Wedding Story

Wedding Story
Delapan Puluh ( Patah hati seorang ibu)


__ADS_3

Kecemasan sudah menghantuiku dari tadi. Bagaimana tidak, sudah hampir jam 9 pagi tapi Nana belum juga kunjung datang. Padahal dia sudah berjanji untuk menemaniku ke sekolah Fiona.


Sejak tadi malam aku sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Perasaan tidak tenang karena meninggalkan anak- anak walaupun aku mengetahui anak- anak akan baik baik saja karena berada di asuhan orang yang baik. Tapi, tetap saja seorang ibu akan tetap cemas kalau dia belum memastikan kondisi anak nya dengan matanya secara langsung.


Mataku berbinar saat melihat gagang pintu rawat inapku terbuka. Ku pikir Nana, ternyata yang masuk adalah seorang suster dengan senyum ramahnya yang dua hari ini yang bertanggung jawab atas diriku.


" Ada keluhan bu Renata?"


Aku menggelengkan kepala seraya tersenyum ramah menanggapi pertanyaan suster itu " Sus, saya sudah bisa keluar pagi ini?" tanyaku pada suster tersebut yang sibuk mengecek infus yang tergantung di tempatnya.


" Tunggu keputusan dokter ya Bu. Dokter bilang mau observasi terlebih dulu. Kalau pagi ini sepertinya belum bisa"


Aku melenguh kecewa mendengar penuturan suter itu. apa aku harus melewatkan acara pentingnya Fiona.


" Sus, Kalau keluar dulu bisa?"


suster tersebut ku lihat mengerutkan keningnga tidak percaya. mungkin dia sedikit kesal dengan pasien yang banyak maunya seperti diriku.


" Ayolah sus, saya mau menghadiri acara anak saya di sekolah. Saya takut dia kecewa karena saya tidak hadir"


" Saya tidak memiliki kewenangan terhadap ibu sepenuhnya bu, Maaf. Tapi nanti coba saya tanyakan kepada dokter" Jawab suster itu dengan ramah. Tentu saja membuat senyumku mekar seketika.


" Tanya dokternya segera ya sus" Pintaku sekali lagi.


" Iya bu"


" Tidak ada acara keluar pagi ini ya Re"


Aku mengalihkan pandanganku kepada sumber suara yang tiba tiba ada. ternyata disana ada Nana yang masuk dengan beberapa paper bag di tangannya.


" Dokter Fani sudah ku telpon. paling cepat kamu boleh keluar sore. jadi tidak perlu merayu susternya"


Aku mengerucutkan bibirku mendengar kata kata Nana. Suster tadi malah senyum senyum melihat Nana yang datang dengan larangannya.


" Saya permisi dulu bu Renata. kalau ada perlu bisa panggil saya kembali"


Aku sekedar mengangguk menanggapi suster itu. mood ku pagi ini kembali rusak. padahal tadi sudah semangat semangatnya bisa keluar. Tapi tampaknya sekarang harus punah karena Nana.


" Nih makan dulu. belum makan kan?" tawar nana. Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak berminat untuk makan kali ini. Napsu makanku lenyap ntah kemana.


" Na, mau ke sekolahnya Fiona" lirihku


" Aku tidak akan melarangmu untuk bertemu dengan anakmu Re. Tapi ayolah, coba memahami situasi dan kondisi kamu saat ini"


" Tapi na, kalau sore ya sudah bubar acara di sekolahnya" aku mencoba memberi pengertian pada Nana. Mana ada acara terima rapor sampai sore kan, Terlebih ini anak SD.


Nana diam tak menanggapi ucapanku. Aku tetap terus memperhatikannya yang sibuk membongkar paper bag yang dibawanya tadi.

__ADS_1


" Nih makan dulu. Jangan menolak. kalau mau cepat keluar dari sini" Kata nana anarkis. memang tuh titisan jenglot mana pernah manis kalau berbicara.


Aku menggeleng, anggap saja lagi akting buat senjata meluluhkan Nana agar mengijinkan aku buat keluar dari rumah sakit yang membosankan ini.


" Yasudah, nolak makan berarti membuka peluang menambah hari disini, makin lama keluar dari rumah sakit ini. artinya makin lama buat ketemu sama anak anak"


" Aku sudah sehat ini Na. mau ngapain lagi disini" Kataku sedikit jengah


" Kamu mau mengajari dokter di sini. kalau kamu benar sudah sehat. mereka tidak akan menahan kepulanganmu. Cobalah untuk mengerti sedikit Re. Fiona disana tidak akan kekurangan orang orang yang sayang sama dia. dia pasti punya pendamping buat mengambil Rapornya. Tanpa harus ada kamu"


kata kata Nana jujur sedikit menggores hatiku. Air mata turut menunjukkan kesedihanku " Fiona memang bukan anak kandung yang kelur dari rahimku. Tapi, aku sayang sama dia Na."


" Hiks.. Aku sedih Na, saat pisah dari Fiona. aku selalu cemas setiap detik, Apa fiona sudah makan, apa dia sehat disana. Tapi aku tak bisa berbuat apa apa Na"


Aku luruh di pelukan Nana " Aku selalu khawatir sama keadaan dia Na" Isak ku


Nana mengusap usap punggungku dengan sabar


" Maafkan aku Re. Aku sama sekali tak bermaksud seperti itu"


" Nanti sore kita ke rumah mertua kamu, untuk menemui fiona" kata Nana menenangkanku.


****


" Dari hasil observasi, keadaan Bu Renata sudah dapat dikatan baik baik saja. Tapi harus tetap istirahat yang banyak. jangan terlalu banyak melakukan aktifitas yang berat berat. serta jaga pola makan"


Selagi Nana mengurus administrasi, aku bersiap siap merapikan barang barang yang di bawa selama aku di rawat disini. Tidak terlalu banyak memang, tapi biar aku yang melakukannya, agar setelah Nana datang kami bisa langsung menuju Rumah Mama.


" Kenapa banyak aktifitas dulu sih Re.?" Khawatir Nana yang baru saja tiba


aku tersenyum merekah "Sudah siap nih Na. Kita bisa langsung ke Rumah mama ya?"


Nana geleng geleng kepala " Fayyadh sama faza mau di jemput dulu atau tidak?"


Aku berfikir sejenak "Jangan deh Na. Nanti mereka susah di ajak pulang kalau sudah bertemu ayahnya" Lirihku.


" Ya biar saja mereka ketemu ayahnya Re. Kamu mana bisa melarang"


Aku menggelengkan kepalaku " Kalau dia sayang sama anak anaknya dia pasti datang buat jengukin Na. Tapi apa, sekali saja tak pernah" Lirihku mengingat kak fadil yang sama sekali tidak pernah datang berkunjung. Bukan untukku setidaknya untuk fayyadh dan faza yang masih butuh sosok ayahnya.


" Kamu tau, Na. Fayyadh sampai sampai terbawa mimpi karena rindu ayahnya. Tapi aku tak bisa apa apa. Aku sedih melihat anak anak menahan rindu terhadap ayahnya"


" sudah sudah, katanya mau ketemu Fiona. Sekarang kita kesana. "


" Semangat Bunda" Kata nana yang sedikit menghilangkan kesedihanku.


****

__ADS_1


Mobil yang Nana kendarai berhenti tepat di halaman luas depan rumah Kak Fadil. Rumah yang belakangan ini selalu ku rindukan. Sempat tinggal dan menjadi bagian dari rumah ini. Tapi, sekarang hanyalah tinggal kenangan. Yang harus diingat atau bahkan seharusnya di lupakan.


senyumku terus merekah merasa tak sabaran. setelah sekian lama akhirnya aku akan bertemu dengan anak cantikku Fiona. Dia pasti merindukanku juga. Sudah tak sabaran rasanya.


" Sepertinya mereka mau pergi deh, Na" Ujarku lirih saat melihat Mama dengan menggandeng fiona yang sudah berbalut gaun pink selutut kegemarannya. Aku masih mengingat, gaun itu aku yang membelinya waktu itu. Dan akhirnya gaun itu menjadi salah satu gaun andalan Fiona.


" Terus kita sekarang mau bagaimana. Turun atau tidak?"


" Sepertinya kita pulang saja Na. Di sana Fiona ternyata sudah bahagia dengan Ibu barunya" lirihku saat netraku melihat Fiona tertawa lepas dengan istri barunya.


Mataku tak lepas memandang mobil yang baru saja pergi membawa Fiona ntah kemana. Tapi tampaknya mereka sudah bahagia dengan tanpa adanya aku. Selama ini aku salah, ternyata hanya aku yang merasakan kerinduan dan kesepian karena berpisah dengan Fiona. Tapi sepertinya, dia sudah begitu cepat menerima orang baru, Lagi.


seharusnya aku sadar diri. Aku juga waktu itu cuma orang baru yang masuk ke hati Fiona. Gadis kecil itu dulu dengan sangat mudah menaruh hatinya kepada diriku. Fiona itu cuma butuh kasih sayang dari seorang wanita, karena itu tak dia dapatkan dari Ibu kandungya sendiri.


" Seharusnya aku paham ini dari wal Na" Air mataku sudah tak dapat lagi ku bendung. Rasanya tidak rela Fiona menyayangi orang lain selain diriku. Tapi nyatanya, sudahlah.


Nana mengusap lembut tanganku " jangan menangis lagi Re. Kata dokternya juga tadi jangan terlalu banyak pikiran."


" Aku sakit Na"


Tok tok


suara ketukan di jendela mobil menyadarkanku. Nana membuka kaca jendela mobilnya dan terlihatlah disitu satpam penjaga rumah mama, Pak waluyo namanya.


" Mbak Renata" Tegurnya ramah setelah kaca mobil terbuka dan dia melihat wajahku dan Nana.


" Hehe iya pak. Bagaimana kabarnya, sehat?" Tanyaku ramah


"Alhamdulillah mbak"


" Ohh iya mbak, ngomong ngomong mbak mau ketemu siapa. Dirumah lagi kosong. Nyonya oma baru saja pergi sama neng Fiona" Jelas Pak waluyo


" Iya pak. Tadinya mau ketemu Fiona. soalnya kangen" Kataku sambil tersenyum lebar. Nyatanya dalam hati tersayat pedih


Aku mengerutkan keningku melihat wajah Pak waluyo yang tiba tiba berubah sendu " Pak Fadil masuk rumah sakit Mbak. Sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Itu tadi nyonya Oma pergi untuk melihat kondisi Pak Fadil"


Aku terkejut " Mas Fadil sakit apa pak?" Tanyaku panik


*****


**Hy hy teman teman. Bagaimana dengan ceritanya. Hope you happy Gaesss.


Hanya tinggal beberapa episode lagi. Kira kira endingnya seperti apa yaa??. Huhuhu


jangan lupa like ya teman teman. Kasih info juga kepada yang lain untuk mampir ke cerita Ini.


Ohh ya..Sekarang aku lagi proses Revisi pelan pelan. Tenang aja buka merevisi Alur ceritanya kok. Cuma mau memperbaiki dari segi bahasa Agar sedikit lebih baik lagi.

__ADS_1


enjoy your day sayangsayang aku❤❤. Cinta kalian se Indonesia**.


__ADS_2