Wedding Story

Wedding Story
Tiga Puluh Enam ( Menghindar)


__ADS_3

Fiona sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Ya walaupun sebenarnya dia masih sedikit lemas, tapi kata dokter itu tinggal proses pemulihan saja. Yang penting tetap jaga pola makan dan jangan terlalu aktif, yang pasti itu jadi pr aku sih, fiona mana belum paham masalah gituan


Mama juga datang kesini. Sebenarnya aku tidak mau memberi tahu mama, cuma fiona katanya kangen omanya. Makanya tadi aku telpon mama. Aku kena semprot sikit sih sama mama. Bukan karena tak becus jaga fiona, tapi karena aku tidak mengabari mama soal fiona yang masuk rumah sakit.


Aku berniat mau mengistirahatkan badan sebentar, mumpung masih ada mama yang menemani fiona main dan mendengarkan ocehan ocehan fiona yang sangat dirindukan saat dia sakit kemarin, tapi nampaknya bermanja manja sama kasur cuma angan angan karena melihat kak fadil masuk ke kamar.


" Mau kemana re?" Tanya kak fadil yang melihatku siap siap keluar kamar


" Mau lihat fiona" jawabku singkat


Aku tetap melanjutkan langkahku meninggalkan kak fadil di kamar. Suasana dirumah sekarang lagi ramai. Ada mama, sama nana juga yang datang mau jenguk fiona. Pasti girang tuh bocah, bebas minta apa pun ke mama. Nana juga pasti tak mau kalah mau menuruti semua kemauan nya fiona. Padahal aku sudah sering larang, cuma nana mana pernah mau mendengarkanku. katanya mumpung masih fiona, nanti kalau yang diperut sudah lahir tak bisa sering sering, karena harus beliin dua. Ya haruslah, mana boleh pilih kasih untuk kedua anak ku nanti. Walaupun fiona bukan ahir dari rahimku, tapi sayangku tulus untuk gadis kecil kebanggaanku itu


" Lagi nonton apa sih?" Aku ikut nemplok di karpet bulu depan tv. Disitu lagi ada mama, nana dan pastinya ketua suku nya, siapa lagi kalau bukan fiona


" Bundaaa.., kakak mau nonton" Protes fiona saat aku meluk meluk dia soalnya dia fokus sekali nonton.


" suka gangguin anak sendiri re" Ejek nana


Bibirku memprout. Ya emang kenapa, kan anak sendiri. Bukan anak tetangga " Biarinlah. Makanya nikah biar punya anak"


Mata nana membulat mendengar pembalasanku " Bentar lagi re. tunggu undangan saja"


" Mau nikah sama kambing?" Tanyaku sambil tertawa remeh


" Wahhh, ngeremehin nana nih. Kejang kejang kamu kalau tau suamiku ntar" Katanya nggak mau kalah


" Aku tung-"


" Bunda sama onty nana jangan berantem disini" Protes fiona menghentikan aksi saling ejek kami

__ADS_1


Mama terkekeh " Tuhkan, tak malu apa di protes sama anak anak"


Aku menunduk malu, bisa bisanya aku lupa disini masih ada mama. Gara gara nana nih, dasar jomblo akut.


Btw, nana datang selain mau jenguk fiona, juga karena mau bilang kalau dia sudah lulus SMA. Aku ikut senang mendengarnya. Tapi ada rasa sedikit sedih, seharusnya aku juga merasakan lulus lulusan seperti nana. Tapi ini sudah jalan yang kupilih, aku harus ikhlas. Lagian, kebahagiaan ku sekarang juga sudah cukup kok, apalagi nunggu si jagoan lahir, rasanya udah tak sabar.


****


Menu makan malam hari ini sudah tertata rapi di meja makan. Sebenarnya itu makanan yang ku masak dengan mama sama nana juga, karena masaknya agak banyakan, jadi aku panasin lagi buat makan malam. Mumpung masih enak, daripada dibuang kan sayang


Mama sama nana sudah pulang tadi sore. Mereka pulangnya barengan. sok akrab banget tuh si nana. Efek tak punya teman lagi, tante tante juga di babat sama dia. Temennya kan cuma aku seumur umur


Kak fadil datang menghampiri aku yang emang nungguin dia sebenarnya. Kebiasaan, rambut basah tak pernah mau dikeringkan. Pasti nunggu aku dulu. Tapi aku tahan. Aku masih nyimpan stok kesal yang belum aku lampiaskan soal yang dirumah sakit. Nunggu waktu yang tepat.


Ku sendokkan nasi beserta lauk untuk kak fadil dan juga untukku. Ku serahkan piring yang udah terisi kepadanya


" Mau makan dimana?" Tanya kak fadil yang melihatku pergi membawa sepiring nasi dan juga segelas air putih


Aku mendengar kak fadil menghembuskan nafasnya lelah. Aku juga lelah, bukan dia aja. Lelah jiwa dan raga.


****


" Aku tidur di kamar fiona" Kataku pada kak fadil yang daritadi memperhatikanku bersih bersih wajah, di depan meja rias


Aku sudah ganti bajuku jadi baju yang lebih nyaman buat aku tidur, dan yang pasti tidak ngeganggu jagoan kecilku


" Kamu menghindari aku?" tanya kak fadil sendu


Aku melihat raut wajah lelah kak fadil. Aku depeti merasa kak fadil lagi menghadapi masalah yang besar sekarang. Tapi dia tak mau cerita

__ADS_1


"siapa yang menghindar?" ucapku


" Aku mau ke fiona dulu"


Kak fadil menahan tanganku, dan menarik aku untuk masuk ke dalam pelukannya. Dipelukanya aku erat. gak sadar apa perut aku segede gini.


" Mas ih, peru- "


Aku tak jadi melanjutkan ucapanku saat merasakan badan kak fadil bergetar. Dia nangis. Lagi?


" Mas, kamu nangis?"


" Tolong jangan pernah tinggalkan aku apapun yang terjadi re" Lirih kak fadil memohon


Dahiku mengkerut, aku jadi semakin bertanya tanya. apasih yang lagi terjadi. Aku sama sekali tidak mengerti jalan cerita yang diciptakan kak fadil


Kak fadil menangkup kedua pipiku dan menatap mataku sendu " janji sama aku"


" Kamu kenapa sih mas?. Ada masalah, Cerita sama aku" tanyaku bertubi tubi


" Mas liat rere.Dalam hubungan itu tidak boleh ada yang ditutup tutupi. Hubungan kita ini bukan main main. Tolong jangan permainkan pernikahan"Ujarku lagi dengan nada rendah


" Aku belum bisa cerita sekarang re" kata kak fadil yang sudah mengalihkan pandangannya ke samping


Aku tersenyum getir. Sebenarnya aku sudah di anggap istri apa belum sih. begitu tak maunya dia berbagi ceritanya untuk ku. Sekalipun keluh kesah, aku akan siap mendengarkan dengan senang hati. Tapi apa ini, tiap hari aku harus menerka nerka menyusun teka teki yang dibuat kak fadil


" Aku tak tau apa masalah kamu mas. Karena kamu tidak mau berbagi sama aku. Tapi yang jelas, aku berharap kamu tidak sedang menyembunyikan kebohongan dari aku"


Aku menatap matanya lekat " Karena kebohongan itu kesalahan yang sangat fatal bagi aku" Lanjutku

__ADS_1


tak ada air mata disana. Mungkin aku sudah terlalu sering mengeluarkan air mata kesedihan, kekecewaan disebabkan oleh orang yang namanya selalu bertahta di hati. Belum ada yang bisa menggantikan walaupun sering menerima kenyataan dan fakta yang menyakitkan


" Rere ke kamar fiona. Dia belum sembuh total, harus tetep di awasi" Kataku jujur. Memang fiona harus tetap di awasi. Aku takut tiba tiba demam fiona naik lagi tengah malam, tapi aku tak ada di sampingnya. Jadi aku tak sepenuhnya menghindari kak fadil. Tapi cuma memanfaatkan situasi yang sedang terjadi.


__ADS_2