
Setelah sholat ashar Lee meminta Aisyah untuk menemaninya belanja kebutuhan dapur di supermarket dan dengan senang hati Aisyah pun menyetujuinya. Kini mereka berdua berjalan beriringan diantara rak-rak bahan makanan yang sedang di pilih oleh Lee.
"Wah ini nih yang aku cari," ujar Lee sambil menatap penuh antusias ke arah rak berisi mie samhyang super pedas kesukaannya.
Sejurus kemudian Lee mengambil semua mie samhyang itu dan memasukkannya ke dalam troli yang sedang di dorong oleh Aisyah.
"Ekhem!" Aisyah berdeham lalu menatap Lee dengan tajam. Setelahnya wanita itu memindahkan semua mie samhyang yang tadi diambil oleh Lee ke tempat semula.
"Yah kok di kembalikan," protes Lee dengan nada merajuknya.
"Mie instan itu gak baik buat kesehatan kamu, jadi mendingan gak usah beli makanan yang berpotensi membuat kamu sakit, mengerti?" ujar Aisyah menasehati.
Awalnya Lee berniat protes lagi tapi seketika dia sadar kalau Aisyah melarangnya seperti ini berarti wanita itu sangat memperdulikannya.
Akhirnya Lee hanya bisa mengangguk pasrah sambil tersenyum senang. "Kamu khawatir aku sakit?" tanyanya kemudian.
Aisyah pun mendongak lalu menatap Lee dengan tatapan keibuannya yang dalam hitungan detik saja mampu menghangatkan relung hati Lee.
"Jelas aku khawatir lah, Lee. Kamu itu penting buat aku, aku gak bisa bayangin gimana kalau kamu sampai sakit, siapa yang jagain aku nanti?"
"Oleh karena itu aku gak mau kamu sakit, aku mau kamu selalu sehat agar kamu tetap sanggup berdiri di samping aku dan melindungi aku dari siapapun yang berniat buruk sama aku."
"Jadi sekarang biarin aku ikut serta dalam menjaga kesehatan kamu, oke?" ucap Aisyah diiringi senyuman tulusnya.
Lee mengangguk lalu membiarkan Aisyah memilih bahan makanannya sesuai kehendak wanita itu.
"Kamu harus sering mengkonsumsi buah-buahan, ini aku pilih stroberi, kamu suka banget kan sama buah satu ini?" kata Aisyah.
"Ya," sahut Lee membenarkan sambil terus berjalan mengikuti Aisyah dari belakang.
Setelah selesai mengambil sekantong stroberi Aisyah berpindah ke rak berisi daging dan sayuran. Wanita berparas cantik itu tampak teliti memilih bahan makanan yang akan di masukannya ke dalam troli yang kini di dorong oleh Lee.
"Eh itu ada kimchi, aku mau satu dong, Syah. Bolehkan?" Lee meminta persetujuan dari Aisyah sebelum dia mengambil bungkus kimchi instan yang ada di rak sebelahnya.
Namun Aisyah menggelengkan kepala tanda bahwa ia tak memperbolehkan Lee membeli kimchi instan itu. "Gak boleh."
"Kenapa?" tanya Lee yang keberatan.
"Karena aku mau bikinin kimchi yang original tanpa pengawet spesial buat kamu," jawab Aisyah yang membuat Lee heran namun juga senang.
__ADS_1
"Serius?" tanya Lee yang masih belum percaya Aisyah berubah lebih perhatian kepadanya seperti ini.
Aisyah menghela nafas panjang lalu menatap Lee. "Memangnya ada mimik bercanda di wajah aku, heum?"
Lee mendekati Aisyah lalu mengamati ekspresi wajah wanita cantik itu dengan seksama.
"Gak ada," jawab Lee.
"Itu artinya aku serius," ujar Aisyah yang kemudian berpindah ke tempat snack dan mengambil dua bungkus camilan kesukaannya.
"Lee bayarin dua ini ya, ntar uangnya aku ganti kalau udah sampai rumah, oke?" Aisyah bisa bisanya menanyakan persetujuan dari Lee hanya untuk meminta pria itu membayarkan snack kesukaannya pedahal jika dia meminta snack satu supermarket pun Lee tidak masalah.
"Ambil aja apapun yang kamu mau, aku bayarin semuanya dan kamu gak perlu ganti uangnya, mengerti?" pungkas Lee yang membuat Aisyah tersenyum malu.
******
Sore ini Aisyah benar-benar merealisasikan ucapan nya, dia tengah membuat kimchi di dapurnya sambil mendengarkan arahan dari Stevani yakni adik perempuan Lee yang sudah cukup ahli dalam membuat olahan khas Korea itu.
"Saatnya mendinginkan kimchi ini di kulkas," ujar Aisyah yang akhirnya selesai membuat kimchi nya.
"Yeay finally done! Cukup mudahkan, eoni?" kata Stevani yang di balas gelengan lemah oleh Aisyah.
"Mudah apanya? Kalau dari awal tahu caranya membuat kimchi itu bakal seribet ini mendingan beli yang di supermarket aja," keluh Aisyah yang membuat Stevani terkekeh.
"Sama-sama eoni," sahut Stevani sambil menampakkan cengiran imutnya.
"Kapan-kapan kita harus duet masak di dapur secara langsung, setuju?" kata Aisyah sambil menatap wajah imut Stevani di layar ponselnya.
"Setuju banget!!" ujar Stevani dengan suara yang begitu antusias.
"Ya udah kalo gitu tutup dulu ya panggilan video nya, gampang kita lanjutin di lain waktu, lagian katanya kamu mau pergi sama temen kamu, iyakan?"
"Iya, ya udah, see you soon, eoni-ku sayang, bye."
Aisyah tersenyum lalu melambaikan tangannya di depan layar.
"Bye adikku yang cantik."
Setelah itu Aisyah mendapat pesan singkat dari Devano.
__ADS_1
Devano :
Kamu udah pulang kerja?
**Aisyah :
Udah, ada informasi apa?
Devano :
Bisa lewat telfon?
Aisyah :
Of course**.
Tak lama kemudian Devano menelpon dan Aisyah langsung mengangkatnya. "Halo, ada informasi apa?" tanya Aisyah setengah berbisik.
"Ini sangat penting dan mungkin akan sedikit membuat kamu terkejut serta tak menyangka," jawab Devano yang tak langsung ke inti.
"Please, langsung to the point aja," cetus Aisyah yang tak sabar ingin mendengar informasi apa yang kali ini Devano dapatkan.
"Panti asuhan tempat tinggal Viona dulu sekarang sudah ditutup, entah kenapa. Tapi menurut informasi yang aku dapatkan dari detektif kenalanku, ada seorang pengasuh yang menerima uang dari seseorang untuk tutup mulut soal kasus tabrak lari yang menewaskan salah satu anak di panti itu, kemungkinan itu adalah Viona," terang Devano yang membuat Aisyah terkejut sekaligus merasa sedikit lega karena akhirnya dia tahu kalau yang kecelakaan waktu itu bukan Dasha, melainkan Viona.
"Jadi sekarang kita bisa lima puluh persen yakin bahwa Dasha putri kita masih hidup," ucap Devano yang sangat mengharapkan dapat bertemu dengan putri kandungnya dan meminta maaf karena sebagai ayah dia sudah sangat kejam sebab pernah tak mengakuinya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" kata Aisyah yang rupanya sudah tak sabar ingin segera menemukan seseorang yang berani membohonginya dan juga semua orang tentang kepergian Dasha yang dianggap sudah meninggal pedahal belum tentu.
"Selidikilah mantan pengasuh panti yang bernama Siska," perintah Devano yang seketika membuat Aisyah mendelik terkejut.
"Sis... Siska?" tanya Aisyah yang ingin memastikan kalau telinganya tidak salah dengar.
"Ya, namanya Siska, usianya sekitar dua puluh enam tahun, informasi lengkap dan alamatnya akan aku kirim lewat email, oke?"
"Tunggu... Kalau dia Siska, berarti aku mengenalnya. Ya, tidak salah lagi, Siska yang kamu maksud itu adalah teman lama aku," ujar Aisyah dengan raut serius.
Bersambung....
Gimana? Semakin penasaran gak?
__ADS_1
Di part ini udah mulai jelas belum Aisyah cintanya sama siapa?
Komentar di bawah yah!