
Laki-laki itu mengambil langkah seribu begitu menyadari bahwa ada seseorang yang mengikutinya sejak dia mengambil uang transferan dari bos-nya di ATM tadi.
"Dari pakaiannya dia seperti agen mafia atau ketua gangster. Astaga, ini menakutkan!"
Karena kakinya pegal lelaki itu berhenti sejenak sambil mengatur nafasnya sekaligus memeriksa ke belakang, berharap orang yang mencurigakan itu sudah tidak lagi mengikutinya.
Tapi sayang seribu sayang dia malah di bekap dengan kain yang sebelumnya sudah di beri obat bius sampai akhirnya tak sadarkan diri alias pingsan di tangan orang berpakaian serba hitam yang rupanya ialah Tubagus, teman Devano yang sedang menjalankan perintah dari Devano untuk menyelidiki dan menangkap orang suruhan Rifa yang telah melenyapkan Siska, wanita tak bersalah yang di akhir hidupnya menderita karena perbuatan Rifa.
Tidak mudah bagi Tubagus mencari siapa yang telah membunuh Siska, sebab pelakunya tidak meninggalkan jejak sedikitpun sehingga Tubagus harus memaksa dokter yang sedang tugas jaga untuk memperbolehkannya melihat Cctv di dalam maupun di sekitar kamar rawat Siska.
Namun seluruh Cctv itu tak memberikan jawaban kepada Tubagus sampai akhirnya di lorong rumah sakit Tubagus bersimpangan dengan lelaki berbaju perawat yang tampak mencurigakan di matanya dan benar saja setelah di ikuti ternyata dia adalah pelakunya.
Ketika orang itu masuk ke dalam ATM dan menelfon bos yang menyuruhnya di sana, Tubagus mencari celah untuk merekam percakapan mereka tapi ia kurang beruntung sebab suaranya tidak jelas ketika sudah berbentuk rekaman.
Akhirnya Tubagus memutuskan untuk mengejar pria itu dan menangkapnya lalu dia akan mengintrogasi pria itu sampai mau mengakui kejahatannya dan mengungkap secara jelas siapa yang telah menyuruhnya melakukan dosa besar tersebut.
Bruk!
Tubagus melempar tubuh pelaku dengan kasar ke matras yang ada di basement rumahnya. Ia kesal sekaligus tak habis pikir kenapa ada orang yang tega menukar nyawa orang lain hanya untuk mendapatkan uang? Astaghfirullah.
******
Sambil menunggu mie rebusannya matang Aisyah menelfon Devano karena ingin mendengar kabar mantan suaminya itu.
"Halo, Assalamualaikum, Dev."
"Wa'alaikumsalam, Aisyah."
"Gimana? Terapinya kemarin lancar?" tanya Aisyah.
"Alhamdulillah lancar, sekarang kakiku sudah lumayan bisa berjalan normal, tapi aku masih pakai kruk untuk berjaga-jaga," jawab Devano yang membuat Aisyah merasa lega sekaligus bersyukur.
"Syukurlah, Dev. Aku harap kamu cepat pulih. Oh iya, aku mau kasih kabar kalau sore tadi Siska meninggal secara tiba-tiba," ujar Aisyah dengan suara serak akibat menahan tangis.
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un, semua yang hidup pasti akan kembali kepada-Nya." Devano yang sebenarnya sudah tahu lebih dulu pun hanya ikut mengucapkan bela sungkawanya.
Dia pun sama sekali tidak menyangka kalau Siska yang suatu hari akan dijadikannya saksi atas penculikan Dasha kini sudah tewas di tangan anak buah Rifa.
Memang kejam tapi itulah hidup, yang lemah akan selalu tertindas oleh yang lebih kuat. Tapi bagi Devano meskipun dia tergolong lemah dia tidak akan mau kalah dengan Rifa sebab dia sudah bertekad untuk menghancurkan wanita yang pernah menghasutnya hingga menceraikan Aisyah itu.
"Dev?" panggil Aisyah.
__ADS_1
"Ya, Aisyah." Devano segera menyahuti.
"Apa ada yang sedang mengganggu pikiran kamu?" tanya Aisyah yang membuat Devano ingin jujur kalau sebenarnya dia baru saja membuat Rifa mabuk parah sampai tidak bisa bangkit dari kursinya.
"Tidak ada, memangnya kenapa? Kamu khawatir ya?" Devano memutuskan untuk tidak menceritakan soal Rifa.
"Sedikit khawatir karena tadi kamu sempat terdiam lumayan lama, jadi aku kira kamu lagi banyak pikiran," ujar Aisyah sambil melangkah ke dapur lalu menyajikan mie instan yang sudah matang ke dalam mangkuk.
"Udah dulu ya Dev, aku mau makan malam nih, untuk kamu jangan lupa istirahat yang baik ya. Assalamualaikum."
"Oke, Aisyah. Wa'alaikumsalam," sahut Devano yang kemudian tersenyum bahagia mendapat perhatian kecil dari Aisyah.
"Ah, betapa bodohnya aku dulu yang sudah melepaskan wanita sesempurna Aisyah hanya untuk bersama iblis wanita yang kini tengah mabuk disamping ku ini," sesal Devano dengan suara lirih.
Kemudian pria berwajah rupawan itu menyeret tubuh Rifa dan memapahnya dengan sempoyongan menuju apartemen yang jaraknya tidak jauh namun lumayan menguras tenaga karena kakinya belum pulih sepenuhnya.
******
Mata si pelaku perlahan terbuka lalu menyipit menyesuaikan dengan cahaya ruangan yang redup. Tak lama kemudian Tubagus datang dengan membawa sebuah kantong berisi sesuatu yang mungkin bisa digunakan untuk mengancam si pelaku.
"Ah, lega rasanya melihat anda bangun karena sebelumnya saya kira anda tidak akan pernah bangun lagi untuk selamanya seperti yang terjadi pada wanita ini," kata Tubagus sambil menyodorkan foto Siska tepat di depan wajah si pelaku.
"Siapa kamu?!" tanya si pelaku yang membuat Tubagus terkekeh lalu tersenyum smirk.
"Lepaskan, saya tidak punya urusan dengan kamu!" teriak si pelaku yang tangan dan kakinya sudah diikat oleh Tubagus.
"Kata siapa kita tidak punya urusan, lihatlah ini," sela Tubagus sembari menunjukkan kartu identitas keanggotaan militernya.
Si pelaku mendongak untuk menatap wajah Tubagus dan seketika itu tubuhnya gemetaran.
"Sekalipun kamu seorang TNI, saya tidak takut! Sekarang lepaskan ikatan saya dan mari kita bertarung secara adil," tantang si pelaku yang berusaha menutupi rasa takutnya.
"Sayangnya bukan itu yang saya inginkan, pak. Saya hanya ingin anda mengungkapkan secara langsung siapa bos anda dan kejahatan apa saja yang telah dilakukannya setahu anda," pinta Tubagus sambil menyiapkan kamera untuk merekam pengakuan dari si pelaku.
"Hei! dengar yah, sampai mati pun saya tidak akan mengungkapkan rahasia tentang bos saya kepada kamu," tolak si pelaku yang rupanya cukup keras kepala dan juga setia kepada bos-nya.
"Wow! Kesetiaan anda wajib diberi tepuk tangan," puji Tubagus sambil bertepuk tangan di depan muka si pelaku dengan tatapan mengejek.
"Ngomong ngomong anda tadi mengatakan kalau sampai mati pun anda tidak akan memberitahu saya, sekarang saya tanya, apa anda yakin?" ejek Tubagus sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong yang tadi dibawanya.
Sesuatu yang dimaksud ternyata adalah sebuah pistol dan sebuah suntikan yang sudah Tubagus isi cairan kimia berbahaya.
__ADS_1
"Jika saya menyuruh anda memilih, mana yang akan anda pilih?" tanya Tubagus sambil menampakkan seringai yang membuat bulu kuduk si pelaku berdiri saat melihatnya.
"Pistol atau suntikan yang sudah saya isi dengan cairan kimia yang sama seperti yang anda suntikkan ke tubuh Siska, kira kira anda akan pilih yang mana?"
"Percuma kalau kamu membunuh saya, sebab seperti yang kamu tahu, saya ini bukanlah pelaku sesungguhnya, saya hanya orang yang dibayar untuk menyingkirkan siapapun yang mengganggu ketenangan bos saya," sela si pelaku yang membuat Tubagus agak jengkel.
"Ooh, begitu yah? Jadi anda tidak takut jika suntikan atau peluru dari pistol ini menembus ke dalam tubuh anda?"
Si pelaku merinding mendengar ucapan Tubagus barusan yang sepertinya tidak main-main.
"Sekali lagi saya akan memberikan penawaran, kalau anda mau menuruti perintah saya maka anda kemungkinan akan saya lepaskan, tapi jika anda menolak dan memilih untuk tetap bungkam maka anda akan tewas dengan cara yang sama seperti korban anda kemarin," ancam Tubagus yang semakin geram menghadapi si pelaku yang tidak mau takluk kepadanya.
"Ah, baiklah, sepertinya anda lebih menginginkan kematian daripada membongkar rahasia bos anda," ujar Devano sambil menarik pelatuk pistolnya mengarah ke tembok.
Duarr. Suara itu terdengar mengerikan dan membuat si pelaku menggigil ketakutan membayangkan bagaimana jika peluru yang di lontarkan Tubagus tadi menembus ke dadanya.
"Tunggu! Tunggu... Baiklah, saya akan menuruti permintaan kamu, saya akan mengungkapkan seluruh rahasia bos saya yang saya ketahui asalkan kamu jangan membunuh saya." Pada akhirnya si pelaku itu menyerah dan tunduk kepada Tubagus.
Setelahnya rekaman pengakuan itu pun di mulai dan semua kejahatan akan secepatnya mengantar Rifa ke dalam tempat yang penuh dengan hal yang tidak menyenangkan yaitu penjara.
Bersambung....
Gimana? Sampai sejauh ini masih adakah yang antusias dengan kelanjutan novel ini?
Komentar di bawah, oke?
Jangan lupa untuk selalu :
1. Like 👍
2. Komentar 📝
3. Vote cerita ini ❤️
4. Tekan bintang limanya ⭐⭐⭐⭐⭐
5. Bagikan cerita ini ke teman-teman kalian 🙏
6. Dan follow profil aku 😘😘
Makasih atas semuanya, aku sayang kalian.
__ADS_1
Bye, bye!
Assalamualaikum.