Wedding Story

Wedding Story
Tiga Puluh Dua ( Lebih Dekat Dengan Oma)


__ADS_3

Sekarang oma sudah tidak seketus pertama lagi sama aku, dari mulai makan malam bertiga, sampai oma sudah tiga hari disini, aku sama oma sudah mulai dekat. Ya walaupun awalnya aku sempat ngeluh ke kak fadil karena hampir mau menyerah mengambil hati nya oma, Tapi berkat dukungan kak fadil aku bisa mengambil hati oma. Dan benar, oma itu aslinya baik sekali. tapi memang suka asal lepas kaalu sedang berbicara. Apa yang mau dia bilang, pasti diucapkan tanpa disaring atau di filter sebagainya. untuk orang yang mudah sakit hati, tidak akan bisa jadi temannya oma.


" Oma, ini rere buatkan jahe hangat " Aku masuk ke dalam kamar ku dan kak fadil yang tiga malam ini sudah ditempati oma. Membawa segelas teh jahe hangat untuk oma


Oma tersenyum manis melihat kedatanganku


" Istirahat re, sudah malam ini"


Aku mendekat ke arah oma. Sekarang sudah jam 9 malam memang, tadi habis makan malam oma langsung masuk kamar, katanya kurang enak badan


Aku duduk di sebelah oma yang bersandar di kepala ranjang " Rere pijat kaki nya ya" .


Aku mendekat ke arah kaki oma yang dari tadi memang sudah terulur. Aku jadi teringat ibu. Dulu waktu masih ada ibu, aku juga sering pijat kaki ibu kalau lagi malam. awalnya ibu selalu menolak, tapi akhirnya ketagihan, pijatan aku kan maknyos.


Oma memperhatikanku dengan teliti, sesekali aku melirik oma sambil tersenyum lalu kembali fokus lagi pada kaki oma


" Fadil sudah pulang re?" Tanya oma


Aku menggeleng " Masih ada urusan katanya oma" Jawabku.


" Oma ada perlu, biar rere telponin mas fadilnya " Lanjutku. Siapa tahu oma ada perlu sama kak fadil pikirku


oma menggeleng " Sudah re, duduk sebelah oma sini" kata oma


Aku mendekat ke arah oma, oma mengarahkan ku untuk tidur berbantalkan pahanya. Rasanya nyaman sekali, sudah lama aku tak merasakan ini. Tanpa disadari air mataku menetes


" Kamu menangis re?" Tanya oma yang mungkin sadar akan isakan ku


Aku tersenyum malu karena ketauan nangis sama oma " Rere teringat ibu" Lirihku.


Oma udah tau perihal aku yang sekarang sebatang kara, setelah kepergian ibu. Aku juga sudah cerita kenapa bisa menikah secepat ini sama kak fadil dan tak memberi kabar pada oma.


Awalnya aku takut saat oma menghampiriku yang lagi duduk di taman belakang tadi sore. Karena fiona lagi pergi ke taman kompleks jalan jalan sama mbak mirna kesayangan dan amat sangat ia banggakan, jadi, aku memilih duduk merilekskan hati di situ. Dan tak lama Oma datang menghampiriku dan kami banyak berbincang banyak hal.


" Berdoa selalu untuk ibu kamu disana. Dan kamu juga harus tetap bahagia. Biar ibu kamu juga ikut bahagia " Kata oma seraya mengusap lembut rambutku, seperti yang sering kulakukan pada fiona.Ternyata senyaman ini rasanya, pantas fiona suka kalau aku usap usap rambutnya. Kadang mau tidur dia minta di elus elus dulu rambutnya sampai akhirnya ketiduran.


" Dihh, lagi santai ni ceritanya " Kata kak fadil yang baru masuk ke dalam kemar, menghampiriku dan oma

__ADS_1


Aku yang mendengar suara kak fadil, pun duduk dari berbaringku tadi. Kuraih tangan kak fadil untuk ku salim


" Sudah lama mas?" Tanyaku sama kak fadil yang lagi nyalam oma


Kak fadil menggeleng, dia merebahkan badannya dan menjadikan pahaku sebaagi bantal. Padahal di depan oma, tak ada malunya nih orang


" tidaj ingat umur kamu dil, anak sudah mau dua masih saja manja" Ejek oma yang membuat aku tersenyum


Kak fadil hanya tersenyum, dia memijat mijat pangkal hidungnya dari tadi. Apa lagi pusing?


" Kepala kamu pusing mas?" tanyaku sambil memijat lembut kepalanya


" Sedikit" Sautnya


Aku mengajak kak fadil keluar kamar, setelah pamit sama oma, lagian kalau ada oma aku sedikit kurang bebas, kak fadil kalau lagi sakit kata oma pasti manja. Aku jadi teringat ceritanya oma tadi sore, oma banyak menceritakan tentang kak fadil, termasuk perihal manja saat sakit seperti sekarang ini.


" Kamu diatas aja mas, sebelahan sama si kakak" Ucapku pada kak fadil setelah kami di kamar fiona


" Di bawah saja lah re" Tolak kak fadil


Karena oma nempati kamar kami, alhasil aku dan kak fadil mengungsi ke kamarnya fiona. Kak fadil meminta aku tidur berdua di kasur sama fiona, sedangkan dia tidur dibawah pakai karpet bulu yang lumayan tebal gitu. Sebenarnya cukup untuk kami tidur bertiga,hanya saja kak fadil tak mau. Takut sempit katanya. Padahal sudah pernah tidur bertiga gitu di ranjangnya fiona, aman aman saja sampai pagi.


Aku juga udah ikut mencari posisi duduk di bawah, merapikan selimut kak fadil. Tadi kak fadil sudah sempat mandi dan ganti baju yang lebih santai buat di pakai tidur. Jadi sudah wangi, enak deh di peluk.


" Mau minum obat mas?" Tawarku pada kak fadil yang sekarang sudah berbaring dan meletakkan kepalanya di pahaku. Sekarang pahaku sudah berubah profesi jadi sebuah bantal. Padahal sudah aku sediakan bantal, tetap saja paha ku yang dipilih. Alamat pegal deh nih


" Bentar lagi juga sembuh ini re" Katanya dengan mata yang sudah tertutup


Aku memijat kepalanya pelan. Berharap bisa mengurangi rasa pusing di kepalanya. Sedih melihat kak fadil yang biasanya aktif luar biasa, tapi sekarang tepar gini.


Aku melihat nafas kak fadil sudah teratur. Berarti dia sudah tidur. Aku bersyukur. siapa tahu, setelah tidur pusingnya bisa hilang


Aku juga sudah mengantuk sekarang, tapi kalau aku pindahin kepalanya kak fadil dari pahaku, takut dia terusik tidurnya dan bangun.


Beruntung aku duduk dekat ranjangnya si kakak, jadi aku bisa menyandar disitu, bisa mengistirahatkan diri sejenak


Rasanya aku sudah cukup lama tidur dalam keadaan duduk. Badanku rasanya pegal, aku terusik saat mendengar suara seperti orang menggigil. Aku melihat ke arah kak fadil yang sudah tidak berada dipahaku. Benar saja, suara menggiggil itu dari kak fadil yang sudah membungkus dirinya rapat dengan selimut tebal

__ADS_1


Ku pegang dahinya, benar saja dia demam. Badannya panas banget


Aku pergi ke dapur, suasana rumah masih sangat sunyi. bagaimana tidak, sekarang saja masih jam tiga pagi. Enak enaknya tidur narik selimut


Ku ambil air hangat, dan kain untuk kompresan kak fadil. sama air putih hangat juga tak lupa untuk minum si tuan fadil


" Mas, Tidurnya jangan miring. Biar rere kompresin" Ucapku memanggil kak fadil


Kak fadil menurutiku diperbaiki posisi tidurnya menjadi telentang. Ku tempelkan kain yang sudah ku basahi tadi di keningnya kak fadil. Mudah mudahan panasnya bisa berkurang


Aku tak tega melihat kak fadil sekarang, terbaring lemah begini, ditambah bibirnya pucat pula. Tanpa sadar air mataku sufah turun saja


Kak fadil yang memang daritadi belum memejamkan matanya, keheranan melihat aku menangis


" Kenapa?" Tanyanya lemah


Aku menggelengkan kepalaku, tapi air mataku makin deras turunnya


Kak fadil mengambil tanganku lalu diciumnya. sampai Aku saja terasa panasnya " Kenapa sayang?, Cerita sama aku" Tanya nya sekali lagi


" Hiks..aku tak tega melihat kamu sakit gini hiks" Isak ku


Kak fadil malah terkekeh melihat aku yang menangis " Aku udah sehat kok. Bentar lagi juga sembuh, kan dirawat sama kamu" Kan, aku jadi baper. Dalam keadaan sakit saja masih sempat menggombal.


" Sudah diam ah. Ingat sama Perut yang bentar lagu mau meletus" ejek kak fadil


memangnya kenapa dengan perutku, yang buat jadi besar begini juga karena ulahnya dia.


Aku masih diam, sesekali menghapus air mataku yang masih menetes. Ingatkan aku nanti kalau aku pernah secengeng ini, menangisi suami tengil yang sedang sakit. Tapi sepertinya yang menangis ini bukan aku, jagoan si ayah pasti, yang sedih melihat ayahnya sakit lemah tidak berdaya tapi masih bisa menggombal begitu.


" Tidur sini re. Kamu daritadi belum ada istirahatkan" Kak fadil mengisyaratkan aku untuk tidur disebelahnya, yang masih ada tempat kosong, dan satu bantal menganggur.


Aku yang memang sudah capek langsung saja merebahkan diri disebelah kak fadil. Tadi sudah sempat ganti kompresnya kak fadil dulu.


" Jangan sakit sakit lagi ayah" Lirihku sambil memiringkan kepalaku menatap kearahnya.


Kak fadil tersenyum manis " Kalau kamu jadi manis gini pas aku sakit, sepertinya aku mau deh Re sakit tiap hari" Katanya tanpa dosa

__ADS_1


Aku membulatkan mataku tak percaya. istrinya mati matian panik karena suaminya sakit, dia malah ketagihan buat sakit. Kan patut di pertanyakan kewarasan jiwa otak dan raganya


Aku jadi malas kalau sudah begini, kalau sudah jago buat naik darah orang, berarti sudah mulai sembuh. Aku memilih tidur bentar, ada 2 jam lagi sebelum subuh. Lumayan


__ADS_2