Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 61 | Rela terluka


__ADS_3

Devano duduk santai di sofa single yang ada di ruang VIP sebuah restoran mewah. Berkat pinjaman dana dari Tubagus, Devano akhirnya berhasil bernegosiasi dengan kepala pelayan di Mansion keluarga Ziao yang sekaligus bekerja sebagai pengacara pribadi keluarga tersebut.


"Saya akan pastikan kalau usaha Nyonya Maria Ziao untuk membebaskan Nona Rifa tidak akan berhasil. Tapi sebagai gantinya, kamu harus menjamin kesuksesan anak saya seperti yang tertulis di surat kesepakatan."


Senyuman smirk terukir di bibir Devano. "Tenang saja pak, saya jamin permintaan anda tersebut akan terwujud, yang penting anda harus buktikan ucapan anda dulu, oke?"


"Oke, saya akan buktikan," ucap Kepala pelayan keluarga Ziao yang kini sudah memihak Devano tersebut.


"Bagus, terimakasih atas kerjasama anda, sekarang nikmatilah menu makan malamnya."


Devano mempersilahkan orang yang telah mengkhianati keluarga Ziao demi berkerja sama dengannya itu dengan sikap ramah.


"Sama-sama, sebaiknya kamu juga makan."


"Ya tentu saja," ujar Devano sambil mulai memasukkan potongan steak ke dalam mulutnya.


"Ternyata uang masih berlaku untuk menaklukan musuh," batin Devano sambil menatap pengkhianat keluarga Ziao yang sekarang sedang menikmati steak bersamanya.


"Dia terlihat patuh di depan majikannya, tapi begitu mudah berkhianat dibelakangnya. Haha, kira kira seberapa banyak orang seperti dia yang hidup dunia ini?" tanya Devano dalam hati sambil mengunyah steak di dalam mulutnya.


******


Photoshoot kali ini menyita waktu Aisyah dari jam tujuh pagi sampai jam delapan malam. Belum lagi lokasinya yang sangat jauh membuat Aisyah harus naik MRT jika tidak ingin pulang larut malam.


Namun ketika Aisyah ingin bergegas pulang ia malah kehilangan uang di dalam dompetnya yang tadi tak sengaja ia tinggalkan di ruang pemotretan.


"Huft, gimana nih? Mau minta tolong sama Lee tapi ponsel aku kehabisan baterai," keluh Aisyah sambil berjalan kaki menelusuri jalan raya yang tampak sepi.


Wanita itu kebingungan sekaligus kesal kepada seseorang yang telah mencuri uang di dalam dompetnya. Memang jumlah uangnya tidak seberapa tapi itu cukup untuk ongkos Aisyah pulang ke rumah.


"Astaghfirullah, kenapa masih ada aja orang yang mencari nafkah dengan cara haram seperti mencuri uang orang lain? Apakah sulit mencari pekerjaan yang halal?" gumam Aisyah tak habis pikir.


Tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mengikutinya dari belakang. Lantas Aisyah pun langsung mengambil sikap waspada meskipun di dalam hatinya ia mulai merasakan ketakutan.


"Siapa yang mengikutiku? Apakah dia orang yang punya niat jahat terhadap ku?" batin Aisyah was-was sambil mencengkram tas selempangnya dan berjalan lebih cepat.


"Ya Allah, lindungilah aku," pintanya dalam hati.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian tubuh Aisyah menegang karena tangannya di tarik ke belakang.


"Kamu siapa sih? Lepasin tangan aku!" teriak Aisyah sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman orang misterius yang menutupi wajahnya dengan tudung Hoodie.


"Ikutlah, kamu akan baik-baik saja kalau kamu menuruti perkataan ku," perintah orang misterius itu.


"Tidak! Tolong lepaskan aku!" teriak Aisyah dengan suara keras berharap ada yang akan mendengar dan menolongnya.


"Percuma kamu teriak dan memberontak, jalanan ini sepi, tidak akan ada yang menolong kamu, maka lebih baik ikuti saja perkataan ku tadi."


"Tidak! Aku tidak mengenal kamu! Aku tidak mempercayai orang asing seperti kamu!" tandas Aisyah yang menolak untuk mengikuti perintah dari orang misterius yang sekarang mencengkram tangannya dengan kuat itu.


"Turuti perintah ku atau aku akan berlaku kasar," ancam orang misterius itu yang membuat Aisyah semakin ketakutan.


"Tolong! Tolongin aku apapun itu!" teriak Aisyah sambil terus memberontak.


"LEPASKAN DIA!" Suara bariton itu membuat Aisyah dan orang misterius yang mencengkram nya menoleh.


"Devan, tolong aku!" teriak Aisyah parau.


Devano berlari ke arah Aisyah lalu menghadiahi orang yang mencengkram tangan mantan istrinya itu dengan pukulan keras.


"Hahaha, kamu tidak perlu tahu siapa yang membayar ku, sekarang lepaskan!" teriak orang misterius itu dengan suara lantang.


"Tidak akan aku lepaskan karena kamu sudah mencoba menyakiti mantan istriku," tandas Devano lalu menoleh ke arah Aisyah.


Bertepatan dengan itu orang misterius tadi menancapkan pisau ke punggung Devano lalu melepaskan diri dan kabur entah kemana.


Sedangkan Aisyah langsung menjerit panik melihat darah yang keluar banyak dari punggung Devano. Wanita itu segera mendekati Devano dan meletakkan tangannya di punggung Devano untuk menyumbat darah yang terus menerus keluar dari luka tusukannya.


"Astaghfirullah, Devan." Tangis Aisyah seketika pecah apalagi saat melihat raut kesakitan di wajah Devano.


"Tolong! Tolong, hiks, siapapun itu aku mohon tolongin kita." Aisyah mencoba berteriak meminta tolong tapi sepertinya percuma karena jalanan itu benar-benar sepi.


"Jangan khawatir, Aisyah. Aku akan baik-baik aja," ucap Devano yang tak ingin Aisyah terlalu mencemaskannya.


"Baik baik aja apanya! Kamu jelas terluka karena menyelamatkan aku, hiks." Aisyah tak bisa berhenti menangis karena cemas.

__ADS_1


"Kamu lupa ya? Dulu aku sering terluka seperti ini dan setelahnya pasti akan baik-baik aja," ujar Devano dengan wajah yang mulai pucat karena punggungnya banyak mengeluarkan darah.


"Jangan ngomong apa-apa lagi! Darah kamu semakin banyak keluar kalau kamu ngomong terus," sela Aisyah meminta Devano untuk berhenti bicara.


Bibir pucat Devano tertarik ke atas membentuk senyuman kecil, dalam hatinya ia rindu dikhawatirkan seperti ini oleh Aisyah.


"Aisyah, maafkan aku, aku telah melukai hati kamu serta menghancurkan masa depan kamu, luka yang aku torehkan pasti lebih sakit daripada luka tusukan di punggung ku sekarang, aku mohon maafkan aku," ucap Devano dengan suara lemah yang tersendat-sendat sebelum akhirnya kehilangan keseimbangan.


Aisyah ikut jatuh ke tanah karena tak kuat menahan berat badan Devano. Sementara dari tadi belum ada kendaraan satupun yang lewat sehingga membuat Aisyah semakin panik dan cemas.


"Andai aku tak lupa mencharger ponselku, pasti sekarang aku bisa meminta pertolongan," sesal Aisyah sambil berlinang air mata.


"Aku mohon bertahanlah Dev, jangan minta maaf lagi sebab aku sudah memaafkan kamu sejak lama," ujar Aisyah.


Devano tersenyum lemah lalu menyodorkan ponselnya yang ikut terkena noda darah. "Pakailah ponselku untuk memanggil Ambulance."


Sebelah tangan Aisyah dengan gemetar meraih ponsel Devano dan segera menelpon Ambulance untuk meminta pertolongan.


Tak lama kemudian Ambulance datang dan segera membawa Devano yang sudah kehilangan banyak darah menuju ke rumah sakit.


"Aku mohon bertahanlah, Dev. Aku tak sanggup melihat kamu terluka seperti ini karena aku," ungkap Aisyah sedih sambil terus berdoa dalam hati untuk keselamatan Devano.


Sementara Devano yang sudah lemas hanya bisa tersenyum kecil sambil memandangi wajah cemas wanita yang sampai detik ini masih dia cintai.


"Aku rela terluka demi melindungi kamu, Aisyah...."


"Bahkan jika malam ini aku ditakdirkan untuk pergi selama lamanya, aku akan merasa lebih tenang karena setidaknya kali ini aku berhasil menyelamatkan kamu dari bahaya...."


Aisyah menangis tersedu-sedu mendengar ucapan Devano yang kini terbaring pucat dihadapannya.


"Devan, aku mohon jangan bicara seperti itu. Jangan buat aku semakin merasa bersalah dan sedih, kamu pasti kuat," kata Aisyah sambil terus menumpahkan air matanya.


Sementara Devano yang sudah tidak kuat lagi perlahan-lahan menutup matanya sehingga Aisyah yang melihat itu langsung berteriak panik meminta orang yang mengemudikan Ambulans agar mempercepat lajunya.


Bersambung....


Sedih gak bacanya? Jujur aku nulis part ini sambil nangis.

__ADS_1


Oh iya bantu follow Instagram aku yuk.


IG : asyiahmuzakir


__ADS_2