
Disinilah aku berada sekarang, didepan ruangan salah satu rumah sakit terdekat dari rumahku. Perasaan takut sudah menghampiriku. Pikiranku melayang kemana mana. muncul kekhawatiran berlebih tentang kondisi ibu yang masih ditangani didalam.
" Sabar ya sayang, berdoa sama Allah, semoga ibu kamu baik baik saja" kalau kalian mengira yang berbicara adalah kak fadil, maka kalian salah besar. yang berbicara barusan adalah mama kak fadil yang duduk di sebelahku dengan memanggku si gadis kecil fiona.
Tadi setelah aku menelpon kak fadil, tidak berapa lama kak fadil datang bersama mamanya dan fiona. alhasil kami semua sedang berada di rumah sakit sekarang.
" makasih ya tante" lirihku dengan sedikit memaksakan senyumanku.
Tubuhku rasanya sangat lemas. aku baru sadar kalau aku tidak jadi memakan nasi yang ingin ku makan tadi, tapi itu hanya tinggal angan angan. perutku rasanya lapar. Tapi nafsu untuk makan sama sekali tidak ada.
Dan jangan lupakan penampilanku saat ini, menggunakan baju tidur dengan motif dora emon. Aku terlalu panik hanya untuk sekedar mengganti bajuku sebelum ke rumah sakit
" Bunda, jangan sedih" ucap gadis gemoy yang ada di pangkuan mama kak fadil.
Aku tersenyum tulus ke arahnya. Sakingkan paniknya, sampai sampai aku belum menghiraukannya dari tadi.
" Bunda tidak sedih kok sayang" ucapku yang sudah mulai terbiasa mengucapkan diriku dengan kata kata bunda
" Mau gendong" pintanya sambil merentangkan tangan kecilnya padaku
" Fiona sama oma saja" Bukan aku yang berbicara. melainkan kak fadil yang berada di depanku, yang sedari tadi diam tanpa suara
Fiona yang dilarang ayahnya pun jadi kicep, dan tidak ada bantahan darinya
" Sini sayang sama bunda" ucpku sambil meraih fiona dari pangkuan mama kak fadil.
Aku tidak peduli dengan kak fadil yang menatapku tajam. lagian sudah berapa kali ku ingatkan, jangan terlalu keras sama anak. Tetap saja sikap keras dan dinginnya masih saja tertanam padanya, sekalipun sama anaknya
" Fiona kok ikut kesini sih ?" Tanyaku dengan tidak berhenti menciumi pipi gemoy nya
" Mau ketemu bunda" jawabnya sangat lucu. " Fiona kan kangen banyak banyak sama bunda "
Aku tersenyum mendengar jawaban lucu khas anak kecilnya. Setidaknya, aku dapat meredakan kesedihan ku walaupun hanya sedikit.
" Bunda juga kangen banyak banyak sama anak bunda ini" jawabku mengikuti gaya bahasanya
Aku sadar, sedari tadi baik mama kak fadil, maupun kak fadil memerhatikan interaksi ku dengan fiona. Walaupun begitu rasa sayangku terhadap fiona bukan pencitraan semata mata. Aku tulus sayang padanya. Mungkin kalau kami di pisahkan aku gak sanggp rasanya.
Pintu ruangan dimana ibu sedang ditangani terbuka. Menampilkan seorang dokter dengan hijab yang melekat padanya " Keluarga pasien" Ucap dokter tersebut
__ADS_1
" Saya anak nya dokter" Ucapku berdiri dari tempat duduk, masih menggendong fiona
" Pasien sudah boleh di jenguk. Tapi jangan terlalu banyak diajak ngobrol" kata dokternya ramah
Setelah dokter tersebut meninggalkan ruangan, aku langsung masuk kedalam ruangan ibuku dengan masih bersama fiona digendonganku, dengan disusul oleh kak fadil dan mamanya
Saat masuk pandangan pertama yang kulihat adalah ibu yang terbaring lemah di brankar rumah sakit, tapi masih mampu menampilkan senyumannya. Ternyata ibuku sudah sadar dari pingsannya
" Rere, fiona sama tante saja sini" Kata mama kak fadil, yang langsung ku iyakan. Karena aku ingin mengecek keadaan ibuku
" Sama oma dulu ya sayang" Pujuk ku pada fiona yang langsung diiyakannya
" Ada yang sakit bu?" Tanyaku sambil mengambil posisi duduk disebelah brankar tempat ibuku terbaring
Ibuku menggeleng " Tidak ada sayang" Diusapnya lembut kepalaku dengan tangan lemahnya
" Ibu mau bicara sama fadil re" ucap ibu padaku.
Aku menoleh kebelakang, tempat dimana kak fadil berdiri " Kak, ibu mau ngomong"
Kak fadil berjalan menghampiri ibuku, dia berdiri tepat disebelahku.
" Fadil, ibu mau minta tolong sama kamu. Tolong jaga rere ya" Pinta ibu dengan tulus
Aku kaget mendengar permintaan ibu kepada kak fadil
" Baik bu, semampu saya" jawab kak fadil sedikit ragu, terdengar dari suaranya
" Ibu mau kamu nikahi rere"
Aku terkejut mendengar lanjutan perkataan ibu, bukan aku dan kak fadil saja, bahkan mama kak fadil yang berada dibelakang mungkin kaget mendengar permintaan ibuku
" Bu..Rere belum kepikiran sampai situ" Akhirnya aku buka suara. karena kuyakin kak fadil masih syok mendengar permintaan ibu
" Re, ibu mau nyaksikan kamu menikah sebelum ibu pergi" jawab ibu dengan air mata yang sudah menghiasi pipinya
" kamu mau kan nak fadil?" Tanya ibu meyakinkan kak fadil
" Tapi tante..."
__ADS_1
Ucapan kak fadil terhenti akibat di potong mamanya " Iya mbak, fadil akan menikahi Renata" Ucap mama kak fadil dengan yakin
"Tapi maa.."
" Apa masalahnya sih fadil, toh kamu sama rere juga sudahmh pacaran. Brarti kalian sudah suka sama suka kan?"
" Fadil masih sekolah. Rere juga"
Aku masih setia mendengar perdebatan kecil antara kak fadil dan mamanya. Aku jadi sedikit tidak enak. Ya memang, betul yang diucapkan mama kak fadil, kami memang sepasang kekasih. Tapi mungkin hanya aku yang menaruh rasa terhadap kak fadil. Kalau kak fadil sendiri masih di pertanyakan. karena sikapnya yang tidak bisa dikatakan seorang kekasih. Mungkin hanya sebatas tanggung jawab atau formalitas atas hubungan yang telah dibangun.
" Tidak ada masalah soal itu, mama yang akan menyiapkan semuanya. Kamu bisa kerja di kantor papa, setelah nikah nanti" jawab mama kak fadil
" Mbak, saya setuju rere nikah sama fadil" kata mama kak fadil lembut terhadap ibu yang tersenyum manis padanya
" saya mau pernikannya sekarang, di depan saya" pinta ibu sangat memohon
" Bu, rere pasti nikah sama kak fadil. tapi nanti kalau ibu sudah keluar dari rumah sakit. Makanya ibu sehat dulu, biar bisa nyaksiin pernikahan Rere" ucapku meyakinkan ibu. Aku sungguh tak bisa memendung air mataku lagi.
Ibu menggelengkan kepalanya" biar ibu tenang re"
Ntah apa yang dimaksudkan ibu, tenang bagaimana. Aku jadi semakin takut dengan ibu seperti ini. pikiran pikiran buruk kembali menghampiriku. cemas dan takut akan kehilangan satu satunya orang yang kumiliki sekarang.
" Iya mbak, pernikahannya akan kita laksanakan disini. saya akan mempersiapkan semuanya" Ntah apa yang membuat mama kak fadil seyakin ini, sehingga mampu mengiyakan semua kehendak ibuku.
Aku memandang kak fadil yang sedari tadi diam. Sebetulnya aku merasa tidak enak sudah melibatkan kak fadil dalam hal ini. Tapi aku juga gak tau akhirnya akan seperti ini.
****
" Bagaimana para saksi"
" sah?" Ucap penghulu yang menjabat tangan kak fadil
" SAH" serentak saksi dengan seyum lega yang tidak lain adalah ibuku, mama kak fadil dan dokter serta suster yang merawat ibuku
Aku tidak tahu apakah aku harus bahagia dengan ini semua. Ini awal bukan akhir. Kehidupan sebenarnya baru saja ku mulai. Apakah aku sanggup menyandang status sebagai istri diusia sedini ini
mama kak fadil mengarahkan ku untuk menyalim tangan kak fadil. Tangan dinginku meraih tangannya dan kuarahkan ke wajahku. Bagaimana stri yang sedang menyalim suaminya, begitulah yang sedang kulakukan
" Maafin rere kak" hanya itu kata yang dapat ku ucapkan saat menyalim kak fadil dengan khidmat. Jangan lupakan air mata yang masih setia membanjiri pipiku
__ADS_1
Kalau kalian pikir, ada balasan kecupan manis dikeningku, kalian salah besar. karena tidak ada sama sekali. Padahal kak fadil udah sering melakukan hal yang lebih dari situ. Pasti kalian tidak lupa kan atas kesepakatanku dengan dia. Itu masih tetap berlangsung sampai sekarang.