Wedding Story

Wedding Story
Empat Puluh Delapan ( Kehidupan Baru)


__ADS_3

Sekarang aku seperti di sibukkan mengurus 3 anak, bagaimana tidak, setelah kepulangan kak fadil dari rumah sakit kemarin, aku di repotkan dengan kak fadil yang manjanya overdosis kalo lagi sakit, kayaknya lebih gampang ngurusin fiona kalo lagi sakit daripada ayahnya yang manjanya dibuat buat.


" Bund"


" Kenapa kak?" Aku menoleh ke fiona yang menghampiriku di dapur yang lagi bertarung dengan adonan kue.


" Di panggil ayah" Adu fiona


Aku memutar mataku malas " Emang ayah kenapa kak?" tanyaku seraya mencuci tanganku yang penuh tepung


Fiona mengedikkan bahunya sambil menggeleng " Fiona mau ngerjain Pr dulu bund" pamit fiona padaku


Aku mengangguk " Kalo ada yang nggak ngerti tanya bunda ya kak" Ucapku. Walaupun aku nggak lulus SMA, kalo pelajaran anak TK masih bisa lah ya, dulu waktu SMA juga aku nggak tolol tolol amat kalo masalah pelajaran, Walaupun nggak selalu juara 1, tapi nggak pernah meleset dari Angka 3 besar.


" Ya ampun mas, jangan di gangguin anaknya lagi tidur" kesalku. begitu masuk kamar melihat fayyadh yang lagi anteng tidur malah di gangguin ayahnya.


" Aku lagi banyak kerjaan di dapur tau, kalo fayyadh nangis mana mau kamu dieminnya"


Sedangkan kak fadil hanya nyengir tanpa dosa. Memang iya, bisanya cuman buat anak nangis, urusan ngediemin mana pernah berhasil dia.


" Lagian kamu di dapur terus, apa sih yang ganteng di dapur"


Aku membulatkan mataku " Rere kan buat kue, buat di jual biar dapat uang"


" Kamu fikir kita makan darimana kalo aku nggak di dapur terus"


Keheningan menyelimuti kami berdua. Aku merutuki kebodohanku. Bisa bisa nya aku keceplosan ngomong kayak gitu.


" Aku nyusahin kamu kan?"


Aku menggeleng keras " Mas, bukan maksud rere gitu. rere seneng kok, buat kue gini"


Kak fadil tersenyum hambar " Apa yang kamu harepin dari laki laki cacat kayak aku, nggak ada kan?."


Aku tersentil mendengar penuturan kak fadil. Dia nggak cacat selamanya, kakinya bisa jalan lagi kok, kalo sering di terapi dan di latih latih. untuk sekarang ya memang, kaki kirinya masih kaku buat di bawa jalan.


" Mas.. iya rere salah. Tapi kamu jangan ngomong gitu ya. Kata dokter kamu masih bisa jalan lagi kok. Aku bakalan usaha terus biar kamu bisa sembuh ya"


Kak fadil bergerak memunggungi aku " Kalo kamu mau lepas bilang re, aku bakalan lepasin kamu"


Ku hampiri kak fadil dan langsung memeluknya " Kamu jangan ngomong gitu hiks.. Aku nggak suka" Lirihku


Aku malah mendengar suara kekehan kak fadil, ku angkat kepalaku ingin memastikan bagaimana reaksi wajahnya, benar saja dia lagi senyum senyum jail gitu " Udah jadi ibu, masih aja cengeng" ejeknya


Aku menarik tubuhku yang tadi meluk kak fadil " Kamu ngerjain aku ya" Kesalku.


" Abisnya kamu lucu" Ejek nya

__ADS_1


" Rere nggak suka ya mas, becandaan kamu keterlaluan"


Kak fadil menarik ku bersandar di dada nya " Iya, maafin aku ya. Makasih juga udah sabar ngadepin suami kamu ini" Katanya sambil mengusap usap nyaman kepalaku.


Ku gerak gerakkan jariku menggambar asal pola di dada bidangnya, tempat ternyaman kedua setelah pundak sambil menikmati aroma tubuhnya yang udah jadi candu bagiku


" re"


" hemm?"


" Kayaknya fayyadh udah bisa di kasi adik deh"


Aku sontak membulatkan mataku " Fayyadh baru aja genap 1 bulan hari ini ya mas. Jangan aneh aneh deh kamu" Protesku


" Ya tapi aku mau" Ucapnya dengan penuh harap


Aku menatap mata nya yang penuh harap. " Rere lagi datang bulan" Alibiku


" Bohong banget, tadi subuh aku masih liat kamu sholat kok"


Aku nyengir, bisa bisanya aku lupa kalo subuh tadi aku barengan sholatnya sama manusia mesum satu ini " Yaa, emang barusan ini datengnya"


" Nolak suami dosa re"


Aku memutar mataku malas, mendengar 4 kata andalan kak fadil " Nanti fayyadh bangun, lagian si kakak di rumah. Inikan minggu dia nggak sekolah" ujarku masih tetap mencari cari alasan.


" Aku nggak nerima alasan kamu sayang" Ujarnya sensual yang membuat bulu kudukku berdiri


" Nggak papa, setelah ini kan mandi juga"


Aku menarik nafas pasrah. Kalo udah gini mau bagaimana lagi, selain menuruti kemauan suami yang masih sempatnya mikirin itu di siang bolong gini ditambah dalam keadaan sakit. Alamat sampe sore di kamar terus nih, awalnya bilang sebentar tapi mustahil kalo sebentar.


Nasib jadi seorang istri ya gitu ya, tapi ikhlasin aja. anggap aja sebagai ladang pahala.


****


Aku buru buru keluar dari kamar mandi karena fayyadh yang udah nangis kejer karena aku nggak buru buru ngehampiri dia, ya mau gimana masih ada busa sabun nggak mungkin langsung keluar kan?


" Adek haus ya nak, cup cup" Ujarku sambil menghampiri fayyadh dengan rambutku yang masih di gulung dengan handuk. Pahamlah ya kan, kenapa aku keramas jam segini.


" Pelan pelan dek, nggak ada yang ngambil" Aku terkekeh melihat fayyadh yang begitu semangat menyusu.


" Punya ayah itu nak"


Mataku membulat mendengar perkataan kak fadil yang spontan. Ku tatap dia dengan mata yang melebar


" Lah emang iya, jatah kamu cuman sampek 2 tahun "

__ADS_1


Ku lempar kak fadil dengan guling kecil milik fayyadh yang kebetulan berada dekatku. dan tepat sasaran sekali. Persis mendarat di wajah manusia mesum yang sialnya berstatus suami ku itu.


" Emang fayyadh paham sama ocehan kamu" Sindirku


" Pahamlah, anak aku kan pinter semua" Sombongnya


Aku memutar mataku malas " Jangan digangguin anaknya nyusu mas" Peringatku pada kak fadil yang udah ndusel ndusel di pipi gemoy fayyadh


Kak fadil sama sekali nggak mengindahkan laranganku" Mas, ntar nangis kamu yang nenangin ya" ancamku


Kak fadil langsung menghentikan aksinya menjaili anak bungsunya yang super ganteng yang lagi nyusu ini " Itu rambutnya di keringin dulu. Nggak mesti nungguin aku kan?" tanyaku


" Kalo bisa nungguin kamu sih lebih baik nungguin kamu buat ngeringi-"


" Nggak ada ya mas, tangan kamu nggak sakit, kalo buat ngeringin rambut kamu pasti bisa" Potongku cepat.


" Ngelakuin hal yang lebih dari situ aja kamu sanggup kok" Sindirku


" Kamu juga suka kali re. Kayak aku aja yang enak sebelah pihak"


Aku membulatkan mataku " Iss diem ah mas. Pembicaraan kamu nggak nyambung" Kataku malas. Aku tau kalo uah kayak gitu, pembicaraannya nggak jauh jauh dari aktifitas ranjang. Dan aku nggak suka. Kan malu.


Fayyadh menyudahi aktifitas menyusunya, setelah puas dengan dua pabrik susu milik ku. Kalo udah habis nyusuin fayyadh gini aku pasti jadi laper


" Mas, nitip fayyadh dulu ya" Pintaku pada kak fadil yang sedaritadi liatin anaknya nyusu sambil bersandar di kepala ranjang.


" Mau kemana?" Tanya kak fadil


" Mau ambil nasi. Laper aku" Kataku seraya meletakkan fayyadh di sebelah kak fadil


Kak fadil mengangguk " Banyakin ya sayang, aku mau juga"


Aku mengangguk mengiyakan ucapan kak fadil. Memang udah sering sih gitu. Kalo aku lagi makan selalu aja ngeganggu. Nggak pernah biarin istrinya makan dengan tenang gitu. Belum lagi fiona yang terkadang suka ngikut tabiat buruk ayah nya, alhasil nanti sepiring buat bertiga. Yang herannya, selalu kuat gitu makannya kalo makan dari tangan aku. Apalagi fiona biasanya makan tuh, susahnya ampun kalo di ajak buat makan. Makanya aku sering ngajakin fiona makan sepiring berdua sama aku biar perut fiona terisi.


Sebelum aku menuju dapur, aku melangkahkan kaki ku ke kamar fiona terlebih dahulu, melihat kegiatan anak gemoy ku itu. Kamar yang di tempati fiona sekarang itu adalah bekas kamarku dulu. Iya, kami sekarang masih tinggal di rumah mendiang ibu. Alasannya ya karena aku udah nyaman tinggal di rumah ini. Dan kak fadil juga setuju, karena dia mau memulai kehidupan baru tanpa bantuan dari harta orang tuanya. Dan mama sama papa memaklumi keputusan kami berdua.


" kak, udah selesai belum Pr nya nak?" Tanyaku setelah masuk ke kamar menemukan fiona yang lagi sibuk dengan buku buku nya


Fiona menghentikan acara menulisnya karena kedatanganku " Udah bund"


Aku tersenyum " Yaudah makan dulu yuk" Ajak ku pada fiona


" Makannya kongsian sama bunda ya " Pintanya dengan penuh harap


Sudah ku duga. Brarti aku harus menuhin piringku buat porsi 3 orang. Karena jujur aku makannya juga meningkat karena nyusuin fayyadh


" yaudah iya. Bunda ke dapur dulu ya "

__ADS_1


" Bukunya di beresin ya kak" Perintahku pada fiona sebelum keluar dari kamarnya


" Siap bund"


__ADS_2