
Gemercik air hujan yang jatuh ke bumi sore ini tampaknya sangat menarik perhatianku. Ntah sudah berapa tetes air hujan yang ku saksikan jatuh dari langit melalui celah jendela kamarku ini. Yang pastinya sampai saat ini aku belum mau beranjak dari tempat dudukku sekarang.
Hujan. Selalu menjadi momen dimana aku selalu akan teringat permasalahan hidup, menangis bahkan tertawa di waktu yang bersamaan kala hujan. Aku suka hujan. Tapi kali ini, hujan mengingatkanku tentang permasalahan rumah tangga yang semakin lama semakin rumit untuk ku pahami. Atau memang aku yang terlalu dini untuk memahami semua persoalan tentang pernikahan?.
Kurasa tidak, umur bukanlah patokan kedewasaan seseorang bukan?
Fiona. Nama yang selama seminggu ini selalu memenuhi isi pikiranku. Putri kecilku yang sekarang keadaannya sama sekali tidak ku ketahui. Jangankan memeluknya, suaranya saja tidak lagi ku dengar.
Aku jadi teringat, beberapa hari yang lalu aku menanyakan perihal kak fadil yang berada di rumah sakit bersama fiona dan satu orang wanita yang aku sendiri sama sekali tidak mengetahuinya. Ini ku ketahui dari Nana yang sedang mengurus Boy. Tapi apa jawaban dari kak fadil. Tidak ada, malahan itu menjadi umpan untuk kami kembali bertengkar dan menurutku itu pertengkaran yang lumayan besar. Hampir saja pipiku menjadi sasaran kak fadil yang di saat itu lebih mengarah pada tuduhan kepadanya.
Apa salahnya aku bertanya. Kalau itu memang bukan dia kenapa dia harus semarah itu?
Ah ntahlah. Begitu berat beban yang kurasa saat ini. Rasanya seperti ada batu besar yang menimpa. Tidak terlihat memang, tapi sungguh sangat menekan.
Lamunanku di suasana hujan saat ini harus ku akhiri karena ada suara ketukan dari luar kamar. Itu mama. Terdengar dari suaranya yang memanggil manggil namaku.
" Ada apa ma?" Tanyaku pada mama.
" Kata si mbak, kamu belum makan dari tadi. Mama fikir kamu lagi sakit" Jelas mama dengan raut wajah kekhawatirannya.
Aku tersenyum sambil menggeleng " Renata sehat kok ma. Cuma Masih kenyang. Tadi makan Sisa nasinya fayyad. Mubazir kalo di buang" jelasku pada mama.
Fayyadh sudah bisa makan nasi keras. Tadi sewaktu aku menyuapinya makan siang, nasinya tidak habis. Mau di paksa, takutnya dia muntah. Jadilah alhasil aku yang melanjutkan menghabiskannya.
" Lohhh..itukan beda bunda. Mana cukup cuma segitu. Yang makan dua nyawa loh" Saut mama lagi. Begitulah mama. Terkadang ikut anak anak memanggilku bunda. Bundanya anak anak maksudnya.
" Iya. Habis ini Renata makan deh" Putusku akhirnya yang tidak mau membantah mama lebih jauh
" Ya harus itu " Saut mama cepat.
" Cucu cucu oma pada tidur?" Lanjut mama bertanya sambil celingak celinguk melihat ke dalam kamar.
" Iya ma. Cuacanya mendukung banget sih buat tidur" Jelasku pada mama. Ku geser badanku ke kiri yang semula menutup pintu. Nampakklah di ranjang dua anak berbeda jenis kelamin lagi tertidur dengan pulas.
Mama mengangguk setelah puas melihat cucunya yang lagi pulas pulasnya tidur " Yaudah. Kalau gitu mama mau ke kamar lagi. Jangan lupa makan loh re" Ujar mama sekali lagi.
Aku tersenyum sambil mengangguk sekali lagi " Oh iya ma. Ketoprak yang biasa lewat depan rumah, udah lewat belum ya?" Tanyaku pada mama. Mendadak sekarang jadi pengen makan ketoprak. Membayangkan bumbunya masuk ke lidah..ahh.. pasti enak.
"Nggak lewat kayaknya. Hujan gini kok gimana mau muter muter jualan" jelas mama. Iya juga sih.
" Pengen makan ketoprak?" Tanya mama
Aku menggeleng. Padahal dalam hati bersorak mengatakan iya " enggak kok ma. Nanya doang" alibiku.
__ADS_1
Mama mengangguk " Mama ke kamar lagi re" Pamit mama lagi meninggalkan aku yang masih membayang bayangkan ketoprak " Sabar ya nak. Makan ketopraknya di pending dulu" monologku sambil mengusap usap perut buncitku.
Ngidam nih kayaknya.
****
Hujan di luar sana sudah mulai reda. Tinggal rintikan gerimis yang satu satu turun membasahi bumi. Tapi rasa inginku untuk makan ketoprak belum juga hilang dari pikiranku.
Mau minta beliin suami, gengsi. Kan lagi perang dingin. Tapi pengennya kali ini kebangetan sih. Mau pergi beli sendiri tapi mager. Kan serba salah semua.
Tiba tiba ide cemerlang terlintas di otakku. Setelah itu aku secara gesit meraih ponselku dan menelpon seseorang.
Tepat sekali. Dengan sekali sambungan langsung terhubung " Kenape?" Tanyanya dari sebrang telepon sana.
" Aunty nana. Debay yang di perut pengen makan ketoprak" Ujarku dengan suara mengiba. Berharap nana iba dengan aku yang malang ini.
" Sibuk gue Re. Lagi rame nih pengunjung. Lagian minta sama laki lo lah"
Bibirku mengerucut mendengar penolakan nana
" Nana.. plissss pengen banget ini benran. Kepikiran terus daritadi ketopraknya" Aduku.
Terdengar helaan nafas berat nana dari ujung telpon sana " Kalo gue asli nggak bisa bumil yang sok imut. Ntar deh, gue mintain tolong Boy"
" ehh jangan Boy dong Na. Dia kan baru kecelakaan" Tolakku. Mengingat kecelakaan yang di alami Boy berapa hari yang lalu. Memang sih tidak ada luka yang serius, ya tapi kan tetap aja kecelakaan.
" Ehhh Na.. iya deh. Boy juga nggak papa" Putusku akhirnya. Daripada tak jadi makan ketoprak kan. Nanti calon debaynya ileran lagi.
****
Aku melangkah dengan semangat menuju pintu utama kala mendengar suara bel bunyi. Mataku berbinar saat mendapati Boy dengan menenteng kresek putih. Pasti ketoprak aku dong.
" Maaf mbak. Agak sedikit lama" kata Boy sambil menyerahkan bungkusan ketoprak itu padaku.
Aku tersenyum ramah " Nggak papa Boy. Aku yang harusnya minta maaf udah ngerepotin kamu"
" Oh iya. Gimana keadaan kamu. Kok cepet banget masuk kerja lagi?" Tanyaku. Padahal kalau Boy minta izin libur sedikit agak lama, bukan masalah tentunya.
Aku melihat Boy tersenyum. Ganteng juga ternyata. Ada lesung di pipi kanan kirknya. Ehh kok ganjen sih aku.
" Udah sehat kok mbak. Lagian nggak enak kalau kelamaan libur"
Aku manggut manggut " Ini harga ketopraknya berap-"
__ADS_1
Acara ngobrolku sama Boy mendadak terjeda karena suara dehaman seseorang.
Aku menoleh ke samping. Disana udah ada kak fadil dengan tatapan menusuknya. Aku menghela nafas pasrah. Masalah satu belum kelar. Udah datang masalah yang baru.
Lagian kok cepet sih pulangnya. Eh
Aku mengikuti gerak kak fadil yang menyodorkan uang lembarab seratus ribu ke pada Boy " Udah di bayar sama mbak Nana kok mas" Tolak Boy.
" Upah buat kamu yang udah mau repot repot beliin keinginan istri saya" jelas kak fadil dengan menekankan kata istrinya. Kenapa sih?
" Nggak usah mas. Ini juga bagian dari tugas saya " lagi lagi Boy menolaknya.
" Kalau gitu saya pamit ke kafe lagi mbak, Mas"
" Hati hati Boy" Ujarku pada Boy yang hendak beranjak pergi.
Setelah Boy pergi. Aku ngintilin kak fadil dari belakang. Ehh bukan ngintilin sih, ya cuma arah tujuan kami sama, terus aku jalan dibelakang dia. Jadi kayak ngintilin gitu.
" Handphone kamu mana?"
" ha?" Aku mendadak cengo mendengar pertanyaan tiba tiba kak fadil.
" Segitu susahnya kamu buat ngomong ke aku kalo pengen sesuatu. Lebih milih cowok lain buat menuhin keinginan kamu daripada suami kamu sendiri"
Aku menunduk Takut. sama sekali tidak berani untuk menatap kak fadil yang mungkin lagi menahan emosinya.
" Jawab" tegas kak fadil
" Kamu kan diemin aku jad-"
" Kamu yang diemin aku. Bukan aku yang diemin kamu" sahut kak fadil memotong jawabanku.
Tuh kan. Ngomongnya ngegas mulu
" Kamu bentak bentak aku. Ya wajarlah aku diemin kamu" Jawabku lagi mencari pembelaan diri.
Kak fadil mengusap rambutnya gusar " Terserah kamu"
Sebelum pergi dia meletakkan bungkusan warna putih di meja makan" Tolong nanti di buang. Kan kamu udah ada yang beliin ketopraknya"
Aku membulatkan mataku lebar. Kok bisa tau istrinya lagi mau makan ketoprak. Aku jadi teringat, ini pasti mama yang nelpon kak fadil kalo aku lagi pengen ketoprak.
Tapi kenapa harus semarah itu sih. Apa karena Boy yang bawain ketopraknya. Kan aku tadi mintanya ke Nana. Bukan ke Boy. Suami yang satu itu suudzon mulu ke istrinya sih.
__ADS_1
Aku melirik dua bungkusan ketoprak yang ada di depan mataku. Melupakan kekesalan kak fadil, aku membuka kedua bungkus ketoprak yang dibawa kak fadil dan juga Boy. Kak fadil nyuruh buang ketopraknya, ya mana mungkin. Perutku cukup kok kalo cuma buat ngabisin dua bungkus ketoprak yang sedari tadi ku idam idamkan.
Rezeki anak yang di perut banget kan.