Wedding Story

Wedding Story
02|Wedding story


__ADS_3

"KAMU teh beneran, Neng?". Tanya wanita setengah baya itu pada anak gadis nya."Kamu gak perlu sampai seperti ini, ibu masih bisa kok kerja cari uang buat pengobatan bapak".


Nagita, gadis 20 tahun itu menghela nafas."Keputusan gita sudah bulat bu, ibu gak perlu khawatir". Gita ikut duduk di sebelah Isma—ibu-nya. "Lagian pak Wijaya dan istrinya-kan orang baik, ya pasti anak-nya juga baik". Sebenarnya gita juga ragu jika Raffi, selaku anak dari pak Wijaya artawangsa dan istrinya Catrine Willya, akan menerima gita.


"Ibu cuma khawatir, neng, kamu tau kan mereka itu orang kota berada. Gimana kalo nanti kamu—".


"Bu, gak pa-pa, lagian bu catrine juga kan sudah bilang kalo Mas raffi setuju". Nagita tersenyum menenangkan isma.


Ya, siapa yang tidak tau dengan keluarga konglomrat satu itu, bukan hanya nama Wijaya artawangsa yang terkenal di dunia bisnis, tetapi juga anak sulung nya. Raffi radja artawangsa, yang berhasil dengan bisnis real estate nya.


Bahkan, nagita yang notabe nya berada jauh di kota lain pun tau jika keluarga yang bermarga artawangsa itu bukan keluarga sembarangan.


—Wedding story—


"What?! Next week? Apa enggak kecepetan mi?". Raffi memperotes akan keputusan sepihak catrine dan wijaya yang akan membawa gadis kampung itu bertemu dengan-nya minggu depan.


"Gak ada yang namanya kecepetan, raffi, lagian itu juga kan baru ketemuan doang". Jelas catrine yang membuat raffi kesal setengah mati.


"Pi...". Raffi merengek, meminta keadilan pada wijaya.


"Mami kamu bener Fi, lagian umur kamu kan sudah 28 tahun. Udah gak bisa di tunda-tunda lagi". Wijaya tak menghiraukan rengekan putra nya, ia fokus pada koran di tangan nya.


Raffi tambah merengut saat wijaya ternyata lebih berpihak pada catrine. Dasar bucin. "Ah, raffi lupa kalo minggu depa--Awsh mami!". Raffi mengaduh saat catrine menggetok kepalanya dengan majalah yang sengaja wanita itu gulung.


"Gak usah alesan deh, raf, lagian dia masih muda, pinter masak juga. Pasti bisa jadi istri yang baik". Ujar catrine.


"Muda?". Tanya raffi.

__ADS_1


"Umur nya 20 tahun". Jawab catrine.


"What?! Are you kidding me?! Mami mau ngebuat raffi jadi fedofil?". Protes raffi.


"Kalian cuma beda delapan tahun!".


"Delapan tahun itu jauh mi!".


"Nyadar juga kamu, kalo kamu itu tua". Sahut wijaya yang sendari tadi hanya mendengarkan anak dan istrinya bicara.


"Papi!!". Raffi mendelik kesal pada wijaya. Catrine dan wijaya tertawa akan perotesan sang anak.


Kalo misalnya raffi itu tua, terus wijaya dan catrine itu apa?!


Dengan kesal, raffi melenggang pergi menjauh dari wijaya dan catrine. Ia pergi ke kamar nya yang bernuansa hitam-putin itu.


Kalea...


Lagi-lagi perempuan itu. Setelah kejadian minggu lalu saat raffi tau bahwa kalea pergi, raffi tak lagi mau mengetahui apa yang terjadi pada perempuan itu. Perempuan yang selama tiga tahun mengisi hatinya—bahkan sampai sekarang.


Ya, raffi tak menampik jika sampai sekarang hatinya masih terikat pada model cantik itu. Raffi bahkan masih ingat dengan pertemuan pertama mereka.


Flashback on


Siang itu, di perpustakaan yang sengaja di dirikam raffi, ia melihat seorang perempuan sedang mencoba meraih buku di rak paling atas. Entah kenapa raffi tersenyum melihatnya. Ia berjalan mendekati wanita itu, lengan nya terulur mengambil buku bersampul pita yang di incar sang perempuan.


"Eh?". Perempuan yang tak lain adalah Kalea itu tersentak saat lengan kokoh mendahului-nya. Ia berbalik dan mendapati seorang pria berdiri di depan nya dengan memegang buku bersampul pita. Sangat dekat.

__ADS_1


"Kau menginginkan ini?". Tanya raffi.


Kalea mengangguk lamat-lamat, manik mata indah itu tak lepas menatap wajah rupawan raffi."I-iya".


Raffi tersenyum."Cantik". Celetuk nya.


"Hah?".


"Eh? Ini buku nya, semoga kita bertemu lain kali". Setelah mengatakan itu, raffi melenggang pergi meninggalkan kalea yang berdiri mematung memandang punggung lebar yang menghilang di anatara rak-rak buku. Sambil Menggenggam buku bersampul pita.


Flashback of


—Wedding story—


"Soo...kamu calon istri yang dipilihkan mami saya?". Raffi memandang gadis dihadapan nya dari bawah sampai atas. Gadis itu hanya mengenakan celana kulot serta baju panjang berenda, rambut nya di ikat setengah membiarkan sebagian rambutnya tergerai. Untuk muka sih lumayan, tapi penampilan?


"I-iya , mas". Tangan gita meremas baju bawah nya gugup, siapa juga yang tak gugup di tatap intens oleh seorang pria kan?.


"Jadi nama?". Raffi menahan tawa saat melihat ekspresi gadis di hadapan nya.


"Na-nagita".


"Oke gita!". Raffi menyantak, membuat gita yang menunduk malu dan gugup itu terperanjat. Pria tampan itu mengulurkan tangan, gita memandang lengan raffi yang terulur, lalu mendongkak melihat wajah tampan itu. Ia tak mengerti.


Berdecak kesal, raffi meraih paksa tangan gita, mengajak nya bersalaman. Lagi-lagi berhasil membuat gadis itu terperanjat."Selamat menjadi nyonya muda artawangsa!".


—Wedding story—

__ADS_1


To be continue


__ADS_2