
Seorang gadis berwajah imut tengah fokus memandangi layar laptop sambil mengemil kukis coklat. Bibir mungilnya tak berhenti tersenyum menyaksikan keromantisan diantara sepasang mantan suami istri yang kini terekam jelas dalam CCTV yang baru saja diretasnya.
"Sepertinya mereka masih saling mencintai," gumam gadis itu sambil mengunyah kukis yang ada di dalam mulutnya.
"Ah, kasihan sekali Oppa Lee."
"Haruskah aku menjodohkannya dengan wanita lain?"
Tiba tiba pintu kamar terbuka dan Lee masuk ke dalam.
"Hayo! Kamu meretas CCTV nya tetangga baru lagi ya?" tuduh Lee kepada gadis imut yang merupakan adik perempuannya itu.
"Enak aja!" bantah Steffany sambil menutup laptopnya.
Lee mengedikkan bahu lalu mendekati Steffany dan mencomot kukis yang hendak di makan oleh adiknya itu.
"Ish! Oppa nyebelin! Pergi sana! Aku lagi enggak mau diganggu!" teriak Steffany mengusir Lee karena dalam hatinya muncul kekhawatiran kalau sampai kakaknya itu melihat rekaman yang sedang ditontonnya.
Steffany tahu betul kalau kakaknya mencintai Aisyah. Oleh karena itu dia tak ingin kakaknya sakit hati apabila mengetahui kalau ternyata Aisyah kembali berhubungan baik dengan mantan suaminya.
Sementara Lee mulai mencurigai adiknya yang sekarang bersikeras menyuruhnya pergi. Pedahal biasanya Steffany malah senang jika dia datang ke kamarnya.
"Oppa jadi curiga nih, jangan-jangan kamu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dari Oppa, iyakan?" selidik Lee sambil mengurung tubuh Steffany dengan kedua lengan kekarnya.
"Mana ada aku rahasia rahasia-an sama Oppa," sela Steffany tanpa menatap wajah Lee.
"Oh ya udah, kalau begitu tatap mata Oppa," titah Lee kepada adiknya yang kini tak berani menatap wajahnya.
"Ta... Tadi sebenarnya aku meretas CCTV di depan rumah Kak Aisyah," cicit Steffany yang memang paling tidak bisa berbohong kepada Lee.
"Coba mana, Oppa mau lihat," ujar Lee penasaran.
Dengan berat hati Steffany pun akhirnya menyerahkan laptop yang tadi sempat disembunyikannya kepada Lee.
Lantas Lee pun membuka laptop milik adiknya itu dan melihat sebuah rekaman CCTV yang seketika membuat hatinya panas dibakar rasa cemburu.
"Oppa, gwechana?" tanya Steffany khawatir.
"Gwechana, my little cat," jawab Lee dengan senyuman yang tampak dipaksakan.
Kepekaan Steffany pun muncul ia langsung memeluk tubuh kakaknya itu dengan erat.
"You will be fine, Oppa, aku yakin Oppa akan mendapatkan yang terbaik meskipun itu bukan Kak Aisyah," ujar Steffany menyemangati kakaknya.
Beberapa saat kemudian ponsel di saku Lee berbunyi menandakan kalau ada panggilan masuk. Lantas Lee pun mengangkat panggilan yang rupanya dari Robbie itu.
"Assalamualaikum, ada apa Bie?" tanya Lee yang langsung to the point sebab moodnya sedang tidak bagus untuk berbasa-basi.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam Hyung, aku cuma mau kasih tahu kalau aku mau berangkat ke Bali siang ini juga," jawab Robbie yang sekarang sedang berada di Bandara.
"Lho, bukannya siang ini kamu mau besuk adik kamu yang di pesantren dulu?"
"Tadinya sih emang begitu, Hyung. Tapi kabarnya waktu pameran seni bakal dimajuin jadi mau gak mau sore ini aku harus udah sampai di Bali," terang Robbie menahan sedih karena tak bisa membesuk adiknya lagi sebab dia harus pergi ke Bali untuk meraih mimpinya menjadi seorang seniman sejati.
"Ya udah, aku akan menggantikan kamu membesuk Kanaya, yang penting sekarang kamu harus semangat dan optimis, oke?"
"Oke, makasih banget ya, Hyung. Ah, aku tanpamu memang bagaikan rembulan di siang hari," celoteh Robbie yang membuat Lee tersenyum menahan tawa.
"Tuh kan mulai deh tidak nyambungnya," keluh Lee.
"Hehehe, maaf atuh," ucap Robbie.
"Oh ya, doain semoga aku menang ya, Hyung," timpal Robbie yang meminta didoakan.
"Iya, Iyah. Nanti aku sampaikan ke Kanaya juga supaya dia ikut mendoakan kamu," ujar Lee.
"Makasih, Hyung. Kalau gitu aku berangkat dulu, dadah! Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Lee menutup telfonnya lalu menaruh ponselnya di atas meja belajar Steffany.
"Oppa, tadi itu siapa?" tanya Steffany dengan muka penasaran.
"Robbie, teman Oppa di Studio," jawab Lee seadanya.
"Memangnya kenapa kalau dia ganteng? Kamu mau meretas media sosial dan mencuri data pribadinya?"
"Ih, Oppa selalu negatif thinking terhadapku, pedahal aku hanya ingin mengenal kak Robbie," pungkas Steffany.
"Biar Oppa kasih tahu ya, Robbie itu tidak ada ganteng-gantengnya sama sekali, dia juga tidak menarik, jadi tidak usah melacak informasi tentangnya, arasso?" ujar Lee memperingati adiknya.
Namun sepertinya Steffany sudah kepalang penasaran dengan sosok Robbie jadi dia tak bisa menahan untuk tidak bertanya lagi.
"Aniyo, apa dia udah punya pacar?" tanya Steffany yang membuat Lee pusing dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar adiknya itu.
Sedangkan Steffany bersorak kegirangan mendapati Lee yang tak sengaja meninggalkan ponselnya di atas meja belajar.
"Hihi, akhirnya aku dapat mangsa baru," kata Steffany yang jiwa hacker nya seketika bangkit.
Kemudian gadis berparas imut itu mulai mencari tahu tentang Robbie dari ponsel kakaknya.
******
Mobil Range Rover milik Lee terparkir di halaman pesantren Darul Ilmi. Dua jam yang lalu pria itu mendapat kabar dari Robbie kalau Kanaya jatuh sakit dan harus secepatnya di bawa ke Rumah sakit.
__ADS_1
Setelah mendengar kabar itu Lee segera tancap gas menuju pesantren dan sekarang dia telah berhasil membawa Kanaya ke rumah sakit di bantu oleh seorang ustadzah.
"Terimakasih, ustadzah," ucap Lee saat di ruang tunggu.
"Sama-sama, Mas."
"Oh iya, sebelumnya saya ingin minta maaf karena sebenarnya saya ada kesibukan di pesantren jadi saya tidak bisa lama lama di sini."
"Ya sudah, lebih baik ustadzah kembali saja ke pesantren, biar Kanaya menjadi tanggung jawab saya, lagi pula kakaknya Kanaya sudah mengamanahkan Kanaya kepada saya, jadi ustadzah tidak perlu khawatir," pungkas Lee.
"Baiklah kalau begitu, saya pergi dulu. Assalamualaikum," ucap sang ustadzah sebelum pergi meninggalkan rumah sakit.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah," balas Lee dengan sopan.
Tak lama kemudian Kanaya sadar dari pingsannya dan Lee pun segera masuk ke dalam kamar rawat adik perempuan Robbie itu.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar."
"Sekarang apa yang kamu butuhkan?" tanya Lee kepada Kanaya.
"Mi... Minum," jawab Kanaya dengan suara lirih.
Dengan cekatan Lee menuangkan air hangat dari dispenser ke dalam gelas lalu memberikannya kepada Kanaya.
"Ini, minumlah."
Kanaya menerima segelas air hangat itu dengan kedua tangannya yang masih lemas.
"Makasih, Akhi," ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Sama sama, Naya. Sekarang jika kamu butuh apapun, jangan sungkan untuk memberitahuku, ya?" ujar Lee yang di balas anggukan lemah oleh Kanaya.
"Ukhuk, ukhuk!" Kanaya terbatuk-batuk dan Lee pun langsung panik. Pria itu lalu bergegas memanggil dokter.
"Sebenarnya dia sakit apa dok?" tanya Lee kepada dokter yang sudah selesai memeriksa Kanaya.
"Dia punya riwayat asma, jadi sebaiknya dia tidak boleh sering kedinginan dan kelelahan," jawab sang dokter sambil memberi saran.
"Baiklah, saya akan mengingatkannya, terimakasih dok," ucap Lee serius.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi."
"Silahkan, silahkan dok."
Bersambung....
Hai hai... Part ini di isi full oleh Lee.
__ADS_1
Jangan lupa komentar dan support nya, oke?
Bye bye, Assalamualaikum.