
Tepat pukul 1 dini hari kak fadil baru tiba di rumah. Bukan baru tiba setelah perjalanan luar kota. Janjinya yang bakalan tiba sore itu benar adanya. Tadi sekitar pukul 4 sore kak fadil udah sampai di rumah. Tapi, cuma sekedar mandi sama ganti pakaian, setelah itu pergi lagi ke kantor katanya. Anak anak aja sampai di acuhkan.
Aku sedaritadi memang nggak bisa tidur, langsung merubah posisi menjadi duduk setelah mengetahui kak fadil sudah kembali. Wajah lelah jelas tercetak. Kasihan sebenarnya. Tapi itu yang udah jadi pilihan kak fadil sendiri. Aku nggak pernah minta yang berlebihan sama kak fadil. Aku juga nggak nuntut yang gimana gimana. Karena aku juga masih punya penghasilan sendiri dari kafe yang dulu aku kelola. Kafe itu masih berdiri, walaupun aku cuma sesekali kesana untuk mengeceknya. Karena aku udah mempercayakan semuanya sama karyawan yang udah aku anggap kayak kakak sendiri.
" Aku nggak pernah nuntut apa apa ke kamu mas. Tapi, apa sih motif kamu kerja gila gilaan kayak gini?" Tanyaku tak sabaran saat kak fadil hendak mengambil laptop. Buat apa lagi laptop kalok nggak buat urusan kerjaan lagi. Padahal baru aja balik dari kantor.
Ku lihat Kak fadil menghembuskan nafas beratnya. Niatnya untuk mengambil laptop nampaknya diurungkan, karena ucapanku. Kak fadil beralih duduk disebelahku dan mengecup lembut kepalaku
" Kenapa bangun?" Tanyanya.
Nah kan. Kak fadil itu hobi mengangkat dua topik pembicaraan dalam 1 waktu. Terkesan mengelak bukan. " nungguin bang Toyib yang nggak pulang pulang" kesalku sambil memutar mata malas.
Kak fadil malah terkekeh " bang Toyib nya udah pulang. Sekarang Lanjut tidur lagi"
Aku menggeleng " Kamu berubah mas" Lirihku.
" Suami yang aku kenal itu nggak gila kerja kayak kamu. Selalu luangin waktu buat keluarga, terutama anak anak. Tapi sekarang, kamu sampe bentak fayyadh tadi cuma karena dia pengen main sama ayahnya. Anak anak cuma rindu ayahnya, tapi kamu marahnya kebangetan" lanjutku menyurahkan uneg uneg di malam malam begini.
Aku nggak bisa lagi membendung air mataku mengingat kejadian sore tadi. Fayyadh yang masih belum paham apa apa menjadi sasaran emosi ayahnya hanya karena memaksa kak fadil buat bermain. Masih jelas terekam di ingatanku bagaimana eksfresi keterkejutan fayyadh mendapat bentakan ayahnya. Tangisan tanpa suara. Tapi derasnya air mata sudah cukup mengisyaratkan sakit nya fayyadh mendapat bentakan ayah yang di sayangnya.
" Maaf . Aku nggak bermaksud bentak fayyadh tadi. Tapi memang aku harus pergi " Ucap kak fadil dengan wajah layu nya. Kantong mata udah mampir di wajahnya. Kalo aja kak fadil terus terusan seperti ini, aku yakin wajahnya akan keliatan lebih tua daripada umurnya.
" Nana ngeliat kamu di Rumah sakit deket rumah Aldo kemarin. Kamu nggak jadi ke luar kota?" Tanyaku dengan menatap lekat bola matanya. Ingin memastikan ucapan bohong atau jujur yang akan di lontarkan.
" A..ku jadi kok ke luar kota. Mungkin nana salah orang kali. Iya salah orang" balas kak fadil gelagapan.
Aku tersenyum hambar. Kebohongan pertama, dan pastinya akan ada kebohongan kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan yang sebelumnya.
" Yaudah. Kalo memang itu bukan kamu. Aku mau tidur" tuturku rendah dan langsung membaringkan tubuhku di sebelah faza dan fayyadh yang udah lelap tidurnya.
****
Pagi ini aku sengaja bangun lebih awal. Aku berniat mau ngecek keadaan kafe setelah nganterin fiona ke sekolah nanti. Untuk itu aku nyiapin semua kerjaan yang mesti aku siapkan, biar bisa langsung berangkat ke kafe.
"Mau kemana udah rapi?" Tanya kak fadil dengam suara khas bangun tidurnya.
Aku yang lagi memoles bedak ke wajahku lantas menoleh ke arah kak fadil yang masih bergulung dengan selimut sekejap " Mau ke kafe" jawabku singkat.
" Tumben?" Tanya kak fadil lagi.
" Pengen aja" Jawabku kembali tak kalah singkat.
" Aku anter ya" tawar kak fadil yang udah duduk meregangkan otot ototnya.
Aku menggeleng " Nggak perlu. Kamu kan sibuk" terkesan sindiran memang. Tapi itu tujuanku sebenarnya.
__ADS_1
Setelah puas dengan polesan make up tipisku. Aku melangkah membereskan tempat tidur yang udah nggak ada kak fadil lagi. Kak fadil udah masuk ke kamar mandi. Nggak tau mau mandi atau cuma sekedar cuci muka doang.
" Udah mau berangkat. Anak anak gimana?" Tanya kak fadil yang baru ke luar dari kamar mandi dan mendapatiku yang hendak ke luar dengan menenteng sling bag berwarna senada dengan bajuku.
" Anak anak aku bawa. Aku nggak bakal ngelupain peranku sebagai seorang istri dan ibu dalam kondisi apapun"
Bak kalah telak yang dari tadi di serang dengan sindiran sindiran panas di pagi hari, kak fadil cuma terdiam dan menatapku cengo. Nggak mampu berkata kata lagi mungkin.
Ku raih tangannya untuk ku cium. Sudah ku bilang aku nggak akan lupa dengan peranku saat ini " Aku pamit. Sarapan udah aku siapin di meja "
" Aku anterin aja lah re" cegah kak fadil yang mengiringi langkahku ke luar kamar.
" Aku udah pesan taxi, mas" ujarku. Setelahnya aku menuju meja makan yang sudah di isi oleh anak anak dan oma. Fiona sama fayyadh lagi sibuk dengan makanan masing masing yang ada di hadapannya.
" Mau kemana re, udah rapi?" Tanya mama
" Mau ngeliat keadaan kafe ma. Rere pergi nggak papa kan ma?"
Mama mengangguk mengiyakan " Anak anak kamu bawa semua?"
Aku mengangguk " Rere nggak tenang kalo ninggalin anak anak ma"
" Bund, kakak mau ikut ke kafe ya" Rengek fiona yang mungkin daritadi menyimak pembicaraanku dengan mama
" Kakak kan harus sekolah dulu. Nanti pulang sekolah baru main ke kafe ya sayang"
" Iya kak. Udah habisin makannya, ntar telat ke sekolahnya"
Suara dentingan sendok di maja makan tergantikan dengan suara rengekan faza dari arah kak fadil. Memang tadi faza di gendong ayahnya.
Kegiatanku yang ingin kembali menyuapkan nasi ke mulut harus terhenti, karena nampaknya faza sudah haus.
" Siniin faza nya mas" Pintaku pada kak fadil
Kak fadil menyerahkan faza langsung padaku " Kenapa anak cantik, haus ya nak ya?" Tanyaku pada faza yang udah menghentikan acara tangisnya.
" Re, kalok bisa faza di stopin aja lah minum asi nya" Aku menoleh pada mama yang menyaksikan aku menyusukan si bontot faza
Memang saat menyusui faza, terkadang aku merasakan sakit di daerah tertentu, dan saat aku mencoba mencari tahu tentang hal itu, memang dapat terjadi pada seorang ibu hamil yang masih menyusui. Tapi masih tidak tega harus memberhentikan faza menyusu.
" Iya ma. Rere usahain pelan pelan ya" jawabku akhirnya. Sebenarnya tidak akan susah untuk mengalihkan faza ke susu formula, karena awalnya faza memang sudah mengonsumsi itu sejak lama. Tapi balik lagi, aku masih belum tega buat berhentiin dia nyusu.
" Fiona udah selesai, biar berangkat sama ayah ke sekolahnya"
Atensiku beralih kepada kak fadil yang mengajak fiona bicara. Ini gimana sih, kan tadi di kamar udah aku bilang kalo aku sama anak anak berangkat pake Taxi. Memang ngajak perang di depan mama nih bapak bapak.
__ADS_1
" Fiona berangkat sama aku mas" ucapku menyela ucapan kak fadil.
" Loh Re, kamu berangkat bareng suami kamu juga lah sayang. Kan fadil bisa ngenterin kamu" nah kan, kali ini mama yang udah angkat suara.
" Rere udah mesan taxi ma" jujur aku segan kalo harus ngebantah mama kayak gini.
" lebih aman sama suami sendiri lah re. Inget loh kamu nggak sendiri. Ada anak anak, belum lagi kamu lagi hamil gitu" Kata mama panjang lebar.
Sudahlah, kalau begini aku nggak akan bisa berkutik lagi. Pilihannya cuma 1, ya turuti.
****
Setelah mengantar fiona ke sekolah, kak fadil langsung mengantarku ke kafe. Sepanjang perjalanan menuju kafe, cuma suara faza dan fayyadh yang mendominasi. Aku bersuara sekedar menyauti pertanyaan fayyadh sesekali. Pasalnya rasa kesal masih menggebu gebu sama orang yang lagi fokus nyetir di sebelahku ini.
" Nanti mau di jemput jam berapa ?" Tanya kak fadil sebelum aku keluar dari mobil. Iya, kami baru tiba di parkiran depan kafe.
" Nggak usah pake di jemput" Jawabku sedikit ketus.
" kalo di tanya suami jawab yang bener " Tegur kak fadil. Kesel nggak sih, udah dia yang salah masih bisa negur orang pake kata kata ketus juga.
" Kalo kamu sibuk ya nggak usah di jemput lah. Anggep aja latihan, biar nggak kaget kalo ntar harus serba sendiri "
"Renata!"
Aku tersentak mendengar kak fadil menekankan suaranya menyebut namaku. Sejujurnya aku juga nggak tau kenapa bisa aku melontarkan kalimat yang barusan keluar.
" Udah sering loh mas, kamu bentak aku gini di depan anak anak " lirihku
" Maaf, tapi aku kelepasa-"
Kata kata kak fadil terhenti karena bunyi hp nya. Dahiku berdenyit beberapa panggilan tapi nggak di terima kak fadil. Aku sempat melirik nama yang tertera di layar telepon genggam milik kak fadil "Naraya" Siapa dia?.
" Kenapa nggak di angkat?" Tanyaku penuh selidik
" Bukan siapa siapa" jawab kak fadil singkat.
Aku mengangguk ngangguk " Tumpuk terus kebohongan kamu mas. Sampai akhirnya nggak ada lagi kebenaran yang terucap dari bibir kamu " ujarku dan langsung keluar dari mobil setelah salim kepada kak fadil yang masih diam terpaku.
" Ayo bang. Mau ikut bunda kan?" Tanya ku pada fayyadh.
" MAUUUU " Sorak fayyadh heboh.
" Dada ayahhh " Pamit fayyadh pada kak fadil.
Dari dalam mobil kak fadil melambai pada ke dua anaknya " Bang, jangan nyusahin bunda ya jagoan"
__ADS_1
" OTE AYAH " Saut fayyadh girang. Setelahnya aku menuntunnya untuk masuk ke dalam kafe, meninggalkan kak fadil yang masih diluar.
Dari dalam aku sempat melirik ke arah luar kak fadil yang sedang berbicara dengan telepon yang menempel di telinganya. Apakah orang yang sama yang menelpon kak fadil, tapi kenapa setelah aku dan anak anak pergi baru kak fadil mau menerima telponnya. Sebenarnya siapa dia?