai sahabatnya aku tidak ingin melihat dia bersedih jika dia tahu yang sebenarnya kalau Lee mencintai aku.


Kini aku terdiam, karena hanya itulah yang menjadi pilihan terbaik menurutku, sebab jika bicara, aku takut kata kataku ada yang akan menyakiti dan mengecewakan hati Lee. Hingga beberapa saat kemudian, aku mendapat telepon dari Rumah sakit yang mengabarkan kalau Devano sedang kritis.


Sontak kabar itu membuat aku langsung panik. "Lee, tolong antar aku ke Rumah sakit sekarang juga!" pintaku kepada Lee.


"Oke, tapi kamu yang tenang ya, jangan panik seperti itu," sahut Lee seraya menatap mataku dalam dalam.


"Gimana aku gak panik! Devano sekarang lagi kritis, Lee!" pekik ku dengan perasaan cemas.


Lee masih menatapku dan kini dari matanya aku bisa melihat sekelebat kekecewaan yang membuatku langsung merasa bersalah karena aku tak dapat menahan rasa cemas ku terhadap Devano di hadapan Lee yang baru saja menyatakan perasaannya kepadaku.


"Kalau begitu, selagi masih ada waktu, kita harus secepatnya pergi ke Rumah sakit," ujar Lee seraya menarik tanganku menuju parkiran dimana mobilnya berada.


*****


Sekarang aku duduk di samping blankar Devano sembari menggenggam tasbih yang menuntunku untuk terus menggumamkan sholawat dan doa demi keselamatannya.


Di ruang ICU ini, hanya ada aku dan Devano. Karena Lee dan Rifa sepertinya sepakat untuk menunggu di luar, seakan mereka tengah memberikan privasi kepada kami berdua.


"A...Aisyah." Seketika aku tertegun mendengar Devano menggumamkan namaku.


"Aisyah...hh, Dashaa...."


"Ai...syah...," lirih Devano yang membuatku ingin menangis.


"Iya Dev, aku di sini...kamu cepat bangun ya," bisik ku di depan telinganya.


Bibir Devano kembali terkatup lalu setelahnya terbuka lagi dan kembali menggumamkan namaku, itu terjadi berulang kali. Jika saja dia masih berstatus suamiku, mungkin kini aku akan memeluknya dan membisikkan kalau aku akan terus ada di sisinya.


Flashback :


Aku menangis tersedu-sedu di pemakaman ibuku, kehilangan sosoknya merupakan pukulan kesedihan terberat selama hidupku. Dulu ayah yang meninggalkan aku, kini ibu pun menyusulnya, meninggalkan aku yang rapuh ini seorang diri.


Aku menangis lagi dan lagi sambil menaburkan bunga di pusaran ibuku. Sendirian di pemakaman yang luas ini merupakan kebiasaan baru untukku, aku bisa saja meminta Devano menemaniku tapi nyatanya aku lebih suka ke sini seorang diri.

__ADS_1


Setelah berdoa untuk ibuku, aku masih belum bisa tenang juga, aku masih tak berhenti menangis karena mengingat kenangan-kenangan bersama ibuku. Di saat itulah aku merasakan seseorang memelukku dari belakang dengan hangat. Awalnya aku terkejut dan mengira kalau itu adalah orang jahat, tapi setelah aku menoleh rupanya itu adalah suamiku, Devano.


Dia masih memakai baju Armynya dan meskipun ekspresi wajahnya datar, aku tetap bisa merasakan kehangatan dan perhatiannya yang dia curahkan lewat pelukan ini.


"Jangan nangis di kuburan, entar ada yang menirukan tangisan kamu lho," Bisik Devano di telingaku. Suaranya terdengar seperti sedang menakut nakutiku. Pedahal aku tidak merasakan takut sedikitpun.


"Oh ya? Siapa yang menirukannya?" tanyaku seraya membalikkan badan dan menyandarkan kepalaku di dada bidangnya.


"Mbak Kun," jawab Devano seraya merangkum wajahku lalu mengusap air mataku dengan ibu jarinya.


"Ih takut, kalau begitu aku gak akan nangis lagi," ujarku yang membuatnya tersenyum lembut lalu mengusap puncak kepalaku dengan tak kalah lembutnya.


"Gitu dong, ya udah kita pulang ya, tapi sebelumnya aku mau kirim Al-fatihah dulu buat ibu," kata Devano seraya menggenggam tanganku dan membungkukkan badannya di pusaran ibuku lalu berdoa.


Aku memperhatikan Devano yang tengah berdoa dengan air mata yang mengalir deras ke pipiku. Merasa bahagia sekaligus sesak secara bersamaan ketika ia memberikan perhatiannya seperti ini. Bahagia karena dia selalu dapat menghapus kesedihanku, selalu membuatku merasa bahwa di dunia ini aku tak akan sendirian karena kehadirannya, namun sesak karena mengetahui kalau faktanya dia masih mencintai mantan kekasihnya, Rifa. Dan mungkin saja, perhatian ini dia berikan hanya karena rasa tanggung jawabnya sebagai suamiku, bukan karena rasa cintanya kepadaku.


"Ayo pulang," ajak Devano seraya menggenggam tanganku lagi.


"Ayok!" sahutku seraya menautkan lebih erat jemariku dengan jemari kokohnya.


"Lain kali kalo mau ziarah jangan sendirian ya?" perintah Devano sambil menatapku dengan tatapan teduhnya yang selalu menghangatkan hatiku.


"Aku akan menunda kesibukan aku demi kamu, Aisyah...kamu bisa hubungi aku setiap kamu membutuhkan aku, Oke?" kata Devano sambil menatapku serius.


Aku hanya mengangguk seraya tersenyum manis kepadanya.


"Makasih udah selalu ada buat aku," ucapku yang kemudian membuatnya tersenyum dan merangkul ku untuk berjalan bersamanya lagi.


"Kamu gak perlu bilang makasih, karena kamu teman aku, teman pertama aku, perempuan yang pertama kali membuatku merasa kalau di dunia ini masih ada yang mau berteman dengan lelaki seperti aku," ungkap Devano.


"Tapi kenapa bukan aku juga yang bisa membuat kamu jatuh cinta kak? Kenapa malah dia yang kamu cintai?"


"Oh ya, kamu gak papakan kalau kita mampir ke Rumah Rifa dulu, soalnya ada barang dia yang ketinggalan di mobil aku," kata Devano yang seketika membuat hatiku sedikit nyeri.


"Haruskah kamu menyebutkan namanya di depanku ketika aku baru saja berhenti menangis?"


"Gak papa, aku naik taksi aja pulangnya, Kak Devan kalau mau mampir ke Rumah Kak Rifa dulu silahkan," sahutku yang kemudian berjalan meninggalkannya dengan hati yang nyeri.


Baru saja aku bahagia menerima perhatiannya, tahu nya beberapa saat kemudian aku di jatuhkan kembali oleh realita yang membuat hatiku sakit dan nyeri.

__ADS_1


"Aisyah!" Devano memanggilku tapi aku tetap berjalan dan berusaha mengabaikannya.


Namun setelahnya aku terkejut karena tiba-tiba tubuhku terangkat dan di bawa masuk ke dalam mobil, siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Devano.


"Aku gak jadi mampir, aku akan pulang sama kamu dan gak akan kemana-mana lagi setelahnya," ujarnya yang langsung bisa merubah suasana hatiku menjadi lebih baik.


Flashback off.


Aku terkejut ketika bangun dari tidur dan mendapati jemari milik Devano dengan jemariku saling bertautan.


"Aisyah...."


Bersambung....


Ceritain perasaan kalian pas baca bagian ini yah....


Seneng kah? Sedih kah? Terharu kah?


Pokoknya kasih tahu aku di kolom komentar ya!


Bye,


Jangan lupa untuk selalu support aku dengan cara :


-LIKE 👍


-KOMENTAR 📝


-VOTE CERITA INI ❤️


-KASIH BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


-BAGIKAN CERITA INI KE TEMAN KALIAN 👌


-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊😊


Makasih semuanya,💜💜💜


Lop you all.😍😍😍😘😘😘

__ADS_1


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....


__ADS_2