
Malam ini malam ke tiga aku tidur di kamar fiona, tetapi sang pemilik kamar tidak ada di dalamnya. Fiona benar benar hilang kabar sekarang. Kak fadil benar benar tidak memberikan aku akses buat bertemu dengan fiona.
Sudah ntah berapa kali aku membujuk kak fadil agar membawa fiona pulang, tapi dia sama sekali tidak mengindahkan permintaanku. Hidupku sekarang rasanya hambar. Mau ngelakuin apapun rasanya nggak ada gairah. Cuma di depan fayyadh dan faza aku berusaha untuk senormal mungkin. Aku nggak mau mereka merasa terabaikan olehku.
Bunyi pintu terbuka mengalihkanku dari lamunanku. Ternyata disana ada kak fadil dengan membawa segelas susu putih. Aku baru ingat belum minum susu hamil malam ini. Sudah ku bilang aku nggak ada gairah untuk melakukan hal apapun. Untungnya kak fadil masih mau memperdulikan aku walaupun sikap dinginnya masih mendominasi.
" Di minum susunya" ujar kak fadil dan meletakkan segelas susu yang di bawanya tadi ke atas nakas sebelah ranjang fiona yang sekarang ku tempati.
" Aku bisa mati kalo harus gini terus mas" lirihku yang membuat kak fadil menghentikan langkah kakinya yang hendak keluar dari kamar fiona.
" Bawa fiona pulang. aku mohon" pintaku lagi.
" Lama lama kamu pasti akan terbiasa tanpa fiona. Dan kamu juga harus membiasakan diri tanpa aku" Ujar kak fadil dengan memelankan kalimat terakhirnya. Setelahnya pergi ke luar kamar.
Aku masih mencoba mencerna kalimat yang di lontarkan kak fadil barusan. Apa maksudnya mengatakan itu. Ntahlah.
Aku meraih segelas susu yang tadi di bawakan oleh kak fadil. Janin yang ada di perutku tidak salah apa apa. Tidak seharusnya dia menjadi korban keegoisan bundanya.
Dering ponsel menghentikan seruputan susu dari gelas yang baru ku minum setengah. Disana tertera nama Nana yang melakukan panggilan masuk.
Aku menggeser tombol hijau tanpa bersemangat.
" Kenapa na?" Tanyaku
" Boy masuk rumah sakit Re. Dia kecelakaan saat nganterin orderan pelanggan" Jawab nana tidak santai dari sebrang telpon sana. Aku tau dia panik.
Aku mengernyitkan keningku heran. Pasalnya urusan mengantar orderan pelanggan udah ada pekerjanya khusus. " Kok bisa. Boy kan urusan di dalam kafe na?"
Nana menghembuskan nafasnya panjang dari balik telpon sana." Nanti gue jelasin ya Re. Sekarang lo bisa datang ke Rumah sakit nggak?"
Aku menimbang sebelum menjawab. Sebenarnya aku malas untuk keluar sekarang. Tambah lagi badanku lagi lemes. Tapi ini seharusnya tanggung jawab aku. Bukan seutuhnya tugas nana " Iya Na. Lo kirim alamat rumah sakitnya. Gue siap siap kesana" putusku akhirnya.
****
Keluar dari kamar dalam penampilan yang udah rapi mengundang tanda tanya dari mama dan kak fadil yang lagi bermain bareng fayyadh dan faza. Walaupun cuma mama yang mengeluarkan suaranya untuk bertanya, tapi aku dapat melihat raut wajah kak fadil yang penasaran juga.
" Karyawan kafe ada yang kecelakaan saat ngantetin orderan ma. Jadi Renata mau nengokin kondisinya. Karena ini tanggung jawab kafe. Kecelakaan karena urusan kafe." Jelasku pada mama.
__ADS_1
" innalillahi. Anak anak nggak usah pada di bawa ya re. Nggak baik. Disana kan sarangnya penyakit" Lanjut mama memberi tahu.
Aku mengangguk " Maafin renata udah ngerepotin mama ya" Ujar ku tak enak hati.
" Mereka cucu mama kalo kamu lupa. Mana mungkin mama keberatan" Sahut mama sambil terkekeh.
" Nda.. bobo..nda" Rengek fayyadh yang ternyata baru sadar kalau aku mau pergi. Baru saja mau pamitan mendadak fayyadh minta di nina boboin dulu. Kebiasaan anak anak kalau mau tidur suka di kelonin bundanya dulu. Lagi lagi aku jadi keingat sama fiona. Lagi apa dia sekarang.
" ndaaa" Rengek fayyadh yang menyadarkanku dari lamunanku.
" Iya bang.. kenapa nak?" Tanyaku lembut seraya mengangkat fayyadh ke gendonganku. Padahal udah sering di larang sama ayah anak anak buat nggak angkat yang berat berat, termasuk gendongin anak anak. Tapi sesekali nggak papa kali.
" Fayyadh udah gede nggak usah di gendong" sahut kak fayyadh tanpa mengalihkan pandangannya dari layar pipih yang di pegangnya.
Nah kan. Apa aku bilang pasti di protes.
" Abang bobo nya sama ayah dulu boleh?. Bunda mau kerja dulu. Sebentar aja kok sayang" Kataku lembut kepada fayyadh. Berharap dia mau mengerti.
Fayyadh menggeleng. Dia malah mengeratkan pelukannya semakin dalam dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku. " Nda auu.. ayah nda bisa bund.." Rengek fayyadh.
" Yaudah. Kita bobo nya di kamar ya." Fayyadh mengangguk lemah. Sudah ngantuk akut ternyata.
****
Setelah tadi menghubungi nana kalau aku nggak jadi ke rumah sakit karena fayyadh yang mendadak nggak mau lepas, disinilah aku sekarang. Menemani dua anak ku yang sudah terlelap tenang di alam mimpi.
Faza tadi nyusul ke kamar di antar ayahnya karena ngerengek ngantuk. Setelah minum susu akhirnya faza juga ikut menyusul abangnya ke alam mimpi. Fayyadh sama faza itu cuma beda 5 bulan. Tuaan fayyadh. Tapi fayyadh udah keliatan banget sayangnya sama faza adiknya.
" Mau kemana?" Tanyaku pada kak fadil yang sedari tadi ternyata siap siap mau pergi. Sekarang udah rapi gitu.
" Ada urusan sebentar" jawab kak fadil yang sedang menyisir rambutnya yang masih basah. Kebiasaan sekali.
"Sini deh mas, rambutnya biar aku keringin dulu" tuturku pada kak fadil.
Sadar mungkin merasa rambutnya terlalu basah, kak fadil mendekat kepadaku dengan membawa handuk untuk mengeringkan rambutnya.
Kak fadil berjongkok di bawah biar aku mudah mengeringkan rambutnya. Kebiasaan buruk kak fadil, tapi ini momen yang paling aku sukai. Mengeringkan rambut suami.
__ADS_1
" Mas.. nggak ada fiona sepi banget. Aku kangen suaranya. Telpon mbak fania mas." Pintaku dengan memohon kepada kak fadil dengan sangat penuh harapan.
" Udahlah re. Kalau fiona nggak betah disana dia pasti minta pulang" Sahut kak fadil.
Aku terdiam. Menahan sakit di hatiku. Kak fadil berdiri dari jongkoknya dan menerima handuk yang tadi ku pakai untuk mengeringkan rambutnya.
" Aku pergi dulu. Hati hati di rumah. Mama lagi keluar sebentar" Titah kak fadil. Setelahnya dia pergi keluar kamar setelah mengembalikan handuk ke tempat semula.
Ada yang hilang. Tak ada kecupan singkat di dahi sebelum pamit pergi. Nggak ada usapan lembut di kepala karena udah bersedia mengeringkan rambutnya. Kamu berubah lagi mas. Ada apa?.
****
Dentingan sendok yang bersahutan dengan piring menemani keheningan makan siang menjelang soreku kali ini. anak anak masih tidur dari 1 jam yang lalu. lelap banget. mungkin karena di dukung cuaca yang lagi mendung di luar sana.
Mama belum pulang lagi ke rumah setelah tadi pergi kata kak fadil. mungkin ada urusan mendadak yang penting. atau pergi ke kantor papa akupun tidak tahu. yang jelas keadaan rumah sekarang sepi. Mbak yang bantu di rumah juga lagi pamit pulang kampung. mungkin lusa baru kembali lagi. lagi lagi aku teringat sama fiona, biasanya kalau lagi sepi gini aku suka girls time sama dia. Tapi sekarang cuma tinggal angan anganku saja.
Dering telpon di meja membuat aku sedikit berlonjak kaget. ternyata Nana yang menelpon. aku mendadak khawatir, takut keadaan Boy nge drop.
" Boy kenapa na?" Tanyaku langsung. tanpa salam pembuka basa basi terlebih dahulu.
" Lo jadi ke rumah sakit. Tapi kok nggak ke ruangannya Boy?" Tanya nana dari ujung telpon sana.
Aku mengernyitkan keningku bingung " Nggak na. Anak anak nggak bisa di tinggal. ini gue lagi makan di rumah" Jelasku
" Lah. yang gue liat di kantin rumah sakit siapa Re?. Kak fadil sama fiona terus cewe. gue kira itu elo"
Hatiku bergemuruh mendengar perkataan Nana " Lo yakin itu kak fadil?" Tanyaku lagi memastikan.
" Yakin Re. Ada fiona juga " sahut nana
" Lo bisa fotoin nggak Na?" Pintaku lirih
" Udah pergi Re. gue kirain tadi itu lo. Tapi gue heran kenapa nggak masuk ke ruangannya Boy. Makanya gue telpon elo"
Dadaku semakin bergemuruh " Udah dulu ya Na. Faza nangis " Alibiku dan langsung memutuskan panggilan sepihak.
Sebenarnya ini ada apa sih?.
__ADS_1