
Dari pukul empat pagi tadi, aku udah berapa kali bolak balik ke kamar mandi, untuk memuntahkan isi perut yang nyatanya keluar hanya sebatas cairan. Kekhawatiranku ternyata terjadi juga. Apa yang nana bilang kemarin sekarang terjadi, setelah melakukan tes tadi, hasilnya adalah dua garis. Yang artinya positif, aku kembali mengandung sekarang.
Aku nggak memungkiri, kalo janin yang sekarang ku kandung belum ku inginkan sebenarnya. Tapi dia udah tumbuh, yang artinya Allah mempercayai aku satu makhluk lagi untuk dirawat dan di besarkan.
Sekarang udah pukul 8 pagi, tapi aku masih terbaring lemah di kasur berlapis dora emon milik fiona. Suara anak anak dan ayahnya sama sekali belum terdengar olehku daritadi. Memang hari ini adalah hari minggu yang artinya fiona libur ke sekolah dan kak fadil juga libur hari ini.
" Ya ampun, rumah masih berantakan jam segini"
Samar samar ku dengar suara dari luar kamar. Yang ku yakini itu adalah suara mama. Pagi pagi begini udah berkunjung, tumben sekali.
Aku mencoba memaksakan diriku untuk bangkit keluar kamar untuk menemui mama mertuaku
" istri kamu mana sih fadil. Jam segini sarapan belum ada, rumah masih berserakan, anak belum di mandiin. Nggak becus jadi istri"
Aku tertohok mendengar omelan mama yang udah duduk di ruang tamu bersama dengan kedua anak ku dan kak fadil. Ternyata baru pulang lari pagi, terlihat dari pakaian olahraga yang dikenakan kak fadil dan fiona. Fayyadh juga pasti di bawa, mana mau ketinggalan dia
" Maa" Sapaku lemah berusaha seramah mungkin, setelah ikut bergabung dengan mereka
" Jam segini baru bangun. Pantesan belum siapan. Nggak bisa ngurus anak suami sendiri, tapi belaga mau pisah rumah dari orang tua, nolak fasilitas dari orang tua pula"
Sakit sekali omongan yang mama lontarkan, ditambah nggak ada pembelaan dari suami sendiri. Aku tau kak fadil pasti tau aku yang muntah muntah subuh tadi, dia juga tau kalo aku lagi nggak baik baik sekarang. Kenapa kehadiran janin yang ku kandung sekarang tumbuh di saat orang tuanya lagi nggak baik baik aja.
" Maafin rere ma. Yaudah rere masak buat sarapan dulu ya"
" Nggak perlu. Anak anak kamu udah sarapan bubur di luar"
Aku sontak mengurungkan niatku yang tadi hendak memaksakan diri untuk memasak buat sarapan. Aku tau ini salahku. Tapi ini bukan keinginanku, biasanya juga jam segini makanan buat sarapan udah tertata rapi di atas meja. Rumah udah rapi. Tapi karena hari ini kondisi badan nggak mendukung jadi kerjaan rumah terbengkalai, tapi di mata mama aku pasti tiap hari melalaikan kerjaan seperti sekarang.
" Cucu oma sayang, mandi gih. Katanya mau ke rumah oma kan?" Kata mama lembut kepada fiona
Fiona lantas berdiri meninggalkan kami dalam diam hanya ada celotehan fayyadh yang ada di pangkuan omanya. Setidaknya aku lega mama nggak ikutan benci sama fayyadh, karena benci sama bundanya.
" Bunda, kakak mandi duluuu" Ucap fiona semangat ke arahku
" Susunin baju baju nya fayyadh. Mama mau bawa fayyadh nginap di rumah"
Aku kaget mendengar penuturan mama. Bagaimana bisa mama bawa fayyadh yang notabennya masih menyusu " Nanti fayyadh ngerepotin mama kalo rewel ma" Tolak ku secara halus.
" Kamu pompa asi kamu, buat mama bawa ke rumah. Buat fayyadh kalo lagi haus. Harusnya kamu bersyukur mama bawa fayyadh, kamu bisa berleha leha di rumah nggak ada yang ganggu"
__ADS_1
Aku nggak bisa lagi beralasan. Gimanapun juga fayyadh itu cucunya mama, aku nggak bisa melarang omanya bawa cucunya sendiri.
Mama pergi ke kamar dengan membawa fayyadh buat di mandiin. Fiona udah siap buat pergi ke rumah omanya. Dia keliatan sangat antusias.
" Mas, rere mau ngomong sebentar bisa?" Lirihku memohon kepada kak fadil. sekarang kami lagi berdua di ruang tamu.
Kak fadil beranjak berdiri saat aku duduk sedikit dekat dengannya " Aku mau mandi. Mau nganterin mama sama anak anak pulang."
Aku terdiam saat kak fadil udah melenggang pergi ke kamar. Sakit banget rasanya di acuhkan ya Tuhan.
Aku berjalan gontai kek kamar, buat nyiapin pakaian kak fadil, buat di pakai setelah mandi.
Kak fadil keluar dari kamar dengan keadaan yang lebih segar, dan mengambil pakaian yang udah aku siapin di atas ranjang.
" Mas, rere mau ngomong. dengerin bentar ya" Pintaku lemah.
" Kamu nggak ngerti ada mama sekarang. Nggak usah ngajak berdebat re!" Bentak kak fadil
Aku tersentak mendengar bentakan kak fadil yang pelan tapi sungguh menohok hati
" Istirahat kalo sakit. Nggak usah dipaksain" Ketus kak fadil melihat aku yang daritadi liatin kak fadil nggak mau lepas setelah adegan membentaknya
" Ayah, kakak sama adek udah siap"
Ucapan ku terpotong karena teriakan fiona dari luar sana.
" Aku mau pergi " Kata kak fadil dan keluar dari kamar meninggalkan ku yang udah terduduk lemah di atas ranjang
" Istri kamu mana"
" Rere lagi nggak enak badan ma"
" Alasan dia aja buat malas malasan di rumah, nggak ada sopannya sama mertua. Mertua mau pulang bukannya di anterin atau apalah sekedar basa basi"
Aku mendengar semua ucapan sadis dari mama mengenai aku. Tak apa, Toh aku harus membiasakan diri dengan ucapan pedas dari mama.
" Nanti kita beri tau ayah tentang kehadiran kamu ya nak. Sehat sehat di perut bunda" Lirihku sambil mengusap lembut perutku.
****
__ADS_1
Keringat bercucur membasahi bajuku. aku masih berada di tempat tidur. Ternyata aku mimpi buruk yang terasa sangat nyata.
Aku mengusap sisah air mataku yang masih mengalir karena efek mimpi itu masih terasa sampai sekarang
Dengan tangan bergetar aku meraih benda pipih panjang yang ada di meja dekat ranjang buat nelpon kak fadil. nggak tau kenapa aku sekarang merasa ketakutan berlebih.
Beberapa kali panggilan nggak terhubung, dan akhirnya di panggilan ke 10 panggilannya terhubung.
" *Halo mas"
" Kenapa, aku lagi di jalan. lagi nyetir ini jangan di telponin*" Ketus kak fadil dari ujung panggilan sana
" Mas, kamu pulang ya hiks, rere takut di rumah sekarang" Isak ku yang merasakan ketakutanku semakin menjadi jadi sekarang
" *Nggak usah manja deh re. Aku masih ada tugas kantor yang mau di selesain sekarang"
" Tapi mas, rere taku-"
" Udah ya. Aku matiin*"
Kak fadil memotong ucapanku dan memutuskan panggilannya sepihak
Ntah pirasat apa yang sekarang ku rasakan, tapi nggak tau kenapa aku merasa takut di rumah sendirian sekarang, apa karena masih terbawa mimpi aku juga nggak tau.
Aku menyandarkan badanku di kepala ranjang Meratapi nasib ku di dalam kesunyian seperti sekarang. Kalo di kasih pilihan, aku mau kembali ke jaman jaman aku menjadi putri kecil ayah dan ibuku. Bukannya aku menyesali nikmat yang udah aku dapatkan sekarang, tapi rasanya aku nggak sanggup kalo lagi di berikan cobaan kayak sekarang.
" Asap darimana?" monolog ku saat melihat asap dari sela sela pintu kamar.
Aku berjalan gontai keluar kamar buat memastikan darimana asal asap yang ku lihat itu. Begitu sampai di luar kamar, betapa terkejutnya aku melihat ruang tamu yang udah di penuhi api dan asap.
Aku berusaha buat keluar tapi sekarang aku udah di kepung api.
" Tolonggg" Teriak ku mencoba meminta pertolongan
Sekarang rasanya aku udah sulit untuk bernafas. Dadaku rasanya sesak " Kamu yang kuat ya sayang" Lirihku mengusap perut datarku
" Tolonghhh, mas fadil tolonghh rerehh" Lirihku terbata bata
Setelah terlalu lama terkepung asap, rasanya aku udah nggak kuat lagi. Karena nggak ada pasokan udara lagi, akhirnya aku tumbang dan kehilangan kesadaran. Dan detik selanjutnya aku udah nggak tau apa lagi yang terjadi.
__ADS_1