Wedding Story

Wedding Story
01|Wedding story


__ADS_3

SEORANG pria terlihat melamun di tengah ingar-bingar Club malam. Suasana panas dari orang-orang yang berjoget mengikuti alunan musik dj sama-sekali tak mengganggu-nya.


Raffi radja artawangsa


Raffi meneguk habis cairan berwarna yang tersusun rapih di atas meja kaca itu. Alkohol, ya cairan laknat itu menjadi pelampiasan kekesalan nya sekarang.


Segala macam fikiran berkecamuk di benak nya, tak menyadari bahwa dari tadi banyak wanita-wanita penghibur yang memperhatikan nya. Satu dari mereka mendekat, memakai pakaian yang jauh dari kata sopan. Oh, ayolah ini club bukan pesantren.


"Apa anda kesepian tuan?". Wanita itu ikut duduk di sebelah nya, tangan lentik nya dengan nakal meraba dada bidang yang masih tertutup kemeja kantor.


Raffi diam, tak menolak. Matanya terpejam merasakan belayan dari ****** itu. Sampai jari wanita itu turun membelai sesuatu yang masih terbungkus celana, ia menghentikan lengan nya."I'am not wanting to play, bicth". Natha itu menolak.


Namun, bukan '******' namanya jika tak pandai menggoda."Ayolah tuan, dia sudah tegang". Bisik wanita itu sensual, jemari lentik nya kembali bergerak turun meraba dia yang sudah tegang akibat belaian nya.


Raffi menggeram, merasa nikmat. Dengan sekali tarikan, wanita itu sudah berada di pangkuan-nya."You're forced". Bisik Raffi, ia menyeringai sebelum akhirnya meraup rakus bibir merah wanita penghibur itu.


"Bagaimana jika kamar lantai atas". Ujar wanita itu saat natha melepaskan ciuman mereka. Raffi kembali menyeringai, berdiri dengan wanita itu masih dalam gendongan nya.


"Bukan ide buruk".


Mereka masuk kedalam salah satu kamar di club ternama itu. Dan yeah, kalian tau apa yang terjadi.


—Wedding story—

__ADS_1


Raffi tersenyum puas melihat wanita yang berbaring kelelahan di ranjang club. Yeah siapa juga yang tidak lelah setelah menghabiskan belasan pengaman.


Ia kembali menarik resleting celana, mengambil cek dan melemparkan nya pada wanita itu."Not bad, next time don't force me again". Setelah mengatakan itu, Raffi keluar dari kamar meninggalkan ****** yang masih berusaha menstabilkan nafanya.


Raffi keluar dari club, ia mengendarai ferrari nya dengan kecepatan sedang. Benak nya kembali mengingat kekesalan nya pada sang ibu.


Flasback on


"Mami kasih waktu dua hari untuk kamu bawa pacar kamu itu kerumah, kalo sampe pacar kamu gak mau menikah sekarang, mau gak mau kamu harus menikah dengan wanita pilihan mami".


"Mi...please". Raffi menatap sang ibu dengan pandangan permohonan."Aku pasti bakal menikah mi, tapi gak sekarang ya, kasih waktu Kalea dua tahun lagi, dia janji sama Raffi kalo setelah itu kita bakal menikah. Mami tau-kan kalo Raffi cinta banget sama kalea dan kalea-pun sama. Lagian, kalea gak bisa ngebatalin kontrak nya gitu aja. He's model".


"two years? Are you crazy? We can already be on the ground!". Geram Catrine, bisa-bisanya anak-nya itu menurut pada perempuan seperti kalea."Kalo pacar kamu itu memang berniat menikah sama kamu, Raff, dia gak bakal buang-buang waktu!".


"Jadi berumah tangga sama kamu itu bukan salah satu cita-citanya?".


"Mi! Mami selalu kayak gitu! Raffi tau dari dulu mami emang gak suka sama kalea kan?! Apasalah nya kalea, dia cantik, baik dan juga berpendidikan!".


Baik? Catrine bahkan yakin jika pacar anak-nya itu hanya menginginkan harta serta kesuksesan. Dia mungkin benar mencintai Raffi, tetapi cintanya hanya sebatas harta, setatus dan tampang. Ayolah, siapapun pasti sangat mau menjadi pendamping anak nya kan?.


"Gak perduli apa kata kamu, keputusan mama tetep sama. Titik!".


Raffi diam, nafas nya memburu karna emosi. Catrine keluar dari kamar anak-nya."Brengsek! Sial! Sial! Sial!".

__ADS_1


Flasback of


"Sial!". Raffi memukul stir mobil, ia menghentikan mobil nya di pinggir jalan. Memejamkan matanya menahan gejolak emosi yang coba ia tahan.


Raffi mengambil ponselnya, mencoba menghubungi kalea—sang kekasih."Tuan Raffi?". Raffi mengerutkan kening, ini bukan suara kalea, tapi manager nya.


"Ema? Kenapa kau yang mengangkat? Dimana kalea?".


"Nona kalea sedang menjalani pemotretan tuan, kami baru sampai di thailand tadi sore".


Emosi Raffi semakin meledak saat mendengar perkataan ema. Ia mengakhiri panggilan nya sepihak, membanting ponsel itu dengan kesal. Kenapa kalea berangkat? Bukan kah Raffi sudah memberitahu apa yang mami-nya mau? Raffi pikir kalea akan menyetujui apa yang mami-nya mau, menikah dengan nya dan membatalkan kontrak sialan itu.


Apa yang Kau pikirkan Raffi? Kalea akan memilih dirinmu dibandingkan menjadi model internasional itu?.  Tanpa sadar, Raffi tertawa getir, mendapatkan kenyataan bahwa kalea lebih memilih kontrak itu. Padahal tanpa kontrak itu-pun, jelas Raffi lebih dari kata mampu mewujudkan apa yang kalea mau.


"Sialan!".


Baik-lah, mungkin menikah dengan wanita pilihan mami-nya tak terlalu buruk. Raffi hanya perlu menambahkan sedikit pengertian pada wanita itu nanti.


❤Wedding story❤


To be continue


Haii gess! cerita ini Zy up Seminggu dua kali jadi jangan lupa kasih vote dan saran, koreksi setiap kesalahan zy tanpa menjatuhkan.

__ADS_1


__ADS_2