Wanita Yang Tersakiti

Wanita Yang Tersakiti
Part 45 | Soal hati tak bisa di bohongi


__ADS_3

Aisyah POV.


Setelah lima hari di rawat di Rumah sakit pasca kecelakaan yang menimpaku tempo hari itu, akhirnya kemarin sore aku sudah di perbolehkan untuk pulang dan melakukan aktifitas seperti biasa.


Pagi ini aku berangkat ke studio bersama Lee dengan alasan supaya aman karena pelaku tabrak lari itu belum di temukan keberadaannya sampai sekarang dan bukan tidak mungkin jika pelaku itu masih berambisi untuk mencelakai ku lagi.


Bukannya aku berperansangka buruk tapi apa salahnya jika aku berhati-hati setidaknya sampai pelaku tabrak lari itu tertangkap dan mengatakan apa motifnya mencelakai ku.


Terkadang aku berpikir kenapa setiap aku bersama dengan Devano selalu ada saja diantara kami berdua yang terluka. Apa mungkin itu pertanda kalau memang aku dan Devano tak bisa kembali bersama?


Lamunanku buyar ketika melihat sebuket bunga mawar di depan mataku, aku mendongak dan melihat senyuman cerah Lee yang menghangatkan hatiku.


Aku balas tersenyum kepadanya lalu menerima sebuket bunga mawar yang diulurkan nya kepadaku. "Makasih Lee, bunganya cantik banget," ucapku.


"Ya, tapi bunga itu masih kalah cantik sama kamu," ujar Lee yang membuat pipiku menghangat.


Lee tersenyum dan menatapku penuh kelembutan. "Kamu akan semakin cantik dengan pipi yang merona seperti itu," ungkap Lee yang seakan tak mau berhenti memujiku.


"Ekhem... Lee, sepertinya aku udah kesiangan nih," tegur ku mencoba mengalihkan pikirannya.


"It's okey, bos kamu aja masih ada di sini, di depan kamu lagi, jadi kamu gak akan di hukum atau di kurangin gaji nya meskipun kamu datang terlambat ke Studio," balas Lee.


"Lagi pula kamu itu masih belum dibolehin kerja, jadi sebagai gantinya, hari ini aku mau ngajak kamu ke suatu tempat, gimana? Kamu mau?" lanjut Lee yang malah mengajakku ke tempat lain.


"Hm, memangnya ke tempat apa dan... Dimana?" tanyaku sambil menatapnya.


"Rahasia dong, karena kalau aku kasih tahu sekarang nantinya kamu gak akan penasaran," jawab Lee.


"Ya udah, aku mau, tapi ada syaratnya," pintaku.


"Tentu, apa syaratnya?"


"Ajak Robbie sama Avila juga," jawabku yang membuat Lee terdiam sejenak untuk berpikir sebelum akhirnya setuju.


"Oke," sahut Lee sambil menganggukkan kepalanya.


Aku pun tersenyum senang lalu menatapnya dengan tatapan yang mengisyaratkan rasa terimakasih karena Lee sudah mau memahami ku.


"Ayo," ajaknya sambil membukakan pintu mobilnya untukku.


"Ayo!" sahutku lalu masuk ke dalam mobilnya.


Kemudian Lee menjalankan mesinnya dan kami pun pergi meninggalkan halaman Rumahku yang tak begitu asri itu.


"Aku telfon Robbie sama Avila nya dulu ya," ujar Lee yang aku balas dengan anggukan.


Dan lima menit kemudian Lee akhirnya selesai menelpon. "Gimana? Apa mereka mau?" tanyaku.


"Pasti mau lah, apalagi sekarang mereka lagi cukup senggang," jawab Lee yang membuatku kembali tersenyum senang.

__ADS_1


"Yeay! Akhirnya kita berempat bisa kumpul dan pergi bareng-bareng lagi," ucapku dengan sumringah.


Lee melirikku dan aku lihat bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman manis yang membuatnya semakin tampan.


"Aku senang melihat kamu kembali ceria seperti ini, Aisyah," ungkap Lee yang seolah mengatakan kalau dia hanya ingin melihatku selalu bahagia.


Dan mulai sekarang aku akan berusaha untuk selalu terlihat bahagia di depan Lee supaya dia bisa melihat kalau usahanya untuk membuat aku bahagia tidak pernah sia-sia.


******


"Menurut gue Lee itu sengaja ngajak Aisyah pergi ke puncak supaya Aisyah gak perlu mendengar soal berita pencopotan jabatan Devano dari Kemiliteran dan juga rumor masa lalunya yang sedang ramai di bicarakan publik itu," ujar Robbie sambil memakai helm.


"Menurut gue juga begitu," timpal Avila.


Robbie mengambil satu helmnya lagi dan mendekati Avila lalu memasangkannya di kepala gadis itu. "Jangan cemburu lagi, oke?" pesannya sambil menatap mata Avila dengan intens.


"Maksud lo?" tanya Avila pura-pura tidak paham.


Robbie tersenyum sebelum menjawab.


"Maksud gue, jangan cemburu kalau lihat Lee sama Aisyah."


"Oh... Oke, lagian gue juga gak punya alasan buat cemburu kalau ada lo di samping gue? Iya gak?"


Robbie memutar bola matanya.


"kesambet nih cewek," ucapnya dengan wajah malu-malu.


"Udahlah, ayo kita berangkat," ajak Robbie.


"Berangkat kemana mas?" ledek Avila.


"Ke Jonggol!" jawab Robbie yang berubah ketus.


"Eh, bukannya kita di suruh pergi ke puncak yah?" pancing Avila.


"Udah tahu nanya," cetus Robbie ngegas.


"Hehehe, jangan marah mas, nanti jomblo terus lho," canda Avila yang membuat Robbie jengah.


"Situ emang bukan jomblo?" Robbie menyerang balik.


"Eh jangan salah, gue mah udah punya pacar," jawab Avila yang membuat Robbie kaget dan langsung menatapnya tajam.


"Lo tega banget yah, gue udah nungguin lo selama ini dan ternyata lo malah jadian sama cowok lain, sadis lo!"


Avila tertawa karena Robbie mengira perkataannya tadi itu serius pedahal sebenarnya dia hanya bercanda.


"Lagian lo juga pernah jadian sama cewek lain waktu kita traveling ke Natuna itu, jadi gak ada salahnya dong kalau gue juga jadian sama cowok lain," ujar Avila yang membuat muka Robbie langsung merah padam.

__ADS_1


"Asal lo tahu ya, waktu itu gue bohong, sebenarnya gue gak punya pacar, gue sengaja bilang mau beli oleh-oleh buat pacar pedahal itu buat adek perempuan gue," jelas Robbie yang mengakui kebohongannya kepada Avila.


"Kenapa lo bohong?" tanya Avila.


"Karena gue pengen lihat reaksi lo kalau gue punya pacar gimana, dan rupanya reaksi lo biasa-biasa aja waktu itu, jujur gue merasa sedikit kecewa," jawab Robbie yang kemudian menunduk malu karena sudah mengakui kebohongan yang menurutnya sangat konyol tersebut.


Avila meraih tangan Robbie lalu menghela nafas panjang. "Waktu itu sebenarnya gue cemburu, tapi gue berusaha menutupinya karena gue gengsi secara dulu gue udah nolak lo berkali-kali," ungkap Avila dengan jujur.


Mata Robbie langsung berbinar terang, pria itu menggenggam tangan Avila dengan erat. "Berarti lo pernah punya rasa buat gue?" tanyanya serius.


Avila diam sejenak lalu menatap wajah Robbie. "Karena lo udah jujur sama gue, maka gue juga akan jujur sama lo."


"Jadi?" tanya Robbie penasaran.


"Ya, gue sempat punya perasaan sama lo, dan itu cukup menyebalkan bagi gue," jawab Avila yang langsung membuat Robbie melompat girang bagaikan pria yang baru saja di terima lamarannya.


"Hahaha, senangnya hati gue," teriak Robbie yang membuat Avila malu dan bergerak membungkamnya.


"Mmmh, mmmh."


"Jangan malu-maluin gue ya, Bie," tandas Avila penuh penekanan.


Robbie mengangguk dan Avila pun melepaskan bungkaman tangannya dari mulut Robbie.


"Galak banget calon bini gue," keluh Robbie yang membuat Avila lantas memukul bahunya.


"Udah jangan halusinasi, waktu kita buat ke puncak udah mepet, jangan sampai Oppa Lee marah gara-gara kita telat," tegur Avila.


Bersambung....


Gimana? Part ini sweet gak?😍


Tolong komentar di bawah yah!


Jangan lupa untuk :


-LIKE 👍


-KOMENTAR 📝


-VOTE CERITA INI ❤️


-BAGIKAN KE TEMAN KALIAN ➡️


-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊👍


Makasih banyak, i love you all.😘😘😘

__ADS_1


Sampai jumpa lagi, Assalamualaikum. ❤️❤️❤️


__ADS_2