Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 40 | Clue untuk Devano


__ADS_3

Dear pembaca ku❤️, demi kalian aku update part ini, pedahal sekarang aku lagi sakit😢. Huhu, aku minta doa dari kalian ya, semoga aku bisa cepat sembuh.😢


Selamat membaca....


Keesokkan harinya di kantin DSL beauty's studio.


"Hey Syah!" tegur Avila saat menyadari kalau Aisyah tak kunjung melahap sarapan yang ada di atas mejanya.


"Eh... Apa Vi?" sahut Aisyah tersadar dari lamunannya.


"Lagi mikirin siapa sih?" tanya Avila menatap wajah Aisyah dengan penasaran.


"Gak mikirin siapa siapa kok," dusta Aisyah yang sebenarnya sedang memikirkan Lee.


"Ooh, jadi sekarang mah mainnya rahasia rahasia-an ya?" sindir Avila cemberut.


"Rahasia apa sih Vi?" Aisyah mengelak.


Dan beberapa saat kemudian suasana berubah menjadi hening, hanya terdengar bunyi sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


"Vi aku mau tanya deh," kata Aisyah tiba-tiba.


"Hm, tanya aja langsung," sahut Avila yang tengah mengunyah nasi goreng nya.


"Misalnya nih, kamu ngasih barang istimewa ke orang yang kamu cintai tapi kemudian di tolak, kamu tersinggung gak sih?" tanya Aisyah tiba-tiba.


Avila menaikkan satu alisnya dan menatap Aisyah dengan intens. "Ya tersinggung lah, bahkan kalau itu terjadi sama aku, aku pasti marah," jawab Avila yang seketika membuat Aisyah takut kalau Lee akan marah kepadanya sebab semalam dia menolak gelang mahal pemberian pria itu.


Aisyah menggeser piring nasi gorengnya kemudian melipat kedua tangan di atas meja lalu menyembunyikan wajahnya di atas lipatan tangannya tersebut.


"Aisyah, siapa yang berani nolak pemberian kamu? Kasih tahu aku, biar aku gampar orangnya." Avila malah mengira kalau Aisyah lah yang telah di tolak pemberiannya.


"Aduh, bukan aku Vi!" sela Aisyah dengan sedikit kesal.


"Ya terus siapa? Coba ceritain yang jelas dong," pinta Avila.


"Bukan siapa siapa kok," ujar Aisyah yang membuat Avila menatapnya jengkel.


"Kamu nyebelin banget sih!" seru Avila sambil mencubit pipi Aisyah dengan gemas.


"Argh, sakit Vi," keluh Aisyah seraya menyingkirkan tangan Avila dari pipinya.


"Makanya jangan bikin aku kesel," kata Avila sambil melanjutkan sarapannya.


"Ya maaf deh," ucap Aisyah yang kemudian mulai melahap nasi gorengnya.


Selang beberapa saat kemudian ponsel milik Aisyah berbunyi dan menampilkan nomor tak dikenal.


"Halo? Ini siapa ya?" tanya Aisyah tanpa basa-basi.


"Emh, ini aku... Devano," jawab suara bass dari seberang telepon.


Aisyah menghela nafas panjang lalu terdiam sejenak untuk menenangkan hatinya yang berkecamuk mendengar suara bass milik Devano tadi.


"Ada perlu apa?" tanya Aisyah dengan suara dingin.


"Aku mau meminjam kunci rumah lama kita," jawab Devano to the point.

__ADS_1


"Mau apa kamu ke sana?" tanya Aisyah dengan curiga.


"I... Itu aku cuma mau lihat foto foto Dasha yang ada di sana." Aisyah bisa mendengar suara Devano bergetar ketika mengucapkan nama putrinya.


"Kalau gitu dateng aja ke DSL beauty's studio, aku bakal kasih kuncinya,"


"Tapi ingat ya Dev, sepulang dari sana kamu gak boleh bawa satupun barang kepunyaan Dasha, paham?"


"Paham, kamu gak usah khawatir, tujuanku ke sana cuma mau melihat wajah putriku secara detail aja kok."


"Baguslah." Aisyah kemudian memutus sambungan teleponnya secara sepihak.


Avila penasaran dengan siapa yang baru saja menelpon sahabatnya itu.


"Siapa sih, Syah? Kamu kayaknya kesel banget dapet telepon dari dia."


"Mantan suami," jawab Aisyah singkat padat dan jelas.


Avila memutar bola matanya malas. "Kenapa sih cowok brengsek itu masih menghubungi kamu?"


"Apa dia masih belum puas bikin kamu sakit hati?" Avila kesal.


Sedangkan Aisyah hanya mengedikkan bahunya menanggapi ucapan Avila barusan.


"Selesai sarapan kamu masuk duluan aja ya," ujar Aisyah.


"Lho kenapa gak bareng aja?" tanya Avila sambil mengernyitkan dahinya.


"Aku ada urusan sebentar," jawab Aisyah lalu meminum air putihnya dan bergegas pergi meninggalkan Avila yang bengong menatapnya.


*****


"Ini kuncinya." Aisyah menyerahkan kunci rumah lama mereka kepada Devano.


"Terimakasih banyak, Aisyah," ucap Devano seraya menggenggam erat kunci yang baru saja di dapatkannya.


"No problem," balas Aisyah datar.


"Ingat ya, kamu gak boleh mengambil apapun dari sana," peringat Aisyah kepada Devano.


"Oke," sahut Devano patuh.


Aisyah tersenyum samar lalu berbalik untuk pergi, namun Devano meraih lengannya dan membuat wanita itu kembali menghadap ke arahnya.


"Lepasin!" Aisyah dengan kasar menghempaskan tangan Devano dari lengannya.


"Maaf, aku cuma mau ngasih ini buat kamu." Devano mengulurkan sekantong berisi bekal makanan untuk Aisyah yang dia masak sendiri.


Aisyah memandang kantong yang di ulurkan tangan Devano itu dengan senyuman smirk yang terukir di bibir ranumnya.


"Aku gak bisa terima itu," tolaknya lalu melangkah pergi.


Namun Devano tak menyerah begitu saja, pria itu mengejar Aisyah sampai masuk ke dalam studio.


"Aisyah, aku mohon terimalah bekal ini, aku memasak makanan ini spesial untuk kamu," ujar Devano yang langsung membuat Aisyah menoleh dan menatap tajam mantan suaminya itu.


"Duh, siapa tuh Mbak Aisyah?" bisik salah satu rekan Aisyah.

__ADS_1


"Ganteng banget sih! Kira-kira dia siapanya mbak Aisyah yah?" bisik yang lainnya.


Aisyah menghela nafas kesal, lalu dengan emosi yang memenuhi dada ia menghampiri Devano dan mengambil sekantong bekal di tangan mantan suaminya itu kemudian pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Devano tersenyum senang karena akhirnya bekal yang ia masak sendiri itu di terima oleh Aisyah. Tapi sedetik kemudian Devano harus kecewa karena melihat Aisyah memberikan sekantong bekal itu kepada rekannya.


"Aku harus tetap bersyukur karena setidaknya bekal makanan yang aku masak dengan susah payah itu tak terbuang sia sia." Devano menghibur dirinya sendiri sebelum akhirnya keluar dari studio itu dan pergi ke rumah lamanya yang penuh dengan kenangan masa lalu saat pernikahannya dengan Aisyah masih baik baik saja.


*****


Devano mengulurkan tangannya untuk menyentuh foto Dasha yang terpajang di dinding kamar Aisyah dulu. Mata pria berwajah tampan itu memerah lalu meneteskan bulir bulir kepedihan yang tiada akhir.


"Dia benar-benar putriku!" jerit Devano dengan suara serak karena menahan tangis.


Wajah mungil nan imut milik Dasha memang mirip dengan Aisyah, tapi lihatlah mata, alis dan bibir itu yang sangat mirip dengan yang di miliki Devano.


"Andai dulu aku melihatnya, pasti aku akan langsung percaya kalau dia memang darah daging ku." Devano menyesal dan melampiaskan kepedihan hatinya dengan memukuli kepalanya sendiri.


"Aku bodoh! Aku idiot! Aku memang brengsek!" teriak Devano sambil terus memukul kepalanya dengan membabi-buta.


"Aku benci diriku sendiri," lirihnya setelah puas menyiksa dirinya sendiri.


Beberapa saat kemudian Devano merebahkan tubuhnya di lantai lalu memandang setiap bingkai foto Dasha, putrinya.


Lalu ada satu foto yang menarik perhatiannya, yaitu foto dimana Dasha tengah bermain bersama bocah perempuan seumuran nya yang warna rambut dan wajahnya pun sedikit mirip dengan putrinya itu.


Devano mengambil foto tersebut lalu mengamatinya dengan seksama.


"Kenapa anak ini mirip sama Dasha?" tanya Devano heran.


"Apa Aisyah mengandung anak kembar?"


"Tidak! Jelas tidak, waktu itu ayah mengatakan kalau Aisyah hanya melahirkan seorang bayi perempuan, dan itu artinya Dasha tidak punya kembaran."


"Tapi supaya lebih jelas aku harus menanyakan ini kepada Aisyah, sekaligus aku ingin menceritakan soal anak lima tahun mirip Dasha yang semalam menabrak ku lalu di bawa pergi oleh mobil hitam itu," ujar Devano yang bertekad untuk mengungkap misteri tentang Dasha, putrinya.


Bersambung....


Gimana? Gimana? Penasaran gak kalian?


Kalau aku sih excited banget karena udah mau mendekati puncaknya.


Eh jangan lupa untuk selalu :


-LIKE 👍


-KOMENTAR 📝


-VOTE CERITA INI ❤️


-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


-SHARE CERITA INI KE TEMAN KALIAN ➡️


-DAN FOLLOW PROFILKU 👌


Supaya aku semangat buat update part selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2