Wedding Story

Wedding Story
Dua puluh satu ( Tumbuh? )


__ADS_3

" Re, mau kemana?" Tanya kak fadil dingin


Aku yang hendak berlalu meninggalKan meja makan, setelah menyiapkan sarapan untuk kak fadil pun mengurungkan niatku


" Mau melihat fiona" Jawabku sekenanya


Aku tidak sanggup kalau harus lama lama berhadapan dengannya. Bayangan dia bersama fania terus berputar diotakku kalau melihat wajahnya


Aku tak bisa lagi mendeskripsikan bagaimana bentuk dari hatiku sekarang. Kemarin kak fadil datang membawa fania kerumah untuk bertemu fiona.


Betapa terkejutnya aku, begitu melihat kak fadil pulang bersama seorang wanita. Wanita yang pernah mengisi hatinya, atau mungkin sampai sekarang


" Kamu menghindar dari aku semenjak fania datang kesini"


Aku masih diam tanpa kata. istri mana sih yang tidak sakit diperlakukan seperti yang dilakukan kak fadil terhadapku


" Aku sama fania cuma kebetulan satu kampus makanya bisa ketemu" Jelas kak fadil


Ternyata sekampus dengan pujaan hati, pantas saja selalu betah ke kampus dan pulang selalu larut malan


" Rere ke kamar dulu."


" Re, berhenti!!!" Baru saja aku ingin melangkah namun tertahan oleh suara kak fadil yang meninggi


Aku mengusap pipiku yang sudah dialiri air mata.


" Mau kamu sebenarnya apa ha?" Kak fadil berdiri mendekatiku


" Jawab!!!" Teriak kak fadil lagi karena tak ada jawaban dariku


Pertama kali dalam pernikahan kami kak fadil membentak ku. sakit rasanya dibentak orang yang kita sayang


"Kamu nanya mau aku apa iya?."


" Aku mau kamu jauhi fania, aku tidak suka dia dekat deket sama kamu" tidak ada bentakan dikalimatku. Hanya sekedar nada berharap


" Tidak bisa" jawab kak fadil dengan cepat


Aku tersenyum mendengar jawaban kak fadil " Aku iri, fania bisa miliki cinta kamu seutuhnya, walaupun dia sudah menyakiti kamu. Wajar tidak sih kalau aku cemburu sama fania mas?".


" cinta tidak bisa dipaksa " Kak fadil pergi meninggalkan ku setelah mengatakan itu


Sampai kapan aku harus bertahan. Tidak ada lagi alasan ku untuk bertahan kecuali fiona. Mama kak fadil, belakangan ini sikapnya cuek dan dingin padaku. 2 hari yang lalu berkunjung, sikapnya aneh, mama tidak ada berbicara sepatah katapun. Apa lagi cobaan dalam rumah tanggaku ini


Aku memijat pangkal hidungku. kepalaku rasanya pusing. Tapi aku harus sekolah, bolosku sudah terlalu banyak.


" Mbak mir, rere berangkat sekolah dulu ya" Pamitku pada mbak mirna yang sedang beberes


" bu, muka ibu pucat. ibu sakit?" Tanya mbak mirna yang menghampiriku

__ADS_1


Aku tersenyum. kerja disini belum lama, tapi mbak mirna sudah begitu perhatian padaku " Cuma pusing sedikit mbak"


" Ibu berangkat sama bapak?" Tanya mbak mirna sambil celingak celinguk mencari keberadaan kak fadil


" Tidak mbak, mas fadil sudah berangkat. ada kerjaan mendadak sepertinya" jawabku berbohong. mbak mirna memang tidak tahu pertengkaran kami tadi. karena mbak mirna belum datang.


" Hati hati toh bu"


" Iya mbak. titip fiona ya mbak" Ku raih tas ranselku yang ada di kursi meja makan. dan berlalu keluar rumah mencari angkutan umum.


****


Tidak pernah sejarahnya aku segelisah ini menunggu guru untuk keluar dan mengakhiri pelajaran. Tapi kali ini, aku sangat berharap bu riska cepat cepat mengakhiri pembelajarannya


" Re, kamu kenapa sih gelisah gitu dari tadi?" Tanya nana yang mungkin sudah melihat kegelisahanku dari tadi


" Kepala Aku pusing na. Perut juga mual dari tadi" Aduku ke nana


" Re, asli kamu pucet. di rumah sarapan belum sih lo?" Tanya nana berbisik. Takut di dengar bu riska


Aku menggelengkan kepalaku. Tadi pagi aku memang belum sarapan, karena perdebatan dengan kak fadil, dan ditambah aku tidak memiliki nafsu sama sekali untuk makan


" Cari penyakit deh"


nana mengacungkan tangannya ke atas" Bu"


Bu riska yang sedang menerangkan pun menghentikan kegiatannya sejenak " Iya, ada apa Nana?"


Bu riska yang semula menatap nana, beralih kesamping dan mandangku. jangan lupakan juga tatapan sekelas yang sekarang tertuju padaku


" Iya, silahkan" Bu riska mengijinkan nana untuk membawaku ke UKS. mungkin dia yakin karena sudah melihat wajahku yang pucat


" Kamu tunggu disini. Aku mau beli roti dulu ke kantin" ucap nana saat kami sudah di UKS


Aku melarangnya. karena percuma di beli, ujung ujungnya pasti nggak aku makan.


" Kamu sebenarnya ada masalah apa sih re" Tanya nana kesekian kalinya. Tatapannya begitu tajam kepadaku


" Hikss. jangan natap aku begitu. Aku takut" isak ku. ntah kenapa aku jadi cengeng begini. Melihat tatapan nana membuat aku takut


" Ya ampun re. kenapa lagi sih. jangan nangis lah" Nana sudah kebingungan menenangkanku yang masih terisak


" Cerita sama Aku. kalau kamu ada masalah sama suami kulkasmu itu" Tutur nana sambil memegang tanganku


Tidak mungkin aku menceritakan semuanya ke nana. Aku yakin Nana tidak akan tinggal diam kalau aku menceritakan yang sebenarnya padanya


" Tidak ada masalah apa apa na" Bohongku


" Mana mungkin lahh, Kam tid.."

__ADS_1


Aku berlari menuju kamarmandi UKS, meninggalkan nana yang belum siap bicara


Huekk...hueekkk


Rasa bergejolak di perutku makin lama makin menjadi jadi. tapi tak ada yang keluar selain cairan bening


" Re, mau muntah lagi" Nana datang dan mengurut tengkuk ku


Aku menggeleng. Sekarang tubuhku rasanya sangat lemas. " Na, bantu aku jalan. Aku rasanya tidak kuat sendiri" pintaku pada nana


Nana membantuku untuk kembali berbaring di brankar uks " Minum dulu nih" Nana menyodorkan teh hangat yang diberikan petugas UKS tadi


Aku menerimanya. tidak ada perubahan sedikitpun setelah aku meminum teh hangatnya


Kupejamkan mataku berharap rasa mualnya bisa berkurang. Karena sungguh rasanya sangat menyiksa


" Re, jangan jangan lo hamil deh"


aku sontak membuka mataku setelah mendengar ucapan nana


Pikiranku jadi kembali teringat kejadian 1 bulan yang lalu. Apakah ada hasil dari peristiwa malam itu. Pikiranku jadi kacau, secepat itu kah. Tapi, apa mungkin ini balasan dari doa doa ku. Apa mungkin kak fadil bisa membuka hatinya kalau ada anaknya yang tumbuh dirahimku


" Mana mungkin lah Na."


" Tanda tanda yang terjadi sama kamu itu persis kaya tanda tanda wanifa yang sedang hamil di novel novel yang sering kubaca" Ucap nana begitu yakin


Aku meliriknya nggak percaya " Sejak kapan kamu hobi baca novel?"


Nana cengir cengir menjijikkan " ya, sejak itu lah pokoknya" ucapnya disusul dengan gelak tawa


" Nanti kita ke dokter aku temenin" lanjut nana setelah menghentikan tawanya, yang menurutku tidak lucu sama sekali


" Mana bisa aku ninggalin fiona kelamaan " ucapku sambil duduk dari tidurku


Nana memutar bolanya malas" Biar jelas re, dia ada atau tidak disini" Ucap nana sambil menyentuh perutku.


Aku tersentuh saat nana memegang perutku. seakan akan memang ada kehidupan disitu


" Yasudah, karena Renata yang cantik sekali ini tidak mau meninggalkan anak kesayangannga itu lama lama. Nanti sebelum pulang kerumah, kita singgah ke apotek beli testpack" saran nana


Aku sedikit tidak setuju, apa kata orang nanti siswa SMA beli testpack. Tapi bukan nana namanya kalau tidak memiliki seribu satu cara.


" tenang saja re, serahin semuanya sama Nana yang cantik ini" Ucapnya pd dengan menaik naikkan sebelah alisnya


" mudah mudahan positif deh ya. biar aku punya ponakan" ucap nana antusias


Aku memutar mataku malas " Fioana tidak kamu anggap keponakan?"


" Ya bedalah. Tapi fiona tetep ponakan aku kok" ucapnya beralasan

__ADS_1


Aku mengusap perut rataku, apa benar dia tumbuh dirahimku. Aku masih tidak percaya. Kalaupun dia memang tumbuh, aku harus senang atau sedih. ntahlah


__ADS_2