Wedding Story

Wedding Story
Tiga Puluh Satu ( Mengambil Hati Oma)


__ADS_3

" Bu, itu yang diruang tengah siapa?" Tanya mbak mirna padaku. Aku sedanf membuat teh untuk oma sekarang


" Ohh itu omanya mas fadil mbak" Sahutku


Mbak mirna manggut manggut " Saya kok tida pernah melihat sebelumnya ya bu?"


Aku terkekeh " Jangankan mbak, saya saja baru tahu kalau mas fadil masih ada oma" Terangku


Ku aduk dua gelas teh untuk oma dan kak fadil " Mbak, tolong bawakan ini kedepan bisa?"


" Bisa dong bu" Kata mbak mirna sambil membawa nampan berisi dua gelas teh


Ku ambil satu satu teh yang dibawa mbak mirna dan meletakkannya dimeja depan oma. sedikit susah sih mau nunduk ada perut yang kayak gunung mau meletus


" Istri jaman sekarang emang pada manja. Buat teh saja minta tolong ART " Sindir oma yang membuat aku langsung menunduk


" Bu, saya pamit kebelakang lagi ya" Pamit mbak mirna pelan padaku.


Sedangkan aku masih tetap berdiri ditempat ku semula. Menunggu aba aba dari oma. Nanti kalau aku pergi dari situ takut salah, mau ikut duduk juga takut dibilang tak sopan. Jadi yang benar tetap diri


" Memangnya kamu tidak sanggup mengurus suami, anak sama rumah sendiri?" Tanya oma mengintograsi


Ntah apa yang harus ku jawab. Dari awal kan memang aku tak pernah meminta ada ART di rumah. Tapi mama yang kekeh dirumah harus ada yang bantu bantu. Ya walaupun memang aku sangat membutuhkan mbak mirna apalagi di waktu kehamilanku seperti sekarang


" Kamu menikahi anak konglomerat yang tidak tahu cara megang sapu?" Kali ini oma bertanya pada kak fadil. Tapi hatiku sakit mendengar pertanyaan oma


" Oma, sudah ya. jangan marah marah dong. oma istirahat ya" ujar kak fadil berusaha mengalihkan topik


" Mama kamu tak becus cari menantu" Kata oma sarkas.


Aku tersenyum hambar. Tapi dalam hati ingin rasanya menangis menjerit. Sepertinya memang aku istri yang tidak becus.


" Fadil antar ke kamar fiona saja ya, biar oma istirahat dulu. " Kata kak fadil lagi


" Oma tidak mau di kamar fiona. Kasurnya sempit" Tolak oma


ya emang sih, ranjang fiona lumayan kecil, tapi kalau untuk tidur berdua masih bisa. pernah juga kami tidur bertiga disitu, cukup kok


" Tidur di kamar atas saja mas" tutur ku sedikit takut takut


Kak fadil menatap ku seolah bertanya kenapa, terus kamu tidur dimana


" Biar rere yang tidur di kamar si kakak"


" Jadi oma tidur dimana?, Pusing oma mendengarkan kalian terlalu lama berdiskusi" Kata oma seraya berdiri


" Di kamar atas oma. Ayo biar rere antar" Kataku. Tahap awal mengambil hati pikirku


Aku berjalan dibelakang oma, seharusnya aku yang di depan kan, atau biar lebih sopan setidaknya jalannya berdampingan gitu biar aku bisa nunjuk arahnya. memangnya oma tau kamarnya dimana. Ada ada saja tingkah oma


" Oma mau mandi dulu, atau mau langsung istirahat?" Tanyaku pada oma yang sudah mendudukkan dirinya diatas ranjang


" Mau langsung mandi aja !" Jawab oma ketus

__ADS_1


Aku tersenyum. Ku siapkan peralatan mandi yang baru. Kebetulan aku sering stok di rumah.


" Udah rere siapin peralatan mandinya oma" Ucapku memberi tahu. Dan Oma, seperti biasa diam tanpa suara


" Rere ke bawah dulu ya oma. Kalau oma butuh sesuatu panggil rere aja" Kataku pada oma


oma hanya berdeham dan meninggalkan ku menuju kamar mandi yang berada di sudut kanan kamar


Aku berjalan perlahan menuruni anak tanggak. sambil berjalan ku usap lembut perutku " Jagoannya bunda, anak kuat, bantuin bunda ngambil hati oma buyut kamu ya nak" Lirihku pada bayi di perutku. seolah mengerti dia menendang kecil di dalam. " Anak pintar bunda" Kataku


" Duduk dulu re" Panggil kak fadil saat aku berlalu melewatinya


Aku menghampiri kak fadil. Tadi emang aku tak melihatnya.


" Mau kemana lagi sih?, Duduk dulu" Perintahnya


Aku masih berdiri walaupun sebenarnya dalam hati mau duduk duduk bergelayutan manja sama ayahnya anak anak..Tapi keinginan itu aku tahan dulu. Ada misi yang harus ku selesaikan


" Rere mau ke dapur dulu mas, mau masak" Kataku


Kak fadil memijat pangkal hidungnya " Ngapain sih, kan sudah ada mbak mirna. Tidak perlu aneh lah" Katanya


Aku tersenyum heran. Memangnya masak termasuk kedalam kategori tindakan aneh?


" Aneh bagaimana sih mas. Cuma mau masak saja kan" Kataku


" Lagian kamu sendiri yang bilang, aku harus bisa mengambil hatinya oma kan. Ini aku lagi proses tau mas" Ucapku memberi tahu


" Ya tapi kan.."


" Mas.." panggilku pelan pada kak fadil


Kak fadil memandangku seolah bertanya ada apa


Aku menunjuk nunjuk perutku, tapi kak fadil tidak mengerti ngerti juga


" Iss, dedenya minta dicium " Kesalku


Kak fadil terkekeh " Ohh, mau minta cium saja bawa bawa nama anak" ejek kak fadil


Aku tersenyum bahagia saat kak fadil menunduk mencium perutku yang dibalut daster selutut " Bonus, bundanya sekalian" Kata kak fadil yang sudah berhasil mengambil kesempatan mencium pipi kiriku.


" Iss kesempatan dalam kesempitan kamu mas" ujarku sedikit kesal. Ya walaupun sebenarnya dalam hati aku senang, senang sekali. Dapat ciuman dari kak fadil. Tapi aku tak mau menunjukkan nya sama manusia mesum itu. Bisa besar kepala dia


" Rere ke dapur dulu ya mas" Pamitku pada kak fadil


" Hati hati re. Aku sebenarnya ngeri melihat kamu terlalu aktif seperti ini" Tegurnya


" Hitung hitung olahraga mas. Sudah ya rere ke dapur dulu" Kataku mengakhiri


Aku melangkah menuju dapur untuk memasak makan malam buat oma. Semoga oma suka


****

__ADS_1


Aku menghidangkan makanan yang ku masak di meja makan. Ku tata semuanya dengan rapi. Aku tersenyum bangga melihat hasil masakan ku, ya walaupun dibantu mbak mirna sedikit. Tapi percayalah urusan bumbunya aku sendiri yang menakarnya. Mudah mudahan pas di lidah oma


" Selamat malam oma" Sapaku pada oma yang baru saja tiba dengan fiona.


Oma hanya berdeham dan mengambil posisi di meja makan. Jantungku dag dig dug karena harus mengatasi oma sendiri. Karena kak fadil Selesai sholat maghrib langsung pergi ke kafe. Katanya ada laporan yang mau di cek.


" Oma mau makan pakai yang mana?" Tanyaku lembut sambil menyendokkan nasi ke piringnya


"Sudah cukup" Kata oma mengisyaratkan nasi yang ku sendok sudah cukup.


" Mau lauk apa oma?" Tanyaku sekali lagi


" Biar saya yang ambil" Ketusnya.


Disendoknya ikan dan sayuran yang kumasak tadi kepiringya, dan mencicipinya " Ini siapa yang masak?" Tanya oma, setelah berhasil mencicipinya


Jantungku memompa tiga kali lebih cepat. Tanganku Sudah keringat dingin " Rere oma" kataku takut takut


" Rasanya tidak enak ya oma. Biar rere ganti yang baru ya" Lanjutku seraya ingin berlalu kedapur


Oma memanggilku " Duduk" Perintah oma. Aku langsung duduk mengambil posisi di sebelah fiona


" Masakan kamu rasanya pas. Saya suka" Kata oma sambil tersenyum.


Aku hampir tak percaya. Itu tadi oma barusab tersenyum, atau mataku yang buram. Tapi sepertinya benar benar senyum . Berarti tahap yang ini bisa dikatakan berhasil dong aku ya.


Aku melupakan kebahagiaan ku sejenak dan beralih pada fiona yang piringnya masih kosong. Karena terlalu sibuk sama oma, aku jadi sedikit lupa sama anak cantikku


" Kakak mau makan pakai mana nak?" Tanyaku pada fiona


" Mau pakai ayam saja bund" Kata fiona


Aku mengambilkan nasi beserta ayam sesuai permintaan fiona. Serta tak lupa sayur bayam merah, walaupun dia tidak minta tetap saja harus di biasakan makan sayur


" Kakak jangan pakai sayur bund" Protes fiona


Sudah kuduga pasti akan di protes. Ya kemauan anak tidak semua harus di turuti kan?. " Sedikit saja kok kak. Nih kan cantik, nasi nya warna merah begini" Ucapku meyakinkan fiona biar mau makan sayur


Fiona menggelengkan kepalanya. Selalu ada drama memang kalau disuru makan pakai sayur " Anak pintar pasti mau makan sayur kan. Sini makannya sama bunda ayo" lagi, masih berusaha membujuk fiona


" Oma buyut, fiona tidak mau makan sayur" Mataku membulat saat fiona turun dari kursi dan mengadu pada omanya. Tamat riwayatku pikirku


" Harus makan sayur dong sayang, kan biar sehat " Diluar dugaan. Ternyata oma membelaku. aku bernafas lega mendengar ucapan oma


Aku mendekati fiona yang nempel sama oma " Tuh kak, kata oma buyut saja harus makan sayur. Nih aaakk" Ku arahkan sendok ke mulutnya. Fiona malah menutup mulutnya tanda penolakan


Benar benar menguji kesabaran. Kalau tak ada oma, mungkin aku pasti sudah hanpir hilang kesabaran ke kak fadil, bukan ke fiona sih hehe. Kalau marah ke fiona, aku takut dia jadi takut sama aku


" Atau mau bunda gendong makannya?" Tanyaku memberi penawaran


Fiona langsung mengangguk antusias.


Aku tersenyum. Baiklah tak papa, yang penting anak gemoy ku mau makan . " Tapi janji harus dihabisin ya?" Peringatku

__ADS_1


" Oke siap" Kata fiona mengacungkan jari jempolnya


Aku menggendong fiona sambil menyuapinya. Sedikit sulit memang, tapi tak apalah. Ku letakkan piring yang sudah ku siapkan untuk fiona tadi di atas meja, dan mulai menyuapinya makan sambil ku gendong. Terkadang aku prihatin sama fiona, sifat manjanya padaku itu mungkin efek dia belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Jadi, biarlah aku memanjakannya selagi aku masih mampu


__ADS_2