Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 19 | Putaran Waktu


__ADS_3

Bunyi detak jantung yang berasal dari alat Electrocardiogram mengisi kesunyian di ruang ICU tempat Devano terbaring koma. Malam ini tak ada seorang pun yang menemani pria itu, karena Rifa yang biasanya selalu datang ke Rumah sakit, malam ini absen, bahkan sejak sore wanita itu tidak memunculkan batang hidungnya sekalipun.


Di alam bawah sadarnya, Devano melihat seorang remaja lelaki yang tak lain adalah dirinya sendiri waktu masih duduk di bangku kelas X SMA.


Flashback on :


Devano berdiri di tepi rooftop gedung SMA tempatnya bersekolah, lalu dengan perasaan iri dia melihat ke bawah tepatnya ke arah murid-murid yang sedang bermain basket di lapangan sekolah.


"Andai gue bisa ikut main sama mereka." Devano berbicara dengan dirinya sendiri, karena memang dari kecil ia tak pernah memiliki teman.


Devano adalah anak laki-laki yang begitu pendiam dan tertutup, dia bahkan sampai tidak tahu bagaimana caranya menjalin pertemanan dengan orang lain selain dirinya sendiri.


Kebiasaannya ketika jam istirahat adalah pergi ke rooftop dan menghabiskan waktu dengan membaca buku atau memandangi teman teman sekelasnya bermain basket seperti yang tengah dia lakukan saat ini.


"Bodoh, kenapa dia malah melempar bolanya ke arah lawan?" gumam Devano sambil memperhatikan gerak gerik seorang gadis dengan rambut kuncir kuda yang sedang mendribble bola basket di lapangan itu.


"Hah, enggak ada untungnya gue ngeliatin permainan bodoh cewek itu," kata Devano yang kemudian merebahkan tubuhnya di lantai rooftop dan mulai membaca buku kesukaannya.


"Ayah akan bangga kalau gue jadi tentara seperti cerita di dalam buku ini. Tapi sayangnya gue lebih berminat jadi atlet atau pelukis," ungkap Devano sambil membaca bukunya.


Di tengah ketenangannya itu, Devano tiba tiba di kejutkan oleh jatuhnya gorengan berlumuran saus ke matanya, sehingga kedua matanya perih dan tak sanggup melihat apapun.


"Aaarghh!"


Sontak saja Devano langsung terbangun dari rebahan nya dan membuang gorengan itu jauh jauh.


"Hah! Ya ampun. Maaf maaf, aku benar-benar gak sengaja, maaf ya kak, sini sini aku bersihin," ucap seorang gadis cantik yang langsung menghampiri Devano dengan panik dan penuh sesal.


Gadis cantik itu lalu mengelap kedua mata Devano yang terkena saus dengan menggunakan handuk kecilnya.


Tapi gadis cantik itu lupa kalau tangan sebelah masih menggenggam es plastik, akibatnya kini es plastik itu tumpah ke baju Devano.


"Aaarghh!!" geram Devano ketika merasakan dingin yang berasal es batu itu membasahi dadanya.


"Aduuh..Ya Ampun, Maaf kak. Aku bener bener ceroboh. Maaf ya kak, sini aku ker...."


"CUKUP! PERGI LO!" bentak Devano dengan berapi api karena baru pertama kalinya dia mendapat kesialan seperti ini di rooftop kesayangannya.


"Maafin aku ya kak, aku beneran gak sengaja, tadi itu aku kesandung tali sepatu aku. Maaf banget ya," ucap gadis cantik berkuncir kuda itu sambil memohon kepada Devano agar mau memaafkannya.


Devano menatap gadis cantik itu dan seketika sadar kalau gadis itulah yang dia anggap bodoh ketika melihat permainan basketnya di lapangan tadi.


"Pergi gak lo!" usir Devano.

__ADS_1


"Tapi gimana sama baju kakak?"


"Gue bisa urus sendiri."


"Tapi kak, aku merasa bersalah banget sama kakak. Bajunya biar aku cuci ya?"


"Gak perlu, PERGI!" bentak Devano yang disertai dengan tatapan tajamnya.


Tapi bukannya takut atau terintimidasi, gadis cantik itu malah membalas tatapan Devano dan dengan berani menyodorkan tangannya ke hadapan Devano.


"Kalau gitu kenalin dulu, aku Aisyah Naira. Anak SMP sebelah, mana tahu kakak mau nuntut tanggung jawab ke aku," ujar Aisyah sebelum akhirnya pergi dari rooftop, meninggalkan Devano yang masih terbengong-bengong menatapnya.


"Gadis ceroboh!" gumam Devano seraya membuka baju putih seragamnya lalu mengibas-ibaskan nya ke udara.


"Haahh! Mana sebentar lagi bel masuk kelas bunyi," gerutu Devano sambil terus berupaya mengeringkan baju putih seragamnya.


Beberapa saat kemudian suara Aisyah terdengar lagi ke telinga Devano dan membuat laki laki itu langsung menoleh ke sumber suara.


"Kak ini baju gantinya, maaf kalau mungkin ukurannya agak kesempitan. Tapi kayaknya muat deh, secara tubuh kakak kan kurus," kata Aisyah sambil menyodorkan baju putih seragamnya kepada Devano sebagai rasa tanggung jawabnya.


Devano terdiam seperti sedang berpikir sebelum akhirnya laki laki itu menerima baju Aisyah dan langsung memakainya tanpa melepas kaos hitam **********.


Kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun Devano melangkah pergi meninggalkan Aisyah yang kemudian menghembuskan nafas lega-nya.


"Huft, untung dia gak marah lagi. Akhirnya selesai juga urusanku sama batu berjalan itu. Pokoknya lain kali aku harus hati-hati kalau ke rooftop. Supaya kejadian kayak tadi gak terulang lagi," gumam Aisyah sambil berjalan meninggalkan rooftop dan menuju ke gedung SMP nya yang masih bergandengan dengan gedung SMA.


*****


"Ehh, Van! Lo mau balik lagi ke bangku SMP yah? Kangen apa gimana sampe seragam waktu SMP itu di pake lagi hahahaha...," ejek Aji, si biang kerok kelas yang hobi sekali mengejek dan mengerjai Devano.


'Sial, ini semua gara gara bocah itu!' umpat Devano sambil mencengkram mejanya.


*****


Pagi harinya Aisyah pergi ke sekolah dengan ceria menggunakan sepeda pink kesayangannya. Sepanjang jalan gadis itu bernyanyi nyanyi dan tak lupa untuk menyapa setiap orang yang di jumpainya.


Hingga secara kebetulan mata Aisyah melihat Devano yang tengah berlari sambil menggendong tas sekolahnya.


"Hai kak!" sapa Aisyah sambil memelankan laju sepedanya supaya bisa seimbang dengan langkah kaki Devano.


'Huh, ngapain sih dia nyamperin gue?!' gerutu Devano dalam hatinya sambil terus fokus berlari.


"Kakak masih marah ya soal kejadian di rooftop kemaren itu?" tanya Aisyah yang tak di hiraukan oleh Devano.

__ADS_1


"Kak aku minta maa...."


"Daripada lo banyak ngomong, mending turun dari sepeda sekarang juga," perintah Devano yang membuat Aisyah kebingungan.


"Maksudnya...."


"Turun gak lo?!" bentak Devano sambil menahan sepeda Aisyah dengan kedua tangannya.


"Iya, iya, kak," sahut Aisyah yang kemudian turun dari sepedanya.


Tanpa di duga Devano langsung mengambil alih dengan cara menaiki sepeda Aisyah.


"Ehh..kak..sepedanya jangan di bawa, nanti aku gimana?" protes Aisyah yang kini secara gantian menahan sepedanya.


"Naik!" perintah Devano yang langsung membuat Aisyah mengedipkan matanya tak percaya.


"Naik atau gue tinggal."


"Iya iya...."


Akhirnya Aisyah menaiki boncengan di sepedanya seraya menahan rasa kesal yang muncul di hatinya.


"Sebentar lagi kita telat, jadi gue bakal ngebut. Kalo lo gak mau jatuh mending pegangan sekarang," peringat Devano yang langsung membuat Aisyah berpegangan pada tas laki laki itu.


Dan benar saja apa kata Devano, setelahnya dia ngebut sampai membuat Aisyah berteriak ketakutan.


"Dasar cowok gak waras!" maki Aisyah yang membuat Devano tersenyum sekilas.


Bersambung....


Gimana perasaan kalian setelah baca part ini?


Yok ceritain ke aku lewat komentar.😍😊😊


Jangan bosen bosen ya buat :


-LIKE 👍


-KOMENTAR


-VOTE CERITA INI ❤️


-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊😊


Soalnya aku butuuuhh banget support dari kalian semua, readers ku tercinta..😍😍😻😻


__ADS_2