
Sudah seminggu kak fadil mendiamkanku . Aku selalu berusaha untuk bicara sama kak fadil tapi sama sekali tidak di gubris.
Pagi ini aku bertekad masalahku dengan kak fadil harus selesai. Aku tidak bisa terus terusan di diamin kak fadil begini. Rasanya sangat tersiksa
Kusiapkan pakaian kak fadil diatas ranjang, ya walaupun selama seminggu ini dia tidak pernah memakai baju yang sudah ku siapkan. Tapi tidak masalah, seraya menunggu kak fadil keluar dari kamar mandi, kupilah pakaian mana yang cocok untuk dia kenakan hari ini.
Kak fadil keluar dan menuju lemari baju, diambilnya baju dan celana dari dalam sana. Hatiku kembali menciut, Sebesar itukah kesalahanku
Aku masih coba sabar. Mungkin baju yang kupilihkan kurang pas.
" Sini aku pakaikan dasi nya mas" Tawarku pada kak fadil yang lagi sibuk masang dasi
Tidak ada respon sama sekali darinya, sampai dia selesai memakaikan dasi dengan rapi dilehernya sendiri.
" Kamu tidak mengargai aku sama sekali ya mas" Geramku yang sudah tidak bisa lagi tertahan
kak fadil melirik ku sekilas, dan kembali melanjutkan aktifitasnya memakai kaos kaki
" Aku bela bela masak tiap pagi, nahan mual, tapi makanan yang aku buat tidak kamu sentuh sama sekali. Kamu malah minta buatkan makanan baru sama mbak mirna. pakaian yang aku siapkan harus aku simpan lagi ke lemari, karena kamu milih ambil pakaian yang lain "
" Sebesar itu kesalahan aku?" Tanyaku lirih
Kembali tidak ada jawaban dari kak fadil. dia malah berjalan menuju pintu untuk keluar kamar
" Rere cape mas" Isak ku
kak fadil menghentikan langkahnya mendengar ucapan terakhirku.
" Kamu tidak pernah berpikir bagaimana kalau di posisi aku mas, Aku harus kehilangan masa muda aku, kumpul bareng teman, sekolah dan bermimpi yang tinggi."
" Aku bosan mas dirumah terus, Cuma berdiam diri dan mengurus iona " ku keluarkan semua unek unek yang selama ini ingin ku keluarkan
" Nyesal hamil, cape jadi istri, sekarang bosan ngurusin fiona. Iya?" Tanya kak fadil dingin
Aku menggelengkan kepalaku cepat. Bukan itu maksudku. Aku bilang gitu supaya kak fadil bisa ngerti posisiku. Sama sekali tidak pernah terlintas dipikiranku bosen ngurusin fiona
" Kamu salah paham mas"
Kak fadil pergi meninggalkanku " Mas tunggu dulu" panggilku tapi tak dihiraukannya
Aku menangis sejadi jadi nya dikamar. Kenapa susah sekali mendapat maaf dari kak fadil. Hanya karena ucapanku tempo lalu, kak fadil jadi dingin lagi kepadaku.
__ADS_1
Setelah lelah menangis, aku berjalan keluar kamar. Aku menuju meja makan. Disana masih tertata rapi nasi goreng dan teh yang tadinya hangat yang sengaja ku siapkan untuk kak fadil
Aku tertawa hambar " tidak disentuh lagi" Monolog ku
Aku duduk dikursi meja makan. Tak ada niat sama sekali untuk sekedar mencicipi nasi goreng yang kubuat pagi tadi. Tidak ada gairah sama sekali buat makan
" Mbak.. mbak mirna" panggilku yang kuyakini bisa di dengar mbak mirna dari dapur
" iya bu" mbak mirna datang menghampiriku
" ini makanannya tolong dibereskan ya mbak. Ini belum di sentuh sama sekali. Kalau mbak mau, boleh dimakan, tapi kalau tidak, dibuang saja tak apa" Titahku pada mbak mirna
" ya jangan atuh bu, sayang kalau di buang. Buat saya saja deh ya. Kebetulan saya lapar"
Aku tersenyum " Iya mbak, silahkan. Rere jadi senang makanannya jadi tidak mubazir"
" Tadi mas fadil sarapan apa mbak?" Tanyaku pada mbak mirna yang sedang menikmati sepiring nasi goreng. Karena keinginanku mbak Mirna jadi makan dimeja makan berdua denganku. Biasanya aku yang ditemani makan oleh mbak mirna, kali ini aku yang menemaninya.
" Bapak tidak sarapan bu." Ucap mbak mirna disela sela kunyahannya
Aku celingak celinguk mencari keberadaan fiona. Pasalnya malam tadi mbak mirna nginap disini, otomatis fiona kegirangan bisa tidur bareng mbaknya
" Fiona belum bangun ya mbak?"
Aku tertegun mendengar ucapan mbak mirna. Fiona dibawa kak fadil kemana, bukannya dia mau ngampus. Kepalaku mendadak pusing memikirkan permasalahan yang sedang kuhadapi
****
pusing dikepalaku makin lama makin menjadi. Sekarang sudah jam 8 malam tapi kak fadil belum pulang juga. Aku baru sadar, sejak pagi aku belum menyentuh nasi sedikitpun. Cuma minum susu yang dibuatkan mbak mirna, itupun cuma habis setengah
Pintu kamar dibuka, tampaklah kak fadil datang membawa fiona digendongannya. Aku mencoba untuk bangkit, tapi rasanya badanku tidak berdaya
Fiona duduk di ranjang, menatapku. Tapi tidak ada tanda tanda dia untuk mendekatiku
" Ayah mandi dulu ya, kamu jangan kemana mana. Disini saja" titah kak fadil pada fiona
Aku ada tapi seperti tak ada. Bisa bisanya mereka tidak menghiraukan keberadaanku. Sakit sekali rasanya
" kakak, tidak mau peluk bunda?" Lirihku memanggil fiona
Fiona diam. Tak ada balasan sama sekali darinya
__ADS_1
Tanpa sadar, air mataku mengalir. sakit rasanya didiemi anak seperti ini " Kakak. Bunda ada salah?. Bunda minta maaf"
Lagi, hening tercipta diantara kami.Tidak seperti biasanya. Fiona akan bercerita heboh tentang banyak hal jika berdua denganku. Tapi ini, sepatah kata pun tak ada keluar dari mulutnya
Aku tetap mencari cara agar fiona mau berbicara padaku " kakak, dedeknya kangen. Kamu tidak mau cium ad.."
" Fiona tidak mau punya adek, fiona tidak mau punya adek" Ucapanku terpotong oleh fiona yang sudah berteriak
Hatiku seperti ditusuk seribu jarum rasanya. Sakit. apa yang menyebabkan perubahan dari fiona
" hey, kenapa teriak sih?" Tanya kak fadil yang baru saja keluar dari kamar mandi
" fiona tidak mau punya adek, Ayah" kata fiona lagi mengadu pada kak fadil
Kak fadil mengusap lembut kepala fiona " Iya sayang. Sekarang bobo sama ayah ya?"
Aku terkejut mendengar jawaban kak fadil. kenapa dia memaklumi ucapan fiona
"Mas, Kamu mau bawa fiona kemana?" tanyaku cepat saat kak fadil menggendong fiona keluar.
Seperti angin lalu. Perkataanku tak digubris lagi olehnya
Aku harus kuat. Ada nyawa yang berkembang diperutku " Maafin bunda ya sayang. Bunda buat kamu laper. Sekarang kita makan ya" Ku usap lembut perutku
" Kamu jangan ikutan marah seperti ayah dan kakak kamu ya sayang. Bunda tidak kuat" Aku menangis. Sudah berapa banyak air mata yang tumpah hari ini
Kupaksakan berdiri dari ranjang. Aku melangkah perlahan masih 3 langkah berjalan, rasanya aku mau tumbang. Kupilih berpegang pada meja rias yang dekat denganku, untuk mengumpulkan tenaga sedikit
Meja rias yang ku jadikan tumpuanku berdiri seperti bergetar, Ternyata hp kak fadil. Kulihat nama fania yang tertera dilayar hp nya.
Ku geser tombol hijau hp tersebut " Dil, makasih buat hari ini ya. Aku senang sekali bisa ketemu fiona" Kata fania dari balik telpon sana
" Kamu tau tidak, foto kita bertiga tadi banyak dapat komentar pujian lohh"
Aku tersenyum hambar. Apa ini jawaban atas perubahan sikap fiona padaku
" Besok bawa fiona lagi ya dil, please"
" Dil, Fadil"
Ku matikan sambungan telponnya tanpa mengatakan sepatah kata pun, tidak ada lagi yang bisa ku katakan.
__ADS_1
Kak fadil tak akan pernah berubah. Sekali tidak cinta akan selamanya begitu. Dulu aku berharap karena seringnya bersama akan tumbuh perasaan dari kak fadil untuku. Tapi sepertinya itu tidak berlaku
Prilaku manis dan baiknya selama ini cuma sandiwara. Dan bodohnya aku, selalu terbuai dalam sandiwara yang dimainkannya.