Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 63 | When Abi & Ummi met Dasha


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim....


Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


🧕🧑‍🍳


Devano yang baru saja keluar dari rumah sakit memutuskan untuk berjalan-jalan di taman tempat anak-anak biasanya berkumpul dan bermain bersama.


Melihat anak-anak kecil berlarian sambil tertawa merupakan pemandangan yang selalu mampu menghangatkan hati Devano.


"Andai saja dulu aku mengakui Dasha sebagai putriku, aku pasti sudah memiliki hidup yang sempurna, bekerja mencari nafkah setiap hari, mengantar Dasha ke sekolah, menemani Aisyah belajar memasak dan piknik bersama di hari minggu," gumam Devano sambil tersenyum miris.


"Sekarang mustahil rasanya bisa hidup seperti itu," lanjut Devano seraya duduk di kursi taman.


Tiba-tiba seorang perempuan cantik datang menghampirinya untuk meminta tolong.


"Mas, bisa tolong bantu cari anak saya?" Wajah perempuan cantik itu terlihat panik dan cemas.


Hati Devano pun tergerak untuk menolongnya. "Baiklah, mbak. Sekarang kasih tahu saya ciri-ciri anak mbak itu," kata Devano.


"Ini mas foto anak saya." Perempuan cantik itu menyodorkan fotonya bersama anak perempuan yang wajahnya membuat Devano langsung syok.


Seperkian detik Devano hanya terdiam menatapi wajah Dasha yang terpampang di foto. "I... Ini benar anak mbak?" tanya Devano tergagap.


"Ya iyalah mas, itu anak saya. Mas-nya jadi mau bantuin saya enggak?"


"Ja... Jadi mbak, ayo cari Dasha." Devano refleks menyebut nama putrinya sehingga perempuan yang mengaku sebagai ibunya Dasha itu menoleh lalu mengamati wajah Devano dengan seksama.


"Apa... Apa ini dengan... Mas Devano?" tanya perempuan cantik itu dengan ekspresi syok yang sama persis seperti ekspresi Devano ketika melihat foto Dasha tadi.


"Ya benar, saya Devano, mbak tahu saya?"


"Saya tahu karena Dasha pernah menunjukkan foto mas kepada saya dan menceritakan bahwa mas adalah Abi kandungnya," terang perempuan cantik yang sudah menganggap Dasha seperti anaknya sendiri itu.


"Ya Allah, terimakasih." Kalimat syukur langsung terucap dari bibir Devano. Pria itu bukan main senangnya karena sebentar lagi dia pasti akan bertemu langsung dengan putrinya.


"Dasha sangat merindukan Abi-nya, ia selalu berdoa agar bisa dipertemukan dengan Abi-nya dan sekarang akhirnya Allah mengabulkan doa-doanya," ungkap perempuan cantik yang mengaku sebagai ibunya Dasha tersebut sambil menangis terharu.


"Sekarang dimana putri saya? Saya juga sangat merindukannya."


"Hiks, Dasha hilang mas, tadi saya pergi membelikannya eskrim dan saat saya kembali Dasha sudah tidak ada di sekitar sini."

__ADS_1


"Astaghfirullah. Ya sudah, sekarang kita harus cari Dasha sampai ketemu."


Setelah itu Devano dan perempuan cantik yang mengaku sebagai ibunya Dasha tadi berpencar mengelilingi taman bermain tersebut untuk menemukan keberadaan Dasha.


Di sisi lain Aisyah yang sedang berdiri mencari taksi di pinggir jalan seketika dikejutkan oleh sepasang tangan mungil yang menggenggam lengannya.


Aisyah pun menoleh dan melihat siapa yang menggenggam tangannya tersebut. Ternyata dia adalah Dasha, putri kecilnya yang kini telah tumbuh semakin cantik.


Terasa seperti mimpi bagi Aisyah. Dunia seakan berhenti ketika matanya bertemu dengan mata bening milik Dasha yang menatapnya sambil berkaca-kaca.


"Umi... Umi...." Panggilan itu menyadarkan Aisyah bahwa dia sedang tidak bermimpi.


"Dasha, sayang... Umi kangen banget sama kamu, nak." Aisyah berjongkok menyetarakan tingginya dengan Dasha lalu memeluk tubuh putri kesayangannya itu dengan penuh kerinduan.


Dasha pun membalas pelukan ibu kandungnya dengan erat seperti tak mau ia lepaskan sampai kapanpun.


"Hiks... Hiks, Dasha juga kangen banget sama umi, umi kenapa nangis?" Dasha bergerak merangkum wajah Aisyah lalu mengusap air mata uminya itu dengan jemarinya.


"Umi gak boleh nangis, Dasha enggak suka lihat umi nangis." Aisyah tersenyum penuh haru lalu menciumi wajah imut Dasha dengan gemas.


"Kali ini umi nangis karena umi bahagia bisa ketemu lagi sama Dasha, mulai sekarang Dasha gak boleh tinggalin umi lagi yah?" kata Aisyah sambil terus mendekap tubuh mungil putrinya.


"Dasha, dimana kamu nak? Dasha?" Suara teriakan Devano membuat Dasha dan Aisyah menoleh ke seberang jalan.


"Ternyata kamu di sana nak," ucap Devano dengan suara bergetar melihat Dasha dan juga Aisyah tersenyum ke arahnya.


Kemudian pria tampan itu berlari menyebrangi jalan sambil merentangkan kedua tangan untuk menyambut putrinya dengan pelukan hangat.


Dasha pun berlari kecil menghampiri Devano dan masuk ke dalam pelukan hangat Abi-nya yang sangat dia rindukan itu.


"Apa benar Dasha ini anak Abi?" Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Dasha itu membuat hati Devano tertampar.


"Tentu, Dasha adalah anak Abi satu-satunya dan yang paling Abi rindukan di dunia ini," jawab Devano sambil menciumi puncak kepala Dasha untuk yang pertama kali.


"Kalo begitu... Dasha juga merindukan Abi, hiks, hiks," cicit Dasha sambil menangis bahagia karena ini pertama kalinya dia bertemu dan merasakan hangatnya pelukan seorang ayah yang dulu sempat tak menganggapnya sebagai anak.


"Dasha sayang, maafkan Abi ya nak." Devano meminta maaf kepada putrinya sambil berurai air mata.


"Abi udah nyakitin kamu sama Umi," sesal Devano sambil melirik ke arah Aisyah yang masih bersimpuh di sebelahnya.


"Abi gak usah minta maaf sama Dasha, Abi harusnya minta maaf sama Umi karena Umi adalah orang yang dulu paling sering Abi sakiti," ujar Dasha dengan bijaknya.

__ADS_1


Aisyah yang dari tadi diam kini bergerak mengelus rambut kecoklatan Dasha dengan lembut. "Abi udah minta maaf sama Umi, dan Umi juga udah memaafkan Abi. Sekarang, enggak ada lagi yang perlu Dasha khawatirkan."


"Apa itu artinya Abi dan Ummi bisa kembali bersama lagi?" tanya Dasha sambil menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian dengan tatapan penuh harap.


Sedangkan Aisyah dan Devano kebingungan ingin menjawab apa sebab rasanya sulit untuk mereka berdua menikah lagi.


******


Peluncuran produk perawatan wajah DSL beauty care yang semakin dekat membuat para staff di perusahaan maupun di studio sibuk mempersiapkannya.


Begitu juga dengan Lee, sang CEO yang sekarang sedang meeting pagi bersama Tim Editor Periklanan DSL yang diketuai oleh Avila.


Setelah meeting selesai Lee tanpa basa-basi mengajak Avila sarapan bubur ayam di kantin kantor. Mau tak mau Avila menyetujuinya sebab tak enak jika menolak ajakan atasan.


Ketika berbicara Lee dan Avila merasakan adanya kecanggungan diantara mereka. Maklum, sejak Avila menyatakan perasaan cintanya kepada Lee waktu itu hubungan persahabatan mereka jadi merenggang.


"Eumh, kamu masih sama Robbie kan?" tanya Lee dengan nada canggungnya.


"Iya masih. Heum, ngomong ngomong oppa sama Aisyah udah ada kemajuan belum?" Avila balik menanyai Lee.


"Insyaallah rencananya bulan depan aku mau melamar Aisyah," jawab Lee tak terduga.


"Wah, selamat yah Oppa!" ucap Avila dengan binar bahagia dimatanya, sepertinya perempuan itu sudah benar-benar move on dari Lee, sebab tak ada lagi tanda-tanda kecemburuan pada dirinya.


"Apa Aisyah udah tahu soal lamaran ini?" tanya Avila dengan antusias.


Lee menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri, memberi isyarat kepada Avila untuk diam.


"Apa itu artinya Aisyah belum tahu?" tanya Avila setelah menangkap isyarat dari Lee.


Lee pun mengangguk seraya tersenyum."Lamaran ini akan menjadi kejutan terindah untuk Aisyah," ungkapnya kemudian.


Bersambung....


Gimana perasaan kalian setelah baca part ini?


Apakah lega? Apakah sedih? Atau bahagia?


Pokoknya apapun yang kalian rasain tolong ceritain ke aku lewat komentar yah, oke?


Jangan lupa mampir ke novelku yang judulnya 'Love Under The Snow' ya? Dijamin kalian juga bakal betah baca ceritanya.

__ADS_1


Bye bye!😘😘😘


__ADS_2