Wedding Story

Wedding Story
05|Wedding story


__ADS_3

DI kantor, raffi sibuk berfikir dan bertanya pada dirinya sendiri: apakah ia harus ikut dengan istrinya nanti?  Tetapi mengingat jarak kantor dengan rumah mertuanya itu jauh, membutuhkan waktu ber'jam-jam tak mungkin untuk ikut pergi kan?.


Raffi menghela nafas, kenapa susah sekali memutuskan sesuatu sekarang, dulu bahkan raffi tak perlu berfikir dua kali untuk menolak saat catrine dan wijaya mengajak-nya pergi ke london untuk menghadiri acara pernikahan salah-satu kerabat disana.


Raffi sibuk berfikir, tak menyadari jika dari setengah jam lalu ia sedang mengadakan rapat dengan para petinggi yang lain-nya. Semua mata memperhatikan raffi karna lelaki itu tampak asik sendiri.


"Tuan?". Karl yang duduk di samping raffi mencoba menyadarkan raffi, namun pria itu tak terpengaruh sama-sekali."Tuan!". Bentak karl akhirnya.


Raffi tersentak kaget, ia berdehem saat tau dirinya jadi pusat perhatian di ruang rapat sekarang. Para petinggi perusahaan pun merasa aneh dengan tingkah President direktur mereka, pasalnya raffi yang biasanya tak pernah melamun saat sedang bekerja atau apapun yang berhubungan dengan pekerjaan.


"Maaf tuan, apa tuan baik-baik saja?". Karl bertanya dan raffi mengangguk. Ia mengisyaratkan agar rapat dilanjutkan.


Satu persatu, petinggi setiap divisi mempresentasikan di depan layar besar di depan sana. Raffi hanya memperhatikan, sekali-duakali dia mengoreksi jika ada penyampaian data yang tak sesuai dengan data yang ia baca.


—Wedding story—


"Halo, bu?". Nagita mendekatkan ponselnya ke telinga.

__ADS_1


"Halo, neng?, ini bapak".


"Ouh, bapak sama ibu apa kabar-nya?". Tanya nagita pada pria parubaya disebrang sana.


"Bapak sama ibu baik, neng gimana disana? Suami-mu baik kan sama neng?". Bapak nagita bertanya dengan nada khawatir, membuat gadis itu tersenyum karna-nya.


"Alhamdulillah kalo ibu sama bapak baik, gita juga baik disini. Mas raffi baik sama gita".


"Syukurlah kalo suami-mu baik, tadinya bapak khawatir kalo-kalo suami neng gak baik". Dapat nagita dengar helaan nafas bapak-nya itu, beliau terdengar lega karna ternyata anak-nya baik-baik saja.


"Besok, gita mau kesana. Mau nginep dua hari, ya pak".


"Sama sekali enggak, pak, gita sama mas raffi akur-akur aja kok, cuma gita pengen kesana aja. Lagian udah lama gita enggak pulang".


"Yasudah, kalo kamu mau jengukin bapak sama ibu, gak usah minta izin bapak atau ibu. Kapan-pun kamu kesini, bapak sama ibu pasti nyambut. Jangan lupa minta izin sama suami-mu ya neng".


Nagita mengangguk, walau tau bapak-nya itu takan melihat. Mereka bercakap-cakap sebentar, saat nagita tanya dimana ibunya, bapak bilang ibu sedang membantu salah satu tetangganya yang sedang mengadakan hajatan.

__ADS_1


Pukul satu, setelah sambungan telefon mati dan nagita selesai menjalankan kewajiban nya, gadis itu berjalan-jalan sebentar mengelilingi rumah, melihat se-detail mungkin rumah yang sekarang di tempatinya dan suami. Karna bulan-bulan yang lalu nagita terlalu sibuk sampai tak punya kesempatan melihat rumah ini secara keseluruhan.


Di belakang, dia melihat satu-dua pekerja kebun yang sedang membersihkan dan memangkas pendek rumput-rumput disana--- sengaja ditanam. Raffi sengaja memperkerjakan mereka untuk mengurus area luar rumah. Seperti taman, kolam renang, tempat GYM dan bagian rumah yang lain.


Sedangkan untuk yang membersihkan dalam rumah biasanya ada seorang wanita parubaya yang datang dua hari sekali atas perintah nagita--- karna tadinya raffi ingin setiap hari.


Untuk memasak dan mencuci pakaian biasanya nagita melakukan-nya sendiri. Sedangkan jika mencuci selimut atau gorden biasanya nagita menyuruh orang untuk mengantarkan nya ke laundey yang tersedia di daerah komplek perumahan ini.


Nagita naik lantai dua, masuk kedalam kamarnya. Di sudut kamar terdapat pintu yang menghubungkan-nya ke ruang kerja sang suami. Nagita masuk kedalam sana, melihat suasana di dalam ruang kerja---ternyata sama seperti suasana dalam kamar hitam-putin. Di tengah-tengah ruangan itu, terdapat meja serta kursi kerja dengan beberapa berkas yang berserakan disana. Di belakang meja kera, terdapat rak yang menempel di dinding, yang di'isi dengan buku-buku yang nagita sendiri tak tau buku apa saja.


Di depan meja kerja, terdapat sofa panjang beserta meja kaca kecil yang dihiasi bunga anggrek disana. Sebagian lantai marmer nya tertutup karpet tebal berbulu. Sebagian dinding nya terbuat dari kaca yang bisa dibuka kapan saja, digeser, lalu akan terlihat suasana pinggir rumah disana.


Nagita hanya dapat mengatakan 'Wah' atau 'Wow' setiap dia melihat sudut ruangan kerja ini. Tetapi ada yang mengganggu pemandangan, yaitu kertas serta berkas yang berserakan.


Menghela nafasnya, nagita menggulung lengan baju-nya, mulai membereskan kekacauan."Laki satu". Gerutunya kesal saat melihat beberapa petung rokok juga berserakan.


—Wedding story—

__ADS_1


To be continue


Vote and saran!


__ADS_2