Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 56 | Cinta yang menyakitkan


__ADS_3

Seorang gadis remaja berlari sambil membawa tas ransel nya, ia di kejar oleh ayahnya sendiri yang merupakan seorang pemabuk dan bandar judi yang ingin mempertaruhkan anak gadisnya demi segudang minuman keras yang sudah menjadi candunya selama bertahun-tahun.


"Rifa! Berhenti kamu, anak nakal!" umpat Sang Ayah yang membuat Rifa ketakutan dan terus mempercepat larinya.


"Hiks hiks, aku gak mau... Ayah jahat, hiks." Rifa berulangkali mengucapkan kalimat itu dengan suara gemetar.


Rifa yang masih berusia 17 tahun waktu itu sudah kerap mendapat kekerasan dari sang ayah sejak ibunya pergi dari rumah untuk menikah dengan pria lain.


"Rifa! Dimana kamu?!"


"Awas saja kalau kamu nanti pulang, ayah akan hukum kamu tanpa ampun! Setelah itu ayah akan jual kamu," ancam sang ayah sambil tertawa bengis. Rifa semakin ketakutan seluruh tubuhnya merinding dan gemetaran.


"Hiks hiks, aku takut... Ayah jahat, aku gak mau pulang," gumam Rifa dengan lirih seraya bersembunyi di balik pagar batu.


Tiba-tiba seorang remaja laki-laki berwajah tampan berseragam putih abu datang menghampirinya lalu berjongkok tepat di sebelahnya.


"Kamu kenapa?" tanyanya melihat banyak luka lebam di wajah maupun di lengan Rifa.


"Kamu siapa?" Bukannya menjawab Rifa malah balik bertanya.


"Kenalin aku Devan, Devano. Kamu?"


"Rifa," jawab Rifa dengan suara lemahnya yang membuat Devano iba.


"Kamu kenapa? Mata kamu sembab dan lihat, ditubuh kamu banyak luka lebam. Siapa? Siapa yang tega mukulin gadis seusia kamu?" tanya Devano dengan raut khawatir yang akan terus diingat Rifa sampai kapanpun.


Tes....


Air mata Rifa bercucuran membasahi wajah lusuhnya yang tak terawat, baru kali ini Rifa merasakan bagaimana rasanya dikhawatirkan oleh seseorang. Akhirnya saat itu juga Rifa merasa kalau Devano adalah malaikatnya, pelindungnya, dan juga orang pertama yang membuatnya merasa berarti.


"Kamu jangan kemana mana ya, aku mau beli salep di apotek untuk mengobati luka luka kamu," ujar Devano.


Namun Rifa malah mencegah Devano dengan cara memegang kuat lengan remaja laki-laki itu.


"Boleh aku ikut?" tanyanya yang lebih terdengar seperti permintaan.


Karena merasa kasihan Devano pun mengangguk lalu membungkukkan badannya di depan Rifa.


"Ayo naik ke punggung ku," perintah Devano yang dengan malu-malu dipatuhi juga oleh Rifa.


"Wah, kamu enteng banget, pasti kamu gak makan dengan baik yah?" ucap Devano yang curiga kalau gadis yang digendongnya itu jangan jangan tak pernah makan hingga berat badannya sangat ringan.

__ADS_1


"Abis beli salep, kita makan bakso yuk? Mau gak?" tawar Devano yang dibalas anggukan antusias oleh Rifa yang memang saat itu belum pernah makan yang namanya bakso.


Selama ini Rifa remaja hanya bisa melihat orang lain makan bakso tanpa bisa mencicipinya langsung sebab dia tak punya uang yang cukup untuk membelinya.


Dan Devano adalah orang pertama yang membuatnya bisa merasakan bagaimana enaknya makan bakso, bukan hanya itu saja Devano juga mengobati luka lebam di wajah dan lengannya dengan penuh perhatian.


"Jangan nangis lagi ya, kamu udah gede lho," hibur Devano setelah selesai mengobati luka lebam Rifa.


"Aku takut, ayah aku mau menjual aku demi mendapatkan segudang minuman keras kesukaannya. Aku takut, hiks. Aku gak mau jadi perempuan penghibur, hiks, aku gak mau!" ungkap Rifa sambil menangis sesenggukan.


Devano merentangkan kedua tangannya dan Rifa pun memeluk tubuh remaja laki-laki itu dengan erat.


"Kamu gak akan jadi perempuan seperti itu, aku janji akan bantu kamu semampuku, aku janji."


Bermula dari rasa kasihan Devano saat itu Rifa akhirnya jatuh cinta sehingga ia menjadi terobsesi untuk memiliki Devano selamanya.


Tes. Tes. Tes.


Air mata Rifa jatuh membasahi pipi serta seragam tahanannya, Wanita yang saat ini sedang mendekam di penjara itu tak dapat menahan tangis ketika mengingat kembali kenangan indah bersama Devano yang sampai kapanpun tak akan pernah dilupakannya.


"Seumur hidupku, aku hanya mampu mencintai kamu, Dev. Bahkan di dunia yang seluas ini aku hanya melihat kamu, sebab hati dan pikiran ku hanya terisi soal kamu...."


"Tapi kenapa Dev? Kenapa kamu berubah? Kamu yang dulu begitu peduli dan sayang sama aku kini malah menjebloskan aku ke tempat yang paling mengingatkan aku pada masa lalu ku yang sangat menyakitkan, kenapa kamu bisa setega ini, Devan?" lirih Rifa yang hatinya kini terluka parah.


Sementara di tempat lain Aisyah dibuat terkejut sekaligus senang saat anak-anak kecil berlarian menghampirinya yang tengah berdiri di halaman rumahnya.


Anak-anak kecil itu masing-masing memberi Aisyah sebungkus Lays yang di ikat dengan pita cantik berwarna biru muda, warna kesukaan Aisyah.


"Makasih ya," ucap Aisyah kepada salah seorang anak perempuan yang tak di ketahui namanya tersebut.


"Bilang makasih nya ke om ganteng aja kak," balas anak itu yang membuat Aisyah bingung.


"Om ganteng?"


"Iya, karena om ganteng yang minta aku sama teman-teman ngasih ini semua ke kakak," jawab anak itu yang membuat Aisyah penasaran sebenarnya siapa yang sudah memberinya kejutan manis seperti ini.


"Oh gitu ya, emh... Kalo boleh tahu siapa nama om ganteng itu?" tanya Aisyah penasaran.


"Siapa ya? Kayaknya aku lupa kak, tanya langsung aja, itu orangnya!" kata anak itu sambil menunjuk Devano yang baru muncul setelah bersembunyi di balik pohon.


Aisyah memandang ke arah yang di tunjukkan anak kecil tadi dan seketika pandangannya bertemu dengan pandangan penuh rindu yang terpancar dari mata indah milik Devano.

__ADS_1


Waktu seakan berhenti menyisakan desiran halus yang menyejukkan di hati Devano maupun Aisyah. Senyum lega terukir di bibir sepasang mantan suami istri itu, mereka tak dapat menutupi suka cita karena akhirnya mereka berhasil menyingkirkan duri yang telah melukai mereka dengan sangat dalam.


"Assalamualaikum, Aisyah." Devano menyapa Aisyah dengan salam.


"Wa'alaikumsalam," balas Aisyah yang kemudian menunduk untuk menyembunyikan senyuman di bibir ranumnya.


Devano memberi isyarat kepada anak kecil tadi untuk pergi dan langsung di respon dengan tanggap. Kemudian Devano mendekati Aisyah dan menyodorkan sebuket bunga berisi Lays rasa rumput laut kesukaan Aisyah.


"Maaf, aku terlambat kasih hadiahnya," ujar Devano.


Aisyah menggeleng pelan lalu menerima sebuket bunga berisi kripik kesukaannya itu sambil tersenyum haru.


"Aku senang kamu masih ingat hal kecil yang bagiku sangat spesial ini," ucap Aisyah dengan mata yang mulai berkaca-kaca, tapi bukan karena ia sedih melainkan karena ia terharu.


"Dulu sebelum aku pergi kamu pernah minta dibelikan keripik itu sebagai kado ulang tahun kamu, sayangnya saat itu aku enggak sempat memenuhi permintaan kamu, jadi hari ini mumpung ada kesempatan, aku mau kasih kado itu untuk memenuhi permintaan kamu, Aisyah."


"Makasih, makasih untuk kadonya, dan juga makasih karena kamu udah berjuang dan pulang dengan keadaan yang sempurna."


"Sekarang tinggal waktunya kita mencari keberadaan putri kita," ujar Aisyah dengan suara bergetar penuh haru.


Bersambung....


Adakah yang kasihan membaca masa lalu Rifa?


Komentar, oke?


Jangan lupa untuk selalu :


1. Like 👍


2. Komentar 📝


3. Vote novel ini ❤️


4. Tekan bintang limanya ⭐⭐⭐⭐⭐


5. Share novel ini ke teman-teman kalian ➡️👩‍💼


6. Dan follow profil aku


Makasih readers ku 😍😍

__ADS_1


I love you all and see you on the next chapter!


Bye, Assalamualaikum.


__ADS_2