Wedding Story

Wedding Story
Tujuh Puluh Delapan ( Selamat Tinggal)


__ADS_3

Salah tidak kalau aku sudah mulai capek dengan kehidupanku sekarang. Rasanya kebahagiaan itu hanya sekedar singgah di hidupku. Berhenti sebentar lalu akan berganti dengan masalah yang bertubi tubi.


Kadang, ada terbesit di pikiran untuk menyerah saja. Tapi bayangan wajah anak anak seakan turut menghantuiku. seakan enggan memberiku celah untuk pasrah. Tapi, bolehkan sekali saja aku mengeluh lelah. Melepaskan sesuatu yang sudah mati matian ku perjuangkan tapi sama sekali tidak pernah ku menangkan.


Kebahagiaan. Satu kata yang orang orang berbeda pendapat dalam pendefenisiannya. Defenisi bahagia itu sesuai dengan kondisi yang sedang di alami seseorang. Aku, semua kebutuhan finansial saat ini tidak ada satupun yang kekurangan. Memiliki keberuntungan menjadi menantu dan istri dari keluarga terpandang mengangkat derajatku dari seorang remaja yang dulu harus kerja paruh waktu dulu untuk dapat memenuhi sepiring nasi dan sekarang itu tidak perlu repot repot untuk ku lakoni kembali. Sekarang semuanya serba bercukupan, hanya saja Cinta. Cinta dari seorang lelaki yang ku sebut sebagai suami yang belum ku menangkan. Apa salah aku mengharap cinta dari suami sendiri?. Ku rasa tidak, semua istri di dunia ini pasti sangat ingin di cintai oleh suaminya sendiri.


Terkadang. Aku bingung dengan sikap kak fadil. Ada saatnya dia memperlakukan aku selayaknya seorang wanita yang sangat istimewa di hidupnya. Tapi lain waktu perlakuannya seakan akan aku ini adalah wanita yang paling menjijikkan di pandangannya.


Perlakuan manis, perkataan cinta pernah kurasakan dan ku dengar dari kak fadil sendiri. Tapi perubahan sikapnya membuat aku ragu akan perasaanya terhadapku. Sebenarnya aku ini di anggapnya apa. Seoarang istri atau hanya sekedar pemuas nafsu birahinya.


Ah sudahlah. Perjalanan hidup sudah di gariskan oleh Yang Maha Kuasa. Aku pernah mendengar kalau Tuhan itu tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya. Dan mungkin Tuhan mempercayaiku untuk menghadapi masalah yang sekarang menganggu pikiranku.


Lama berkutat dengan pikiranku membuat aku tak sadar kalau air kran di wastafel dari tadi hidup. Hampir 15 menit aku berdiri disini aku baru menyelesaikan mencuci dua gelas serta tiga piring. Melamun hanya membuang waktuku sia sia. Selanjutnya aku segera menyiapkan pekerjaanku yang sempat tertunda karena lamunan panjangku di pagi hari.


Selesai mencuci piring, aku melangkah keluar sambil mengeringkan tanganku menggunakan kain lap yang ku bawa dari dapur. Niatku ingin membangunkan kak fadil buat ke kantor. Subuh tadi, selesai sholat dia kembali tidur. Aku tau kalau suamiku itu sedang tidak baik baik saja belakangan ini. Tapi, kalau aku bertanya tentang kondisinya ujung ujungnya dia akan marah marah tidak jelas.


Langkahku yang ingin menuju kamar terhenti karena sayup sayup mendengar suara bincang dari kamar mama. Awalnya aku ingin mengabaikan saja. Tapi ntah kenapa perasaan ingin tahu sangat menggebu gebu. Lantas, aku menarik langkahku untuk lebih dekat ke arah sumber suara. Agar dapat mendengar lebih jelas percakapan Mama dan kak fadil. Yang baru ku ketahui bahwa lawan bicara mama adalah kak fadil karena mendengar suaranya.


Dengan hati hati aku perlahan mendengarkan percakapan mereka yang sampai kini belum ku pahami arah pembicaraanya. Aku terus mendengarkan sambil berdoa dalam hati kalau aksi mengupingku ini tidak di ketahui oleh penghuni rumah ini.


" Kamu nggak bisa bersikap kayak gini terus ke Renata fadil"


Dahiku berkerut saat mendengar namakulah yang menjadi objek pembicaraan dua orang berbeda generasi tersebut.


" Fadil nggak bisa Ma. Fadil rasa keputusan fadil ini udah yang paling tepat"


" Kasihan Renata dil. Ingat dia lagi hamil. Kamu jangan nambah beban pikiran istri kamu. Kondisi ibu dan janinnya bisa terganggu. Lebih baik kamu bilang yang sejujur jujurnya sama Renata. Bilang kal-"


" Bilang apa ma?" Aku sudah tidak tahan lagi menguping di luar sana dengan pikiran yang melayang layang kemana mana. Tanpa pikir panjang aku masuk ke kamar mama yang kebetulan tidak dikunci.


Mama dan kak fadil tampak terkejut dengan kedatanganku yang tiba tiba " Ada apa mas?" Tanyaku pada kak fadil.


" Bukan apa apa re" Sambar mama cepat.


" Ada apa mas?" Sekali lagi aku bertanya kepada kak fadil yang enggan untuk menatapku.


" Aku mau cerai sama kamu"


Bagai di sambar petir, kalimat yang di lontarkan kak fadil membuat duniaku seakan berhenti. Air mata pun sudah tak bisa ku bendung lagi.


" Kenapa mas. Renata buat salah apa?" Tanyaku lirih.


" Kamu nggak ada salah apa apa. Nggak ada cinta di antara kita berd-"


" Aku cinta sama kamu mas" sambarku cepat.


" Aku udah nemuin seseorang yang bisa buat aku bahagia yang nggak aku dapetin dari kamu"  ujar kak fadil.


Ku beranikan langkah kakiku untuk mendekat ke pada kak fadil " Kasih tau Aku harus gimana mas. Nggak harus pisah. Inget anak anak hiks. Aku mau berubah asal kita jangan pisah mas" kataku lirih.


Ku ambil tangan sebelah kanan kak fadil dan mengarahkannya ke perut buncitku " Aku lagi hamil anak kamu mas. Aku mohon kamu pikirin lagi ya" pintaku sangat lirih.


Kak fadil hanya diam menatapku kosong. Tak ada balasan dari mulutnya " Kamu lagi capek pasti. Kamu istirahat ya mas. Aku sama anak anak nggak bakal ganggu kamu dulu. Istirahatin tubuh dan pikiran kamu " Ku usap lembut tangannya yang masih di atas perutku. Aku tersenyum. Memaksakan diri walau di hati sekarang lagi hancur.


" nggak harus pisah ya mas" pintaku lirih. Biarlah orang menganggapku wanita yang mengemis. Tapi apapun pasti kulakukan untuk mempertahankan rumah tanggaku.


" Apa kamu masih tetap mau bertahan kalo kenyataannya aku udah nikah lagi sama perempuan yang aku cintai"


" keputusan aku udah bulat. Nggak bisa di ganggu gugat" lanjut kak fadil.

__ADS_1


****


Ntah apa mimpiku semalam hingga hari ini aku mendapatkan masalah seberat ini. Sakit rasanya saat mendengar ucapan cinta dari mulut kak fadil untuk orang lain. Apa arti kebersamaan kami selama hampir tiga tahun ini. Bukankah ada yang bilang cinta akan tumbuh karena terbiasa bersama. Tapi kenapa itu tidak berlaku untuk kak fadil.


Fayyadh dan Faza yang tertidur lelap ku pandangi iba. Anak sekecil itu apa harus tumbuh dengan keluarga yang tidak utuh.


Aku mengusap perutku yang sedari tadi mulai sakit. Mungkin janin yang masih di perut juga turut bersedih karena masalah orang tuanya.


Tatapanku teralih kepada sosok kak fadil yang masuk ke dalam kamar " Ada fiona di bawah" Kata kak fadil yang ntah pada siapa. Tapi arah pandangannya tertuju padaku.


Mataku sontak berbinar mendengar nama fiona. Tanpa menunggu lama lagi, aku langsung berjalan keluar kamar.


Di ruang tamu ada fiona yang lagi manja sama mama, dan seorang wanita yang sama sekali tidak ku kenali.


" Kakak bunda kangen" lirihku memandang fiona yang masih belum beranjak dari pelukan mama


" Kakak nggak kangen bunda?" Tanyaku lirih. Aku berlutut menyamakan tinggiku dengan fiona yang duduk di sofa bersebelahan dengan mama.


" Kakak, tolong peluk bunda sekali aja. Bunda kang-"


Fiona dengan gerakan tiba tiba langsung memelukku erat. Untung aku masih bisa menyeimbangkan tubuhku agar tidak terjungkal kebelakang.


Fiona nangis histeris sambil memelukku sangat erat " Hiks kakak kangen bundaaa hiks"


" bunda juga sayang" kataku sambil mengecup kepalanya bertubi tubi.


Pelukan kami terlepas. " jangan tinggalin bunda lagi ya. Bunda nggak punya siapa siapa lagi kecuali kakak sama adek" Lirihku.


Fiona menganggukkan kepalanya dan sekali lagi memelukku.


Seakan tersadar tujuan kak fadil disini bukan hanya sekadar untuk menyaksikan adegan pelukanku sama fiona, sekali lagi aku menyudahi pelukanku


Fiona mengangguk " Kakak juga kangen sama adek bun" Ujar fiona dan beranjak menuju kamar.


Setelah fiona pergi, aku perlahan bangkit dari jongkokku dan memilih duduk di sebelah wanita asing yang mungkin akan menjadi bagian dari keluarga ini.


Cantik. Satu kata yang terlintas begitu aku berhasil lebih dekat duduk di sebelahnya. Aku tau ada raut kecemasan diwajahnya dan di wajah mama serta kak fadil karena aksiku ini.


" Nggak perlu takut. Aku bukan wanita yang seperti di sinetron sinetron" Kataku dengan senyuman.


" Nama kamu siapa?"


" Kartika" kata kak fadil cepat menjawab pertanyaanku. Wanita di sebelahku ini hanya diam menunduk.


" Kamu tau kan kalo mas fadil udah berkeluarga?" Tanyaku. Tak ada bentakan disana.


"Kita akan cerai Renata" sambar kak fadil cepat. Sakit sekali rasanya.


Mati matian aku agar air mataku tidak tumpah saat ini. " Aku bawa Kartika ke sini karena mulai sekarang dia bakalan tinggal disini" Kata kak fadil


" iya mas. Aku nggak papa kalo istri baru kamu tinggal disini. Aku bakalan pergi kok. Tapi, anak anak aku bawa-"


" Fiona tetap tinggal disini" potong kak fadil.


Kenapa hanya fiona yang di pertahankan. Apa fayyadh sama faza tidak berarti buat kak fadil. Apa sejijik itu kak fadil denganku, sehingga anak yang terlahir dari rahimku pun tidak di anggap.


" Tapi mas, aku mau fiona ikut sama aku"


" Fiona bukan siapa siapa kamu kalo kamu lupa" sarkas kak fadil.

__ADS_1


Aku mengangguk. Sekarang aku sudah seperti sampah. Yang di campakkan saat tidak dibutuhkan lagi.


" Makasih ya mas. Atas kebahagiaan yang udah kamu kasih ke aku. Semoga kamu terus bahagia sama kehidupan kamu yang baru"


" Mama.. Maafin Renata juga kalau selama ini belum bisa jadi menantu yang baik di rumah ini. Tapi renata makasih banget karna mama udah jadiin Renata kayak anak mama sendiri"


" Re.. kamu udah jadi menantu yang baik sayang. " kata mama dengan menahan tangisnya.


Aku perlahan beranjak dari dudukku. " Renata kemasin barang barang dulu ya ma " 


" Kamu mau kemana sayang. Ini rumah kamu" cegah mama yang udah berjalan menghampiriku


Air mataku sudah semakin tidak terbendung " Mana mungkin ada dua istri dalam satu rumah ma. Lagian mas fadil pasti nggak suka renata tetep disini. Renata nggak papa ma" lirihku.


****


Selesai semua barang barangku di kemas. Tidak banyak cuma 2 koper berukuran sedang. Itu sudah termasuk barang milik fayyadh dan faza. Beruntung sekarang fiona masih tertidur. Jadi aku tidak terlalu berat untuk meninggalkannya.


" Kakak yang sehat ya nak. Jangan bandel sama oma. Bunda sayang sama kakak. Bunda janji bakal merhatiin kakak terus sayang" Lirihku dengan suara pelan.


Aku melangkah ke luar kamar dengan menggendong faza serta menggandeng tangan fayyadh " kita mau jayan jayan ya nda?" Ntah sudah pertanyaan ke berapa yang fayyadh lontarkan kepadaku. Ntah apa yang harus ku jawab. Lebih baik aku memilih diam.


" Renata pamit ma. Jaga kesehatan ya"


Mama memelukku sangat erat. " begitu berat ujian kalian nak" isak mama.


" Renata kuat ma" lirihku dengan senyum paksaan.


Sekarang giliran kak fadil " Mas.. Kamu nggak perlu repot repot ngirimin surat cerai ke aku. Karena sampai kapanpun aku nggak akan tanda tangan surat cerai itu. Aku ikhlas kamu milih wanita lain yang kamu cintai asal kamu bahagia mas hiks"


" Jaga kesehatan ya. Akhir akhir ini aku perhatiin kamu lemes terus. Sekarang kan udah ada wanita yang kamu cintai disisi kamu. Jadi kamu harus hepy terus"


" Mas.. boleh nggak aku minta kamu cium anak yang di perut aku. Mungkin untuk yang terakhir. Setidaknya dia pernah merasakan ciuman dari ayahnya walaupun masih dalam kandungan"


Kak fadil cuma dia tak bergeming " Mas... aku mohon. Cuma ini permintaan terakhir aku mas" pintaku dengan harap. " Aku nggak akan nuntut nafkah materi mas. Aku akan berusaha buat hidupin anak anak dengan tenaga aku sendiri" lanjutku.


Dengan perlahan kak fadil menunduk dan mencium perut buncitku yang terlapis baju. Di luar dugaanku kak fadil juga turut mengusap lembut perutku. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan senangku.


" Ayah sayang sama kamu kan dek" lirihku pelan sambil mengusap perutku.


" Makasih mas" kataku pada kak fadil.


" Fayyadh salim dulu sama oma sama ayah sayang" perintahku pada fayyadh. Tanpa banyak bertanya fayyadh langsung menyalami tangan oma dan ayahnya satu persatu.


" Ayah. Fayyadh mau jayan jayan sama bunda ya. Ayah ndak ikut?" Tanya fayyadh saat menyalami ayahnya.


Kak fadil tak menjawab pertanyaan fayyadh. Dia langaung pergi berbalik meninggalkan fayyadh yang heran dengan ayahnya.


""Abang. Ayo nak" ajak ku pada fayyadh


Kami melangkah keluar menuju Taxi yang sedari tadi sudah menunggu di depan. Aku melebarkan mataku memandang rumah yang selama ini menyimpan banyak kenangan.


Selamat Tinggal.


****


hy Para Readers yang tercinta. Aku cuma mau ngabarin kalau ini part part menuju ending. kasih tanggapannya dong buat cerita ini. hehe..


request boleh mau ending yang bagimana sad or happy.. nanti author pertimbangin dari komenan kalian.

__ADS_1


enjoy teman teman. happy reading


__ADS_2