
Pagi ini rasanya aku nggak bersemangat untuk ngapa ngapain. Badan aku nggak tau kenapa lemes banget, mungkin efek dari kemarin malam, mulutku selalu nolak kalo mau di ajak makan. nggak tau apa penyebabnya. Mungkin karena aku terlalu kecapean, di tambah makan nggak teratur belakangan ini.
Mataku kupaksa untuk terbuka, aku harus bangun buat nyiapin keperluan kak fadil ke kantor dan si sulung fiona buat ke sekolah. Aku nggak mau fiona merasa terabaikan olehku. Aku takut fiona semakin jauh dariku. dari semalam, fiona seperti menghindar. Apa apa semuanya minta ke ayahnya, padahal aku selalu nawarin diri buat menuhin apa yang dia butuhkan, tapi dia seakan enggan. Aku sadar, ini semua karena kesalahanku.
Setelah sikat gigi dan cuci muka, ku pikir aku akan lebih segar. Tapi nyatanya masih sama, malah sekarang kepalaku rasanya makin nyut nyutan. Dan seperti ada yang bergejolak di perutku. Aku rasa ini gejala gejala masuk angin.
" Mas.. Bangun. Kamu nggak ngantor?" Aku membangunkan kak fadil yang lagi tidur sambil ngeloni anak laki lakinya.
Kak fadil terusik. Dibukanya matanya perlahan. Aku tersenyum hangat padanya. Tapi nggak ada balasan senyuman hangat juga untuk ku di pagi ini. Apa kak fadil masih marah?
Aku mencoba berfikir positif aja. Ku rapikan letak selimut fayyadh yang masih terlelap. Kalo lagi tidur gini, persis kayak ayahnya. Bener bener cetakan kecil versi ayahnya.
" Mas.. Bajunya udah rere siapin ya. Rere ke kamarnya fiona dulu" Teriak ku tidak terlalu kuat agar kak fadil mendengarnya dari dalam kamar mandi sana.
Aku berjalan gontai ke arah kamar fiona, kalo aja aku gak buru buru berpegang pada gagang pintu kamar fiona, mungkin aku udah jatuh terkulai ke lantai. Pandanganku sekarang udah mulai memburam rasanya sungguh sangat lemas nggak tertahan
Kupaksakan aku untuk tetap membanguni fiona yang masih tidur dengan damai. Kalo lagi tidur kayak gini, aku jadi nyesel kalo inget aku pernah bentakin dia
" Kakak..bangun yuk nak" panggilku lembut
Fiona sedikit terusik, tapi matanya masih tertutup rapat kayak di kasih lem.
" Hari ini sekolah kan sayang, udahan liburnya ya nak"
Fiona udah dua hari libur semenjak kejadian pr nya yang belum selesai itu. Aku sebenarnya nggak setuju kalo fiona libur gara gara nggak siap Pr, aku takut itu jadi kebiasaan yang nggak baik buat dia. Tapi, karena ayahnya ngijinin, plus ini semua berawal dari kesalahankhu, akhirnya mau nggak mau aku ngikutin keputusan ayah anak anak itu.
" Hemmmhh..bundaaa" Aku tetsenyum hangat ke arah fiona yang lagi meregangkan ototnya sambil mengumpulkan nyawa buat bangun. Aku senang, setidaknya fiona udah mau bicara ke aku.
"Bangun yuk, sekolah ya" Kataku lagi menyadarkan fiona
fiona mengangguk sambil merentangkan kedua tangannya ke arahku " gendong bund"
Aku bingung mau nolak atau menerima permintaan fiona. Kalau aku lagi fit kayak biasa, aku nggak akan mikir dua kali buat gendong fiona.Tapi sekarang, buat bawa diri sendiri aja rasanya berat banget. Aku takut fiona jatuh kalo aku masih maksain diri buat gendong dia.
" Anak cantik bunda, kan udah gedek nak. Masa minta gendong lagi sih, nanti kalo temen temennya liat gimana, malu kan?" kataku memberi alasan agar fiona mengurungkan niatnya buat minta gendong
Dan, alasan klasik yang ku berikan pada fiona pagi ini berhasil juga. Fiona nggak jadi minta gendong, karena takut malu udah gede masih minta gendong. Akhirnya dia berjalan sendiri ke arah kamar mandi dengan membawa handuk di pundaknya.
Fiona udah makin besar, tinggal beberapa bulan lagi udah masuk SD. Aku udah nggak sabar menyaksikan proses tumbuh dewasanya anak cantik ku itu dan tumbuh jadi wanita hebat yang berhasil mencapai cita citan yang di impikannya.
__ADS_1
Sebelum keluar dari kamar fiona, aku menyiapkan seragam sekolahnya terlebih dahulu. Sebenarnya dia udah bisa sih milih seragam sesuai harinya, cuman ya gitu, ngambilnya masih acak acakan. Aku maklumin sih, karena masih kecil, sedangkan ayahnya yang udah tua bangkotan aja masih suka obrak abrik lemari buat cari pakaian atau sejenisnya. Tapi, aku kadang ngasi pengertian ke fiona, gimana cara buat ambil pakaian nggak berantakan. Fiona itu perempuan, jadi harus diajarin rapi sejak dini.
Saat aku baru keluar dari kamar fiona, aku di kejutkan oleh kak fadil yang udah berdiri di samping pintu. Aku terkejut bukan main.
" Kenapa mas?" Tanyaku takut takut, karena melihat ekspresi wajahnya yang sangat tidak bersahabat.
" Aku kecewa sama kamu re" Kata kak fadil penuh penekanan
Aku mengerutkan keningku. Aku buat salah apa lagi sekarang.
" Rere nggak ngerti maksud kamu apa mas?" tanyaku penasaran
Kak fadil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, dan berhasil membuat mataku melotot, sekaligus takut. Bagaimana kak fadil bisa nemuin itu.
" Rere bisa jelasin mas" Kataku berusaha meyakinkan kak fadil
kak fadil tertawa sumbang " Jelasin apa re. Pil pencegah kehamilan. punya kamu kan?"
Aku menggelengkan kepalaku kuat " Rere bisa jelasin ya mas. Tapi nanti, tunggu fiona berangkat ke sekolah dulu " Pintaku dengan memohon sambil memegang tangan kak fadil
Kak fadil menepis tanganku yang memegang tangannya " Seharusnya kamu bilang terus terang kalo kamu nggak mau hamil lagi, biar aku tau, nggak perlu nyentuh kamu!!"
" Lepas"
Aku menggelengkan kepalaku enggan melepaskan pelukanku
" Lepas renata"
" Rere nggak mau mas hiks"
" Lepas aku bilang!!!" Bentak kak fadil yang reflek membuat aku melepaskan pelukan ku, dan kak fadil langsung berlalu meinggalkanku tanpa mau menoleh sedikitpun.
" Bundaaa.." Teriak fiona yang melihatku udah terduduk di lantai. Aku udah nggak bisa menopang berat badanku. Rasanya semakin lemas sekarang
" Ayah kenapa teriak bund?" Tanya fiona khawatir.
Aku menggelengkan kepalaku " Nggak papa kak. Sekarang siap siap ya buat berangkat ke sekolah" Kataku lemah
Aku berusaha berdiri menuju kamar, tujuan ku adalah ingin menelpon nana dan minta tolong buat nganterin fiona ke sekolah. Karena aku nggak bakalan sanggup buat anterin fiona, sedangkan kak fadil udah pergi ntah kemana. Aku takut terjadi apa apa sama kak fadil, karena pergi dalam keadaan emosi.
__ADS_1
" Halo na" kataku saat sambungan telponnya sudah terhubung
" kenapa re?"
" Gue bisa minta tolong lo buat anterin fiona nggak*?" pintaku nggak enak karena harus ngerepotin nana
" Bisaa sih re. kebetulan gue nggak ada kerjaan nih"
Aku tersenyum lega mendengar penuturan nana " Makasih ya na. sekali lagi maaf udah ngerepotin lo"
Aku dapat mendengar suara kekehan nana dari sana " "santai aja lah re. Lo kayak sama siapa aja sih"
" Yaudah, gue tutup dulu ya. gue otw ke rumah lo ni"
" iya re. Hati hati ya" Kataku mengakhiri sambungan telepon kami.
Aku beralih ke tempat tidur, disana udah ada fayyadh dengan matanya yang udah cerah banget ngeliatin aku " Anak bunda udah bangun ya nak. Mau minum ya, haus ya sayang"
Aku mengangkat fayyadh ke pangkuanku. Aku membuka beberapa kancing bajuku. Aku mau mencoba memberi asi fayyadh lagi, dan aku senang ternyata fayyadh menerima nya dengan lahap. Selama ini, asinya aku pompa terus tapi nggak ada yang minum. Kalo nggak di pomoa kadang suka sakit dan banjir, makanya mau nggak mau aku pompa. Tapi nampaknya fayyadh mau kalo asi langsung seperti ini. Aku jadi merasa bersalah udah memberhentikan asi fayyadh terlalu cepat.
" Bundaa" Teriak fiona menghampiriku. Penampilannya udah rapi buat siap siap ke sekolah. tas nya udah siap sedia terlampir di pundaknya
" Onty nana udah di depan. Katanya mau nganterin kakak" Adu fiona padaku
" Iya kak. Berangkat bareng onty nana dulu ya. bunda nggak enak badan"
Fiona mengangguk antusias. Kan udah aku bilang, dia itu hepi kalo lagi sama nana. Karena nana bakalan nurutin semua kemauan nya dia.
" Siap bund. Fiona berangkat dulu ya" Pamit fiona sambil meraih tanganku buat di salim
" Belajar yang rajin nak" Ujarku saat fiona menciumi pipiku bergantian setelah mencim tanganku
" Kakak sekolah dulu ya adek" pamit fiona pada fayyadh yang udah kesel di ganggu acara nyusunya
Aku terkekeh melihat reaksi wajah kesal fayyadh " Ihh kok kesel sih. Kan kakaknya mau berangkat sekolah" ujarku pada fayyadh yang udah memberhentikan nyusunya
" yayah yah" Celoteh fayyadh. Aku tersenyum hambar mendengar ocehannya fayyadh yang belakangan ini selalu mengisi sunyi rumah ini. Fayyadh udah bisa ngoceh nyebut ayah sama bunda walaupun kurang fasih
" Ayah masih kerja ya dek. Sama bunda dulu ya nak ya" Fayyadh terkikik mendengar ucapanku. Ku duduk kan dia di ranjang. Main dulu sebentar sebelum mandi, lagian aku masih terlalu lemas buat mandiin fayyadh. Aku khawatir nggak bisa ngimbangin fayyadh yang lagi aktif aktifnya sekarang.
__ADS_1