Wedding Story

Wedding Story
Empat Puluh Lima ( Tamu Tak di Undang)


__ADS_3

Pagi ini aku lagi riweh banget. Nyiapin adonan kue, belum lagi bantu fiona buat siap siap ke sekolah, di tambah bayi gantengku yang pagi ini sedikit rewel.


" Bunda.. Kotak bekal kakak udah?" Fiona menghampiriku yang lagi nuang nuangin tepung di dapur.


Aku menghela nafas. Kenapa bisa lupa kotak bekal fiona. Aku mencuci tanganku yang putih putih karena tepung dan beralih menyiapkan bekal fiona


" Adek kamu tinggal di kamar sendiri kak?" Tanyaku pada fiona sambil ngisi nasi goreng ke wadah pink kesukaan fiona.


Fiona menggeleng " Dede nya sama onty nana di luar"


Aku mengerutkan keningku. Kapan nana datang, lagian sepagi ini udah kelayapan ke rumah orang.


Aku memasukkan bekal fiona ke tas nya " Udah semua kak?" Tanyaku memastikan


" Udah bun"


Aku dan fiona berjalan ke luar rumah. Benar saja udah ada nana yang lagi gendongin fayyadh di teras mini rumah ibu ku ini.


" Pagi banget lo dateng na?"


Nana cengengesan mendengar pertanyaannku " Mau numpang makan gue re"


Aku memutar mataku malas " Di dalem ada nasi goreng, tadi barusan gue buat. Masih ada kalo lo mau"


"Nggak nolak gue re" sambarnya cepat


Aku tau sih, bukan itu niat kedatangannya ke sini pagi pagi. Tapi, dia udah janji ke fiona buat nganterin fiona ke sekolah hari ini. Dan aku beruntung sekali, jadi aku sedikit tertolong.


" Tapi..sebelum itu, gue mau nganterin ponakan gue yang udah sayantikk gini ke sekolahnya" lanjut nana sambil menyerahkan fayyadh ke gendonganku


" Let's go princess"


" Let's go onty" Jawab fiona cepat


" Kakak, nggak mau salim sama bunda dulu" Tegurku pada fiona yang udah mau pergi melenggang tanpa pamit dulu ke aku


Fiona berbalik badan dan senyum senyum gitu ke arah ku " Hehe, kakak lupa bund"


" Kakak sekolah dulu ya bund" Pamitnya dan meraih tanganku untuk diciumnya.


" Belajar yang bener ya kak, biar bisa jadi dokter"

__ADS_1


Fiona memang bercita cita mau jadi dokter, katanya dia mau ngobatin banyak orang yang sakit. alasannya karena dia bilang sakit itu nggak enak. Mulia banget kan anak sekecil itu udah punya niatan baik gitu. Dan aku akan berusaha semaksimal mungkin buat nganterin fiona sampai meraih cita citanya dan sekolah tinggi tinggi. Biar nggak kaya aku, SMA aja nggak lulus. Dulu pengen ngelanjutin home schooling setelah melahirkan, sesuai janjinya kak fadil. Tapi itu rasanya udah nggak akan terjadi lagi, lebih baik uang untuk aku home schooling di tabung buat biaya sekolah anak anak. Apa lagi kebahagiaan orang tua, selain melihat anak anak nya sukses.


" Siap bunda cantik" Fiona udah hormat ke arahku, kan lucu pengen cium pipinya. Tapi susah lagi gendong fayyadh


" Hati hati di jalan kakak" Ujarku menirukan suara anak kecil.


" Adek, jangan bandel ya sama bunda, tungguin kakak pulang, kita main boneka bareng"


Aku terkekeh ngeliat fiona yang sok sok an nasehatin adiknya belaga orang dewasa. Padahal dia juga masih suka bandel


" Titip anak gue na" Kataku sebelum mobil yang di kendarai nana menjauh meninggalkan rumah.


Aku masuk ke rumah setelah mobil nana udah nggak keliatan lagi " Apa sayang?, Mau nen ya. anak bunda haus?"


Fayyadh ketawa kegirangan karena ku ajak ngobrol. Kayak ngerti aja kalo bundanya ngomong apa.


Kupandangi fayyadh yang lagi nyusu dengan semangat. Aku bahagia dengan kehidupan ku sekarang, walaupun sebenarnya jujur capek banget, tapi aku menikmati semuanya.


Aku mendengar suara ketukan pintu dari luar, tumben nana pake acara ketuk pintu segala, biasanya langsung masuk masuk aja


" Kita liat onty nana dulu ya sayang, nanti lagi nen nya" Aku menghentikan kegiatan nyusu fayyadh. Dia sedikit marah kayaknya, karena udah diberhentiin sebelum kenyang.


Aku berjalan ke arah pintu sambil menggendong fayyad " Tumben lo ketuk pintu, biasanya lang-"


Aku langsung berbalik ingin menutup pintu, tapi dicegahnya " Tunggu dulu re, saya mau bicara" .


Aku mengurungkan niatku masuk ke dalam. kupandangi fania, dari mulai dari bawah, dan aku tertegun melihat perutnya yang sedikit membuncit. Berarti dia beneran hamil.


" Mau ngapain lagi sih?" Tanyaku sedikit khawatir. Aku takut tujuannya ke sini mau ngambil fiona dari aku.


" Fiona-"


" Kalo tujuan anda mau ketemu fiona, nggak akan pernah saya ijinin. Fiona udah jadi milik saya. Dan nggak akan pernah jadi milik anda lagi. Cukup mas fadil yang berhasil anda ambil" Lirihku tanpa berniat melihatnya lagi.


" Re..saya nggak berniat mau ambil fiona dari kamu. Ada yang mau saya bicarain"


" Mas fadil-"


" Pergi kamu dari sini. Saya nggak mau liat kamu lagi" Aku takut mendengar apa yang mau di katakan fania. Aku belum siap mendengar kalimat luka saat ini


" Pergi hiks"

__ADS_1


" Tapi re-"


" Tolong pergi" isak ku


Nana datang dengan tergesa menghampiri ku, yang masih di luar bersama fania


" Lo mau apa lagi sihh hah!"


" Lo nggak puas udah buat rere menderita. Lo perempuan juga kan, tapi kenapa lo bisa sejahat ini sama sesama perempuan" Nana murka. datang datang udah liat aku nangis karena kedatangan fania.


" Kita masuk re. Biarin wanita nggak punya hati ini disini" .


Aku di tuntun nana masuk kerumah bersama fayyadh yang udah ikut mewek liat bundanya nangis


" Re..fadil butuh kamu" Teriak fania dari luar sana. Aku sedikit tertegun mendengar teriakannya.


" Nggak usah di dengerin" Kata nana cepat yang sadar akan diamku.


" Tapi aku kepikiran na" Lirihku


Nana mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya " Kenapa sih, lo lemah banget kalo berurusan sama yang namanya fadil"


Aku terdiam. Aku pun sama nggak tau kenapa bisa lemah gini kalo udah berurusan sama yang namanya kak fadil " Karena cinta na" Cicitku asal


" Makan noh cinta. Nggak kenyang lo"


Nana melenggang ke arah dapur, dan mengambil piring serta mengisi penuh piring itu dengan nasi goreng " Mending gue makan. Laper gue liat lo galauin suami nggak bertanggung jawab lo itu"


Aku mengekori nana yang menuju dapur, masih tetap dengan fayyadh di gendonganku. Ku perhatikan nana yang makan dengan lahap. Membangunkan cacing cacing di perutku. Aku jadi ingat, kalo belum sempat sarapan karena banyak yang harus di kerjakan.


" Na.. Mau dong" Pintaku memelas


" Manja banget deh lo" Katanya. Tapi masih mengarahkan sesendok nasi goreng ke arahku. Tentu aja ku terima dengan senang hati.


" Na, kalo mas fad-"


Nana buru buru menyuapkanku kembali sesendok nasi goreng dengan cepat " Kalo makan jangan ngomong" Sarkasnya. Aku tau sih, ini akal akalannya gegara aku mengangkat topik pembicaraan kak fadil.


" Fayyadh, kalo gede jangan kayak bapak kamu ya"


Aku melotot nggak suka ke arah nana "Na, jangan gitu lah"

__ADS_1


Nana cuma melirik ku sekilas "Apa nih yang perlu gue bantu. Apa fayyadh nya aja sama gue. Lo lanjutin nyiapin kuenya"


Aku menyerahkan fayyadh ke nana, nana selalu berhasil buat hatiku sakit. Tapi setelahnya dia bisa membalikkan suasana menjadi aman lagi. Makanya itu kita berdua itu terhitung nggak pernah berantem. Selisih paham sering, tapi baikannya nggak pernah lama. Makanya sesayang itu aku ke nana.


__ADS_2