
Bismillahirrahmanirrahim....
Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
___
Seperti biasa Dasha berangkat ke Kampus, namun pagi ini suasana Kampus terasa panas karena banyak Mahasiswi yang sedang membicarakan rumor tentang perjodohan salah satu Dosen favorit mereka yang tak lain adalah Mahendra Nufail Zhafran.
"Aaaa ... aku enggak rela pak Mahendra nikah sama orang lain," kata salah satu Mahasiswi penggemar berat Mahendra.
"Iya aku juga, apalagi nikahnya karena dijodohin, pasti pak Mahen enggak bahagia," ujar yang lain.
"Benarkah itu?" batin Dasha bertanya-tanya ketika melewati kerumunan Mahasiswi yang sedang membicarakan Mahendra.
"Jika benar pun, aku tak bisa melakukan apa-apa," gumam Dasha galau. Maklum, ia sudah lama memendam perasaan cintanya kepada Mahendra, lebih tepatnya sejak ia masih menjadi Mabar alias Mahasiswi baru.
Dasha berjalan dengan tenang meskipun hatinya dilanda kegalauan. "Astaghfirullah," sebut Dasha tak ingin larut memikirkan perjodohan Mahendra.
"Assalamualaikum," ucap Dasha ketika memasuki ruangan Mahendra.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," jawab Mahendra yang tengah fokus menghadap ke arah komputer yang ada di depannya.
"Ini pak, saya mau nganterin makalah yang kemarin bapak minta," ujar Dasha dengan formal.
Mahendra menoleh, menatap Dasha untuk beberapa saat sebelum menunjuk ke arah mejanya. "Letakkan saja di situ," katanya tak seramah biasanya.
"Oke, kalau begitu saya permisi." Setelah meletakkan makalahnya Dasha langsung keluar dari ruangan Mahendra.
Ada rasa yang menyesakkan di hati Dasha ketika Mahendra bersikap sedingin tadi kepadanya. Namun ia sadar kalau ia dan Mahendra hanya sebatas Mahasiswi dan Dosen, tak ada yang lebih, tak ada yang istimewa, hanya dirinya lah yang menganggap kalau Mahendra itu istimewa.
Miris? Tentu tidak, karena Dasha tau sendiri itulah risikonya menjadi seorang secret admirer. Dan yang terpenting, Dasha tak pernah sekalipun menyesalinya.
Sebulan kemudian Dasha menginjakkan kakinya di acara pertunangan Mahendra, dalam hati ia sudah sepenuhnya mengikhlaskan Mahendra untuk wanita lain yang pastinya sangat beruntung karena akan menjadi istri dari pria yang diidam-idamkan oleh banyak wanita termasuk dirinya.
"Semoga kamu bahagia," gumam Dasha saat melihat Mahendra memasuki aula pertunangan.
Senyuman manis terpatri di bibir Mahendra, menunjukkan bahwa pria itu sedang berbahagia. Perlahan tapi pasti, bibir ranum Dasha yang dipoles lipcream berwarna nude ikut melengkung ke atas dan membentuk senyuman yang indah.
"Aku bahagia saat melihat kamu tersenyum seperti itu, aku yakin wanita yang akan kamu lamar hari ini juga merasakan hal yang sama sepertiku," gumam Dasha.
__ADS_1
Alunan melodi mulai terdengar, Dasha terpukau saat melihat Mahendra bernyanyi di hadapan para tamu undangan. Tidak! Lebih tepatnya pria itu bernyanyi tepat di hadapan ayahnya. Dan lagu yang dinyanyikan Mahendra adalah lagu penuh makna yang berjudul Marry your daughter, lagu kesukaan Dasha yang sampai saat ini pun selalu sukses membuatnya terharu.
"Can i marry your daughter, sir?" Di akhir lagu Mahendra mengatakan itu di hadapan Devano.
Dasha menutup mulutnya dengan tangan. Matanya mulai berkaca-kaca, ia tak pernah menduga kalau wanita yang akan di lamar Mahendra hari ini adalah dirinya sendiri.
Pantas saja tadi pagi Umi Aisyah menyuruhnya memakai dress cantik hingga repot-repot mendatangkan perias untuk merias wajahnya sebelum ia berangkat ke aula gedung ini.
Ternyata dia yang dilamar! Congrats Dasha! batinnya memberi selamat atas keberuntungannya.
Mahendra menekuk lututnya di hadapan Dasha. "Will you marry me, Dasha?"
Air mata bahagia mengalir di pipi Dasha. "Yes i will," jawabnya sambil menganggukkan kepala.
Senyuman lega terbit di bibir Mahendra. "Alhamdulillah Ya Allah," ucapnya dipenuh rasa syukur.
END
Kalau ceritanya Dasha dan Mahendra di bikin terpisah kira-kira banyak yang tertarik enggak? Serius nanya.
__ADS_1