Wedding Story

Wedding Story
Enam Puluh Empat ( Drama fiona )


__ADS_3

Drama pagi ini dibintang utamai oleh fiona yang nolak buat pergi ke sekolah karena mau ikut jemput oma buyut ke bandara. Permasalahan ini sih udah dari tadi malam, ini semua gara gara kak fadil sih. Kalo aja nggak ngeiyain kemauan fiona, nggak bakal ada drama pagi ini.


Padahal oma diperkirakan tiba di bandara nanti agak siangan. Fiona masih sempet kalo sekolah dulu. Anak sd kelas 1 kan biasa ya pulangnya lebih awal. Tapi tetap aja tuh anak gadis ku nggak mau ke sekolah.


" Bund.. kakak nggak mau kesekolah " Rengek fiona. Sekarang udah nangis karena dimarahi ayahnya. Nggak dimarahin gimana gimana sih, tapi fiona kalo ayahnya ngomong kalimatnya agak tinggi sikit langsung deh banjir air mata. Coba kalo aku yang marah, sampe pita suara aku mau putus juga nggak ada takut takutnya tuh anak.


Aku yang lagi sibuk ngerapihin rambutnya cuma bisa geleng kepala. Tadi aja waktu ayahnya ada langsung manggut manggut tuh kepala nggak berani ngebantah. Ujung ujungnya aku yang direngekin gini.


" Yaudah sana kakak bilang sama ayah" kataku


" Ayah sihh.. hiks kan kakak kangen oma buyut" isak fiona pelan.


Aku sebenarnya udah nggak tega liat fiona yang udah nangis sesenggukan kayak gini. Tapi aku harus gimana ayah sama anak sama sama batu soalnya, keras kepala. Memang cocok jadi sedarah. Sifatnya mirip pakek banget.


" Kak, dengerin bunda. Katanya mau jadi dokter biar bisa ngobatin semua orang yang sakit. Kalo mau jadi dokter itu harus rajin belajar sama sekolah tau kak" jelasku sambil menyelesaikan aktivitasku yang lagi ngepangin rambut fiona.


" nah, udah selesai. Pake bedak gih kak" titahku


Fiona berjalan lesu ke meja rias yang memang ada di kamar ini. Dipakainya bedak bayi itu secara asal, sampe cemong cemong gitu. Kan gemesshh.


" Udah siap belum sih kak, udah ayah tungguin di bawah dari tadi " Atensi ku dari fiona yang cemong tergantingan dengan kedatangan kak fadil dengan muka datarnya.


Fiona yang memang masih takut dimarahi ayahnya cuma bisa nunduk. Yakin sih aku lagi nahan air mata.


Terkadang aku heran. Anak anak manja gitu karena ulah kak fadil juga, yang terus terusan mau nurutin kemauan anaknya sesukanya. Tapi sekali anaknya minta kayak gini, maksakan kehendaknya baru deh dia emosi.


" Nggak usah drama lagi lah kak. Ayah capek bujukin kamu dari tadi. Ditungguin nggak selesai selesai" ucap kak fadil dengan penuh penekanan.


" Apa sih mas, udahan lah marah marahnya. Orang anaknya mau sekolah kok" kuhampiri fiona yang badannya udah bergetar. Nahkan pasti udah nangis.


" Belain aja terus anak kalo dimarahin. Lanjutin terus ngebantah suami depan anak" mataku membulat nggak percaya. Kenapa aku juga kenak semprot nih bapak bapak dipagi hari yang cerah ini.


Aku nggak menghiraukan omongan manusia suka marah nggak jelas itu, aku lebih fokus sama anak cantik ku ini " Kakak.. jangan nangis ya sayang" bujuk ku.


Fiona cuma diam. Yang membuat emosi kak fadil terangkat sampai level teratas terlihat dari ekspresi wajahnya.


" Mau sekolah apa nggak. Kalo nggak mau yaudah, berhenti aja sekalian!!"


" Ayah kenapa hiks marahin kakak terus..aa..yah nggak sayang sama kakak. Kenapa hiks.. kakak terus yang dimarah marahin.. adek nggak pernah" akhirnya fiona angkat suara. Ini yang kutakutkan. Fiona itu udah besar. Udah tau kalo kasih sayang buat dia dibagi. Ini yang sering ku wanti wanti sama kak fadil. Jangan sampai ada perbedaan kasih sayang.

__ADS_1


Tatapan kemarahan kak fadil semakin terpancar mendengar perkataan fiona. Aku nggak bisa ngebiarin posisi ini terus kayak gini " Kakak kok ngomong gitu sih sayang, kamu sama adek sama sama disayang kok nak"


Fiona menggeleng ditatapnya kak fadil dengan tatapan yang, ntahlah akupun sulit untuk mengartikannya " Apa karena mama kakak nggak ada di sini, sedangkan bundanya fayyadh ada disini, iya kan yah?"


"Urus anak kamu re, ngomongnya udah ketinggian. Capek aku" kak fadil pergi dengan keadaan emosi, lagi lagi pintu yang menjadi luapan emosinya.


Fiona udah berlari ke tempat tidur. Meringkuk diranjang dengan bahu yang bergetar. Sakit sekali rasanya melihat fiona lemah kayak gini.


" Kakak, udahan dong nangis nya, nanti matanya bengkak loh sayang" bujukan pertama sama sekali nggak dihiraukan. Area kepalanya yang berkeringat karena menangis ku usap lembut berusaha menenangkan fiona dari tangisannya.


" Emang bunda nggak bundanya kakak juga ya. Padahal bunda ini bundanya kakak sama adek. Bunda sayang sama kakak sama adek juga. Kasih sayang bunda kurang ya nak?"


" Ayah jahat hiks..ayah nggak sayang sama kakak" akhirnya sura lirih fiona terdengar juga.


" Hussyyy, udah cup cup, anak gadisnya bunda nggak boleh nangis ihh, sini bunda peluk"


Dengan sangat cepat fiona udah beralih memelukku erat. Menumpahkan segala kesedihannya " Bunda sayang kakak kan?"


" Sayang dong, masa enggak" jawabku jujur.


Akhirnya fiona hari ini bolos sekolah. Gimana mau sekolah udah terlanjur kesiangan. Karena kelelahan menangis, sekarang fiona udah tertidur di ranjangnya. Setelah memastikan fiona nggak terusik lagi, aku keluar dari kamarnya mau liat fayyadh yang tadi aku titipin sama mbak mirna, karena mau bujukin fiona.


" Kayaknya belum deh bu. Belum keliatan soalnya dari tadi"


Aku mengangguk. Fayyadh yang dari tadi udah nggak tenang di pangkuan mbak mirna karena udah ngeliat aku sumber nutrisinya langsung heboh minta digendong.


" Yaudah mbak, rere ke kamar dulu ya. Mau liat mas fadil."


Mbak mirna mengangguk " makasih udah jagain fayyadh mbak " kataku sebelum beranjak dari teras.


Tebakanku perihal keberadaan kak fadil tepat sasaran. Begitu aku masuk kamar, terlihat kak fadil yang duduk bersandar diranjang sambil mijitin pangkal hidungnya. Pusing?.


" Aku kira kamu udah ke kantor mas" kataku membuka suara. Sebenarnya aku takut salah bicara, bisa bisa aku kena semprot juga.


Kak fadil nggak menjawab apa apa. Dia malah mengambil alih fayyadh yang dari tadi ngoceh ngoceh nggak jelas.


" Kamu udah sarapan?" Tanyaku pada kak fadil yang udah tiduran dengan bantalan pahaku. Sedangkan fayyadh di letakan di atas perutnya. Girang girang tuh anak ganteng bisa main sama ayahnya.


" aku ambilin mau?" Tawarku

__ADS_1


Kak fadil menggeleng " Nggak usah. Kamu disini aja" titahnya


Aku mengangguk patuh. Ku usap lembut rambut suamiku yang sudah sedikit lebih panjang dari biasanya " Jangan terlalu keras sama fiona mas"


" Di kerasin aja dia ngelunjak re. Apalagi dilembekin"


Aku membuang nafasku berat. Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat buat ngasih siraman rohani ke kak fadil. Benih benih kemarahan masih tersimpan.


" Pusing aku re" adu kak fadil.


Aku cuma tersenyum aja. Baru bentar aja ngadepin anak udah stres gitu. Lah aku hampir 24 jam ngadepin anak anak tiap hari. Nggak mikir nih bapak bapak.


" Nah itu mas, 2 aja udah pusing kan. Masih ada niatan mau nambah lagi?"


" Masih dong. Kasian fayyadh kalo nggak punya adek" Potong kak fadil cepat. Dasar bapak bapak mesum.


****


Suasana rumah sekarang lagi rame, karena kedatangan oma. Tadi sekitar jam 12 siang, kak fadil udah jemput oma ke bandara. Dan jangan lupakan siapa fartner kak fadil ke bandara, siapa lagi kalo bukan fiona. Dua manusia keras kepala berbeda generasi itu tadi udah baikan. Karena kak fadil yang ngalah buat bujukin fiona yang ngurung diri dikamar terus. Udah kayak remaja putus cinta bukan sih, anak perempuan ku itu.


Oma sekarang milih tidur di kamar mama. Kebetulan papa lagi nggak disini, jadi oma milih kamar mama. Ingatkan dulu waktu oma pertama kali datang kami harus ngungsi ke kamar fiona karena oma nggak mau tidur kalo kasurnya sempit. Jadi, ya akhirnya kami yang ngalah.


"Renata, kamu nggak ada niatan buat homeschooling?" Tanya oma yang dari tadi merhatiin aku ngasi makan fayyadh pake bubur.


" Enggak deh oma. Rere udah nyaman sama posisi rere yang sekarang" lagian udah kelamaan kalo mau homeschooling. Teman seangkatanku aja udah pada lulus.


" Kamu nggak takut fadil berpaling sama perempuan lain yang berpendidikan tinggi diluaran sana. Fadil banyakan lakuin aktivitas diluar"


Ucapan oma membuat aktifitasku menyuapi fayyadh jadi terhenti. Kenapa aku mendadak khawatir dengan ucapan oma. Tapi aku mencoba untuk tetap berpikiran positif.


" Selama rere masih melaksanakan kewajiban rere dengan baik dan melayani mas fadil, insya allah mas fadil nggak akan berpaling oma" kataku yakin.


" Tapi, kalo misalnya mas fadil tergoda sama wanita lain, rere akan mencoba menerimanya oma" Lanjutu dengan menampilkan senyuman tulusku.


" Oma minta satu hal boleh nak?" Tanya oma


Aku mengangguk sambil menatap oma " kalo rere bisa menuhin, insya allah rere beri oma"


" Jangan tinggalin fadil apapun permasalahan kalian nanti"

__ADS_1


Aku terdiam sejenak. Kenapa oma ngomong kayak gitu ke aku. Tapi aku tetap menganggukkan kepalaku, lagian seorang istri itu juga harus mempertahankan pernikahannya bukan. Itu yang akan aku perjuangkan nanti. Masih ada 2 malaikat yang jadi alasanku untuk tetap bertahan. Dua belahan jiwaku. Fiona dan fayyadh.


__ADS_2