
Halaman rumah itu tampak tak terawat, daun-daun yang berguguran dari pohon rindang yang ada di sekitarnya di biarkan berserakan, menambah kesan suram pada rumah minimalis bercat putih gading itu.
Suara ketukan heels milik Aisyah terdengar menggema di keheningan. Tak ada seorang pun yang berada di tempat itu membuat Aisyah bingung ingin bertanya kepada siapa.
Dengan berbekal 'Bismilah' Aisyah mengumpulkan keberanian untuk meneruskan langkahnya memasuki halaman rumah yang katanya masih menjadi tempat tinggal Siska, teman lamanya yang dulu bekerja sebagai salah satu dari pengasuh di Panti Asuhan Cemara (panti asuhan tempat Viona di besarkan dulu).
Tok tok tok....
"Assalamualaikum...." Aisyah mengucapkan salam namun tak ada yang menjawabnya.
"Assalamualaikum, Siska?" Kali ini Aisyah mencoba memanggil nama wanita yang ingin ditemuinya di rumah itu.
Namun masih tidak ada jawaban, hanya ada suara cicak yang membuat Aisyah sadar betapa sepinya suasana di sekitar rumah ini. Untuk sesaat Aisyah merasakan tubuhnya merinding tapi secepat mungkin dia menormalkan perasaannya dan berupaya untuk membuang pikiran negatif yang hanya akan membuatnya takut.
Sekali lagi Aisyah mengetuk pintu rumah itu dan kali ini dia melakukannya dengan kuat sehingga tak mungkin jika orang yang ada di dalam tidak mendengarnya.
"Assalamualaikum, permisi, apa ada orang di dalam?" tanya Aisyah dengan suara lantang.
"Siska atau siapapun itu, aku mohon buka pintunya," pinta Aisyah dengan nada memohon agar siapapun yang ada di dalam rumah ini mau keluar menemuinya.
Anehnya tak ada sahutan apapun, malah suasananya berubah semakin senyap dan membuat Aisyah tambah merinding.
"Huft, jangan negative thinking, Aisyah. Bismillahirrahmanirrahim, gak akan terjadi ada apa-apa." Aisyah mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan cara mengingat Yang Maha Kuasa.
Tiba-tiba ada yang menelponnya dan ternyata itu adalah Lee.
"Assalamualaikum, Aisyah."
"Wa'alaikumsalam, Lee."
"Kamu di mana sekarang?" tanya Lee dengan nada serius.
"...."
"Aisyah, aku tanya sekali lagi, dimana kamu sekarang, hah?" Lee sepertinya sangat mengkhawatirkan Aisyah sampai suaranya pun terdengar gelisah.
Sedangkan Aisyah sendiri kebingungan karena tak mungkin baginya memberitahu Lee dimana dia sekarang sebab dia tak ingin melibatkan Lee ke dalam kasus putrinya yang penuh dengan misteri, jadi dengan terpaksa Aisyah memutuskan untuk berbohong kepada Lee.
"Aku lagi di Kafetaria sama klien."
"Di daerah mana?" selidik Lee dengan curiga.
"Eh... Udah dulu ya Lee, aku gak enak nih ngobrol di depan klien, nanti kalau aku udah pulang aku hubungi lagi, oke?" ujar Aisyah menyudahi percakapannya dengan Lee.
__ADS_1
"Tunggu, Aisyah...."
Tut tut tut.
Sambungan terputus.
"Maafin aku, Lee." Aisyah merasa sangat bersalah namun bagaimana lagi dia benar-benar tidak ingin Lee ikut terbebani oleh masalahnya.
"Lee, jangan marah yah. Aku seperti ini karena aku sayang sama kamu, aku gak mau kamu terlibat ke dalam bahaya yang bisa datang kapan pun gara-gara aku," ungkap Aisyah sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas dengan wajah yang murung.
Kemudian dengan berani Aisyah mencoba melongokkan kepalanya ke jendela yang terbuka sedikit dan alangkah terkejutnya dia ketika mendapati sosok Siska yang terkapar di lantai dengan wajah yang sudah pucat.
Aisyah pun ketakutan sekaligus panik dengan gemetaran ia menelepon 119 untuk meminta bantuan.
*****
Dia masih hidup kan?
Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepala Aisyah dan membuat wanita itu ketakutan sendiri.
"Dev... Siska udah terkapar di lantai ketika aku menemuinya," ujar Aisyah memberitahu Devano lewat sambungan telpon.
"A... Apa?! Tapi... Kamu gak kenapa-napa kan?"
"Jujur, aku sedikit syok. Tapi tenang aja, aku akan secepatnya terbiasa menghadapi situasi seperti ini," ungkap Aisyah dengan suara bergetar yang membuat Devano merasa cemas.
"Dev? Devano? Halo, kamu masih ada di...."
Tut tut tut.
Sambungan di akhiri.
"Huh, apa-apaan ini?" keluh Aisyah yang kemudian memilih untuk menunggu Siska di depan UGD sampai teman lamanya itu sadar.
Dan setelah melewatkan waktu sekitar satu jam lebih akhirnya Siska sadar dan sudah bisa Aisyah temui.
"Hei, udah lama kita gak ketemu lagi." Aisyah berbasa basi terlebih dahulu sebelum masuk ke intinya.
"Gimana keadaan kamu sekarang? Udah jauh lebih baik kan?" tanya Aisyah sambil menatap mimik wajah Siska yang terlihat menyedihkan.
Beberapa saat kemudian terdengar suara tangis penuh penyesalan yang berasal dari mulut Siska.
Aisyah tersenyum miris lalu duduk di sebelah blankar tempat Siska terbaring dengan selang infus yang menancap ditangannya.
__ADS_1
"Pasti ada yang mau kamu sampaikan ke aku, iyakan?" tebak Aisyah yang di balas anggukan cepat oleh Siska.
"Sampaikanlah, aku gak akan marah sama kamu kalau kamu mau jujur dan memberitahu ku alasannya," ujar Aisyah meyakinkan Siska agar dia bersedia menceritakan kebenaran soal Dasha yang selama ini dipendamnya.
"Seb... Sebenarnya yang meninggal saat kecelakaan itu ialah Viona, bukan Dasha anak kamu, hiks hiks." Mendengar pernyataan itu membuat Aisyah lega sekaligus merasa sedih.
"Itu artinya Dasha masih hidup?" tanya Aisyah dengan suara gemetar.
"Iya, dia masih hidup, tapi entah di mana Rifa menyembunyikannya. Yang jelas kamu harus membawa kasus ini ke hukum, Aisyah. Kamu harus menjebloskan Rifa ke penjara. Wanita jahat yang punya seribu rencana licik itu harus menerima hukuman yang setimpal." Suara Siska bergetar emosi mengingat kebusukan Rifa.
"Kamu harus tahu, Aisyah. Setelah Rifa berhasil menculik anak kamu dan merekayasa kecelakaan itu, dia mengancam akan membunuhku jika aku mengungkapkan kebenarannya kepadamu, dia juga yang membayar wartawan dan reporter untuk menyebarkan berita palsu bahwa yang meninggal adalah Dasha pedahal nyatanya anak kamu itu cuma di culik olehnya, yang sebenarnya meninggal itu adalah Viona, anak panti asuhan yang dibunuh secara tragis setelah diadopsi secara diam-diam olehnya," ungkap Siska sambil menangis tersedu-sedu menceritakan perlakuan jahat Rifa kepada semua orang yang ditargetkannya.
"Maksudnya yang menabrak Viona sampai wajahnya hancur itu adalah Rifa?" tanya Aisyah bergidik ngeri.
"Ya, tapi dia tak melakukannya sendiri melainkan menyuruh anak buahnya, jadi yang waktu itu ditangkap oleh polisi adalah anak buahnya. Sedangkan dia selalu aman di bawah lindungan keluarga konglomerat nya yang sama-sama mempunyai kebusukan," jawab Siska yang sangat mengenal Rifa karena selama setahun ini hidupnya di penuhi ketakutan akan ancaman wanita jahat yang licik itu.
"Kamu harus melaporkan kasus ini ke polisi, Aisyah. Kamu harus memenjarakan Rifa, aku yakin hanya kamu yang bisa melakukannya," ujar Siska yang di balas anggukan oleh Aisyah.
"Dan maaf karena selama ini aku menyimpan kebenaran ini dari kamu, Aisyah. Jujur saja selama ini aku sangat merasa bersalah sama kamu, aku sangat ingin mendatangi kamu dan mengatakan kalau anak kamu belum meninggal tapi aku tak sanggup karena ancaman Rifa sangat mengerikan bagiku," sesal Siska sambil menatap wajah Aisyah dengan penuh rasa bersalahnya.
Aisyah mengangkat tangannya untuk mengusap air mata di pipi Siska, kemudian ia memeluk teman lamanya itu dengan hangat.
Kebusukan Rifa telah terungkap kini giliran Aisyah menyiapkan diri untuk menjerat wanita licik itu dengan hukum demi membawa pulang anaknya yang kini entah di sembunyikan di mana.
Bersambung....
Kedepannya bakal ada yang ekstrim, jadi siapin jantung kalian untuk baca part selanjutnya.
Penasaran???
Jangan lupa berikan dukungan kalian lewat cara di bawah ini :
1. Like 👍
2. Komentar 📝
3. Vote cerita ini ❤️
4. Tekan bintang limanya ⭐⭐⭐⭐⭐
5. Bagikan cerita ini ke teman kalian ➡️
6. Follow profil aku 😘
__ADS_1
Makasih.... 😍😍😍
Bye, Assalamualaikum.