
TIGA bulan sudah mereka menjadi sepasang suami-istri, dan seperti biasa pagi ini nagita bangun lebih awal. Dia bangun dalam pelukan sang suami.
Mesi keduanya tidak seperti seperti pasangan-pasangan yang menikah karna cinta, tetapi hubungan nagita dan raffi cukup baik. Meski raffi masih belum bisa terbuka tentang nya pada nagita.
Nagita beranjak dari tempat tidur, dia mencepol rambutnya asal, lalu menyiapkan keperluan raffi. Pergi mandi, selesai mandi dan berpakaian nagita membangunkan raffi yang masih nyaman bergelung dibawah selimut.
"Mas, bangun". Nagita mengguncang-kan badan pria itu."Mas!". Dengan sengaja, nagita menampar pantat raffi yang terlindung selimut.
Raffi yang kaget-pun membuka matanya."Masih ngantuk". Lelaki itu bergumam, lalu kembali menutup matanya.
Nagita menghela nafasnya lelah, tiga bulan menikah nagita mulai tau dan terbiasa dengan 'Sisi lain' suaminya. Raffi yang di luar terkenal dengan kesempurnaan nya ternyata tak se-sempurna itu. Ia sekarang percaya jika manusia tidak ada yang sempurna.
"Mas". Panggil nagita lebut."Bangun, yuk. Mas kan harus ke kantor, gak inget semalem nyuruh aku buat bangunin mas raffi pagi-pagi? Bangun". Sambung nya.
Raffi menggeliat, nagita fikir lelaki itu akan bangun. Tapi ternyata tidak, raffi malah mengambil guling dan memeluk nya erat. Nagita berdecak melihat kelakuan lelaki yang katanya sempurna itu.
"Mas! Aku kasih dua menit! Abis itu bangun terus mandi, aku siapin sarapan dibawah". Nagita keluar dari kamar, samar-samar ia mendengar raffi bergumam.
"Lima manit lagi".
—Wedding story—
__ADS_1
"Na! Kaus kaki-ku mana?!". Nagita terus saja mendumel mendengar teriakan suaminya. Lelaki itu selalu saja melupakan barang yang ia simpan.
Dengan kesal nagita memasuki kamar, dia melihat raffi yang sedang duduk di pinggir tempat-tidur."Gimana mau ketemu kalo gak dicari, mas!". Omel gadis itu.
Jangan tanyakan mengapa nagita masih bergelar setatus 'gadis' . Tentu saja karna mereka belum melakukan itu. Jika saja ada penghargaan dengan kata gori 'Istri perawan' sudah pasti nagita yang mendapatkan penghargaan itu.
"Cari yang baru, Na". Suruh raffi, pria itu memang terbiasa dilayani, dan sejak kehadiran nagita selama tiga bulan ini yang menyiapkan dan melayani segala keperluan nya, raffi merasa ia ketergantungan kepada istrinya itu.
"Sampe kamu tua-pun gak bakal ketemu kalo gak dicari". Nagita memberikan sepasang kaus kaki pada raffi, yang langsung dipasang oleh-nya.
Nagita juga memilih dasi untuk hari ini, dia menyuruh agar suaminya menunduk karna tinggi badan nagita dan raffi yang berbeda. Raffi menurut, ia membungkuk membiarkan istrinya itu memasangkan dasi padanya.
"Ayo turun, nanti sarapan nya dingin". Raffi mengangguk, ia keluar dari kamar di ikuti nagita yang membawa tas kerja serta jas raffi.
"Mas, besok aku mau izin pergi ke rumah bapak sama ibu". Nagita memecah keheningan, raffi yang sedang menyantap makanan nya pun memandang sang istri."Aku pengen nengok aja mas, lagian udah dua bulan ini aku gak ketemu bapak sama ibu. Ngobrol cuma lewat hape doang". Sambung nagita setelah tau apa maksud dari tatapan suami-nya.
"Dari ibu kote ke pandeglang lumayan jauh, terus kamu mau nginep?". Tanya raffi akhirnya.
"Dua hari, ya mas".
Raffi tampak menimbang permintaan istrinya itu. Mereka memang sudah dua bulan tak mengunjungi kota kelahiran istrinya itu. Mengunjungi wijaya dan catrine pun mereka jarang.
__ADS_1
Alasan-nya, karna raffi yang sibuk di kantor, sedangkan nagita tak bisa membawa mobil sendiri dan tak ada sopir yang raffi pekerjakan karna biasanya asisten-nya karl yang akan datang pagi-pagi ke rumah nya dan menyupiri raffi.
Bukan karna raffi pelit menggaji sopir, hanya saja ia sudah terbiasa dengan karl yang menyupirinya. Mereka juga sering berdiskusi disepanjang perjalanan biasanya.
Raffi mengangguk tanpa kata dan kembali memakan sarapan-nya. Dalam hati, pria itu mendumal kesal, jika nanti nagita menginap di kota kelahiran nya, yang menyiapkan segala keperluan nya nanti siapa? Siapa yang akan memasangkan dasi serta mencari-kan barang yang raffi lupa simpan dimana? Oke, itu berlebihan raffi. Jelas pria itu dapat melakukan semua yang ia fikirkan.
Tetapi, apakah raffi bisa tidur sendiri sekarang? Mengingat selama menikah, raffi terbiasa tidur dengan istri di samping nya. Bahkan terlelap dalam pelukan istrinya.
Selesai sarapan, nagita mengantar raffi sampai depan pintu. Seperti bulan-bulan sebelum-nya saat raffi hendak pergi kekantor, nagita membantu memakai-kan jas nya. Memberikan tas kerja dan mencium punggung tangan suaminya itu.
Meski raffi tak balas mencium kening-nya--- seperti yang nagita khayalkan selama menikah--- tetapi nagita cukup senang karna pria itu tak menolak.
Karl yang berdiri di depan pintu mobil tuan-nya itu memperhatikan mereka dengan senyum. Tak menyangka jika tuan-nya akan secepat itu menerima kehadiran istrinya walalu-- mungkin belum sepenuhnya.
Saat raffi menghampirinya, karl membuka-kan pintu mobil untur raffi, setelah itu karl membungkuk sopan pada nagita yang masih berdiri di depan pintu-- yang dibalas tersenyum oleh nagita. Karl masuk kedalam mobil, melajukan-nya dengan kecepatan sedang seperti biasa.
—Wedding story—
To be continue
Follow iga penulis : ajizah_st28
__ADS_1